Halimun Trip

Kata orang di Halimun itu aksesnya susah, kudu memakai jeep four wheels. Kata orang di Halimun kita bisa berjalan di atas kanopi hutan dengan jembatan gantung. Kata orang di Halimun kita bisa melihat jamur yang bisa berpendar di malam hari macam di film Avatar. Well, that what people said and today I’ll see the truth. Hari ini akhirnya kaki ini akan merasakan rasa Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Perkebunan Teh Nirmala.
Dengan memanfaatkan waktu di akhir pekan, berangkatlah kami berdua menaiki Bluemerry dari Bogor. Secara geografis TNGHS terletak di tiga kabupaten, yakni Sukabumi, Bogor, dan Lebak dengan luas areal 113.357 hektare. Dari Bogor perjalanan membutuhkan waktu empat jam dengan rute Bogor-Sukabumi-Cibadak. Kami memasuki Taman Nasional ini dari sisi timur, sedikit hal yang kami sesali kemudian, hehe..

Berkendara di [Jalan] Batu
Dari Cibadak, kita harus menuju Kantor TNGHS yang sekaligus menjadi pintu masuk sisi timur. Di sini, kita terlebih dahulu harus mengurus perizinan memasuki kawasan Taman Nasional seperti layaknya pada Taman Nasional lainnya. Cukup membayar biaya retribusi 2500 rupiah dan mendaftar di buku tamu. So simply.

Pos Penelitian Cikaniki.
Sungai Kecil di Tengah Loop Trail.
Berangkat dari Bogor pagi pukul lima kami sampai di sini pukul sepuluh pagi. Biasanya pengunjung Halimun pasti mengunjungi Pos Penelitian Cikaniki, tak terkecuali kami. Dari pintu masuk ke Cikaniki masih berjarak 17 km, dengan komposisi 10 km pertama jalan beraspal dan sisanya jalan berbatu. Begitulah penuturan ranger penjaga pintu masuk yang ramah itu. Tujuh kilo jalan berbatu? Ah, Blue pasti bisa melaluinya. Bluemerry, Vega R warna biru tahun 2004 ini memang sedang tidak begitu prima kondisinya.

Sepuluh kilo pertama perjalanan masih lancar, walau banyak lubang menganga di jalan. Nah, pada paruh tujuh kilo berikutnya penderitaan dimulai. Dalam benak, ketika mendapat info jalan berbatu, yang dibayangkan yakni jalanan dengan batu kali yang ditata menggantikan aspal. Jauh api dari panggang, jalur sepanjang tujuh kilo tersebut ditata dari batu-batu yang telah dipecah sehingga terlihat runcing di permukaannya. Ditambah lagi shockbreaker yang rusak serta kontur pegunungan yang naik turun, maka perjalanan tujuh kilo itu terasa makin ‘mantap’ saja. Pukul tiga sore baru kami bisa melihat Pos Penelitian Cikaniki.

Cikaniki, Citalahab, dan Cinopy
Banyak spot menarik di Halimun. Sekitar 200 meter dari Cikaniki terdapat Air Terjun Macan yang mengucur langsung ke pinggir sungai yang mengalir. Airnya pun jernih. Berjalan masuk ke dalam hutan terdapat canopy trail yang sudah rusak sejak 2009 lalu, rumornya seh tahun depan (2013) mau diperbaiki. Yah, we’ll see.

Canopy Trail.
Jamur yang Berpendar di Malam Hari.
Nah, jamur berpendar di malam hari yang sering dibicarakan orang dapat kita jumpai persis di sekitar tangga canopy trail dekat dengan Pos Cikaniki. Tentu kita harus melihatnya pada malam hari dan katanya makin bagus lagi sehabis hujan. Wujud asli jamur tersebut berwarna putih dengan diameter 2-4 mm. Kecil sekali. Sehingga pada malam hari, kita seperti dikelilingi ratusan kunang-kunang yang berpendar putih kehijauan. Rancak bana.

Untuk urusan menginap terdapat homestay di Citalahab. Dengan harga 50 ribu per malam kita sudah dapat tidur nyenyak. Pagi hari di Citalahab dapat kita habiskan untuk menikmati indahnya Perkebunan Teh Nirmala. Embun pagi dan matahari terbit adalah kombinasi yang amat menyegarkan.

Aktivitas lain yang dapat dilakukan yakni jungle trekking. Ada tiga pilihan rute tergantung stamina kita. Rute terpendek yakni dari Citalahap menuju Cikaniki melalui loop trail sejauh 1.8 km. Cukup menguras energi. Jalur rute ini cukup jelas sehingga bagi yang ingin merasakan sedikit tantangan, tidak perlu memakai guide. Di sepanjang loop trail kita dapat menikmati keragaman hayati TNGHS baik flora maupun fauna. Namun untuk kedua rute yang lain sangat dianjurkan untuk memakai guide lokal.
 
Air Terjun Macan.
Puas menikmati Halimun dan malas melewati jalur masuk kemarin, kami mencoba pulang melewati pintu masuk sebelah barat. Dan benar saja, ternyata lewat sini jauh lebih beradap bagi pantat kami. Walau masih berbatu, tetapi kondisinya lebih bagus dan tidak begitu jauh. Ohya, pada perjalanan pulang kita dapat menemui Air Terjun Piit dan Pabrik Teh Nirmala.


Citalahab.

Untuk sekedar menikmati suasana pegunungan, menurutku Halimun cocok sekali menjadi pilihan. Kondisi hutan yang asri dan ragam pilihan aktivitas yang dapat kita pilih sesuai selera. Semoga pada lain kesempatan aku dapat berkunjung ke sini lagi dan semoga dapat menggunakan alat transportasi yang ramah pantat. :p (dm 140913)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...