| Sindoro dari Sumbing. |
Percobaan Pertama
Ingin
menjajaki puncak 3.371 mdpl, langsung saja kuiyakan ajakan teman adiku untuk
pergi ke Sumbing. Rute yang dipilih pun bukan jalur utama Garung, tetapi
melalui Dukuh Kepencit, Parakan, Temanggung. Singkat cerita, kami gagal
mencapai puncak dan aku hampir saja mati saat hendak turun.
Lama sesudahnya,
ada beberapa hal yang dapat kupetik sebagai pelajaran. Pendakian dilakukan pada
malam hari, kami berangkat dari Kepencit pukul tujuh malam. Hampir berjalan
nonstop sampai puncak. Ketika turun, kami mencoba jalur baru ketika melihat ada
rombongan lain yang lewat di jalur berbeda, jalur yang kami belum kenal betul.
Alhasil kami tersesat.
Pengalaman
paling pahit, pada turunan yang berbatu di jalan perladangan, aku malah
berlarian hingga lepas kendali. Masih untung cuma kedua jari yang lepas sendi
dan satu gigi yang tanggal. Masih saja bulu roma berdiri kalau mengingat
kembali kontur jalan dengan batu-batu tajam serta kecepatan lariku saat itu hingga
jatuh berguling-guling kebawah.
Pendakian kali ini gagal total!
| Lereng Gunung Sumbing |
| Kawah Sumbing. |
Percobaan Kedua
Gagal
mencapai puncak pada pendakian lalu tak membuatku surut. Kali ini kuniatkan
untuk sampai di puncak. Beranggotakan delapan orang, kucoba kembali peruntungan
Sumbing dengan rute yang sama. Alasan lain, karena hanya rute itu yang kutau
mengingat di antara kami berdelapan hanya akulah yang pernah ke Sumbing, itupun
gagal.
Berkaca pada
pendakian pertama, oke, tidak perlu membawa air terlalu banyak, cadangan air
melimpah. Kata-kata yang kuaminin sendiri mengingat trek Gunung Sumbing yang
berat dan minim bonus. Namun sepertinya alam berkehendak lain. Pada lokasi di
mana sungai mengalir deras pada pendakian pertama ternyata telah kering
kerontang. Gawat!
Setelah rute
ke puncak jelas, berjalanlah aku sebagai sweeper untuk menyemangati yang lain.
Hari sudah terang, terik pun mulai terasa. Sesampai di puncak, baru kusadari
ternyata hanya tiga orang yang mencapai puncak. Lima orang rombongan di depan
menghilang entah kemana. Baru saat turun kudapati mereka sedang beristirahat di
tengah jalan, kelelahan dan haus yang sangat menahan laju mereka kepuncak.
Walau sampai puncak, tapi tetap saja rasanya aku gagal mencapai puncak. Tidak
ada kenikmatan dan kebanggaan seperti yang kuharapkan.
Percobaan Ketiga
Merasa gagal
pada kedua pendakian terdahulu, terayu juga hati ini oleh ajakan teman ikut
pendakian massal ke Sumbing. Pertimbangannya cuma dua: Pendakian massal, karena
dilakukan secara [harusnya] terorganisir sehingga jarang gagal mencapai puncak
dan pendakian kala itu melewati Jalur Klowoh, jalur yang belum pernah kulalui. Juga,
katanya jalur ini baru dibuka. Hmm…
| Sungai di Dasar Kawah. |
Belajar dari
pengalaman pendakian kedua yang hampir mati kehausan, kuiisi ransel dengan air
yang lebih dari cukup. Tak mau kualami lagi mengais-ais bebatuan untuk mencari
air. Tak mau lagi melihat teman jatuh pingsan karena dehidrasi. Safety first!
Berangkat
pukul delapan pagi dari basecamp, melewati rute yang panjang, baru pukul
sembilan malam kami sampai di puncak. Akhirnya, aku dan seluruh tim pendakian
bisa menjejakan kaki di puncak, bahkan tenda pun kami dirikan di puncak. Di
pinggiran kawah yang curam itu.
![]() |
| Bergaya di Dasar Kawah (doc. Hanum). |
Pada
pendakian ketiga ini, kusempatkan untuk turun ke dasar kawah. Jalurnya lumayan
curam, namun layak untuk dilakukan. Dasar kawah gunung kembar ini digenangi air
yang berasal dari aliran air kecil yang berbau belerang. Keindahannya membuatku
betah berlama-lama di dasar kawah. Untuk pulang, kami tidak melewati rute
berangkat, tetapi lewat Garung yang merupakan ‘jalur nasional’ pendakian
Sumbing, agar lebih cepat sampai.

No comments:
Post a Comment