Lawu, antara Bunga dan Banjir

Gunung Lawu adalah gunung ketiga bagi saya, yang waktu itu masih belia dan tanpa dosa (#uhuk). Kini setelah sembilan tahun lamanya dengan sedikit memaksa pada kesempatan cuti yang kesekian kali, akhirnya dapat bertemu kembali. Nostalgic rasanya. Waktu itu mendaki dengan teman-teman kuliah yang masih sepantaran, sekarang bersama dua gadis kuliahan yang cantik jelita (#uhuk).

Pos 1 Gunung Lawu.
Selepas mendaki Gunung Rinjani, dengan mengawali naik ojek di jam tiga pagi buta dari Senaru, perjalanan menuju Lawu dimulai. Di hari yang sama, terlambat dua jam dari perkiraan semula, pada pukul tujuh malam sudah bisa menginjakan kaki di Solo. Bus Surabaya-Solo yang saya tumpangi cukup nyaman, melaju dengan kencang dan hanya berhenti sekali di Ngawi untuk makan.

Jalur Berbunga
Keesokan harinya, dari Solo saya dan kedua teman menuju Tawangmangu untuk mampir sebentar membeli logistik pendakian. Sayur mayur dan aneka bahan makanan dapat kita peroleh dengan harga yang murah sekali, tak ketinggalan bumbu pecel untuk dijadikan sambal, hm.. nikmat sekali tentunya. Perjalanan dilanjutkan menuju Cemoro Sewu, basecamp Gunung Lawu.

Dari ketiga jalur yang dikenal selain Cemoro Kandang dan Candi Cetho, Cemoro Sewu adalah yang tercepat dan termudah. Dan bagi kami saat itu, terindah! Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan kami dimanjakan bunga-bunga yang bermekaran aneka warna. Jalur pendakian yang sudah disusun rapi dari bebatuan dihiasi bunga di sepanjang kiri kanannya. Putih, kuning, merah, dan warna-warna lainnya.

Aneka bunga ini seakan kompak bermekaran sekaligus. Seperti menyambut kedatangan kami bertiga di gunung yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini. Embun pagi yang masih menempel membuat kesan yang makin kuat, segar dan menyenangkan. Indah sekali.

Walau memulai pendakian saat tengah hari, untungnya cuaca tidak terik. Sebailknya, mendung dan sedikit berkabut, membuat suasana semakin syahdu. Selain bunga, kiri kanan jalan juga banyak terdapat beri liar. Tampaknya Juni adalah saat yang pas untuk mendaki Gunung Lawu. Dan karena mendaki tidak pada akhir pekan, saat itu tidak begitu banyak pendaki yang kami temui, hanya dua-tiga kelompok saja.

Kebanjiran
Malamnya, walau terdapat warung Mpok Yem dan beberapa rumah yang bisa dijadikan tempat bermalam, kami memutuskan untuk mendirikan tenda. Lagaknya seh ingin lebih menikmati pendakian di dalam tenda daripada bermalam di bilik atau warung. Namun tak dinyana, walau melakukan pendakian saat musim kemarau di bulan Juni, tampaknya Lawu tidak tersentuh oleh siklus tahunan tersebut. Malam itu, hujan turun dengan derasnya.

Awal-awal masih tidak masalah, air mengalir di kiri kanan tenda dengan lancar. Lama-kelamaan terasa air mulai menggenang sehingga alas tenda bak kasur air saja. Empuk rasanya, hehe… Makin lama, hujan semakin deras dan air makin meninggi, terpaksa keluar dan membetulkan saluran air yang tersumbat ranting-ranting pepohonan. Gangguan air sementara dapat teratasi, tinggal menunggu hujan reda.

Jika hanya air, tidaklah menjadi masalah, tenda kami masih sanggup menahannya. Namun lain soal jika terkena petir, mampus tentunya! Ya, tak berapa lama mulai terlihat kilat dan bunyi geledek dari langit. Di awal-awal, jeda antara kilat dan bunyi petir terpaut dua puluh hitungan, ah, aman pikir saya, berarti lokasi petir tersebut jauh dari tempat kami bermalam.

Tiap kali petir menyambar, saya selalu menghitung jeda antara kilat dan geledeknya. Inilah yang membuat waswas, ternyata makin lama jedanya makin pendek, sampai hanya lima hitungan. Teringat kabar di sejumlah portal online yang menyebutkan tiga pendaki di Merbabu tersambar petir makin membuat dagdigdug saja. Tidak mau mengambil resiko, segera kami membuat rencana perpindahan ke goa yang tidak jauh dari lokasi tenda.

Bayangkan saja asyiknya kami malam itu, dalam hujan yang teramat deras memindahkan barang-barang dan tenda. Brrr… dingin sekali. Dari ujung kaki sampai ujung jari tidak berhenti menggigil. Namun di atas semua itu, nikmat sebenarnya adalah kami masih bisa menertawakan kesialan dan kekonyolan malam itu, heuheuhue…

Plang Cemoro Sewu.
Beri Liar.
Embun Pagi. :)
Putih.
Puncak.
Lokasi Tenda setelah Hujan.
Jalan Berbunga.
Dan malam itu diakhiri dengan makan pecel sayur dan telor dadar di dalam tenda sambil menikmati hujan di luar. Ah nikmatnya. Happy climbing, keep safety, clean, and fun climbing. (dm 5 Agustus 2014)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...