Jalan-jalan ke Banten Lama

Bagi warga ibukota, mengunjungi peninggalan kerajaan Banten ini mungkin dapat menjadi salah satu pilihan untuk melepas penat pada akhir pekan. Terletak di Kota Serang, Banten Lama dapat dicapai dalam waktu 2 jam. Untuk mengunjungi semua peninggalan kerajaan yang pernah berjaya pada abad ke-15 ini pun tidak membutuhkan waktu lama. Berangkat dari Jakarta pagi hari, pada sore harinya kita sudah dapat berada di Jakarta kembali.

Keraton Kaibon di Sore Hari.
Penasaran akan sisa-sisa peninggalan sejarah kerajaan masa lampau tersebut, aku pun menyempatkan diri ke sana. Dengan menggunakan kendaraan roda dua kususuri jalanan Tangerang-Serang di pagi hari. Mengingat tempatnya yang agak berjauhan, mengunjungi Banten Lama akan lebih enak jika menggunakan kendaraan pribadi.

Sekolah Ceria untuk Merapi

Tepat pukul enam pagi kereta kelas bisnis yang membawa kami dari Jakarta mulai memasuki Stasiun Tugu. Hiruk pikuk penumpang mulai terlihat untuk segera meninggalkan gerbong menuju destinasi masing-masing. Di luar, suara takbir menyambut kami. Suasana memang agak lengang, di sana sini hanya terlihat umat muslim dan muslimah berjalan menuju masjid hendak menunaikan Sholat Idul Adha berjamaah di sela-sela tumpukan debu Merapi yang masih sedikit tersisa.

Teman Bermain.
Kedatanganku ke Jogya kali ini tidak untuk berwisata seperti biasanya, hanya ingin menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban warga Jogya sehabis terkena dampak letusan Gunung Merapi. Ini memang kali kedua aku bertandang ke Jogya untuk tujuan kemanusiaan. Pada tahun 2006 sempat sedikit membantu sebagai evakuator di Bantul, kedatangan kali itu hanya berselang satu hari saat bencana terjadi. Saat aku datang, Merapi sudah mulai jinak, semburan awan panas dan debu sudah puas dimuntahkannya. Kali ini, aku berkesempatan menyumbangkan tenaga untuk proses pasca-bencana.

Caving ke Buniayu Bareng Natgeo

Ngetrip satu ini adalah kali pertama jalan-jalan bareng Komunitas National Geographic Indonesia. Berangkat dari obrolan di forum, berangkatlah kami ke Sukabumi. Bukan untuk mendaki gunung atau mengunjungi pantainya yang elok, namun untuk masuk ke dalam perut buminya guna menikmati keindahan alam di bawah tanah. Tujuan kali ini adalah Gua Buniayu.

Di Dalam Gua Horisontal.
Lokasi persis gua ini yakni di Desa Kertangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Dari pusat kota Sukabumi, ambil saja jalur yang ke arah Segaraanten. Perhatikan jalan karena pintu masuk lokasi wisata Gua Buniayu ini tidak begitu jelas. Dari bibir jalan, kita masih harus masuk kurang lebih setengah kilometer untuk sampai di Gua.

[Berusaha] Mancing Ikan di Singkarak

“Itu pegang ujungnya! Kasih batu lagi!”, teriaku keasyikan ke Juan sambil memegang jaring jadi-jadian yang kami bikin. Rencananya, kain jilbab yang disulap jadi jaring ini akan kami letakan di dasar bebatuan dan pas ikan lewat di atasnya, hap! Ikan-ikan bilis itu siap dimasak. Untuk itu dibutuhkan batu sebagi pemberat sedangkan aku akan berjaga memegang tali yang mengikat keempat ujung kain jaring tersebut. Harapannya jaring itu bisa sekaligus menangkap ikan-ikan kecil yang berseliweran di Danau Singkarak.

Menjala Ikan.
Percobaan-percobaan yang Gagal
Pagi itu kami bertiga memang sedang asyik menangkap ikan danau untuk pelengkap makan siang nanti. Di penghujung travelling ke Kerinci, bekal pun semakin menipis hingga hanya bersisa mie instan dan bumbu dapur. Oleh karena itu, ketika melihat banyak ikan-ikan kecil berenang di pinggir danau langsung saja kami merasa terpanggil untuk melakukan penangkapan agar saat siang nanti mie instan tidak sendirian masuk ke perut kami.

Museum Taman Prasasti, Jalan-jalan ke Kuburan

Entah karena Warga Jakarta kekurangan tempat berwisata atau karena keunikan batu-batu nisannya, Taman Prasasti selalu ramai pengunjung. Walau disebut museum, namun sebenarnya tempat ini adalah bekas pemakaman warga asing sewaktu jaman penjajahan. Maka tak heran jika bentuk nisan yang ada di sini pun sesuai kultur budaya jenazah yang dimakamkan kala itu: Batu nisan dengan disertai patung atau bentuk kubah yang terkesan gotik.

Tulisan Nisan.
Terletak di jantung ibukota, Museum Taman Prasasti dapat diakses dengan mudah. Lokasi persisnya berada di Jalan Tanah Abang No 1 Jakarta Pusat. Biaya retribusi untuk masuk ke dalam hanya lima ribu rupiah, namun jika ke sana dengan tujuan untuk hunting foto, akan dikenakan charge tersendiri.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...