SATGAS BANJIR SEMARANG


-->
8 Februari 2009
Relawan Banjir yang Kebanjiran
“Asem, Blue Merryku nglepek!”. Hujan deras yang mengguyur Kota semarang menimbulkan banjir dimana-mana. Tak terkecuali, di depan LP khusus wanita Semarang terdapat genangan air setinggi 30 cm yang menyebabkan Blue Merry, motor Vega-R kesayanganku mogok.
Padahal, aku dan Dika hendak menuju PMI Cabang Kota Semarang tuk ikut membantu Relawan Banjir. Alhasil, ku tuntun Blue Merry samapi Markas PMI dan Dika terpaksa turun dengan “mencincing” rok item miliknya. Dasar Semarang, relawan banjirnya aja kebanjiran.
Pagi itu, kami sedang memenuhi undangan dari MerC Semarang di Balai Diklat Kariyadi. Yang kemudian ada panggilan mendadak dari posko untuk menjadi relawan banjir. Tanpa pikir panjang, kamupun langsung menuju Markas PMI Kota Semarang di tengah acara yang kami ikuti. Total relawan yang diperbantukan KSR UNDIP sebanyak 12 orang.
Masih Seperti Dulu, Kata Kuncinya Koordinasi, Kawan!
Setiba disana, kami langsung melebur dan membantu proses siaga bencana banjir Kota Semarang. Karena proses evakuasi sudah dilakukan malam sebelumnya, hari itu digelar dapur umum dan pendistribusian nasi bungkus ke korban banjir yang membutuhkan.
Sekitar pukul 11 siang, diberangkatkan tim untuk memberikan bantuan berupa perahu kayu untuk daerah Wonosari, Mangkang. Turut disitu 3 anggota KSR UNDIP berangkat menuju lokasi dengan truk trbuka. Sepanjang jalan, hujan plus angin kencang menerpa wajah kami, suara sirene meraung-raung menembus jalanan Kota Semarang.
Bingung. Memang disitu terjadi banjir sampai setinggi 2 meter, tetapi itu berlangsung tadi pagi jam 3 dan jam 9 pagi air sudah surut. Terlihat para warga sudah mulai berbenah membersihkan rumahnya masing-masing. Tampak Indofood Rescue mendirikan dapur umum untuk warga korban banjir. Kami berlima pun terbengong-bengong. Yah, karena tenaga perahu tidak dibutuhkan kembalilah kami ke markas. Sekali lagi, KOORDINASI.
Sorenya kami kembali membagikan nasi bungkus yang sudah disiapkan oleh tim DU. Waktu mendistribusikan di Rusun Kaligawe, perahu yang kami kayuh untuk menuju Rusun muter-muter karena koordinasi yang kurang kompak karena sebagian tenaga pendayung asal dayung seenaknya.
Kebetulan Eci dan aku ikut didalamnya. Kebetulan, bisa mempraktekkan materi Water Safety yang kami dapatkan. Akhirnya kami mendapat bantuan 2 tenaga manusia, bukan untuk ikut mendayung tapi mendorong dari belakang. Aduh, ini perahu atau getek ya. Untung banjirnya tidak dalam-dalam amat, la kalau nyampai 2 meter?
Nasi bungkus setengah 10 malam
Sekembali ke Markas, Dapur Umum sudah sibuk lagi. Dengan penuh canda tawa para relawan banjir menyiapkan nasi bungkus tuk pendistribusian berikutnya. Karena sebagian besar anggota KSR UNDIP yang disana dari keturunan Hawa, Sekitar pukul 8 malam setelah DU ditutup untuk hari itu, kami mohon diri untuk kembali ke Tembalang. Kecuali Eci dan aku yang tetap tinggal tuk membantu proses pendistribusian berikutnya.
Pukul 20.45, ambulans yang membawa nasi bungkus diberangkatkan menuju lokasi. Tim dibagi menjadi 2 daerah, Genuk dan Wonosari. Kebetulan saya ikut dalam Tim Wonosari dan Eci ke Genuk. Sekitar pukul sembilan seperempat kami sampai di kelurahan Wonosari. Keadaan sudah sepi, cuma ada 3 aparat kelurahan yang standby. Pihak kelurahan meminta nasi bungkus tersebut langsung diberikan ke RW 6 dan RW 7, lokasi yang paling parah. Mungkin mengingat tidak ada sarana transportasi untuk membawa 150 nasi bungkus tersebut.
Sementara anggota PMI Cabang yang ada disitu mendapat instruksi tuk menyerahkan di kelurahan, dan terserah pihak kelurahan untuk didistribusikan kemana. Terjadi beberapa kali lempar argumentasi, yang akhirnya anggota PMI Cabang tersebut menghubungi ketua Satgana untuk meminta instruksi. Seharusnya, keputusan seperti itu dapat langsung diputuskan disitu. Tidak perlu dibuat panjang lebar.
Ada satu pertimbangan yang terlontar yang sangat tidak saya sepakati, yaitu bahwa bantuan diberikan ke RW yang paling dekat, bukan yang paling membutuhkan. Walaupun capek, semestinya pertimbangan seperti itu tidak terlontarkankan. Akhirnya diputuskan untuk mengedrop nasi bungkus ke RW 7 dan Pak RWnya diminta menyalurkan ke RW 6.
Sesampai di RW 7 saya sempat malu untuk keluar dari mobil ambulans ketika ada seorang warga yang bertanya. Warga tersebut terheran-heran ketika tahu kami hendak mendistribusikan bantuan nasi bungkus. “Kok jam segini? Dah pada tidur, Mbak!”, lontar warga tersebut. Sesampai di rumah Pak RW, lampu rumah sudah dimatikan semua dan Pak RW keluar dengan muka habis bangun tidur, sepertinya kecapaian sekali. Ya iyalah, dah jam segini. Saya pun pesimis 150 nasi bungkus itu akan dimakan, minimal tidak untuk malam ini.
Suatu hal akan menjadi sebuah bantuan jika diberikan pada orang yang tepat, sesuai yang dibutuhkan, dan tepat pada waktunya.
Pukul 22.00 kami kembali ke Markas. Eci datang sejam kemudian. Setelah istirahat sebentar, pukul 12 malam kami berdua undur diri. Mampir sebentar ke PMI Daerah tuk copy-copy foto dan dengan lampu depan motor mati, Blue Merry melaju ke Tembalang tuk mengantar tuannya ke peraduan. Baru pukul 1 dini hari kami sampai di Tembalang.
(dm090209)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...