“Yuk
seharian ini kita explore Bukittinggi!”
ucap Lei dengan bersemangat. Saya dan Juan pun menanggapi dengan anggukan
setuju. Hari ini kami bertiga memang berencana untuk meng-explore tempat wisata landmark
Sumatra Barat ini. Ternyata banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di Bukittinggi
selain Jam Gadang dan tentunya tidak bakal membuat dompet Anda kempes.
| Menara Jam Gadang Bukittinggi. |
Berdasarkan pengalaman
saya kemarin, untuk menghemat tenaga buat muterin
Bukittinggi rute yang sebaiknya diambil yaitu: Jam Gadang-Kebun Binatang Kinantan-Jembatan
Limpapeh-Benteng Fort de Kock-Kampung Cina-Taman Panorama-Lobang Jepang-Ngarai
Sianok. So, mari kita kupas satu-satu
tempat-tempat asyik tersebut.
Jam Gadang
Banyak orang
bilang belum dianggap ke Padang kalau belum ke Jam Gadang. Aneh juga seh,
mengingat Padang dan Bukittinggi itu dua kota yang berbeda yang dipisahkan
jarak hampir 100 km. Sebelum melihat jam yang terkenal ini, bayangan saya jatuh
ke Jam Big Ben di London yang besar dan megah, tetapi ternyata Jam Gadang tidak
se-gadang itu. Dengan tinggi 26 meter
jam ini mempunyai 4 sisi jam yang berdiameter 80 cm dan menunjuk ke 4 arah mata
angin.
Yang unik
dari jam ini terletak pada penulisan angka romawi 4, menurut aturan seharusnya
angka 4 dituliskan dengan IV tetapi pada Jam Gadang tertulis IIII. Belakangan
saya baru tau ternyata mesin yang digunakan untuk jam ini sama dengan jam Big
Ben dalam bayangan saya tadi yaitu mesin Brixlion yang cuma ada dua di dunia,
wah…
Kebun Binatang Kinantan
Cukup berjalan
sejauh 200 meter ke arah utara dari Jam Gadang Anda akan sampai di pintu masuk
Kebun Binatang Kinantan. Memang hewan yang bisa dilihat tidak selengkap di
Ragunan, tapi di sini Anda bisa melihat contoh rumah adat Minangkabau, lengkap
dengan segala pernak perniknya termasuk lubuk padi yang terletak di depan
rumah.
| View Gunung Singgalang dari Jembatan Limpapeh. |
Benteng Fort de Kock
Benteng Fort
de Kock dihubungkan dengan Jembatan Limpapeh dengan Kebun Binatang Kinantan. Walau
namanya jembatan, tetapi dibawahnya bukan sungai, tetapi jalan raya. Dari tengah
jembatan Anda bisa melihat view Gunung Singgalang yang menawan hati. Walau
wujud Benteng Fort de Kock sudah tak terlihat seperti benteng lagi, tetapi
tempat ini asyik sekali buat duduk-duduk sambil bercengkrama mengingat
banyaknya bangku taman dan pepohonan yang teduh. Ohya, tiket masuk benteng dan
kebun binatang jadi satu paket, yaitu 10.000 rupiah.
| Meriam Benteng Fort de Kock. |
Kampung Cina
Dari benteng
ambil arah ke kanan hingga putar balik ke jalan raya yang tadi di bawah
Jembatan Limpapeh, maka Anda akan berada di daerah Kampung Cina. Sepanjang jalan
Anda akan menjumpai bangunan-bangunan yang khas entis Tionghoa. Di sini pula
banyak terdapat hotel murah dan café-café
yang asyik buat ngopi dan nongkrong. Jalan pelan-pelan dan nikmati atmosfer
yang ada di sekeliling Anda. J
| Kampung Cina. |
Taman Panorama
Ambil jalan
lurus saja sepanjang jalan Akarim, potong jalan lewat perumahan penduduk, maka
Anda akan tiba di Taman Panorama. Dengan tiket masuk 5000 rupiah, Anda bisa
menikmati indahnya Ngarai Sianok. Tebing-tebing yang menjulang dengan sungai
kecil di bawahnya ini memang sungguh memikat mata, mengingatkan kita akan
gambaran Grand Canyon di Amerika sana. Ohya, hati-hati barang bawaan jika
kesini karena banyak monyet-monyet usil yang kadang suka iseng.
| Monyet-monyet Nakal di Taman Panorama. |
Lobang Jepang
Sewaktu akan
keluar dari Taman Panorama, ambil jalan ke kiri lewat tangga, jangan ke kanan. Nah
Anda akan tiba di Lobang Jepang. Bunker bekas peninggalan Jepang sewaktu
menjajah Indonesia ini terletak persis di bawah Taman Panorama. Lobang Jepang
menyerupai gua dengan ruangan tahanan yang konon untuk tempat penyiksaan sehingga
terasa mistis walau sudah ada penerangan di dalamnya. Tiket masuk cukup 2000
rupiah saja.
| Pintu Masuk Lobang Jepang. |
| Great Wall of Sianok. |
“Great Wall” Ngarai Sianok
Ending dari eksplorasi kita hari ini adalah “Great Wall”
Ngarai Sianok. Jika dari Taman Panorama kita melihat ngarai indah ini dari
atas, sekarang kita turun ke dasarnya. Dari Lobang Jepang cukup jalan 50 meter
ke bawah maka Anda sudah sampai di pintu masuknya. Tanpa dipungut biaya masuk
Anda bisa menikmati Ngarai Sianok dari bawah. Dan yang lebih asyik lagi, di
sepanjang lintasan yang disediakan didesain menyerupai Great Wall of Cina
lengkap dengan menara pandangnya yang membuat saya seolah-olah merasa sedang
berpatroli mencegah serangan bangsa Mongol. (dm 06/13)
No comments:
Post a Comment