Pengalaman Tenda Terbakar Saat Mendaki Gunung Tanggamus

Seperti biasa, hal pertama yang saya cari di internet ketika ada penugasan dari kantor untuk berpergian ke luar kota yakni gunung apa yang dekat dengan lokasi proyek. Kali ini, ditugaskan untuk melakukan meeting di PLTU Semangka. Lampung. Di mana itu tempatnya juga hanya tahu dari namanya saja karena sudah setahunan berjalan, baru kali ini mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana. Cari sana-sini, yak, ternyata Gunung Tanggamus, gunung yang setahun silam hendak kudaki tetapi gagal di detik-detik terakhir sebelum berangkat.

Gaya dulu Sebelum Naik.
Tanggamus adalah gunung kecil di Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Dengan tinggi 2.102 mdpl, Tanggamus menjadi gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung, namun jalur pendakiannya masih rimbun dan bisa dibilang perawan karena sepertinya jarang didaki. Melewati pohon tumbang, merambati akar-akaran pohon, bahkan merangkak di bawah pohon harus dilakukan demi menggapai puncaknya. Memang, rata-rata gunung di Pulau Sumatra masih asyik untuk didaki, berbeda dengan gunung di Pulau Jawa yang jalurnya sudah jelas dan terbuka.

Ohya, sedikit cerita, pengalaman menuju PLTU Semangka kala itu cukup meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Di mana harus tanya sana-sini dan berujung jawaban sama: Mas, jangan ke sana, itu daerahnya garong, pencuri. Bahkan tukang ojek dan penjaga hotel, tidak berani mengantar sampai sana. Tetapi dengan berbekal tekat yang kuat (#tsahhh…) akhirnya sampai sana juga, yah itu mungkin cerita di lain kesempatan.

Menuju Tanggamus
Saya berangkat dari Jakarta sabtu pagi dengan penerbangan pertama ke Bandar Lampung dilanjutkan dengan travel Bandar Lampung – Krui. Mobil travel yang saya telpon tidak mau menjemput sampai bandara karena dia sudah ada penumpang dari Bandar Lampung, ohya, bandara ke pusat Kota Lampung lumayan jauh, 30 menit naik angkot. Karena tidak mau menunggu lama, saya naik angkot dan turun di simpang, dekat gapura selamat datang untuk menuju Tanggamus.

Tanggamus berada di tengah-tengah perjalanan ke Krui. Cukup lama saya menunggu mobil travel itu, kampret memang, ternyata dia menjemput lagi penumpang lain ke bandara sementara saya diminta ke simpang. Hampir sejam saya menunggu travel datang.

Saya hendak melakukan pendakian dari Jalur Gisting, jalur normal pendakian gunung satu ini. Kurang lebih dua atau tiga jam dari Lampung, lupa pastinya berapa, yang jelas saya sampai Gisting pukul satu siang, ohya turun saja di Pasar Gisting dan minta diantar ojek ke Basecamp Sonokeling. Namun tidak semua ojek tahu lokasi basecampnya, pun di basecamp tidak ada tulisan dan saat itu saya harus bertanya pada beberapa orang sebelum sampai ke basecamp, sempat pula nyasar dua tiga kali.

Sampai di basecamp, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari penunjuk jalan orang lokal yang bisa mengantar naik sampai puncak. Ohya, saya saat itu sendirian saja dan karena tidak suka naik gunung sendirian, disamping belum kenal medan dan tentunya tidaklah aman naik gunung sendiri. Kalau istilah penyelam, never climb alone, hehe..

Langkah kedua adalah menyiapkan logistik dan peralatan, tadinya saya hanya hendak tektok saja, tetapi atas saran penduduk sekitar butuh waktu 4-5 jam untuk sampai puncak, saya putuskan untuk bermalam saja di tengah jalan. Untungnya ada penyewaan tenda dan perkap lainnya di basecamp, hibah dari Dinas Pariwisata katanya. Untunglah…

Setelah semua siap, let’s go!

‘Kompor’ Meledak, Tenda Terbakar
Sedikit cerita juga tentang penduduk di lereng Gunung Tanggamus yang didominasi Suku Jawa, entah kenapa, beberapa gunung di Sumatera di setiap lerengnya didominasi penduduk Jawa, seperti Kerinci, Dempo, dan Tanggamus tidak terkecuali. Bahkan ketika saya ajak berbicara dengan Jawa yang halus pun mereka (generasi tua) masih lancar dan bagus. Ohya, tetapi di Sumatera Barat tidak ada sama sekali, semua Suku Minang. Jadi penasaran penyebaran masyarakan Jawa pada zaman dahulu.

Kembali ke pendakian Gunung Tanggamus, seperti yang saya ceritakan di atas, jalurnya masih perawan walau tidak sampai membabat hutan untuk berjalan, hanya beberapa titik saja yang sudah mulai tetutup ilalang dan pohon kecil. Jalurnya khas sekali akan suasana gunung tropis yang lembab dan berlumut, tanah yang becek dan berlumpur, batang pepohonan yang dipenuhi lumut, jalur yang menanjak melewati akar-akaran pohon.

Pada beberapa titik terdapat tali yang sudah dipasang untuk membantu pendaki memanjat ke atas, kalau tidak salah terdapat tiga titik yang dipasangi tali. Sepanjang jalur pendakian hampir tidak ada tempat yang landai atau cukup lapang untuk dijadikan tempat mendirikan tenda sehingga pilihannya mendirikan tenda di bawah atau di puncak yang katanya cukup untuk lima tenda. Air tidak ditemui sepanjang perjalanan, pastikan cukup membawa air minum dan masak untuk pendakianmu.

Kalau tidak salah, saat itu kami memulai pendakian pada pukul tiga sore dan untuk menghemat pendakian, Mas Tri mengajak untuk naik dengan sepeda motor ‘grandong’nya sampai pintu rimba. Ajakan yang ngeri-ngeri sedap, karena tentu saja bisa lebih menghemat waktu tapi juga ngeri karena jalurnya yang aduhai (sebelumnya sempat nyasar sampai mendekati pintu rimba dengan ojek).

Setelah berjalan hampir dua jam, hari mulai gelap, kami putuskan untuk mendirikan tenda di lokasi yang paling memungkinkan setelah dibabat dengan golok. Untung saja, tidak berapa lama tenda berdiri, hujan dengan lebatnya mengguyur kami. Kami pun masuk dan mencoba menghangatkan diri dengan mencoba membuat minuman panas dan mulai memasak. Karena hujan, saya memutuskan memasak di dalam tenda, keputusan yang sangat goblok.

Susah mendapatkan spirtus untuk bahan bakar kompor, Mas Tri membawa thinner sebagai gantinya, “Jajal sik wae, Mas.”, kata dia yakin. Mulailah kami menyalakan kompor dan memasak, awalnya kompor menyala dengan api kecil dan cukup stabil. Lama-lama, makin membesar, kami langsung panik dan ketika hendak mematikan kompor atau memindahkan ke luar. Duar… kompor meledak cukup besar sehingga membuat tenda berlubang besar-besar di beberapa tempat. Sial!

Dalam hujan dan gelap malam, kami berdua bergegas mematikan api agar tidak menjalar dan mencoba menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Argghh… sial, terjadi lagi. Sudah tiga kali kejadian tenda terbakar, masih saja bisa terulang. Dodol memang saya ini. Kebakaran tenda di Tanggamus adalah paling parah bagiku saat ini, setelahnya tenda menjadi basah, baju dan sleeping bag ikut basah, kami harus puas makan malam roti dan cemilan, parahnya meringkuk kedinginan di sela-sela bagian tenda yang kering sampai pagi.

Gunung Tanggamus dari Gisting.

Basecamp Sonokeling.

Jalur Pendakian Tanggamus (1).

Jalur Pendakian Tanggamus (2).

Jalur Pendakian Tanggamus (3).

Jalur Pendakian Tanggamus (4).

Mas Tri, Guide ke Tanggamus.

Puncak Tanggamus.

Foto di Depan Plang Ekspedisi Bukit Barisan TNI AD-Kopasus.

Pos Mushola, Lokasi Landai Paling Luas di Sepanjang Jalur.

Motor Grandong dengan Tambahan Rantai di Ban Belakang.
Keesokan harinya begitu matahari bersinar kembali, kami packing dan meninggalkan barang bawaan di semak-semak untuk melakukan summit attack. Kurang lebih sejam kurang kami sampai di Puncak yang bagi saya sangat mirip dengan Gunung Karang di Pandeglang, hanya sepetak kecil dengan tiang bendera di tengahnya. Puncak dikelilingi pepohonan sehingga kita tidak bisa menikmat pemandangan sekitar dari ketinggian seperti pada umumnya puncak gunung. Setelah asyik berfoto dan istirahat yang mungkin cuma 15 menit, kami langsung turun kembali ke basecamp.

Pendakian kali ini hanya sebentar saja, namun sangat menguras tenaga saya, selain faktor medan yang susah (bagi saya) kejadian tenda kebakaran membuat istirahat menjadi tidak maksimal, stamina pun terkuras habis.

See u next time, Tanggamus. Keep safe, clean, and fun climbing! (dm 6 Mei 2018)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...