LOST

Pernah tersesat di gunung? Saya pernah. Untungnya tidak sampai berhari-hari, hanya beberapa jam saja. Kebingungan saat mencari jalan naik walau sudah beberapa kali mendaki gunung yang sama atau kebingungan saat mencari jalan turun membikin frustasi memang. Ketika kondisi fisik sudah mulai menurun dan kondisi lingkungan yang tidak begitu bersahabat bertemu maka secara psikologis akan membuat kita makin panik.

Mencari Jalan.
Jika dilihat dari ketinggiannya, Gunung Ungaran yang memiliki puncak 2.050 mdpl memang tidak terlalu tinggi. Pun gunung ini mudah dijangkau dan masih terdapat perkampungan dekat dengan puncaknya. Namun di gunung ini pula saya beberapa kali sempat tersesat. Entah kebingungan mencari jalur naik hingga harus sedikit memutar ataupun terjebak di rimbunnya pepohonan hingga tidak bisa tembus. Rencana berfoto di puncak pun kandas karena terlalu meremehkan medan.

Semua kejadian tersebut terjadi di malam hari saat tidak ada cahaya cukup untuk melangkah. Dari sini pula saya dapat memetik pengalaman berharga untuk tidak berjalan saat malam buta. Di samping kita tidak dapat menikmati keindahan pegununganan, ada tenaga ekstra yang harus kita keluarkan. Dari stamina yang harus bekerja ekstra keras karena dingin dan minimnya oksigen, juga harus mengeluarkan sumber tenaga untuk pencahayaan. Bandingkan jika kita harus berjalan di siang hari?

Lain cerita saat mendaki Gunung Sumbing di Jawa Tengah. Melewati medan yang sudah lama tidak dilalui mudah sekali membuat kita tersesat. Saat hendak turun dari puncak, kami entah kenapa melenceng dari jalur yang semestinya. Pada satu titik kami harus menembus ilalang yang rimbun yang berujung jurang. Fiuh, untung (masih saja ada untungnya) saja tidak ada yang berlari. Pada ujungnya kami melenceng jauh dari desa kami naik.

Masih ingat dengan jelas jalur kala itu berupa tangga dari tanah yang panjang melewati perladangan dengan posisi ekstrem. Kanan kiri ladang jurang yang menurun. Ada mungkin satu kilometer. Di ujung jalan saya terjatuh saat berlari turun (bodohnya!) hingga kedua kaki terluka, dislokasi jari kelingking, satu gigi lepas, dan untungnya (lagi) masih bisa berjalan walau tertatih. Kala itu pula kami merasakan keramahtamahan warga lereng Sumbing. Sudah dibantu nebeng dengan truknya, diajak ke rumahnya dan diberi makan, diantar ke jalan raya terdekat pula. Sungguh luar biasa.

Pulang.
STOP!
Sebenarnya terdapat akronim sederhana ketika kita tersesat: STOP. Ya, ketika tersesat jangan teruskan berjalan tetapi duduklah (Sit) terlebih dahulu. Tenangkan pikiran dan istirahatkan tubuh yang lelah secara fisik dan psikis. Hal ini penting untuk mengurangi rasa panik yang muncul. Ajak anggota tim untuk menenangkan diri terlebih dahulu baru kemudian berpikir (Think). Berpikir tentang rute yang sudah dilewati, apa patokan terakhir, pada bagian mana melenceng dari jalur, dan usahakan untuk mencari patokan yang mudah diingat untuk menuntun ke jalan yang benar.

Langkah ketiga yakni mengamati lingkungan sekitar (Observe). Jika pandangan terganggu, usahakan untuk naik ke tempat yang tinggi seperti pohon. Pernah saya beberapa kali memanjat pohon untuk mencari jalur ke basecamp saat tersesat di Papandayan dan benar-benar membantu mengembalikan arah jalan kita. Perhatikan juga jika ada aliran sungai yang mana dapat menjadi panduan yang sangat mudah digunakan untuk turun. Hal lain seperti jenis pepohonan, kondisi bebatuan, dan petunjuk lainnya penting diperhatikan.

Langkah terakhir yang paling menentukan yakni merencakan (planning) langkah selanjutnya. Hasil berpikir dan mengamati gunakan sebagai acuan untuk membuat rencana selanjutnya. Pertimbangkan semuanya dan ambil kesepakatan bersama untuk tindakan berikutnya. Pertimbangkan juga mengenai logistik dan hal apapun yang dapat membantu atau mencelakakan selama perjalanan.

Pada kesempatan lain ketika mendaki gunung yang masih asing, saya selalu memberikan tanda pada jalur yang sudah dilalui. Bisa berupa tali raffia (yang sengaja saya siapkan dan ambil lagi sewaktu turun) atau kertas tisu. Pada gunung berpasir seperti Semeru dan Slamet lebih susah lagi, di puncaknya tiada pepohonan dan hanya hamparan pasir yang serupa. Ketika kita salah melangkah dan melenceng dari titik keluar dari hutan, celakalah sudah.

Jalan yang Berlintang.
Gunung dengan segala keindahannya tetaplah alam liar yang ganas. Keindahanya seperti bunga bangkai yang memikat lalat untuk masuk ke dalamnya. Selalu hati-hati saat melangkah. Happy climbing, keep safe, clean, and fun climbing. (dm 030114)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...