Segitiga Berlian di Ujung Jawa Timur

see trees of green, red roses too,
I see them bloom for me an you,
and I think to myself: What a wonderful world.

Pesona Kawah Ijen.

Alunan lagu Louis Armstrong yang mengalun merdu di bis mengiringi perjalanan saya kali ini. Ya, dunia itu amat indah kawan, dan saya baru saja mengunjungi secuil keindahannya di Banyuwangi, daerah paling timur di Pulau Jawa. Seringkali pamor kabupaten ini redup akan pesona Bali yang terletak persis di sebelahnya. Tetapi jangan anggap remeh, Banyuwangi memiliki pesona alam yang tidak bakal ditemukan di daerah lain di Indonesia. Pesona itu sering dijuluki Segitiga Berlian.


Mendapat julukan tersebut karena pesona utama Kabupaten Banyuwangi secara geografis membentuk segitiga sama sisi. Di kedua sudut bawah terdapat Taman Nasional Meru Betiri dan Alas Purwo, sedangkan Cagar Alam Kawah Ijen bertengger di sudut puncak segitiga berlian ini.

Pada perjalanan kali ini saya memulai dari sudut paling barat yaitu Taman Nasioanl Meru Betiri dengan Pantai Sukamade yang menjadi primadonanya. Untuk menuju ke sini, hal pertama yang harus disiapkan adalah nyali, berhubung mobil–harus yang memiliki fitur four-wheel drive–akan melewati jalan bukit yang berbatu selama hampir dua jam.

Pelepasan Tukik.


Penyu Hijau yang Sedang Bertelur.

Pemberhentian Pertama
Pantai Sukamade adalah pantai tempat penyu bertelur dan hal ini terjadi hampir setiap malam. Ternyata saya merupakan satu-satunya pengunjung malam itu. Ingin memaksimalkan pengalaman di sana, saya mengiyakan ajakan para jagawana Taman Nasional Meru Betiri untuk ikut berpatroli bersama mereka untuk mengawasi penyu bertelur. Penyu harus diawasi supaya telur-telurnya tidak keburu dimangsa predator, seperti biawak atau babi hutan. Telur-telur itu akan diamankan di pos sehingga tukik dapat menetas dengan aman. Kini terdapat ratusan tukik yang mayoritas adalah jenis penyu hijau dan setiap pengunjung dengan menyumbangkan sejumlah uang akan dapat melepaskan tukik ke laut.

Alas Purwo yang Tertata
Dari Meru Betiri, saya menuju sudut timur Banyuwangi, yaitu Taman Nasional Alas Purwo. Mendengar namanya, bayangan saya langsung tertuju ke Hutan Mirkword yang gelap dan horror seperti dalam cerita rekaan Tolkien yang mendunia itu. Dan ternyata saya salah! Justru menurut saya, Alas Purwo dapat dibilang sebagai Taman Nasional yang paling tertata dan bersih, sehingga jauh dari kesan gelap dan horror.

Jungle Taxi di G-Land.
G-Land tentu saja menjadi daya tarik utama turis yang datang kesini, terutama para peselancar dari mancanegara. Dengan ombak yang katanya tertinggi nomer dua setelah Hawai, tak heran saya serasa menjadi bule di negeri sendiri.

Eksotisme Kawah Ijen
Sebagai puncak segitiga berlian, Kawah Ijen memang berupa gunung. Sejak tahun 2009, menurut cerita pemandu lokal, tempat ini mulai terkenal akan pesona Api Birunya. Nyala api yang berpijar berwarna biru dengan latar kawah belerang itulah yang kemudian juga membuat saya rela bangun pukul dua dini hari untuk melihatnya. Ya, karena keindahan Bluefire ini hanya bisa dinikmati kala tidak ada cahaya matahari. Kenakan baju tebal bila berkunjung ke sini karena suhu dapat menjadi sangat dingin, terutama di malam hari.

Blue Fire (doc Ferdik).

Tampaknya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi sadar betul akan potensi wisatanya dan hal ini dapat dilihat dari kemudahan akses menuju ketiga tempat tersebut. Jalannya mulus dan plang petunjuk jalannya pun cukup jelas. Di ketiga lokasi tersebut juga banyak penginapan dengan harga yang terjangkau.

Hal unik yang saya perhatikan adalah ketika memasuki ketiga tempat tersebut, saya disambut oleh tiga perkebunan yang berbeda-beda. Sebelum masuk ke Meru Betiri, ribuan pohon coklat akan menyambut di sisi kiri-kanan jalan. Sementara ketika menuju Alas Purwo, mata akan disambut oleh  perkebunan pohon jati yang ketika itu daun-daunnya sedang meranggas, dan ketika menuju Kawah Ijen, sejauh mata memandang adalah wangi pohon cengkeh.

Sebenarnya masih banyak tempat menarik lainnya yang dapat dikunjungi selain Segitiga Berlian ini. Belum lagi Warga Osing dengan dialek khasnya yang menarik untuk dipelajari. Ah, sepertinya waktu tiga hari di sana hanya sekelebat saja!

And I think to myself: What a wonderful world.
Yes I think to myself: What a wonderful world.

(Postingan untuk www.panorama-magz.com). dm 22/06

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...