‘Berkunjung’ ke Nusakambangan

Bagi kebanyakan orang, Nusakambangan tentu bak Alcatraznya Indonesia. Sebuah penjara yang dibangun di sebuah pulau ‘tak berpenghuni’ membuat tahanan terisolasi di tengah lautan. Karang, obak, dan laut menjadi batas yang hampir mustahil ditembus. Namun bagi warga Cilacap, selain sebagai tempat para napi menjalani masa hukuman, pulau kecil ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Tidak percaya?

Benteng Pendem.
Untuk menuju Pulau Nusakambangan yang berada di Kabupaten Cilacap ini, kita dapat melalui berbagai jalur. Pengalaman saya hendak menuju ke pulau ini sedikit mengalami penolakan. Mungkin karena faktor ketidaktauan saja. Ketika hendak menyebrang dari dermaga Departemen Perhubungan, ditolak. Tidak menyerah mencoba peruntungan dari Departemen Kehakiman, itupun juga di tolak. Akhirnya pergi ke Pantai Teluk Penyu, ternyata bisa menyebrang dengan harga murah dan disambut oleh plang Departemen Pertahanan.

Di Teluk Penyu, berkunjung ke Nusakambangan ternyata sudah menjadi salah satu daya tarik wisata. Banyak calo-calo kapal yang menawari untuk menyebrang ke pulau dengan harga sepuluh ribu (2009) sekali jalan. Satu perahu bisa memuat sampai sepuluh orang. Sementara untuk lama perjalanan ke pulau tidak begitu lama, dalam waktu setengah jam kita sudah bisa menginjakan kaki di Indonesian’s Alcatraz ini.

Untuk menuju ke Pantai Teluk Penyu sebenarnya cukup mudah, dapat dengan menggunakan angkutan umum atau pribadi. Terletak di pesisir Kecamatan Cilacap Selatan dengan jarak kurang lebih dua km dari pusat Kota Cilacap.

Apa saja yang Bisa Dikunjungi
Ada beberapa tempat yang dapat dikunjungi di Nusakambangan seperti Pantai Karang Bolong. Di satu sisi pantai ini terdapat hamparan pasir putih dengan laut yang jernih dan di sisi lain terdapat karang-karang yang bertebaran. Dari namanya, Karang Bolong berarti sebuah batu karang yang berlubang (bolong). Namun ketika aku susuri, tidak kutemukan satu karangpun yang berlubang seperti nama pantai ini.

Maskot wisata di pulau ini dari Teluk Penyu tentu saja Benteng Karang Bolong peninggalan Bangsa Portugis. Warga sekitar menyebutnya Benteng Pendem, wajar saja mengingat lokasinya yang agak masuk ke dalam tanah. Dari bibir pantai tempat perahu berlabuh, kita harus berjalan kurang lebih setengah jam. Sewaktu musim hujan jalan akan menjadi licin dan berlumpur. Waktu tempuh pun menjadi lebih lama.

Pantai Teluk Penyu.
Jalan ke Benteng Pendem.
Pantai Karang Bolong.
Tangga Bawah Tanah.
Lorong.
Mendorong Motor Sewaktu Jalan Pulang.
Pintu Masuk Nusakambangan.
Danang.
Pulang.
Sampai sekarang kita masih dapat menjajal beberapa ruangan dan lorong-lorongnya yang menawan. Meniti tangga masuk ke dalam perut bumi, menyusur lorong yang gelap pekat, atau melihat dari jendela kecil yang katanya dulu tempat melempar para pribumi yang memberontak. Horor rasanya. Berdiri di sana seolah-olah kita masih dapat merasakan derap tentara yang berjaga. Teriakan marah dari para kapiten dan tawa nakal dari para noni-noni Belanda seolah kembali beragaung dalam imaji kita.

Sore hari, dalam perjalanan pulang ke Teluk Penyu, rupanya sang surya sudah mulai letih bersinar. Semburatnya ketika kembali ke peraduan berpendar keemasan di cakrawala. Meninggalkan Nusakambangan dengan segala kisahnya. (dm 030614)

2 comments:

  1. dhani,, catatan jalan-jalan kamu udah banyak ya..
    selalu terkagum-kagum dengan orang-orang yang hobby travelling.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. makasie. Namun bukan masalah banyak atau sedikit, jauh atau dekat. yang paling penting kan bisa menikmati dan mewujudkan impian. Keep travelling. :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...