Jalan-jalan ke Merapi

Sehabis Sholat Idul Fitri, langsung kutancap gas Bluemerry menuju Semarang untuk bertemu dengan kedua dua cewek ‘gila’ itu. Ya, dikala orang lain bergemberia merayakan Hari Kemenangan, kami malah jalan-jalan. Bukan berarti kami anak durhaka, hanya saya kami ingin merayakannya dengan sedikit berbeda, yakni jalan-jalan ke Gunung Merapi, hehe..

Menunggu Matahari Terbenam (doc. Lei).
Jadi ceritanya jalan-jalan kali ini hanya untuk melepas kangen akan aroma gunung. Lama bergulat dengan macet dan laporan membuat kepala makin penat saja. Nah, dipilihlah Gunung Merapi sebagai obat kangen dan pereda penat di kepala. Berangkatlah aku dan kedua temanku itu dengan hanya berbekal sepeda motor dan bekal seadanya. Tujuan kami memang bukan naik gunung, hanya sekedar trekking di jalurnya, di tengah rindangnya pepohonan.

Plan kami hari itu cukup sederhana, berangkat dari Semarang untuk menuju New Selo lewat dari Boyolali, trekking semampunya, dan sore hari sudah meluncur kembali ke Semarang. Tanpa bermalam di tenda. Tanpa bekal logistik yang seabrek.

Taman Nasional Gunung Merapi.
Perjalanan ke Atas.
Foto Bersama Dulu.
Ada dua kisah unik sewaktu di jalan. Pertama, kami sempat merasakan keramah-tamahan ‘orang gunung’, bagaimana tidak, hanya berhenti untuk bertanya arah jalan, eh, malah disuruh mampir dan dikasih makan. Hehe.. lumayanlah buat tambahan stamina. Kedua, teoriku soal persepsi jarak yang berbeda antara orang gunung dan ‘daratan’ makin terbukti. Tiga kali bertanya jarak tempuh lokasi, dan ketiganya harus dikalikan dua untuk mendapatkan jarak sesungguhnya. Atau dengan kata lain, ketika orang gunung berkata 10 km, maka itu artinya 20 km. Jangan tertipu kawan!

Jalur yang Berdebu
Waktu keberangkatan yang sempat molor, mampir ke tukang tambal ban, dan bertamu di rumah orang yang sama sekali tidak kami kenal membuat rencana molor. Baru pukul tiga sore kami tiba di New Selo. Untuk jaga-jaga apabila kemalaman di jalan, mau tidak mau kami membeli senter dan beberapa perlengkapan lain.

Sekuntum Bunga.
- Bukan Promosi -
Berpegangan dengan Akar Pohon.
Ternyata sehabis erupsi yang dashyat tahun lalu, jalur gunung setinggi 2.968 mdpl ini penuh dengan debu. Menumpuk hingga beberapa centimeter. Hal ini terlihat jelas pada bekas jalan yang digali kembali. Pada bagian bawah berwarna coklat tanah dan bagian atas abu-abu dari abu Merapi.

Jalur ke Merapi memang tidak bisa dikatakan landai. Pada beberapa titik kita harus bergulat dengan akar dan batu. Memilah-milah batu mana yang harus dijadikan pegangan, akar mana yang kuat untuk menumpu beban kita, atau memastikan batu mana yang tidak labil ketika kita jejak. Asyik sekali, kawan!
 
Matahari Tenggelam.
Perjalanan Turun.
Tempat Favorit di Basecamp : Dapur!
Sekitar 100 meter dari Pasar Bubrah, di batas vegetasi, terlihat sang mentari sudah mulai lelah memancarkan sinarnya. Kami pun putuskan untuk berjalan sampai di sini saja dan kembali turun ke bawah. Tak lupa, menikmati detik-detik matahari tenggelam dari Merapi yang indah menawan sebelum kembali ke basecamp.

Perjalanan turun berjalan cukup mudah. Walau sempat sedikit keluar jalur dan salah satu teman saya harus berjalan dengan pantatnya, kami sampai di basecamp pukul tujuh malam. Rencana kembali sore ke Semarang buyar sudah, lelah memaksa kami untuk bermalam di basecamp. Tidur hanya dengan jaket dan baju yang melekat di tubuh, walau di Basecamp Selo tapi dinginnya minta ampun. Segera saja dapur menjadi tempat favorit kami malam itu. Keep safe, clean, and fun climbing. (dm 011414)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...