Kendal, my Homeland



Sering kali kita berpergian jauh ke ujung dunia untuk kemudian menuliskan kisah seru atau kebudayaan unik dari daerah yang kita kunjungi. Tentang makanan khas, upacara pernikahan, atau cara mereka menyambung nyawa. Tapi sudahkah kita meceritakan daerah kita sendiri? Rasanya tak adil kalau kita mengupas detail daerah lain tetapi tidak pernah sekalipun membahas daerah sendiri. Nah, kali ini izinkan saya share tentang kampung halaman saya, Kendal.


SMA N 1 Kendal. (doc by anonim)

Mungkin sedikit yang tau Kendal itu dimana, seringnya orang salah mengira dengan Tegal, pun orang Kendal sering kali mengaku sebagai orang Semarang ketika merantau ketimbang menyebut kata Kendal. Yah, mungkin hal ini karena malas menjelaskan dimana seh Kendal itu?

Craziest Sempu

[25-26 Desember 2010]  

Sudah lama Pulau Sempu menjadi headline di obrolan kami, empat buruh pabrik yang jenuh dengan segala rutinitas produksi tetapi belum punya cuti. Dan akhirnya rencana kami bisa terlaksa ketika suatu hari libur nasional jatuh di hari sabtu, ya SABTU, bukan jumat atau senin. Sudah banyak artikel terkait yang mengulas keindahan pulau satu ini, karena itu disini saya ingin share tenang betapa gilanya perjalanan kami kala itu. Travelling isn’t about the destination, but the journey, is it?
Lagoon of Sempu.
Plan kami sederhana, berangkat dengan kereta Matarmaja dari Pasar Senen untuk dilanjut dengan moda aspal ke Pantai Sendang Biru, tempat penyebrangan ke Lokasi Cagar Alam ini. Sementara untuk pulang, tiga teman saya memilih jalur udara dari Surabaya dan saya dengan Matarmaja lagi menuju Jakarta. Let see our plans goes.

Papandayan, Akhir yang Tak Terduga



Kalau baca di artikel-artikel, Papandayan itu gunung buat pemula mengingat jalurnya yang jelas dan tidak begitu ngetrack kalau anak gunung sering bilang. Sumber air melimpah ruah, pun saya kesana bersama seorang teman yang notabene asli daerah situ dan anak gunung tulen. Tapi tak dinyana, disanalah saya merasakan menerobos ilalang setinggi 2 meter, naik pohon untuk mencari jalur, bahkan turun dari tebing yang terjal.

Perjalanan menuju Pondok Salada.
Oke, mari cerita dari awal. Secara garis besar jalur Papandayan memang landai. Dari Basecamp ke Pondok Salada, tempat yang lazim dipakai pendaki untuk berkemah, dapat ditempuh dalam 2 jam. Di sepanjang perjalanan, pertama-tama kita akan melewati kawah putih luas dengan bau belerang yang menyengat, so pastikan bawa slayer/masker. Selepas kawah kita akan disuguhi jalan setapak dengan tetumbuhan di kiri-kanan, jalur jelas walau ada sebagian yang terkena longsor.

Mari Mengunjungi Curug di Semarang


Jika mendengar kata Semarang, kebanyakan orang tentu akan menghubungkan dengan Lawang Sewu atau Kota Lama. Dua tempat tersebut sudah ikonik, nah kali ini saya ingin menulis wisata alam berupa curug (air terjun) yang ada di Kota Lumpia. Dengan sebagian wilayahnya terletak di lereng Gunung Ungaran, Semarang tentu memiliki banyak curug yang layak dikunjungi.
Curug Semirang
Terletak di Dusun Gintungan, Desa Nggogik, Kecamatan Ungaran Barat, Curug ini hanya membutuhkan waktu sejam untuk dicapai dari Kota Semarang. Akses menuju kesana pun terbilang mudah karena sudah banyak plang penunjuk jalan. Dari loket kita masih harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam melewati jalan setapak yang asri. Disana pun banyak warung-warung yang menjajakan makanan minuman ringan.
Curug Semirang.

Ujung Kulon, Kemolekan dan Komersialismenya



Pengen share kisah perjalanan ke Ujung Kulon kemarin. Dari yang dulunya sempat beberapa kali pesimis, akhirnya bisa juga saya kesana. Di sini saya lebih ingin share tentang perizinan dan cost-cost “tidak terduga” yang muncul selama di perjalanan. Info yang belum secara mendetail saya dapat ketika searching tentang Ujung Kulon.

Pulau Peucang

Fulus! Duit! Uang!
Di Tawang Jaya kami bermalam dulu dan baru keesokan harinya menyebrang ke Pulau Peucang. Nah, biaya penyebrangan inilah yang sering dikeluhkan pelancong. Satu perahu harganya 2 juta, dapat diisi sampai 20 orang. Kalau kesana sendirian, kita bisa sewa kapal sendiri atau cari barengan buat nyebrang (kalau ketemu) dan sebaiknya jangan tanya ke tukang perahu. Kenapa? Begini ceritanya, jika kawan bertanya ke tukang perahu/orang sana, pasti akan diikutkan rombongan lain yang notabene rombongan tersebut sudah mencarter kapal itu sendiri. Nah, pasti rombongan ini minta harganya dipotong sementara si empu kapal pastinya gak mau karena udah deal harga. Hal ini berujung ketidaknyaman sama empu perahu dan rombongan yang kita tebeng.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...