Toba Solotrip #1: Mendaki Pusuk Buhit

Salah satu asyiknya bekerja di perusahaan konstruksi yakni sering (semoga) ada tugas ke luar kota dan pada kesempatan kali ini, Aceh Timur! Tidak menunggu lama, jemari langsung googling di internet tempat apa yang bisa dikunjungi ketika ada instruksi dari atasan untuk pergi ke sana. Ternyata, bandara terdekat adalah dari Kualanamu di Medan (dilanjut 6 jam perjalanan darat) dan Lhoksumawe (ditambah 2 jam jalan darat).

Toba dari Puncak Pusuk Buhit.
Setelah memperhitungkan beberapa faktor, terutama keamanan dan waktu, kuputuskan untuk pergi menjelajah di sekitar Sumatera Utara ketimbang Aceh. Solotrip di Aceh, apalagi di tempat yang merupakan bekas sarang utama GAM, sepertinya perlu dipertimbangkan baik-baik. Jatuhlah pilihan pada Danau Toba yang ternyata mempunyai panorama yang sungguh menyejukan mata.

Untuk menuju Danau Toba, setelah dengan malas mencari info dari internet dan petunjuk detail dari teman saya, Erika, saya akan masuk ke Toba dari Parapat. Rute yang saya gunakan kala itu: dari Medan naik raillink ke Bandara Kualanamu – bus langsung ke Pematang Siantar (disambung becak ke Simpang Dua Timbangan – travel ke Parapat (turun langsung di Pelabuhan Ajibata) – kapal feri ke Pelabuhan Tomok – angkot ke Pangururan.

Sebenarnya, ada bus langsung ke Parapat ataupun langsung ke Panguruhan dan untuk masuk ke Danau Toba tidak harus dari Parapat, namun karena saya malas googling secara detail, jadinya seperti itu. Sisi baiknya bisa mencoba merasakan berbagai moda angkutan yang berbeda-beda (pembelaan, hehe..). Pangururan adalah salah satu kecamatan dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Samosir yang melingkupi Pulau Samosir itu sendiri.

Menurut saya, jika ingin menikmati Danau Toba dan asal-usul budaya Batak dengan mendalam, kawan harus pergi ke Pangururan. Dari situ dapat langsung menjelajah ke Sianjur Mula-mula, yang disebut-sebut sebagai perkampungan pertama Masyarakat Batak. Kemudian ‘kudu’ juga mencoba mendaki Pusuk Buhit yang konon katanya juga menjadi lokasi pertama diturunkannya Raja Batak yang pertama di dunia. Selain itu juga terdapat beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi di sini.

Mendaki Pusuk Buhit
Disebut gunung sepertinya kurang tepat karena lebih mirip bukit, sementara memang kata ‘buhit’ berarti ‘bukit’ dan ‘pusuk’ yakni ‘pusat’ sehingga dapat diartikan sebagai pusat bukit. Dengan tinggi 1,972 mdpl, gunung satu ini dianggap sakral oleh masyarakan Batak karena berkaitan langsung dengan sejarah para raja-raja Batak. Maka tidak heran jika banyak sesajian di puncaknya, pun ketika saya ke sana, terdapat lima orang yang sudah tiga hari berada di puncak untuk bertapa memohon agar permintaannya dapat dikabulkan.

Banyak kisah-kisah menarik yang dapat kita dengar mengenai gunung satu ini. Kisah-kisah yang disampaikan turun temurun oleh penduduk lokal.

Beruntunglah di Pangururan saya bisa menumpang bermalam di Kak Desta, teman dari teman saya, dan berkat beliau saya bisa ditunjukan kepada guide untuk menemani mendaki gunung sakral ini. Sempat kaget dengan banyak referensi di internet  yang menyatakan pendakian sampai puncak membutuhkan waktu 7-8 jam. Bah! Dua jam saja tidak sampai buat jalan ke atas, kawan!

Berangkat dari rumah jam setengah empat pagi, kami membutuhkan waktu setengah jam dengan berkendara roda dua untuk menuju Sianjur Mula-mula, titik mula pendakian kami. Walau sempat beberapa kali salah jalan karena biasanya bapak pemandu tersebut mendaki dari sisi yang berlawanan. Mendaki dari sini adalah permintaan saya semata karena, hehe… terpengaruh kisah Supernova, saya ingin menapak tilas pendakian Alfa Sagala.

Singkat cerita, dalam dua jam kami sampai di puncak yang ternyata tidak begitu gundul seperti dalam bayangan saya dari buku Supernova. Terdapat semacam tempat pemujaan dimana orang meletakan sesaji. Sementara dari puncak, kita dapat melihat Pulau Samosir secara keselurahan dan luasnya Danau Toba. Baru kusadari ternyata Danau Toba itu sangat luas, tidak terbayang seberapa besar dulu Gunung Toba jika bekas letusannya saja segini luasnya.

Bagi kawan-kawan yang tidak ingin menggunakan jasa guide, tidak perlu khawatir mendaki sendiri karena gunung satu ini dapat dikatakan terbuka, tidak ada hutan yang ribun sehingga memudahkan mendaki ke atas pada siang hari. Jalur pendakian juga sangat jelas, bahkan terbilang lebar. Pada beberapa tikungan terlihat bekas kamar kecil yang sudah tidak terpakai lagi. Hanya dibutuhkan sopan santun dan perbekalan secukupnya termasuk air minum untuk mendaki ke atas.
 
Feri Penyebrangan dari Parapat ke Tomok.

Danau Toba.

Sesajian di Puncak Pusuk Buhit.

Pusuk Buhit.

Menembus Ilalang.

Melepas Lelah di Aek Rangat
Selepas dari mendaki Pusuk Buhit, saya menyempatkan diri menikmati Sianjur Mula-mula dari ketinggian, mampir ke Sopo Guru Tatea Bulan, Batu Hobon, dan terakhir ke Aek Rangat (Air Hangat). Dua tempat pertama, hanya berupa situs sejarah dengan patung yang dibuat untuk mengenang raja-raja Batak. Untuk bisa lebih memahami seharusnya kita mengajak teman atau guide yang paham akan sejarah awal mula Kerajaan Batak di sini.

Dari Batu Hobon, saya menuju Pangururan dengan memutari sisi Pusuk Buhit yang berbeda, menikmati pemandangan Danau Toba yang sungguh memanjakan mata. Di kanan kiri masih banyak dijumpai rumah-rumah adat Batak dan makam Batak. Makam-makam ini cukup menarik karena dibuat dengan bentuk yang berbeda-beda sesuai kreativitas masing-masing, namun pada dasarnya biasanya tersusun atas tiga tingkat dengan tingkat paling bawah untuk meletakan jasad yang baru meninggal, tingkat kedua untuk jasad yang sudah menjadi tulang belulang, dan tingkat paling atas untuk para tetua. Tampaknya setiap rumah mempunyai satu makan tersendiri yang biasanya terletak persis di samping rumah.

Sesampai di Aek Rangat saya diajak oleh guide yang mengantar ke Puncak Pusuk Buhit untuk mampir ke tempat pemandian air hangat langganannya. Karena masih pagi hari, tempat itu sepi dari pengunjung, hanya ada kami berdua. Suasana pemandian umum yang terbuka membuat saya malu untuk mandi di situ, oleh karena itu si Pak Manalu  memaksa saya mandi di bilik khusus perempuan yang tertutup. “Tidak apa-apa, saya jaga di depan”, ujar beliau ramah. Saya pun segera melepas pakaian dan berendam di panasnya kolam Aek Rangat. Nikmat sekali, baru sekali ini saya berendam tanpa pakaian sehelai pun di pemandian umum, sendirian pula, bak onsen pribadi saja, hehe..
 
Raja Batak.

Batu Bohon.

Rumah Batak.

Aek Rangat.

Kolam Pemandian.

Ini Enak!

Setelah puas berendam, saya menuju warung untuk menikmati secangkir teh panas dan mie rebus pakai telur yang tidak kalah nikmatnya. Ternyata, untuk mandi di Aek Rangat tidak dipungut biaya, cukup membayar untuk makan dan minum yang sudah kita pesan saja.


Dm, 4 Juli 2017

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...