Suka Duka menjadi Promopacker

Eh, jalan-jalan yuk ke Thailand, ada promo neh dari maskapai A*r*sia. Tapi tahun depan jalannya.”, ajak seorang teman. Di lain kesempatan seorang teman mengajak jalan ke Vietnam dengan tiket promo juga. Backpacking sedang booming akhir-akhir ini pada destinasi Asean yang murah meriah dan semakin digenjot dengan promo-promo dari berbagai maskapai budget. Ada yang menawarkan bayar sekali jalan untuk tiket pulang pergi, free seat, sampai diskon yang gila-gilaan.

On the Plane.
Belakangan ini gaya berpergian dengan mengandalkan tiket promo memang makin marak. Para promopacker makin banyak bermunculan dari kalangan muda, pekerja yang masih lajang, dengan penghasilan kelas menengah. Dengan tiket promo, biaya perjalanan bisa sangat murah dan waktu perjalanan yang dapat di-planning jauh-jauh hari.

Biaya yang murah memang menjadi alasan utama untuk berpergian dengan mengandalkan tiket promo. Jalan-jalan ke luar negri memang membutuhkan banyak biaya dan sebagian besar biaya yang dikeluarkan adalah untuk ongkos transportasi pesawat ke destinasi tujuan. Dengan tiket promo, biaya ini biasa jauh ditekan. Namun, lucunya, beberapa sering berlomba-lomba untuk dapat jalan-jalan dengan budget termurah! Semakin murah semakin keren!

Mangsa utama tiket promo memang para karyawan kantoran yang dapat mengambil cuti beberapa hari. Cuti yang dapat direncanakan jauh-jauh hari, bahkan berbulan-bulan sebelum pemberangkatan. Bagi mereka kepastian adalah yang utama, perencanaan harus sematang mungkin, dan dipastikan lagi beberapa hari sebelum hari H, form cuti sudah harus di-acc bos.

Karena itu pula, biasanya teman-teman yang suka mantengin tiket promo, sudah memiliki jadwal travelling yang padat, bahkan sampai tahun berikutnya. Susah diajak jalan bareng yang bersifat dadakan. Semua harus direncakan jauh-jauh hari dari setahun sebelumnya menyesuaikan penjualan tiket promo yang biasaya setahun sebelum pemberangkatan. Mereka hanya berpergian jikalau hanya terdapat tiket promo.

Disamping kelebihan yang ditawarkan di atas, ada beberapa kelemahan menjadi seorang promopacker. Destinasi yang dikunjungi tidak bisa memilih dengan bebas, tergantung destinasi mana yang sedang menjadi promo, patokannya bukan ke destinasi, tetapi promo mana yang sedang tersedia. Plan trip baru disusun ketika sudah mendapat tiket pulang pergi.

Untuk teman perjalanan pun bisa disesuaikan belakangan. Ada yang sudah janjian impulsif barengan untuk membeli tiket promo, namun seringkali susah terlaksana karena kondisi kantong yang sering berbeda ketebalan dan jadwal tahun depan yang sudah padat. Untuk yang tidak begitu nyaman berpergian sendiri, biasaya mencari teman perjalanan di millist dan group-group jalan-jalan dengan jadwal yang sudah fix pulang perginya.

Bagi saya yang jadwal cutinya belum menentu, tergantung kondisi kerja yang sangat dinamis, tawaran promo-promo ini makin membuat emosi saja. Jikalaupun dipaksakan membeli, belum tentu pada saat hari H dapat berangkat. Ada saja kendala yang dihadapi, entah diminta memundurkan jadwal cuti karena ada kerjaan yang harus diselesaikan atau mungkin berpindah tempat kerja. Tiket promo memang menggiurkan, tapi sayangnya hanya dapat dilihat saja.

Tiket Berangkat.
Jadwal perjalanan yang pendek. Keinginan yang besar untuk mengunjungi banyak destinasi wisata namun di sisi lain waktu perjalanan yang terbatas menghasilkan padatnya “itennary” perjalanan para promopacker. Ittenary sudah harus disusun sampai ke jam-jamnya. Tidur di hostel mana, berapa biayanya? Dan memang dengan waktu yang terbatas, booking hostel menjadi langkah pasti berikutnya. Jangan sampai ketika sudah sampai lokasi tujuan waktu hilang untuk mencari tempat bermalam. Bagus lagi jika ada teman di destinasi tujuan, lebih mengirit.

Sarana transportasi pun harus sudah dipikirkan dari sebelum berangkat. Dengan apa untuk berpindah dari bandara ke hostel, dari hostel ke lokasi wisata, satu titik ke titik tujuan berikutnya. Semua sudah harus jelas. Dari jam sekian harus sudah sampai tempat A, jam berikutnya berpindah ke tempat B. Malam pertama di Kamboja, malam berikutnya di Vietnam, dan besoknya bisa-bisa sudah di Malaysia. Sistem jalan kebut semalam. Yang penting sudah berada di destinasi A dengan satu foto yang keren. Masing-masing berlomba-lomba mengumpulkan berbagai destinasi, siapa paling banyak, dia yang menang!

Bali, Salah Satu Destinasi Wisata Populer.
Style para traveler memang berbeda-beda, semua mempunyai kecenderungan masing-masing. Ada yang menikmati perjalanan yang santai dan tanpa rencana, ada pula yang sebaliknya. Dan untuk tipikal satu ini cocok sekali untuk pejalan dengan dana yang terbatas, serta waktu berlibur jangka pendek dengan perencananaan yang detail. Apapun itu, yang paling penting kita menikmati perjalanan kan? (dm 28 Agustus 2014)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...