Showing posts with label Air Terjun. Show all posts
Showing posts with label Air Terjun. Show all posts

Toba Solotrip #2: Tuktuk dan Sipiso-piso

Setelah puas menikmati keindahan alam di asal muasal Orang Batak, hari kedua saya rencanakan untuk menikmati sedikit kenyamanan di Tuktuk. Seperti banyak daerah wisata lain yang ramai dikunjungi turis mancanegara biasanya terdapat satu kawasan, lumrahnya berupa jalan, yang kanan kirinya banyak terdapat hotel dan tempat makan/minum, di Danau Toba Tuktuklah tempatnya.

Air Terjun Sipiso-piso.
Sepintas Tuktuk mirip dengan Kuta di Bali atau Prawirotaman di Jogya, namun dalam skala yang lebih kecil. Banyak terdapat hotel di kanan kiri jalan, baik sebuah kamar yang mirip kosan sampai hotel mewah yang menghadap langsung ke Danau Toba. Banyak pula terdapat tempat makan yang menawarkan menu andalan seperti pizza dan lasagna. Pub pun tidak ketinggalan meriahkan kawasan Tuktuk di malam hari.

Laumarang, Rajanya Air Jatuh di Luwuk

Setahun lebih berlalu sudah saya tinggal di Banggai, dan kian hari ternyata makin banyak saja lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Pada kesempatan kali ini saya mendapat informasi tentang air jatuh (sebutan untuk air terjun di Banggai) yang berada tidak jauh dari Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai. Namanya Air Jatuh Laumarang, yang menurut orang sini namanya berasal dari nama Pak Laumarang, orang yang pertama kali membuka lahan dan menemukan air jatuh tersebut.

Air Jatuh Laumarang.
Untuk menuju kesini tidak begitu sulit. Dari arah Luwuk kita menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro Kalumpang yang hanya 10 menit dengan kendaraan roda dua atau empat. Ohya, karena jalurnya yang lumayan susah, sebaiknya tidak menggunakan moda roda empat dari sini, jalan kaki paling hanya satu jam saja dari Kalumpang. Kemudian ambil jalan naik di sebelah kanan, jalan lumayan menanjak dan pada musim hujan akan menjadi licin serta berlumpur karena memang belum diaspal.

Wisata Petualangan di Batu Tikar

Satu lagi tempat yang harus didatangi ketika berada di Luwuk yakni Batu Tikar. Siapa sangka, hanya berjarak sepuluh menit dari pusat Kota Luwuk, kita dapat menjumpai wisata petualangan yang asyik. Jalur yang masih asri, berbatu, pada beberapa ruas harus menyebrang sungai yang mengalir deras, memanjat di samping air jatuh (sebutan untuk air terjun), dan harus memanjat akar pohon menjadi tantangan untuk ke Air Jatuh Batu Tikar.

Berenang di Batu Tikar (doc. Doni).
Untuk menuju ke sini kita harus menuju Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai terlebih dahulu kemudian dilanjutkan jalan kaki selama kurang lebih satu jam jika berjalan santai. Belum ada ticketing, karena itu dapat dipastikan tempat ini sama sekali belum tersentuh oleh Dinas Pariwisata Banggai. Jangankan pagar pengaman, plang penunjuk jalan pun tiada. Namun tidak perlu kuatir tersesat, hanya ada satu jalur saja, tinggal ikuti arah sungai.

Curug Tujuh Cilember

Terletak di Bogor, Cilember dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengisi liburan. Lokasi persinya terletak di Perbukitan Hambalang, Desa Jogjogan, Cisarua, kurang lebih satu kilo setelah pintu tol jagorawi, belok kiri setelah Taman Wisata Matahari. Lokasi air terjun ini memang agak masuk ke dalam, namun masih bisa diakses sepeda motor atau mobil. Setelah berjalan kurang lebih satu kilo melewati jalan kampung, kita akan menjumpai gerbang masuk Wana Wisata Curug Cilember.
 
Petunjuk Arah Cilember.
Yang unik dari curug (air terjun) satu ini adalah jumlahnya yang terdiri dari tujuh buah dan dihitung secara terbalik. Tidak jauh dari pintu masuk, kita sudah dapat menjumpai curug ketujuh dan keenam yang terletak bersebelahan. Tinggi kedua curug itu kurang lebih 30 m. Saat weekend, kita kurang dapat menikmat keindahan curug ini karena banyaknya pengunjung.

Malela, Litle Niagara of Java

Orang-orang menjuluki air terjun ini dengan nama Litle Niagara. Memang pantas julukan tersebut. Bagaimana tidak, membentang hampir 50 meter dengan ketinggian hampir 40 meter, kita akan tampak kecil sekali di hadapannya. Memang aku belum pernah berkunjung ke Niagara, hanya melalui fotonya aku mengamini julukan Malela, Litle Niagara Waterfall.

Curug Malela.
Sudah lama kudengar dengung riuh pancuran airnya. Sebagai seseorang yang mengaku waterfall hunter, barang tentu wajib mengunjungi air terjun satu ini. Namun, setelah cukup lama bermukim di tanah Sunda, baru pada tahun keempat aku berkesempatan untuk merasakan riuh airnya dari dekat. Merasakan hembusan angin berair dari air terjun raksasa ini secara langsung. Malela benar-benar membuatku terlena.

Menyusur Kuala ke Air Jatuh

Hampir empat bulan hanya bergumul dengan laporan, laporan, dan laporan selama tujuh hari seminggu membuat kepala lama-lama terasa panas juga. Karena itu, walau badan sedang tidak fit, kupaksakan mengiyakan ajakan teman untuk berburu air jatuh, sebutan Warga Luwuk untuk air terjun. Lokasi air jatuh yang dimaksud ternyata tidak begitu jauh dari kantor, pintu masuknya cuma sepuluh menit dengan kendaraan bermotor. Dekat!

Air Jatuh.
Ternyata, warga sekitar pun jarang yang mengetahui adanya air jatuh ini. Warga yang tahu pun hanya menyebutnya dengan air jatuh, tanpa nama. Info ke sana kami dapat dari warga lokal yang kebetulan waktu kecil pernah kesana. Secara wilayah, air jatuh ini masuk ke Desa Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Singkat cerita, pulang kerja lebih awal dari biasanya, hanya berdua dengan teman yang juga buta arah, kami menuju ke sana.

Menuju Curug Semawur yang Tersembunyi



Harus diakui, jarang orang yang tau akan keberadaan curug satu ini kecuali orang lokal. Walaupun terletak di Kendal, pun, saya yakin tidak semua orang Kendal mengetahui keberadaannya. Ohya, lokasinya sendiri pun saya juga masih belum yakin masuk kabupaten yang terkenal akan rambak Dwijonya itu atau Batang. Yah kabupaten manapun itu, pintu masuk yang saya datangi kala itu dari Plantungan, Kendal.

Menikmati Jalan Setapak ke Curug Semawur.

Saya menemukan lokasi curug satu ini juga merupakan hasil dari ketidaksengajaan (baca: nyasar) saat akan menuju Gunung Prau. Terletak jauh di lereng Gunung Prau menjadikan akses kesana lumayan sulit dijangkau, pun sedikit plang penunjuk jalan yang bisa kita temui. Akses roda 4 pun juga agak susah mengingat jalan yang sempit dan berbatu.

Mari Mengunjungi Curug di Semarang


Jika mendengar kata Semarang, kebanyakan orang tentu akan menghubungkan dengan Lawang Sewu atau Kota Lama. Dua tempat tersebut sudah ikonik, nah kali ini saya ingin menulis wisata alam berupa curug (air terjun) yang ada di Kota Lumpia. Dengan sebagian wilayahnya terletak di lereng Gunung Ungaran, Semarang tentu memiliki banyak curug yang layak dikunjungi.
Curug Semirang
Terletak di Dusun Gintungan, Desa Nggogik, Kecamatan Ungaran Barat, Curug ini hanya membutuhkan waktu sejam untuk dicapai dari Kota Semarang. Akses menuju kesana pun terbilang mudah karena sudah banyak plang penunjuk jalan. Dari loket kita masih harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam melewati jalan setapak yang asri. Disana pun banyak warung-warung yang menjajakan makanan minuman ringan.
Curug Semirang.

Tips Berwisata Cantik di Air Terjun



Sebagai penggemar air terjun, saya selalu menyempatkan mengunjungi air terjun di daerah yang saya kunjungi. Dari seringnya main ke air terjun, saya sering melihat beberapa pelancong yang sepertinya salah tempat atau kurang persiapan. Nah, disini saya ingin sedikit berbagi pengalaman tentang berwisata ke air terjun.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...