Kawah Bulan Sabit?

Bukan! Bukan sebuah kawah yang berbentuk bulan sabit. Bukan pula kawah sebuah gunung yang bernama ‘Bulan Sabit’. Nama gunung tempat kawah ini berada yakni Gunung Merapi. Tetapi bukan gunung berapi yang terletak di Jawa Tengah ataupun Sumatra Barat. Lokasi persisnya berda di Kawasan Cagar Alam Kawah Ijen, di ujung timur Pulau Jawa. Uniknya, pada kawahnya terdapat gundukan tanah dengan pepohonan di atasnya yang menyerupai bulan sabit. Persis seperti bulan sabit.

Kawah Bulan Sabit dari Kejauhan.
Aturannya, untuk menuju ke sini kita diharuskan mengantongi izin dari Dinas Perhutani selaku pengelola Cagar Alam. Jalur untuk menuju ke sini pun tidak mudah mengingat tiadanya akses yang jelas. Terdapat dua “rute” untuk menuju ke sini, yang pertama dari Pos Paltuding, Banyuwangi, yang membutuhkan waktu enam hari. Sementara jalur satunya cukup ditempuh dalam waktu 4 jam yakni dari bibir Kawah Ijen, lokasi Blue Fire yang terkenal tersebut.

Sebagai manusia normal, kami memilih rute yang kedua.

Rute satu ini sangat jarang dilalui orang, bahkan penduduk lokal. Oleh karena itu, terpaksa kami ‘membuka’ jalur pada jalur lama yang sudah rapat oleh tumbuhan. ‘Pintu masuk’ jalur tersebut pun tidak jelas. Kami cuma mengira-ngira akses ke puncak dari lereng gunung yang kemungkinan cukup landai untuk dilewati. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mendapatkan akses yang ‘sepertinya’ bisa dilalui.
 
Mencari Jalur ke Puncak.
Beri Liar yang Banyak di Jalan.
Kawah Ijen di Latar Belakang.
Namun, masih saja pada beberapa bagian terpaksa harus memutar karena tiadanya jalur alias buntu. Di sisi lain harus berkutat dengan tanah yang labil, hanya berpegangan dengan rumput kering atau tanaman mati. Sungguh memompa andrenalin.

Pada beberapa titik yang amat curam, hampir saja aku dan teman seperjalanan jatuh ke bawah. Tanah dan batuannya sungguh labil. Puncak yang tingginya tak seberapa itu menjadi amat lama digapai. Dari pukul tujuh pagi, baru pada sebelas siang kami berdua sampai di puncak.
 
Jalur ke Puncak.
Jamur.
On the Way Down.
Di puncak, sebenarnya terdapat dua kawah yang keduanya sudah mati. Kawah Bulan Sabit yang menjadi tujuan perjalanan kami terletak di sebelah kanan, ujung terjauh dari Kawah Ijen. Indah sekali. Pada daratan di dalam kawah munculah sebuah gundukan yang berbentuk bulan sabit. Uniknya, pepohonan hanya tumbuh di gundukan tanah tadi sehingga makin memperjelas kontur bulan sabitnya. Entah bagaimana proses terbentuknya kawah ini.
 
Me. (doc. Ferdix)
Kawah Bulan Sabit (doc. Ferdix)
Ohya, di sepanjang jalur ke puncak banyak tumbuh buah beri liar. Lumayan buat mengisi perut yang lapar sambil beristirahat. Puncak Gunung Merapi dengan kawahnya yang unik ini memang menawan hati, tetapi sepertinya perjalanan ke sana cukup sekali saja bagiku. Cukup sekali menerobos rimbunnya tumbuhan dan cukup sekali saja main kucing-kucingan dengan jagawana Cagar Alam, hehe… Keep safe, clean, and fun climbing. (dm 051113)

2 comments:

  1. Wuiiih, asik juga perjalanan nyasarnya dan syukur alhamdulillah beneran ketemu sama kawah bulan sabitnya, kereeen.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...