Mendadak Batur

“Dhan, aku stress, butuh naik gunung neh. Naik gunung yuk, kapan kamu ada waktu?”, bunyi wa seminggu lalu.
“Minggu ini aku bisa. Tapi ke gunung mana?”
“Bali.”, jawab temanku yang sedang di Sumbawa.
“Bayari tiketnya ya?”
“Oke.”
“Berangkat!”

Gunung Batur.
Saya kebetulan sedang di kota kecil Indramayu dan teman saya penggila kopi, Lei, sedang di Sumbawa dan memang, kalau ditarik garis lurus, gunung di tengah-tengah jarak kami berdua ya di Bali. Tidak butuh gunung yang tinggi, cukup untuk melepas penat dalam weekend sabtu-minggu, kami berdua memutuskan naik ke Gunung Batur!

Tak lama, ada email masuk ke handphone dan tiket pulang pergi Jakarta-Bali sudah tercetak. Haha.. gila juga neh, ke Bali sabtu minggu cuma buat naik gunung doank. Dan itupun ‘hanya’ Gunung Batur yang menurut info dari internet cuma membutuhkan waktu dua jam untuk pendakiannya. Enak, tidak perlu repot-repot membawa tenda dan perlengkapan full gear.

Dari Indramayu, saya mencari tiket kereta ke Jakarta, kebetulan juga jumat pagi ada sedikit keperluan di Serang. Setelah menyelesaikan segala urusan, lembur pekerjaan satu minggu dalam sampai pagi, packing, dan berangkatlah saya jam 4 pagi ke Bandara Soekarno Hatta agar tidak terlambat. Namun sial, penerbangan rupanya delay dua jam.

Dapat Rental Sepeda Motor Gratis
Ceritanya dulu sewaktu jalan-jalan ke Bali bersama pasangan, saya pernah mengulas di blog perihal pengalaman rental sepeda motor di Bali kepunyaan Mas Bayu. Dari situ rupanya berbuah manis, usaha Mas Bayu makin laris, saya dapat sedikit komisi dan janji rental sepeda motor gratis selamanya jika saya wisata ke Bali!

Tidak mau menolak rezeki, H-3 sebelum berangkat saya hubungi Mas Bayu dan ternyata janji tersebut ditepati oleh beliau. Terima kasih Mas Bayu, semoga usahanya makin laris manis. Cara rentalnya pun masih sama simple-nya. Diantar ke bandara, foto KTP (ditambah foto penyewa bersama sepeda+yang antar), kemudian balikinnya cukup ditaruh di bandara lagi. Ga pakai ribet.

Singkat cerita, dimulailah perjalanan saya ke basecamp Gunung Batur yang terletak di sekitaran Kintamani, Bangli. Cukup mudah, karena tinggal set GPS ke Danau Batur dan tara.. ikutin saja petunjuknya. Butuh waktu sekitar dua jam buat kami berdua berkendara roda dua ke sana. Melewati sebagian macetnya Kuta, bypass, Gianyar, Bangli, dan akhirnya Batur. Pemandangan sewaktu perjalanan pun tidak kalah asyiknya, nikmat sekali melewati pedesaan Bali yang adem dan tentram.

Pemandangan sekitar yang penuh nuansa hijau, rumah-rumah Bali dengan arsitekturnya yang khas banget, tempat-tempat ibadah di banyak sudut jalan, dan pura-pura yang indah. Membuat ingin berlama-lama berkendara menikmati suasana jalanan.

Summit Attack
Dari hasil tanya sana-sini dan survey langsung di kesorean harinya di kaki Gunung Batur, untuk mendaki gunung 1.717 mdpl dapat dimulai dari persimpangan setelah Pura Jati Luhur dan sebelum pemandian air panas Toya Bungkah. Ambil ke kiri, ketika menemukan parkiran lapang, di situ terdapat loket pendakian dan tempat penitipan motor. Jika ingin lebih menghemat waktu, kita dapat berkendara sampai ke parkiran di atas (yang tidak ada penjaganya) di dekat pura yang sedang dibangun. Dari situ perkiraan saya cuma 30 menit sampai satu jam lagi sampai puncak. Dekat!

Kita dapat menumpang istirahat di semacam balai/joglo di basecamp untuk tiduran atau menumpang menginap di hotel sekitaran Danau Batur yang murah meriah karena tanpa AC pun sudah cukup dingin.

Pagi hari, pukul empat pagi kami memulai pendakian setelah membayar tiket IDR 15,000 per orang (kalau tidak salah ingat, harga 2018), kami memulai pendakian dengan berjalan kaki dari loket. Mau memarkir kendaraan di parkiran atas, infonya tidak dijamin keamanannya, yasudah terpaksa jalan dari sini. Satu jam pertama perjalanan masih landai, jalan beraspal berganti jalan tanah dan berbatu.

Satu jam berikutnya, setelah sampai di Pura Pasar Agung yang sedang dibangun, jalan mulai menanjak hampir 60 derajat. Terjal dan cukup menguras tenaga. Lama tidak berolah raga membuat saya cukup kepayahan untuk sampai di puncak. Tidak lama, sampailah saya di Puncak Pertama, kaget juga karena di sana ramai sekali dengan turis asing dan ada warung, banyak warung malah.

Untuk menuju titik tertinggi kita masih harus berjalan kurang lebih 15 menit lagi, melewati tanah lapang yang cukup menampung puluhan tenda. Di puncak tertinggi pun masih dapat kita jumpai warung-warung yang menjajakan minuman panas, cemilan, dan rental tikar untuk menikmati sunrise.
  
Keren kan?

Rumah-rumah Mungil Setengah Jadi, entah Buat Apa.

Sampan.

Puncak.

Ketika Kabut Tersingkap.

Kabut yang Menutupi Puncak.

Jump!

Bekas Lawa, Masih Keluar Uap Panas.

Pose Resmi.

Menghangatkan Tangan.

Tempat Sesaji.

Kursi Seperti Ini Banyak di Puncak.

Pendaki yang Terluka.

Jalurnya Mirip Gunung Guntur ya?

Jalur Turun.

Loket Pendaftaran.

Sayang seribu sayang, pemandangan Danau Batur dan matahari terbit tidak bisa dinikmati secara maksimal karena tertutup kabut. Saat kabut tersingkap dari atas Danau, seluruh pendaki berterika ‘woowww..’ dan langsung cepret sana sini, haha… seru rasanya.

Ohya, untuk mendaki Gunung Batur tidak perlu guide karena jalur yang jelas, apalagi kalau naik pas weekend, banyak sekali turis mancanegara yang ikut menikmati keindahan Batur. Malah sampai beberapa kali macet di jalur pendakian.

Kami sengaja cukup lama di atas menunggu kabut benar-benar hilang sambil menikmati suasana. Menyeduh kopi dan kejar-kejaran dengan monyet usil yang mengambil sachet kopiku, haha..

See you again Batur. Stay safe, clean, and fun climbing! (dm 16 November 2018)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...