Showing posts with label Semarang. Show all posts
Showing posts with label Semarang. Show all posts

Masjid Agung Jawa Tengah

Jika kawan hendak berwisata religi di Kota Semarang, tentu sayang jika melewatkan Masjid Agung Jawa Tengah. Sebuah masjid yang didesain dengan perpaduan gaya Islami, Jawa, dan Romawi ini merupakan masjid terbesar di Jawa Tengah. Yang menarik, di sini juga dibangun 6 payung raksasa di halaman masjid yang menyerupai Masjid Nabawi di Arab sana. Payung ini hanya dibuka saat sholat Jumat, Idul Adha, dan Idul Fitri bagi jamaah yang berada di halaman masjid.
 
Masjid Agung Jawa Tengah.
Selain itu, kita juga dapat menikmati pemandangan Semarang dari atas Menara Asma Al-Husna yang memiliki ketinggian 99 meter. Tidak perlu kuatir membayangkan menaiki tangga sampai ke atas karena sudah disediakan lift untuk para pengunjung dengan membayar biaya masuk yang sangat terjangkau. Dari atas menara kita dapat melihat Kota Semarang dengan pandangan 360 derajat. Hati-hati, terkadang angin lumayan kencang di atas.

Menghilangkan Pening di Rawa Pening

Jika kawan melintas dari arah Jogya atau Solo menuju Semarang, pastinya pernah melewati sebuah rawa luas yang mencakup beberapa kecamatan. Dengan luas 2.670 ha, Rawa Pening membentang dari Ambarawa, Banyubiru, bahkan sampai Salatiga. Untuk menuju kesini kita tidak perlu bersusah-susah. Ada tiga titik wisata yang dapat dituju, di Tuntang ada Rawa Permai yang ramai, di Banyubiru ada Bukit Cinta yang katanya lebih teduh, dan tempat terakhir yang menjadi tujuan saya: Wisata Apung Kampung Rawa di Ambarawa.

Karamba.
Kampung Rawa sejatinya adalah hasil paguyuban warga Ambarawa untuk menarik wisatawan ke Rawa Pening. Di samping dapat menciptakan lapangan kerja baru, hal ini dapat mempermudah dan memberikan alternatif untuk para wisatawan. Terdapat perkumpulan perahu yang dapat di sewa untuk menjelajah Rawa Pening, kios-kios oleh-oleh, warung-warung jajanan dan makanan, dan restoran apung yang menawarkan aneka menu lokal.

Piknik di Hutan Belakang Kampus

Ingat kisah Nobita dan kawan-kawan yang suka bertualang di hutan belakang sekolah? Mencari serangga, berkemah, atau melakukan hal-hal yang menegangkan. Aku yakin kawan pasti ingat. Jika Nobita melakukannya saat masih di Sekolah Dasar, aku melakukannya ketika sudah menginjak bangku kuliah. Hehe.., bersenang-senang tidak mengenal umur kawan. Beruntunglah di belakang kampusku dulu terdapat ‘hutan’ yang masih permai sehingga aku dapat sedikit merasakan kecerian sahabat Doraemon ini.

Memasak Mie.
Berada di lokasi yang berbukit-bukit, kampusku  dibangun di tempat yang dulunya hutan. Kini, di belakangnya masih menyisakan sedikit bekas hutan. Sebagian telah berubah menjadi perkerbunan penduduk sekitar. Sebagian lagi menjadi tempat berlatih tentara sehingga kesan ‘hutan’nya masih terpelihara dengan baik. Mungkin malah sengaja dipelihara.

Mengunjungi Laksamana Cheng Ho di Sam Po Kong

Pada abad ke-15, seorang Laksamana Tiongkok yang memeluk Islam terpaksa membuang sauh di Pantai Utara Jawa karena ada salah satu anak buahnya yang sakit keras. Laksamana yang dikenal dengan nama Cheng Ho ini mendarat di daerah Simongan, dekat dengan Kota Semarang. Tak hanya singgah, beliau juga membangun sebuah masjid dan mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga. Bekas petilasan atau tempat persinggahan Laksamana ini sekarang dikenal dengan nama Sam Po Kong.

Teras Bangunan Utama.
Uniknya, walau beragama Islam, Umat Tionghoa yang menganut Kong Hu Cu memuja Cheng Ho sebagai dewa. Memang, bagi mereka, orang  yang sudah meninggal dianggap dapat memberikan pertolongan. Maka tak heran lokasi yang dulunya masjid kini berubah fungsi menjadi kelenteng untuk ziarah dan bersembahyang. Sam Po Kong juga dikenal dengan nama Gedung Batu karena di bagian belakangnya yang merupakan bukit, terdapat sebuah gua batu.

Tips Nyaman ke Kampung Semawis

Bagi penggemar wisata kuliner, tentu tak lengkap jika belum mengunjungi tempat satu ini jika bertandang ke Semarang. Terletak di kawasan Pecinan, ‘kampung’ yang sebenarnya cuma sederet jalan yang dipenuhi aneka penjual makanan dapat memuaskan selera kita soal makanan. Dari nasi goreng, siomai, sate babi, hingga aneka olahan mie dapat kita jumpai di sini.

Suasana Kampung Semawis.
Dari Simpang Lima, pusat Kota Semarang, ambil Jalan Gajah Mada ke arah Johar. Pada lampu merah ketiga belok kanan untuk menuju ke kawasan Pecinan. Nah, Kampung Semawis terletak persis di depan Gerbang Pecinan. Bagi yang menggunakan angkutan umum mungkin dapat naik angkot ke arah Johar, dari Pasar Johar dapat dilanjut naik ojek atau jalan kaki, Pecinan terletak bersebelahan dengan pasar terbesar se-Semarang ini.

Gedong Songo, a Mystical Temple

I always love to see an old temple with its own story behind of hundred years history. So do with Gedong Songo, a Hindi temple built by Syailendra Dynasty.  Locate in a height of 1.200 asl in Ungaran Mountain, Gedong Songo had a fantastic view. An old temples, fog, and mountains made Gedong Songo sprouded its mystical aurora. The felt like I were in heaven where the immortal gods stayed.

Snack and Drink Seller.
Gedong Songo come from two words, Gedong which means building and Songo means nine. So, basically it means ‘nine bulding’. When in the first time found by Raffles its only seven, so the name was ‘Gedong Pitoe’, pitoe means seven. Later, the two broken temple found and the name changed like it’s today.

Gunung Kecil Bernama Ungaran

Bagi kebanyakan orang, pasti mengaitkan Semarang dengan banjir dan pesisir. Memang kota kecil ini pernah terkenal akan kanal-kanalnya yang indah ketika VOC masih Berjaya. Namun, pada pagi hari ketika cuaca cerah tanpa kabut, kita dapat melihat satu gunung kecil di arah selatan. Berdiri tampak malu-malu terpisah dari deretan pegunungan di tengah Pulau Jawa. Gunung kecil ini bernama Ungaran.
 
Gunung Ungaran.
Bagi warga Semarang dan sekitarnya, Ungaran sudah menjadi seperti Gunung Gede Pangrango bagi warga Jakarta. Lokasi yang dekat dan tipikal gunung yang landai menjadi pemicu bagi warga Semarang untuk menjajal puncak 2.050 mdpl ini. Ada tiga jalur untuk menggapai puncak Ungaran, Pasar Jimbaran dan Candi Gedong Songo yang berada di Kabupaten Semarang dan Pabrik Teh Medini yang berlokasi di Kabupaten Kendal. Dari ketiga jalur tersebut, hanya Gedong Songo yang langsung ke Puncak.

Semarang dalam Sehari

Ramai tetapi tidak sampai macet seperti di Jakarta. Nuansa Jawa yang kental walau tidak seperti Jogya. Kota yang kecil tetapi tidak kalah dengan kota besar lainnya. Penduduk yang heterogen hidup rukun bersama. Itulah beberapa gambaran singkat tentang Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah. Kota yang terletak di pesisir pantai utara Jawa ini memiliki banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Jika kawan sempat singgah selama sehari di Kota Semarang, berikut adalah beberapa alternatif tempat-tempat yang bisa dikunjungi.

Sam Po Kong.
Selamat Pagi Semarang
Untuk mengawali wisata sehari di Semarang kita mempunyai banyak pilihan tempat, salah satunya adalah Kawasan Simpang Lima. Apalagi jika kawan mengunjungi Semarang di hari minggu, Car Free Day di Simpang Lima tentu sayang untuk dilewatkan. Simpang Lima adalah pusat kegiatan Kota Lumpia ini.

Kota Lama, Little Netherland of Java

Sore itu, aku duduk berdua dengan kekasih di depan Gereja Blenduk. Di kanan-kiri pun banyak muda mudi yang asyik ngobrol dan berfoto. Dari yang hanya kamera handphone sampai DSLR dengan lensa yang besar-besar. Memang, kawasan Kota Lama di Semarang adalah salah satu lokasi yang digemari untuk melepas penat. Dengan detail bangunan dan ornamet yang khas benua Eropa serta banyak terdapat kanal-kanal, maka tak heran jika Kota Lama mendapat sebutan Little Netherland.

Pabrik Rokok Praoe Lajar.
Kota-kota pusat pemerintahan pada jaman kolonial dahulu memang kerap meninggalkan bangunan-bangunan yang megah dan sampai sekarang masih berdiri kokoh. Sebut saja Kota Tua di Jakarta, Braga di Bandung, dan Semarang pun tak terkecuali dengan adanya Kota Lama. Kawasan ini terletak dekat dengan jantung Kota Semarang saat ini, tepatnya di sebelah Pasar Johar Semarang.

Mari Mengunjungi Curug di Semarang


Jika mendengar kata Semarang, kebanyakan orang tentu akan menghubungkan dengan Lawang Sewu atau Kota Lama. Dua tempat tersebut sudah ikonik, nah kali ini saya ingin menulis wisata alam berupa curug (air terjun) yang ada di Kota Lumpia. Dengan sebagian wilayahnya terletak di lereng Gunung Ungaran, Semarang tentu memiliki banyak curug yang layak dikunjungi.
Curug Semirang
Terletak di Dusun Gintungan, Desa Nggogik, Kecamatan Ungaran Barat, Curug ini hanya membutuhkan waktu sejam untuk dicapai dari Kota Semarang. Akses menuju kesana pun terbilang mudah karena sudah banyak plang penunjuk jalan. Dari loket kita masih harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam melewati jalan setapak yang asri. Disana pun banyak warung-warung yang menjajakan makanan minuman ringan.
Curug Semirang.

SATGAS BANJIR SEMARANG


-->
8 Februari 2009
Relawan Banjir yang Kebanjiran
“Asem, Blue Merryku nglepek!”. Hujan deras yang mengguyur Kota semarang menimbulkan banjir dimana-mana. Tak terkecuali, di depan LP khusus wanita Semarang terdapat genangan air setinggi 30 cm yang menyebabkan Blue Merry, motor Vega-R kesayanganku mogok.
Padahal, aku dan Dika hendak menuju PMI Cabang Kota Semarang tuk ikut membantu Relawan Banjir. Alhasil, ku tuntun Blue Merry samapi Markas PMI dan Dika terpaksa turun dengan “mencincing” rok item miliknya. Dasar Semarang, relawan banjirnya aja kebanjiran.
Pagi itu, kami sedang memenuhi undangan dari MerC Semarang di Balai Diklat Kariyadi. Yang kemudian ada panggilan mendadak dari posko untuk menjadi relawan banjir. Tanpa pikir panjang, kamupun langsung menuju Markas PMI Kota Semarang di tengah acara yang kami ikuti. Total relawan yang diperbantukan KSR UNDIP sebanyak 12 orang.
Masih Seperti Dulu, Kata Kuncinya Koordinasi, Kawan!
Setiba disana, kami langsung melebur dan membantu proses siaga bencana banjir Kota Semarang. Karena proses evakuasi sudah dilakukan malam sebelumnya, hari itu digelar dapur umum dan pendistribusian nasi bungkus ke korban banjir yang membutuhkan.
Sekitar pukul 11 siang, diberangkatkan tim untuk memberikan bantuan berupa perahu kayu untuk daerah Wonosari, Mangkang. Turut disitu 3 anggota KSR UNDIP berangkat menuju lokasi dengan truk trbuka. Sepanjang jalan, hujan plus angin kencang menerpa wajah kami, suara sirene meraung-raung menembus jalanan Kota Semarang.
Bingung. Memang disitu terjadi banjir sampai setinggi 2 meter, tetapi itu berlangsung tadi pagi jam 3 dan jam 9 pagi air sudah surut. Terlihat para warga sudah mulai berbenah membersihkan rumahnya masing-masing. Tampak Indofood Rescue mendirikan dapur umum untuk warga korban banjir. Kami berlima pun terbengong-bengong. Yah, karena tenaga perahu tidak dibutuhkan kembalilah kami ke markas. Sekali lagi, KOORDINASI.
Sorenya kami kembali membagikan nasi bungkus yang sudah disiapkan oleh tim DU. Waktu mendistribusikan di Rusun Kaligawe, perahu yang kami kayuh untuk menuju Rusun muter-muter karena koordinasi yang kurang kompak karena sebagian tenaga pendayung asal dayung seenaknya.
Kebetulan Eci dan aku ikut didalamnya. Kebetulan, bisa mempraktekkan materi Water Safety yang kami dapatkan. Akhirnya kami mendapat bantuan 2 tenaga manusia, bukan untuk ikut mendayung tapi mendorong dari belakang. Aduh, ini perahu atau getek ya. Untung banjirnya tidak dalam-dalam amat, la kalau nyampai 2 meter?
Nasi bungkus setengah 10 malam
Sekembali ke Markas, Dapur Umum sudah sibuk lagi. Dengan penuh canda tawa para relawan banjir menyiapkan nasi bungkus tuk pendistribusian berikutnya. Karena sebagian besar anggota KSR UNDIP yang disana dari keturunan Hawa, Sekitar pukul 8 malam setelah DU ditutup untuk hari itu, kami mohon diri untuk kembali ke Tembalang. Kecuali Eci dan aku yang tetap tinggal tuk membantu proses pendistribusian berikutnya.
Pukul 20.45, ambulans yang membawa nasi bungkus diberangkatkan menuju lokasi. Tim dibagi menjadi 2 daerah, Genuk dan Wonosari. Kebetulan saya ikut dalam Tim Wonosari dan Eci ke Genuk. Sekitar pukul sembilan seperempat kami sampai di kelurahan Wonosari. Keadaan sudah sepi, cuma ada 3 aparat kelurahan yang standby. Pihak kelurahan meminta nasi bungkus tersebut langsung diberikan ke RW 6 dan RW 7, lokasi yang paling parah. Mungkin mengingat tidak ada sarana transportasi untuk membawa 150 nasi bungkus tersebut.
Sementara anggota PMI Cabang yang ada disitu mendapat instruksi tuk menyerahkan di kelurahan, dan terserah pihak kelurahan untuk didistribusikan kemana. Terjadi beberapa kali lempar argumentasi, yang akhirnya anggota PMI Cabang tersebut menghubungi ketua Satgana untuk meminta instruksi. Seharusnya, keputusan seperti itu dapat langsung diputuskan disitu. Tidak perlu dibuat panjang lebar.
Ada satu pertimbangan yang terlontar yang sangat tidak saya sepakati, yaitu bahwa bantuan diberikan ke RW yang paling dekat, bukan yang paling membutuhkan. Walaupun capek, semestinya pertimbangan seperti itu tidak terlontarkankan. Akhirnya diputuskan untuk mengedrop nasi bungkus ke RW 7 dan Pak RWnya diminta menyalurkan ke RW 6.
Sesampai di RW 7 saya sempat malu untuk keluar dari mobil ambulans ketika ada seorang warga yang bertanya. Warga tersebut terheran-heran ketika tahu kami hendak mendistribusikan bantuan nasi bungkus. “Kok jam segini? Dah pada tidur, Mbak!”, lontar warga tersebut. Sesampai di rumah Pak RW, lampu rumah sudah dimatikan semua dan Pak RW keluar dengan muka habis bangun tidur, sepertinya kecapaian sekali. Ya iyalah, dah jam segini. Saya pun pesimis 150 nasi bungkus itu akan dimakan, minimal tidak untuk malam ini.
Suatu hal akan menjadi sebuah bantuan jika diberikan pada orang yang tepat, sesuai yang dibutuhkan, dan tepat pada waktunya.
Pukul 22.00 kami kembali ke Markas. Eci datang sejam kemudian. Setelah istirahat sebentar, pukul 12 malam kami berdua undur diri. Mampir sebentar ke PMI Daerah tuk copy-copy foto dan dengan lampu depan motor mati, Blue Merry melaju ke Tembalang tuk mengantar tuannya ke peraduan. Baru pukul 1 dini hari kami sampai di Tembalang.
(dm090209)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...