Latimojong adalah gunung tertinggi di Pulau Sulawesi dengan puncak tertinggi Rante Mario di ketinggian 3,478 mdpl. Adalah salah satu gunung yang bertahun-tahun selalu menjadi wacana buatku hingga akhirnya berhasil menggapai puncaknya pada 16 September 2020. Hingga tulisan ini dibuat, gunung ini menjadi gunung dengan berbiaya paling tinggi yang aku keluarkan, untuk biaya transport, logistik, porter, dan pemandu. Biaya ini di luar tiket pesawat pergi pulang dari Makasar, yang ini syukurlah bisa ditanggung oleh kantor karena kebetulan saat itu sedang ada perjalanan dinas, hehe..
![]() |
| Puncak Rantemario. |
Ketika ditugaskan di Papua Barat, aku selalu transit di Bandara Sultan Hasanudin Makasar yang mana selalu ada hasrat untuk keluar dari bandara dan melancong ke Gunung Latimojong. Ditambah lagi, pada tahun kedua di Papua Barat, mulai ada pengetatan untuk melakukan penerbangan gara-gara pandemi. Makin pesimis saja dibuatnya. Namun, dengan segala upaya dan niat yang teguh, akhirnya pendakian ke puncak Pulau Sulawesi dapat terlaksana.
Mengingat saat itu dalam perjalanan dinas, tentu perlengkapan pendakian akan sangat merepotkan jika harus aku bawa serta. Kedua, susah sekali mencari teman yang bisa cocok dengan waktu tanggal keberangkatanku karena aku sendiri tidak yakin bisa mengatur jadwal pasti untuk satu bulan ke depan. Kedua kondisi ini mengantarku ke Bang Ipang, operator pendakian Gunung Latimojong yang dikenalkan oleh Mbak Lidia, teman dari Lei.
Biasanya Bang Ipang hanya melayani untuk paket kelompok karena memang biaya yang dikeluarkan cukup besar, tiga sampai tujuh orang sekali pendakian sehingga biaya transport Makasar – Karangan bisa dibagi rata. Setelah diskusi cukup lama, akhirnya kami sepakat untuk melakukan pendakian private, tamu (istilahnya Bang Ipang) hanya aku seorang saja.
Sore hari setelah bertemu dengan Bang Ipang, aku diajak mengunjungi Masjid 99 Kubah yang sangat instagenic, dari jauh memang kelihatan bagus sekali, namun tidak dari dekat. Ternyata pembangunan masjid ini sempat terhenti dan mangkrak tidak diteruskan lagi. Semoga pembangunannya dapat segera dimulai lagi dan bisa dipakai oleh warga Makasar dan bisa menjadi ikon baru Kota Makasar.
Setelah melengkapi perlengkapan pendakian, pukul delapan malam kami meluncur menuju Baraka. Perjalanan kurang lebih enam jam, tidak kuat menahan kantuk, akhirnya aku tertidur dengan lelap. Tepat pukul dua pagi, kami sampai di Baraka untuk dilanjutkan moda transportasi lainnya. Seharusnya kami naik mobil jeep karena kondisi medan yang berat, namun mengingat Gunung Latimojong secara resmi masih ditutup untuk pendakian imbas virus corona, Bang Ipang memutuskan untuk menggunakan ojek sepeda roda dua. Pukul tiga pagi kami mulai melaju dalam gelap dan dingin. Meski membonceng dan sudah memakai jaket, namun masih terasa dingin menusuk tulang, hingga saat berhenti sejenak untuk istirahat, aku lapisi dengan jaket kedua.
Kami tiba di Karangan yang merupakan desa terakhir untuk memulai pendakian pukul lima pagi, tujuan kami saatitu adalah rumah Amben Simen. Ambe atau mbe’ adalah istilah atau sebutan bagi pria yang ayah atau pria yang usianya sebaya dengan orang tua kita. Amben Simen adalah salah satu porter senior di Latimojong, beliau menawarkan rumahnya sebagai rumah singgah bagi para pendaki Gunung Latimojong. Saat beliau sudah jarang mendaki, lebih sering mengurusi usaha tani kopi dan bawang, saat ini untuk porter lebih banyak diserahkan ke anak-anaknya.
Adalah Bang Iduk yang akan menjadi porter kami saat itu, anak Amben Simen yang baru saja menikah. Istrinya yang masih belia itu penasaran akan Puncak Rante Mario dan meminta untuk turut serta. Jadilah kami tim beranggotakan empat orang: tamu, pemandu, porter, dan istri porter. Komposisi yang tidak biasanya, hehe..
Pukul sepuluh pagi kami memulai pendakian. Tujuan kami hari ini adalah sampai di Pos 5 untuk bermalam dan beristirahat sebelum summit attack. Secara keseluruhan, durasi waktu bagiku untuk menggapai atap Pulau Sulawesi dapat dilihat pada tabel di bawah:
Perjalanan kami
lakukan dengan santai, jika dilihat pada tabel urutan waktu di atas, dapat
jelas sekali dilihat kami banyak melakukan istirahat di hampir setiap pos.
Kurang lebih setengah jam sampai satu jam di setiap pos. Hal ini disebabkan
karena harus menunggu porter dan istrinya yang jauh tertinggal di belakang. Kurang
profesional jadinya. Menjelang Pos 4, hujan mulai turun, namun perjalanan tetap
kami teruskan karena harus tiba di Pos 5, selain lokasi yang lapang di sini
juga ada sumber air.
Pukul tujuh malam kami sampai di Pos 5. Setelah penuh perjuangan, satu jam kemudian tenda dapat berdiri dengan kokoh, aku sedikit bingung dengan teknik mendirikan tenda versi Bang Ipang, flysheet didirikan terlebih dahulu menyusul tenda. Belakangan kusadari ini untuk menghindari tenda basah karena hujan, namun tetap saja kupikir ada cara lain yang lebih efisien. Setelah tenda beres, aku tidak diperbolehkan untuk membantu menyiapkan makan malam, akhirnya kuhabiskan sambil beristirahat dan membaca buku sembari menunggu makan malam siap. Dua jam kemudian, tepat pukul sepuluh malam, makan malam siap dan tandas dalam waktu sepuluh menit saja. Saatnya tidur untuk persiapan esok hari.
Hari kedua pendakian, saatnya menuju Puncak Rante Mario! Setelah santap pagi, pukul sembilan lebih empat puluh menit kami memulai pendakian. Sesampai di Pos 7, aku berhenti cukup lama nunggu Bang Ipang, Iduk, dan istrinya, hingga sempat terlelap sebentar. Ohya, di Pos 7 ada sumber mata air yang jernih dan segar sekali rasanya, cukup berjalan 20 meter ke bawah. Benar-benar lokasi berkemah yang strategis, cukup untuk menampung kurang lebih 5 tenda saja.
Pukul setengah dua siang, aku tiba di titik tertinggi Gunung Latimojong, agak gerimis dan berkabut. Sayang memang. Padahal sepanjang hari itu cerah, eh, saat sampai di puncak malah gerimis. Dari Pos 7 ke puncak jalurnya lumayan terjal, ada satu titik mirip tebing sehingga harus memanjat dengan kedua tangan. Selebihnya jalur berbatu yang berwarna putih.
Di puncak kami kembali memasang flysheet untuk santap siang. Walau matahari berada di atas kepala, namun hawa dingin masih kuat menyerang, tentu tidak bakal kutolak ketika Bang Ipang menawarkan untuk membuat teh panas sebelum hidangan disajikan.
Setelah kenyang dan cukup istirahat, kami segera berbenah dan kembali ke Pos 5. Aku jalan duluan, sementara Bang Ipang di belakangku, dan terakhir Iduk bersama istrinya. Tidak lama berjalan, aku izin untuk buang air kecil, sehingga Bang Ipang jalan duluan, namun entah bagaimana sepertinya aku tersesat karena pemandangan yang aku lewati seperti sudah kulalui sebelumnya. Memang mirip, bebatuan berwarna putih, pepohonan cantigi, dan kabut. Kaget bukan kepalang di depanku aku berpapasan dengan Iduk. Aneh, padahal tadi jelas dia jauh di belakangku. Ternyata aku berjalan kembali menuju puncak, Iduk pun kaget ketika melihatku kembali ke puncak, dipikirnya ada barang yang tertinggal.
Untung saja aku bertemu Iduk, kalau tidak bisa bablas aku kembali ke Puncak Rante Mario. Ohya, sepanjang pendakian hanya ada kami berempat dari Jalur Karangan. Kami baru bertemu pendaki lain saat di puncak, ada tiga pemuda tanggung yang mendaki dari jalur Luwu kalau tidak salah, yang jelas tidak dari Karangan. Mereka kehabisan air dan perbekalan sehingga kami bagi sedikit perbekalan kami.
Pukul setengah lima sore kami tiba kembali di Pos 5 untuk bermalam yang kedua kalinya. Aku sangat bersyukur bisa menggapai Puncak 3,478 mdpl ini. Puncak ke-4 dari Seven Summits of Indonesia yang digagas oleh Bang Hendri. Semoga masih diberikan umur panjang untuk menggenapi 3 puncak yang tersisa.
Untuk menikmati hasil jepretan Gunung Latimojong terutama kekayaan floranya, bisa dilihat pada link berikut.
Latimojong, September 2020.


No comments:
Post a Comment