Bolak Balik Gagal ke Puncak Puntang

Sudah cukup lama tidak menulis untuk meng-update blog ini. Tidak terasa sudah lebih dari dua tahun lamanya. Kesibukan atau lebih karena malas, sepertinya lebih alasan yang terakhir sih, hehe.. Sudah cukup banyak juga gunung yang didaki dari tulisan terakhir mengenai Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat. Kali ini, saya hendak bercerita pendakian terakhir kemarin, di Gunung Puntang, Bandung, Jawa Barat.

Puncak Puntang

Sebagai catatan, ini adalah percobaan yang ke-4 yang alhamdullillah akhirnya kesampaian juga dapat berfoto di Puncak Mega, 2.222 mdpl. Dasar keras kepala, tetap saja dicoba lagi dan lagi sampai bisa ke Puncak. Ada yang bilang saya ini ambisius dan ngoyo, hmm… mungkin saja benar, tetapi saya pribadi lebih menilai ke penasaran. Kenapa sih kok susah sekali?

Nyatanya saya tipe pendaki yang santai (sesuai standar saya), karena toh kalau tidak bisa sampai puncak ya gapapa, yang penting saya dan rekan sependakian selamat sampai bawah kembali. Kalau ada rekan yang sakit, ya ga usah dipaksakan. Semisal ada aral di pendakian dan nyata-nyata tidak bisa dilanjut, ya balik kanan. Gunungnya juga ga mungkin pindah toh. Shit happen!

Gagal Tiga Kali

Percobaan pertama ke Puntang, April 2017, gagal sebelum sampai basecamp. Jadi ceritanya saat itu ingin mendaki yang sedikit berbeda. Tiga hari tiga gunung. Sadar diri kekuatan kaki, gunung yang dipilih pun tidak tinggi-tinggi amat: Manglayang, Tampomas, dan Puntang. Semua didaki dengan sistem tektok sehingga lebih enteng barang bawaan dan bisa istirahat yang enak di basecamp atau syukur-syukur kasur.

Singkat cerita, pendakian ke Manglayang sukses sekali karena cuma butuh waktu 1.5 jam saja sampai puncak sehingga cukup banyak waktu untuk berpindah ke gunung selanjutnya di Sumedang yang cukup jauh (plus kejadian kebut-kebutan naik ojek mencari kamera mirrorless yang ketinggalan di angkot sampai ke Indramayu).

Pada hari kedua, Gunung Tampomas pun berhasil didaki, walau rekan sependakian, Findi namanya sempat hendak menyerah di tengah jalan. Nah, ketika balik ke Bandung, karena merasa sudah tidak kuat lagi, Findi memutuskan tidak sanggup lagi melanjutkan ke Gunung Puntang (mungkin ada benarnya jika tahu bagaimana trek Gunung Puntang ini, hehe..).

Percobaan kedua, Juli 2017, juga gagal. Kali ini kami berempat, sengaja saya ajak Juan, senior pendaki dari Garut, untuk memandu jalan. Namun apa dikata, ternyata Juan juga belum pernah mendaki Gunung Puntang ini. Baiklah… akhirnya kami mencoba-coba saja.

Sampai di basecamp dan hendak mendaki, tanya sana-sini jalurnya di mana, kami diarahkan ke dalam Bumi Perkemahan Gunung Puntang. “Lurus saja!”, kata Bapak Penjaga. Ternyata.. oh ternyata.. kami salah jalan. Bukanya ke Gunung Puntang, belakangan saya baru sadar kalau ini adalah jalur ke Curug Siliwangi, itupun nyasar. Sudah salah jalan, nyasar pula. Ditambah ada sedikit kejadian mistis yang lucu kalau diingat.

Percobaan ketiga, di bulan September, masih di tahun yang sama. Hmm… mungkin benar saya gigih sekali ya, sampai mencoba tiga kali di tahun yang sama. Kali ini saya mengajak soulmate mendaki, si Lei the Black Devil. Pasti berhasil kalau ini, pikir saya kala itu. Bagaimana tidak, bersama si Lei ini saya sudah sering sekali mendaki berdua tanpa tahu jalur dan alhamdullillah sampai Puncak dengan selamat. Tentunya kami melakukan sedikit survey dan tanya-tanya penduduk sekitar.

Namun takdir berkata lain, sampai di basecamp kaget setengah mati ketika mendengar kabar Gunung Puntang ditutup! Shit! Gagal lagi pendakian ke Puntang. Sepertinya memang tahun 2017 saya belum berjodoh dengan gunung satu ini. Sebenarnya gunungnya sih biasa saja, cuma karena sudah tiga kali ditolak, jadi makin penasaran kan. Macam pacaran, makin ditolak makin gigih usaha kita. Eh salah ya?

Akhirnya Berhasil!

Percobaan keempat, di tahun 2021, empat tahun dari tiga percobaan sebelumnya, akhirnya berhasil, walau sempat hampir saja gagal karena ternyata semejak pandemi covid-19 melanda, pendakian Gunung Puntang ditutup untuk umum (resminya).

Ketika kami sampai di pos tiket, di jalan sebelum gerbang kami sempat melihat anak-anak pendaki yang baru turun dari gunung, ah, berarti bisa didaki neh, pikir saya lega. Namun apa dikata, kaget sekali ketika di pos tiket pintu masuk diberitahu penjaga tiket kalau pendakian Gunung Puntang masih ditutup semenjak Maret 2020, sejak pandemi melanda Indonesia. Belakangan saya sadar, pendaki tadi mendaki secara ilegal, dan rupanya banyak juga yang mendaki secara ilegal.

Hal ini dimungkinkan sekali karena jalur pendakian berada sebelum pintu masuk Bumi Perkemahan Gunung Puntang. Jadi boleh dibilang kalau pendakian tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Entah kenapa seperti itu. Karena tentunya dari jalur ini kita bisa mendaki tanpa perlu lapor atau melewati penjagaan. Aman saja.

Untuk pendaki dari luar daerah, seperti saya, tentunya kami langsung menuju pintu masuk untuk membayar tiket seperti layaknya taman nasional. Beda cerita untuk pendaki yang berasal dari daerah sekitar, yang sudah paham karakter jalur pendakian gunung satu ini.

Setelah melobi penjaga Bumi Perkemahan, kami dikenalkan dengan Pak Rahmat, kepala pengeloa Bumi Perkemahan Gunung Puntang, yang baik sekali orangnya. Ramah dan pengertian. Setelah panjang lebar bercerita, kami diizinkan mendaki dengan catatan ditemani pemandu lokal, itupun tidak boleh bermalam, hanya tektok. Okelah, daripada tidak sama sekali kan? Itung-itung bisa meningkatkan pemasukan warga sekitar.

Dari rencana bermalam di ketinggian yang mana bisa menyeduh kopi dan merebus Indomie Kari Ayam di tenda, harus kami ganti dengan bermalam di Bumi Perkemahan. Kami rencanakan untuk mulai mendaki jam 3 pagi agar bisa melihat matahari terbit di puncak. Ohya, untuk tiket masuk kami membayar 67k untuk parkir dan bermalam serta guide 250k.

Jalur pendakian menuju Puncak Mega, 2.222 mdpl ternyata asoi sekali. Gabungan antara Manglayang dan Burangrang. Hampir tidak ada bonus trek, nanjak terus dari awal sampai puncak. Nanjaknya juga lumayan bikin dengkul pegel-pegel. Mbak Lidia, teman pendakian kali ini, yang merupakan penggiat trail runner, enak saja berjalan menuju puncak. Berkali-kali saya jauh tertinggal di belakang. Serasa mendaki bersama Lei, yang juga penggiat trail runner.


Curug Siliwangi

Jalur yang Curam ke Curug Siliwangi.

Jelatang yang Banyak di Jalur.


Pos 1, Lima Menit dari Puncak Mega.

Kopi Siap Petik.

Nyasar ke Curug Siliwangi.

Santai ketika Gagal ke Puncak.

Butuh waktu tiga jam bagi kami (baca: saya) untuk mencapai puncak. Melewati Pos 5 ke Pos 1, ohya keunikan lain gunung ini yakni penomoran pos yang terbalik, dari lima ke satu (dekat puncak).

Puncak Mega, seperti pada umumnya puncak gunung dengan tinggi di bawah tiga ribu di Jawa Barat, menyajikan pemandangan yang cukup Indah. Untungnya puncaknya “bersih”, tidak dihalangi pepohonan seperti Manglayang atau Burangrang atau Tampomas. Setelah mengambil foto dua tiga kali, kami turun ke Pos 1 untuk membuat sarapan. Apalagi kalau bukan Indomie pakai telor, hehe…

Rasa penasaran saya akhirnya terobati, “Cukup sekali saja ke sini,Mbak.”, jawab saya dengan mantap ke Mbak Lidia yang menggoda untuk mengulangi ke Puntang pada lain kesempatan. Naik susah, turun juga makin susah karena licin dan terjal. Duh!

Sekian cerita pendakian ke Gunung Puntang. Keep safe, clean, and fun climbing!

DM, 27 Juni 2021.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...