| Di Dalam Gua Horisontal. |
Lokasi persis
gua ini yakni di Desa Kertangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Dari
pusat kota Sukabumi, ambil saja jalur yang ke arah Segaraanten. Perhatikan jalan
karena pintu masuk lokasi wisata Gua Buniayu ini tidak begitu jelas. Dari bibir
jalan, kita masih harus masuk kurang lebih setengah kilometer untuk sampai di
Gua.
Pengelolaan yang Baik
Wisata Gua Buniayu dikelola oleh UNITy Areta Jayasari dibawah
naungan Perhutani. Bagi saya pribadi, apa yang ditawarkan oleh pengelola satu
ini memuaskan. Senyum yang ramah namun tetap profesional menjaga keselamatan
dan kenyamanan tamu. Ada beberapa paket yang ditawarkan kepada pengunjung, dari
paket minat umum (gua horisontal) seharga 15.000 rupiah sampai paket minat
khusus (gua vertikal) seharga 75.000 rupiah. Ohya, tiket masuk ke lokasi wisata
yakni 5.000 rupiah dan untuk kedua paket tersebut minimal 5 orang.
| Makan Siang Bersama yang Bersahaja. |
| Menyusur Gua Horisontal (1). |
Bagi peserta yang bermalam, terdapat rumah penduduk yang dapat
dijadikan tempat bermalam dengan biaya yang terjangkau. Namun, bagi rombongan
besar dapat menggunakan saung yang lumayan luas. Tentu sebaiknya membawa sleeping bag sendiri agar tidak
kedinginan saat tidur di saung.
Begitu kami datang, pengelola sudah menyiapkan teh hangat dan kue
moci. Walau minum teh yang tawar, namanya juga di Sunda kalau nyebut teh ya
pasti tawar, namun terasa nikmat sekali. Untuk penelusuran gua kita akan dibekali
perlengkapan yang sesuai guna menjamin keselamatan kita. Pada gua horizontal cukup
memakai safety helmet dan boot. Sementara pada gua vertikal akan
ditambahi dengan baju wearpack dan peralatan SRT (Single Rope Technique).
Menyusur Gua Horisontal
Bersama Natgeo aku dapat
merasakan kedua paket sekaligus. Pada hari pertama, setelah makan siang yang
sederhana dan nikmat kami akan menyusur gua horizontal sedalam kurang lebih 200 meter.
Ada dua gua yang akan kami jajaki, yakni Landak dan Cipicung. Banyak sekali ornamen
yang dapat dinikmati, seperti stalakmit, stalaktit, dome, dan lain sebagainya.
| Briefing Singkat dari Pengelola. |
Tidak hanya menyaksikan, pemandu yang mendampingi dengan antusias
akan menjelaskan dari proses pembentukan sampai hal-hal aneh yang kita
tanyakan. Selain itu, banyak pula biota gua yang dapat kita temui dari
kelelawar sampai laba-laba. Di tengah perjalanan kita juga diajak merasakan
sensasi kegelapan abadi, ketika segala macam sumber cahaya dipadamkan dan yang
dapat kita lihat cuma kegelapan lain tidak.
| Mas Cahyo (nomer 2 dari kanan) dan Mas Sigit (paling kiri). |
| Menyusur Gua Hari Kedua. |
| Kang Fery, Pemandu yang Antusias Menjelaskan Tentang Gua. |
Ada sedikit kejutan di akhir sesi hari itu. Pintu masuk gua yang
kami masukin terbilang besar, namun lain halnya dengan pintu keluar. Kami harus
merangkak dengan posisi hampir tegak lurus. Baru kali itu pula aku bersyukur
memiliki badan yang kurus dan ramping. Pintu keluar itu lebih tepat jika
disebut lubang, alih-alih gua karena memang kecil sekali. Namun seru juga bisa
melewati hari pertama penyelusuran.
Malamnya, sesuai kebiasaan NG ketika mengadakan trip, kami
mendapatkan ilmu tentang gua dan biota di dalamnya langsung dari pakar di
bidangnya. Bersama mas Cahyo Rahmadi dan mas Sigit, peneliti biota gua dari
LIPI, kami dibawa menjelajah gua lebih dalam lagi. Banyak sekali info yang kami
dapatkan, seperti contohnya baru kutahu ternyata biota yang ada di sebuah gua
adalah endemik dan seringkali hanya ada di gua tersebut. Jadi jika gua tidak
dijaga dengan baik maka bisa jadi biota di dalamnya akan musnah selamanya.
| Chamber yang Berbentuk Salib. |
| Menaiki Tangga Tali. |
Sensasi Gua Vertikal
Mengingat pada hari kedua kami akan menjelajah gua vertikal,
pagi-pagi benar kami sudah dibekali dengan ‘seragam tempur’ yakni boot, helm, warepack, dan SRT. Kedalaman
gua vertikal yang ada di Buniayu sekitar 18 m. Namun tak perlu kuatir jika belum
terbiasa dengan peralatan panjat, pengelola akan mengerek kita ke bawah dengan
menggunakan katrol. Tinggal cantol dan nikmati pemandangan saat turun.
Seperti halnya hari pertama, pada hari kedua pun tak kalah
asyiknya. Malahan, medan yang harus kami lalui lebih menantang lagi. Sungai bawah
tanah, lumpur, air terjun bawah tanah, dan chamber
yang besar menghiasi sepanjang jalan. Awalnya sedikit jengkel ketika melewati
jalan berlumpur kok baju pemandu
tetap bersih saja ya, sementara baju kami udah berubah warna menjadi coklat. Setelah
lama mengamati, ternyata pemandu hanya berjalan di pinggiran yang tanahnya
relatif keras dengan menopangkan tangan ke sisi gua yang lain. Sial, kenapa gak dari awal ku begitu.
Di akhir penelusuran kami harus memanjat tangga tali untuk keluar
dari chamber yang bagiku seperti
berbentuk salib. Benar-benar terpukau aku dibuatnya. Keindahan alam di perut
bumi memang menyajikan pemandangan yang sering kali dapat membuat kita takjub dan
jelas Buniayu salah satunya.
| Penampakan Setelah 'Bertempur' di Gua Vertikal. |
![]() |
| Komunitas NG Forum Full Team (doc anggota NG). |
Setelah berhasil keluar dari gua, pihak pemandu sudah menyajikan
minuman isotonik dingin. Badan gerah dan capek pun sedikit terobati. Di akhir
sesi kami dibawa ke Sungai Bibijilan untuk membersihkan diri dan peralatan dari
lumpur. Segar sekali rasanya beramai-ramai berendam di air dingin sambil asyik
menghilangkan lumpur dari badan.

No comments:
Post a Comment