Baluran, Secuil Afrika di Pulau Jawa

Tiba-tiba saja puluhan monyet berlarian dari Pondokan menuju hutan seperti hendak tawuran. Meloncat dan berteriak-teriak entah ke siapa. Sang pejantan yang badannya paling besar berlari paling depan diikuti monyet-monyet yang lain. Monyet betina dengan anak di gendongannya pun tak kalah cepat berlari mengekor. Entah apa gerangan yang membuat monyet-monyet ini berlarian, aku cuma bisa berdiri menatap dari Padang Savana Taman Nasional Baluran.

Savana Bekol.
Di ujung lain terlihat rusa-rusa sedang asyik merumput, ada pula yang tengah berteduh di bawah rindangnya pohon. Rusa dengan tanduk yang besar-besar itu tanpak asyik dengan dengan aktivitasnya sendiri, tak mempedulikan kehadiran kami di kejauhan. Di sini juga banyak terdapat berbagai jenis burung termasuk merak, sempat aku melihat beberapa merak yang sedang melintas. Sayangnya aku tidak sempat menyaksikan maskot Baluran, banteng liar, katanya baru pada sore hari mereka muncul.

Sisi Lain Pantai G-Land

Tiga jejaka berbadan tegak dan dua dara berparas cantik dibalut bikini hitam berjalan melewati saya. Dengan tubuh tinggi dan rambut kemerahan khas ras kaukasoid, kelima pemuda tersebut  menenteng papan selancar yang besar dengan entengnya. Di sudut lain sepasang kekasih yang saya tebak berasal dari Australia jika mendengar logatnya, asyik duduk berdua mengobrol di pinggir pantai. Saya yang berpostur pendek rambut hitam khas ras Melayu ini serasa menjadi orang asing saja, padahal saat itu saya sedang berdiri di tanah Jawa, tepatnya di Pantai G-Land, Taman Nasional Alas Purwo.

Orang Ndarung.
 Seorang teman pernah bilang kalau ombak di G-Land itu tertinggi nomer dua setelah Hawai, entah benar atau tidak yang jelas mayoritas wisatawan kesini memang untuk berselancar, berburu ombak setinggi 6 meter. Karena tidak bisa dan tidak berminat berselancar kala itu, saya memutuskan menyusuri pantai sampai kaki lelah melangkah.

Dieng and Lonely Planet

About a year ago I had a trip to Dieng, a fantastic place where the Gods stayed. Actually this was my second trip to Dieng. The first one was an accidentall-alternative trip after failed to climb Sindoro Mountain because of heavy storm. And the second one caused by a book named Lonely Planet.

Dieng.
A traveler friend gave this book when he would leave Indonesia to US. Lucky me cause this book quite expensive for me at that time. Anyway, I opened the book and when I read about Dieng Plateu I realized there many places we could visit. From my frist trip I thought Dieng only Sikidang Crater and Telaga Warna. Damn! I must go to this place again.

Mengunjungi Danau Vulkanik Tertinggi se-Asia Tenggara

Kawan, tahukah kalian kalau danau vulkanik tertinggi se Asia Tenggara berada di Indonesia? Ya, lokasi persisnya berada di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Dengan ketinggiannya, tak heran danau indah ini dikelilingi pegunungan, tepatnya ada tujuh gunung. Oleh karena itu mendapat nama Danau Gunung Tujuh. Danau ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga seringkali menjadi lokasi yang sempurna untuk bersantai sehabis trekking ke Puncak Kerinci.

Sunrise di Danau Gunung Tujuh.
Danau vulkanik yang berada di ketinggian ini memang asyik banget untuk kemping. Air danau yang jernih hingga sampai dasar dan pepohonan yang teduh membuat makin betah berkemah di sana. Saat sore atau pagi hari seringkali tupai-tupai yang usil menghampiri mencari remah-remah roti. Burung pun tak malu-malu berkicau di dekat tenda. Kepiting dan ikan, walau kecil-kecil, menanti untuk dipancing.

Trekking ke Puncak Negeri Andalas (2)

Sebagai gunung tertinggi di Sumatra, Kerinci mempunyai bentuk segitiga yang nyaris sempurna seperti layaknya gunung yang kita gambar sewaktu kecil. Trek menuju puncak sangat terjal dan ngetrek kalau anak gunung sering bilang. Karena hal itu pula, rata-rata pendaki menggapai puncak Kerinci cuma dalam sehari perjalanan, berbeda dengan temannya di Pulau Jawa dan Lombok. Akhirnya saya akan menjajal gunung satu ini, puncak yang saya idam-idamkan dari 3 tahun lalu.
 
 Gunung Kerinci dengan view Danau Gunung Tujuh.
Selama pendakian kita akan menemui 3 pos dan 3 shelter. Entah kenapa ada yang disebut pos dan ada yang dinamakan shelter, padahal dari luasnya juga sama saja. Dari pintu rimba ke pos 3 trek masih terbilang landai walau sedikit menanjak. Kenikmatan pendakian baru dirasakan dari pos 3 ke atas. Vegetasi hutan yang rimbun akan menemani kita sepanjang pendakian sampai shelter 3. Dari sini, jalur berganti dengan kerikil dan pasir seperti umumnya gunung berapi.

Trekking ke Puncak Negeri Andalas (1)

Siapa seh yang gak kenal dengan Gunung Kerinci? Puncak tertinggi di Pulau Sumatra dan juga merupakan puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia. Menjulang 3.805 meter dari permukaan laut, Kerinci telah menjadi primadona bagi para pendaki gunung di Indonesia. Selain terkenal dengan ketinggiannya, trek gunung satu ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbeda dengan Semeru dan Rinjani yang memiliki tipikal trek yang landai dan panjang, jalur Kerinci seperti garis lurus yang terjal dan menanjak, langsung menuju puncak.

Pendakian Keluarga Mahendra.
Menuju Kersik Tuo
Walau terletak di Provinsi Jambi, tepatnya di  Kecamatan Kayu aro, Kabupaten Kerinci, rute paling cepat untuk menuju kesini yaitu dari Padang. Kersik Tuo terletak di tengah-tengah jalur antar provinsi Padang-Sungai Penuh. Namun belum ada angkutan umum untuk menuju Kersik Tuo dari Padang, yang ada hanya travel. Walau disebut travel tetapi mempunyai jadwal keberangkatan yang pasti tiap harinya seperti bus antarkota, yaitu pukul 09.00 dan 18.30 dari Padang dan juga sebaliknya dari Sungai Penuh.

#kompetisi #mendaki #gunung

Terinsipirasi dari twit @sepatumerah tentang #kompestisi #travelling, saya ingin menuliskan suatu hal yang mirip pada kegiatan mendaki gunung. Saya sendiri mengartikan pendaki gunung adalah orang yang meluangkan waktunya untuk mendaki sebuah gunung dengan tujuan untuk menikmati keindahannya atau untuk memompa andrenalin mengingat kondisi alamnya yang ekstrem sekaligus indah. Bahasa kerennya climber.


Edeilweis Papandayan.
Sebagian pendaki menganggap mendaki gunung sebagai sebuah kompetisi. Merasa levelnya lebih tinggi jika telah mendaki gunung lebih banyak dari pada kompetitornya. Merasa lebih jagoan kalau bisa dan sudah pernah mendaki gunung yang lebih tinggi, lebih ekstrem, atau lebih cepat dari kompetitornya. Merasa lebih benar jika peralatan yang dibawa lebih lengkap, lebih bermerk, dan lebih terkini.

Mengikuti Siklus Hidup Penyu di Meru Betiri

“Ayo mas kalau mau ikut patroli, saya tunggu di pantai ya.” ajak Mas Eko, salah seorang penjaga Taman Nasional Meru Betiri, dengan ramah kepada saya. Malam itu hanya kami berdua pengunjung Taman Nasional yang terkenal dengan penangkaran penyunya ini. Langsung saja kami menuju Pantai Sukamade walau setengah jam yang lalu kami baru saja menginjakan kaki di sini. Kesempatan untuk menyaksikan penyu bertelur  tentu tidak bakal saya lewatkan begitu saja.

Penyu Hijau yang Sedang Bertelur.
Pantai Sukamade mempunyai  4 jenis penyu dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivaceae), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae). Penyu yang paling sering mendarat adalah Penyu hijau. (merubetiri.com)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...