20 Lokasi Berkemah yang Harus Dikunjungi Sebelum Mati

Tulisan dan foto dalam post kali ini bukanlah hasil karyaku. Di sini aku cuma meposting ulang apa yang sudah kubaca dari internet (banyak sumber yang memuat isi yang sama, entah mana yang asli) dan kemudian menerjemahkan ke dalam Bahasa. Tempat-tempat yang diulas sungguh menawan hati dan sayang rasanya kalau tidak dishare, siapa tahu ada dari pembaca yang berencana ke sana dan kita bisa sharing cost, syukur-syukur dibayarin, hehe.. 

So, here we go!

1. Arches National Park, Utah

 


Menyusur Kuala ke Air Jatuh

Hampir empat bulan hanya bergumul dengan laporan, laporan, dan laporan selama tujuh hari seminggu membuat kepala lama-lama terasa panas juga. Karena itu, walau badan sedang tidak fit, kupaksakan mengiyakan ajakan teman untuk berburu air jatuh, sebutan Warga Luwuk untuk air terjun. Lokasi air jatuh yang dimaksud ternyata tidak begitu jauh dari kantor, pintu masuknya cuma sepuluh menit dengan kendaraan bermotor. Dekat!

Air Jatuh.
Ternyata, warga sekitar pun jarang yang mengetahui adanya air jatuh ini. Warga yang tahu pun hanya menyebutnya dengan air jatuh, tanpa nama. Info ke sana kami dapat dari warga lokal yang kebetulan waktu kecil pernah kesana. Secara wilayah, air jatuh ini masuk ke Desa Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Singkat cerita, pulang kerja lebih awal dari biasanya, hanya berdua dengan teman yang juga buta arah, kami menuju ke sana.

Gedong Songo, a Mystical Temple

I always love to see an old temple with its own story behind of hundred years history. So do with Gedong Songo, a Hindi temple built by Syailendra Dynasty.  Locate in a height of 1.200 asl in Ungaran Mountain, Gedong Songo had a fantastic view. An old temples, fog, and mountains made Gedong Songo sprouded its mystical aurora. The felt like I were in heaven where the immortal gods stayed.

Snack and Drink Seller.
Gedong Songo come from two words, Gedong which means building and Songo means nine. So, basically it means ‘nine bulding’. When in the first time found by Raffles its only seven, so the name was ‘Gedong Pitoe’, pitoe means seven. Later, the two broken temple found and the name changed like it’s today.

Latihan [yang] Rutin Yuk.

Untuk membuat sebilah katana (pedang panjang) yang berkualitas tinggi, sepotong besi harus ditempa berulang-ulang. Katana yang berkualitas tentu dapat melaksanakan fungsinya dengan baik bagi seorang samurai. Namun tidak berhenti di situ saja, katana setajam apapun tetap dapat tumpul bahkan berkarat jika hanya teronggok tanpa perawatan. Sama halnya dengan seorang first aider, latihan yang menjadikan seorang first aider berkualitas, dan terus berlatihlah yang akan menjaga kualitasnya.

Latihan Rutin.
Ilmu pertolongan pertama adalah ilmu ketrampilan. Seperti halnya seorang samurai yang terus berlatih mengayunkan tebasan pedang hingga ribuan kali ke batang kayu hanya untuk mendapatkan satu tebasan yang sempurna.

Sumbing, Sumbing, dan Sumbing

Sumbing bagiku selalu berkaitan dengan angka tiga. Tinggi gunung ini tiga ribu tiga ratus. Gunung ini adalah salah satu dari triple S yang terkenal itu. Terdapat tiga rute pendakian yang umum digunakan oleh pendaki. Tiga kali pulalah aku mencoba menaklukan puncaknya, dan pada paruh ketigalah aku mencapai puncak dengan sukses hingga turun ke dasar kawah. Dialah Gunung Sumbing, gunung pada pendakianku yang ketiga.

Sindoro dari Sumbing.
Percobaan Pertama
Ingin menjajaki puncak 3.371 mdpl, langsung saja kuiyakan ajakan teman adiku untuk pergi ke Sumbing. Rute yang dipilih pun bukan jalur utama Garung, tetapi melalui Dukuh Kepencit, Parakan, Temanggung. Singkat cerita, kami gagal mencapai puncak dan aku hampir saja mati saat hendak turun.

Moto-Crazy-Biking Trip to Sawarna

Jikalau seseorang bisa melewatkan seharian di Sawarna dari sebelum matahari terbit sampai tenggelam di hari minggu, sementara sabtu dan senin masuk kerja seperti biasa, hal tersebut tentu lumrah jika dia tinggal di daerah Lebak atau Pelabuhan Ratu. Tetapi lain halnya jika yang bersangkutan berdomisili di Bogor. Mengingat Bogor-Lebak sekitar 8 jam berkendara, tentu orang itu berkendara di malam hari dan sampai dini hari nonstop. Hmm.. kurang kerjaan atau nekat itu orang? Dan itulah yang kami berdua lakukan.

Pantai Tanjung Layar.
Tambahan, rute menuju Sawarna pun kami tidak tahu. Dan untuk lebih menambah ‘kekerenan’ atau ‘kebegoan’ kami, sepertinya yang terakhir lebih tepat. Lampu jauh Blue, sepeda motor yang kami tunggangi mati dan Lei, temanku yang doyan banget ngopi itu, menderita glukoma alias kalau malam hari penglihatannya antara ada dan tiada. Perlu diketahui juga, rute Pelabuhan Ratu-Sawarna pada malam hari itu horror nian. Jalan berbukit yang sepi di tengah hutan tanpa ada orang yang bisa ditanyai arah. Mantap!

Halimun Trip

Kata orang di Halimun itu aksesnya susah, kudu memakai jeep four wheels. Kata orang di Halimun kita bisa berjalan di atas kanopi hutan dengan jembatan gantung. Kata orang di Halimun kita bisa melihat jamur yang bisa berpendar di malam hari macam di film Avatar. Well, that what people said and today I’ll see the truth. Hari ini akhirnya kaki ini akan merasakan rasa Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Perkebunan Teh Nirmala.
Dengan memanfaatkan waktu di akhir pekan, berangkatlah kami berdua menaiki Bluemerry dari Bogor. Secara geografis TNGHS terletak di tiga kabupaten, yakni Sukabumi, Bogor, dan Lebak dengan luas areal 113.357 hektare. Dari Bogor perjalanan membutuhkan waktu empat jam dengan rute Bogor-Sukabumi-Cibadak. Kami memasuki Taman Nasional ini dari sisi timur, sedikit hal yang kami sesali kemudian, hehe..

Karawang dalam Sehari

“Apa seh tempat menarik di Karawang?”, itulah pikiran pertama kali ketika menjejak salah satu lumbung padi Pulau Jawa ini. Sekilas jika melewati Karawang via Jalur Pantura yang ada cuma kota kecil yang gersang dengan pemandangan sawah di kanan-kiri. Paling kita akan menghubungkan kota satu ini dengan ‘Goyang Karawang’ yang sempat heboh itu. namun, setelah tanya kiri-kanan dan simbah, berikut tempat wisata yang dapat kita kunjungi dalam sehari.

Curug Cigentis.
1.    Curug Cigentis
Di sebelah selatan dari pusat kota, kurang lebih satu jam perjalanan naik mobil, terdapat kawasan wisata yang terkenal dengan nama Curug Cigentis. Sebenarnya di sana tidak hanya Curug Cigentis saja, terdapat beberapa curug lain yang tidak kalah bagus dari Cigentis. Walau, tentu saja tidak sebesar air terjun utama.

Melewati Malam di Little Tokyo

Dari kecil aku suka sekali membaca manga dan menonton serial dorama di tv swasta. Dari situ gambaran Kota Tokyo terpatri kuat di ingatan. Papan iklan bertuliskan huruf hiragana atau katakana, bahkan tak jarang kanji. Tempat makan dan pub yang berjajar sepanjang gang meramaikan suasana malam. Bagi yang belum pernah ke Tokyo, kita pun dapat menikmati secuil nuansa tersebut di sini, Indonesia. Tidak percaya? Datang saja ke Jaksel, tepatnya di Blok M atau dikenal juga dengan julukan Little Tokyo.

Ruffy dan Shank Berpose Bersama.
Pada dasarnya, Blok M adalah kawasan perniagaan dan juga terminal bus dalam kota. Di areal yang kecil ini, mall dan terminal terpadu secara apik. Sewaktu pertama kesini, sempat saya terkaget-kaget ketika mengetahui fakta bahwa di bawah terminal bus terdapat sebuah mall. Sebuah hal yang baru bagi saya kala itu, bagaimana sampai bisa terbesit ide untuk membangun mall di bawah terminal?

Botanical Garden of Buitenzorg

Don’t wory. That is the meaning of the word Buitenzorg which believed as the root of the name of Bogor. As one of the satellite city of Jakarta, Bogor has the largest and most complete botanical garden in Indonesia. On an area of 87 hectares there are plants and trees which the quantity almost 15.000 specimens. Right now, this botanical garden known as Kebun Raya Bogor.

Bogor Botanical Garden.
My first visit in this garden was in 2011, and since then when I have free time in weekend I’d love to spend an afternoon in here. Just lay down, ate some snack and read novel. The air, trees, and small lake inside here made me felt so comfort. Loved to spend all day in here.

Gunung Kecil Bernama Ungaran

Bagi kebanyakan orang, pasti mengaitkan Semarang dengan banjir dan pesisir. Memang kota kecil ini pernah terkenal akan kanal-kanalnya yang indah ketika VOC masih Berjaya. Namun, pada pagi hari ketika cuaca cerah tanpa kabut, kita dapat melihat satu gunung kecil di arah selatan. Berdiri tampak malu-malu terpisah dari deretan pegunungan di tengah Pulau Jawa. Gunung kecil ini bernama Ungaran.
 
Gunung Ungaran.
Bagi warga Semarang dan sekitarnya, Ungaran sudah menjadi seperti Gunung Gede Pangrango bagi warga Jakarta. Lokasi yang dekat dan tipikal gunung yang landai menjadi pemicu bagi warga Semarang untuk menjajal puncak 2.050 mdpl ini. Ada tiga jalur untuk menggapai puncak Ungaran, Pasar Jimbaran dan Candi Gedong Songo yang berada di Kabupaten Semarang dan Pabrik Teh Medini yang berlokasi di Kabupaten Kendal. Dari ketiga jalur tersebut, hanya Gedong Songo yang langsung ke Puncak.

My First Solo Travelling: Gua Pawon

Back in 2010, I remembered my first solo travelling. Actually it was a spontaneous trip after I saw an awesome picture in KAA Museum. In one of its alley, the museum displayed and explained about the Bandung in pre-history era. It said Bandung was originally a big lake and its ancestors lived in a cave near the lake. Right now, people call that cave: Gua Pawon.

Stone Garden.
Gua Pawon (gua means cave) said exist from 9000 years ago. Archeologist already did an excavation in here and found many man bones, shards of ceramic, pottery, jewelry made from leftover animal teeth and tooth fish, and mollusks that indicated this cave was a place to live. Because of its histories, this old cave was protected under Archeological and Historical Department of West Java Province as historical heritage.

Mengecup Maut di Merbabu

Pendakian gunung kali ini memang kulakukan spontan saja. Di kala ada dua hari kosong saat di Semarang, tiba-tiba ingin melepas kangen ke Gunung Merbabu. Terakhir ke sini saat aku masih semester satu di bangku kuliah. Sudah lama sekali. Berbekal peralatan kemping yang selalu siap tersedia dan seorang teman yang bersedia menemani, jadilah kaki kembali menapakan kaki di gunung 3.145 mdpl ini. Dan pendakian inilah pertama kalinya aku hampir mengecap maut.

Jalur Pendakian Merbabu.
Karena jarak yang dekat dari Semarang, kami berdua memutuskan untuk menggunakan sepeda motor. Adapun rute yang kami pilih yakni Selo, mengingat jarak tempuh yang lebih pendek ketimbang rute yang lain. Selo yang berada di Boyolali dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Semarang. Logistik pun dapat kita dapatkan di Pasar Cepogo atau Selo. Kalau ingin membawa logistik ayam utuh yang siap bakar atau goreng, mampir ke Cepogo. Dijamin pendakian makin terasa nikmat, hehe…

Semalam di Kuta Bali

Kurang lebih pukul sebelas malam ketika Bluemerry, teman perjalanan beroda duaku yang setia, tiba di Kota Denpasar. Jalanan yang lengang mmbuat diriku memacu Blue lebih cepat dari biasanya. Alhasil, aku sempat terpisah dari dua teman yang dibelakang. Untungnya kita sudah sepakat untuk bermalam di Pantai Kuta, bukan di hostel yang bertebaran di sana, tetapi di pantainya secara harfiah.

Hard Rock Cafe.
Berbekal semangat dan perlengkapan kemping, kami tamasya ke Bali. Rencanya untuk melewatkan malam pertama di Bali, kami akan bertenda di Pantai Kuta. Entah diperbolehkan atau tidak. Selepas perjalanan panjang dari Semarang, rasa lelah membuatku malas mencari kedua teman yang terpisah. Kutunggu di pantai saja, pikirku. Segera sistem navigasi di smartphone kuaktifkan untuk memandu ke sana.

Kilo Lima, Pantai Kota Berterumbu Karang

Pernahkah kawan mendengar sebuah kota yang bernama Luwuk, sebuah kota kecil yang terletak di ujung salah satu gugusan Pulau Sulawesi? Kota ini memang bukan salah satu destinasi favorit, pun tidak banyak tempat wisata yang ada di sini. Namun, mungkin berkat keterasingannya , kota ini mempunyai sebuah pantai kecil nan cantik dengan terumbu karang yang bisa kita saksikan tanpa perlu repot-repot dengan perahu dan alat snorkeling, cukup dengan pelampung ban bekas.

Kilo Lima.
Orang Luwuk menyebut pantai itu dengan nama Kilo Lima. Cukup berkendara kurang lebih lima menit dari pusat kota, kita sudah dapat menikmati keindahan pantai ini. Pantainya pun terletak persis di sepanjang jalan utama Luwuk-Toili. Di sepanjang bibir pantai banyak warung berjualan pisang goreng, jagung rebus, dan kelapa muda.

[Catper] Rinjani

Matahari sudah mulai keluar dari peraduan ketika akhirnya aku berhasil menginjakan kaki di titik 3.767 mdpl yang amat terkenal ini. Hampir enam jam perjalanan kala pagi buta kutempuh dari pos terakhir. Jalur yang terjal berpasir, angin kencang, dan dingin menguji baik mental maupun fisik. Rinjani yang cuma ada di alam mimpiku selama tiga tahun terakhir ini akhirnya terwujud ke alam nyata pukul tujuh pagi yang cerah itu.
 
Danau Segara Anak.
Kesempatan untuk menginjakan kaki di Gunung Rinjani datang pada libur lebaran tahun 2010 setelah sempat dua tahun tertunda. Hanya berdua dari Jakarta kami menuju Lombok melalui jalur udara untuk mempersingkat waktu. Sebenarnya kalau hanya menuju puncak, cukup membutuhkan waktu dua hari satu malam (2D1N). Akan tetapi, jauh-jauh dari Jakarta rugi kalau cuma dua hari di Rinjani.

Jalan-jalan ke Loakan Buku Bekas

Sebagai orang yang ‘kadang’ mengaku dan dijuluki kutu buku, aku senang menyempatkan untuk mengunjungi loakan buku bekas yang selalu ada di kota-kota besar. Walau sekarang ini buku bacaan sangat mudah untuk didapatkan baik di toko buku besar maupun secara online, hunting buku di loakan bagiku tetap memiliki sensasi yang berbeda. Berhasil mendapatkan buku bagus dan langka yang original tentu menjadi suatu kebanggan tersendiri.

Pemandangan di Shopping.
Loakan buku yang paling terkenal mungkin adalah Kwitang yang sekarang sudah tidak ada lagi. Popularitas Kwitang makin terangkat berkat sebuah film remaja Ada Apa dengan Cinta garapan Rudy Soedjarwo. Gara-gara film ini pula, ketika pertama kali ke Jakarta dahulu, tempat pertama yang ingin kudatangi adalah loakan buku Kwitang, and I did!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...