Menuju Salakan

Waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam, peluit Kapal El Savador baru berbunyi satu kali, pertanda masih ada cukup waktu bagi penumpang untuk menyelesaikan urusannya di darat. Itu pula yang membuatku menyempatkan diri mampir ke toko jajanan untuk sekedar membeli cemilan dan air minum sebagai bekal perjalanan malam itu. Atas bantuan teman pejalan dari Luwuk, akhirnya keinginan untuk mengunjungi Salakan dapat terwujud. Dari yang setiap hari hanya melihatnya dari Banggai daratan, kini aku akan dapat menginjakan kaki di sana.

Kapal El Savador.
Salakan adalah ibukota untuk Kabupaten Banggai Kepulauan, salah satu ‘kota’ yang lumayan ramai pada semenanjung Sulawesi bagian timur. Terdapat tiga kabupaten yang menyandang nama Banggai, yakni Banggai yang beribukota di Luwuk, Banggai Kepulauan dengan pusat di Salakan, dan paling timur terdapat Banggai Laut dengan ibukota Banggai. Salakan yang terletak di Pulau Peling, pulau terbesar di Banggai Kepulauan juga terkenal akan hasil alamnya terutama ikan, mutiara, coklat, dan durian.

‘Knight Ship’
Masih ingat salah satu adegan di buku Harry Potter and the Prisoner of Azkaban di mana Harry tanpa sengaja menumpang Knight Bus ke London? Yang unik dari bus tersebut adalah tiadanya kursi melainkan digantikan dengan puluhan ranjang untuk penumpang. Sama halnya dengan Kapal El Savador yang akan mengantarku ke Salakan ini: tidak ada kursi penumpang, alih-alih disediakan deretan kasur dengan ‘nomer kasur’ di depannya. Langsung saja imajinasiku meluncur ke sosok bus antik di kisah karangan J.K. Rowling tersebut.

Suasana di Dalam Kapal El Savador.
Anak Pulau Salakan.
Adanya kasur ini memang tepat mengingat kapal ini selalu beroperasi malam hari dari Luwuk. Kapal kayu yang dapat memuat kurang lebih seratusan penumpang akan menunaikan tugasnya dalam waktu 4-5 jam. Perjalanan pun jarang diterjang ombak tinggi, malahan seperti naik kereta api. Gugusan kepulauan Banggai menjadi seperti barikade alami yang melindungi Luwuk dari arus Samudra Pasifik. Oleh karena itu, tanpa sadar kapal sudah berlabuh di Salakan sementara aku masih tertidur pulas, hehe..

Tugu Trikora
Ternyata, Salakan mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Di sinilah lokasi armada kapal perang Indonesia pada peristiwa Trikora bersembunyi. Baik kapal perang Angkatan Laut Indonesia, kapal niaga yang ikut membantu penyerangan, sampai kapal selam berkumpul di sini menunggu komando. Posisinya memang sangat strategis. Dekat dengan Papua dan terlindungi dengan baik oleh bentuk Pulau Peling yang seperti huruf U dan adanya Pulau Bangkalan di depannya.

Salakan.
Tugu Trikora.
Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, dibangunlah sebuah Tugu Trikora di Salakan. Dari tugu ini kita dapat melihat seluruh ‘kota’ Salakan dan gugusan pulau di depannya. Indah sekali, walau pada awalnya akan cukup membuat ngos-ngosan untuk menuju ke lokasi tugu berada. Sayangnya, kondisinya tidak begitu terawat. Banyak rumput liar pada tangga, jalan masuk menuju tugu, dan di bawah tugu bersejarah itu sendiri.

How to get there?
Terdapat tiga kali penyebrangan Luwuk-Salakan dalam sehari dengan jenis armada laut yang berbeda. Kapal feri yang dapat mengangkut mobil berangkat pada siang hari, kapal kayu dapat untuk mengangkut sepeda motor berangkat pada malam harinya pukul sembilan dari Luwuk. Dan jika terburu-buru dapat menumpang kapal cepat Marina Baru dengan waktu tempuh hanya satu setengah jam. Sementara dari Salakan ke Luwuk juga terdapat tiga kapal setiap harinya. Untuk kapal kayu cukup merogoh kocek 40 ribu per orang, sementara kapal cepat dihargai dua kali lipat kapal kayu. Sementara untuk motor/mobil dikenakan harga lumayan tinggi, karena itu sebaiknya sewa mobil saja ketika sampai Salakan.

Di Salakan terdapat tiga penginapan yang terletak tidak jauh dari dermaga. Selain Tugu Trikora, objek wisata yang dapat dinikmati yakni: deretan pantai dengan air sebening Kristal, Air Terjun Tembang di Desa Luksagu, gua, dan Danau Lemelu di Bulagi.

Air Terjun Tembang.
Pantai Tinakung.
Arus yang tenang mengantarku pulang ke Luwuk, tak terasa langit sudah mulai berwarna jingga. Lumba-lumba tampak asyik berlompatan di belakang kapal cepat yang melaju di atas laut sebening kristal. Tiba-tiba, segala gundah yang selama ini hinggap di hati seperti menguap entah kemana berganti damai dan syukur. Terima kasih, Tuhan. See u, Salakan. (dm 050714)

3 comments:

  1. Bagi yang mengetahui nama taher/ito dan mariama di salakan kab.luwuk kepulauan sulawesi tengah tolong di infokan pada nama tersebut diatas bahwa saudaranya atas nama ABD. Razak / yondo lagi sakit keras di kendari sulawesi tenggara.













    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...