Nekat di Bromo (bagian 1)

Sudah sedari dulu aku ingin mengunjungi tempat satu ini. Melihat keindahannya dari acara di televisi dan internet membuatku makin ngiler saja. Ah, kapan aku bisa ke sini? Naik apa aku ke sini? Menginap di mana? Uang dari mana? Namun, nampaknya Sang Maha Pengatur Waktu sedang berbaik hati padaku, di penghujung tahun 2008, seorang teman mengajaku ke sini. Mengunjungi kemegahan Kawah Gunung Bromo yang memikat hati.

Pura Luhur Poten di Kala Senja.
Tujuan utama ajakan temanku itu sebenarnya yakni Mahameru, puncak para dewata bersemayam. Sementara mengunjungi Bromo hanya bonus jikalau masih ada waktu sebelum mereka kembali ke Jakarta. Merasa inilah kesempatan terbaik untuk menuju gunung 2.392 mdpl tersebut, langsung kuiyakan tanpa pikir panjang. Tanpa memikirkan ketebalan dompet yang makin kian tipis dari hari ke hari.

Bromo, Here I Am!
Setelah kembali ke Ranupane dari mengunjungi Puncak Semeru, kami sedikit kebingungan akan akses ke Bromo. Mau jalan kaki, kok lumayan jauh. Sewa jeep hanya untuk mengantar kami? Harganya serasa jauh di awang-awang bagi kami kala itu, maklum, mahasiswa kere, hehe.. Kebingungan, kami hanya duduk mencuri dengar para pengemudi jeep. Siapa tahu ada yang searah dengan tujuan kami.

Jalur ke Bromo dari Ranu Pane.
Foto di Depan Jeep di Segara Wedi.
Cuy, itu ada bule di Bromo minta dijemput. Sana buruan jemput!”, teriak satu orang kepada pengemudi jeep yang sedang duduk santai.

Bingo! Tanpa pikir panjang langsung kami nebeng, dengan tetap membayar tentunya. Membayar dengan tarif yang jauh lebih murah, hanya lima belas ribu! Setengah harga Tumpang-Ranupane kala itu. Untungnya keril sudah siap sedia, dan walau temanku harus membuang bakso yang baru setengah di makan untuk lari-lari naik ke belakang jeep, berangkatlah kami ke Bromo.

Menuju gunung berapi aktif ini dari Ranupane amatlah menggunggah jiwa Tolkienku. Lembah yang luas dengan tebing di kiri kanan. Sejauh mata memandang hanya padang lembah yang tak berujung. Untuk sesaat aku serasa menjadi Legolas yang mengunjungi Rohan untuk mencari bantuan. Bersama Aragon, Gimli si Kurcaci melintasi Padang Rohan yang luas. Bromo, here I am!
 
Perjalanan ke Bromo.
Segara Wedi
Debu dan pasir menggantikan rumput di lembah yang subur. Tebing-tebing tinggi digantikan hembusan angin yang kering dan dingin. Tak berapa lama, kami sudah berada di kaldera Bromo yang dikenal dengan Segara Wedi (lautan pasir) itu. Di sinilah film Pasir Berbisik mengambil setting. Adegan demi adegan Christine Hakim, Dian Sastro dan Didi Petet bergulat apik dengan pasir tempat tinggal Suku Tengger tersebut.

Ternyata jeep tersebut tidak bisa mengantar kami sampai kaki Gunung Bromo, dia hendak menuju ke arah yang berbeda. Alhasil sisa jarak sejauh lima ratus meter harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tak mengapa, pemandangan di kanan kiri ini sayang jika dinikmati dengan kecepatan tinggi. Menikmatinya dengan berjalan kaki tentu lebih asyik. Benar saja, tidak terasa, kami sudah sampai di kaki Pura Luhur Poten, tempat peribdatan Suku Tengger yang terletak persis di bawah Gunung Bromo dan Batok. Ohya, di sebelah Kawah Bromo terdapat gunung kecil bernama Gunung Batok.

Parkiran di Bawah Gunung Batok.
Suku Tengger.
Akhirnya, sampai juga aku di Bromo. Setelah sekian lama berada di angan-angan kini berada tepat di depan mata! Saatnya untuk mencari tempat mendirikan tenda dan mengeksplor keindahan Bromo.

Untuk membaca cerita selanjutnya silahkan klik link berikut. (dm 123013)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...