Mendaki Gunung Slamet

Berdiri menjulang setinggi 3.428 meter dari permukaan laut menjadikan Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah. Rumornya, Slamet dianggap gunung suci pada masa Kerajaan Majapahit sehingga kawasan ini tetap tidak terjamah. Hal ini pula yang menyebabkan dialeg penduduk di kakinya sedikit (baca: tetap) berbeda dengan penduduk Jawa yang lain. Kalau di Bayuwangi ada Bahasa Osing, di kaki Slamet di kenal dengan nama Bahasa Ngapak.

Di Puncak Slamet.
Bersama dengan Sindoro dan Sumbing, Slamet terkenal dengan sebutan triple S. Kesamaan huruf awal dan lokasi yang berdekatan mungkin menjadi latar belakang adanya istilah ini. Keindahan gunung satu ini sayang untuk dilewatkan. Jalur dengan vegetasi hutan yang lebat dan terkesan mistis. Sementara selepas Pos 5 kita akan disuguhi pemandangan di atas awan yang luar biasa. Indah sekali. Namun seperti kedua saudaranya, di sepanjang jalur Gunung Slamet tidak memiliki sumber air.

Slamet dari Bambangan
Selain Baturaden di Purwokerto dan Guci di Tegal, Bambangan yang berada di Purbalingga adalah rute pendakian Slamet yang paling sering digunakan. Rumornya (lagi), Bambangan adalah rute yang paling aman, sementara pada kedua rute yang lain pendaki seringkali tersesat dalam melakukan pendakian. Rumornya (sekali lagi) hal ini dikarenakan ulah makhluk halus, karena itu pula gunung ini terkenal mistis.

Jalur ke Pos 5.
Jalur yang Rindang.
Pendakian ke Slamet via Bambangan rata-rata dilakukan dalam waktu dua hari, satu hari untuk naik dan sehari lagi untuk turun ke basecamp. Untuk menuju puncak, pendakian enaknya dilakukan dalam dua etape. Pertama dari basecamp ke Pos 5 Samhyang rangkah untuk kemudian mendirikan tenda guna bermalam dan mengembalikan stamina tubuh. Baru pada dini hari atau keesokan harinya dilanjukan perjalanan ke puncak. Logistik dan perlengkapan yang tidak diperlukan untuk ke puncak dapat ditaruh di sini.

Waktu itu, saya dan rekan-rekan memulai pendakian pada pukul 8 pagi dari basecamp yang kebetulan dilakukan pada tanggal 8 bulan 8 dan tahun 2008. Angka yang ciamik. Awal perjalanan kita akan melewati perladangan penduduk, diikuti hutan yang lebat. Berkat hal ini, pendakian di siang hari terasa sejuk, sinar matahari yang terik tertahan daun-daun yang rimbun. Pukul 5 sore kami sampai di Pos 5, mendirikan tenda dan beristirahat. Rumornya (lagi-lagi) di sini terdapat sumber air, namun saat didatangi ternyata sudah kering.

Selepas Pos 5, pendakian menjadi makin asyik. Jalur yang menanjak dan berpasir membuat andrenalin meningkat dan nafas makin ngos-ngosan. Seperti Semeru, pasir dan kerikil membuat pijakan menjadi labil. Naik dua langkah turun selangkah. Alhasil kita harus mengerahkan tenaga ekstra untuk naik ke atas. Asyik sekali.

Sunrise dari Puncak Slamet.
Pos di Atas Awan.
Rute Puncak-Pos 5 (doc. Firman).
Kawah Slamet.
Melihat Puncak Para Dewata
Slamet masih memiliki kawah yang aktif dan rumornya (ini yang terakhir) kawah ini pernah membunuh banyak pendaki yang mendirikan tenda dan bermalam di puncak. Asap beracun yang dikeluarkan Slametlah yang merenggut nyawa pendaki-pendaki malang tersebut. Karena itu jika masih sayang nyawa, sebaiknya jangan bermalam di puncak.

Hal yang selalu saya ingat akan Puncak Slamet adalah momen di mana kita bisa menikmati keindahan puncak negeri para dewata dari jauh. Bukan Semeru atau Bali, puncak yang saya maksud yakni Dataran Tinggi Dieng. Mengagumkan sekali. Jajaran gunung yang melingkupi Dieng seperti melayang di atas awan. Terpisahkan dari daratan kaum fana. Mungkin inilah gambaran negeri para dewata yang terdapat dalam cerita-cerita nenek monyang kita dulu.

Negeri Para Dewata.
Perjalanan turun berjalan cukup lancar dan cepat. Sebelum hari berganti sore kami sudah di basecamp kembali. Semoga suatu saat dapat bercumbu dengan puncak ini lagi. Happy climbing, keep safe, clean, and fun climbing. (dm 022414)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...