Harus diakui, jarang orang yang tau akan keberadaan curug
satu ini kecuali orang lokal. Walaupun terletak di Kendal, pun, saya yakin
tidak semua orang Kendal mengetahui keberadaannya. Ohya, lokasinya sendiri pun
saya juga masih belum yakin masuk kabupaten yang terkenal akan rambak Dwijonya
itu atau Batang. Yah kabupaten manapun itu, pintu masuk yang saya datangi kala
itu dari Plantungan, Kendal.
| Menikmati Jalan Setapak ke Curug Semawur. |
Saya menemukan lokasi curug satu ini juga merupakan hasil
dari ketidaksengajaan (baca: nyasar) saat akan menuju Gunung Prau. Terletak jauh
di lereng Gunung Prau menjadikan akses kesana lumayan sulit dijangkau, pun
sedikit plang penunjuk jalan yang bisa kita temui. Akses roda 4 pun juga agak
susah mengingat jalan yang sempit dan berbatu.
Kalau dari Kendal Kota, pertama Anda harus menuju ke Sukoharjo
melewati jalanan alas roban yang elok dan berkelok-kelok. Saat menemui lampu
merah sebelum alun-alun Kecamatan Sukoharjo ambil arah kanan ke Plantungan. Kalau
kelewat sampai ke alun-alun ya balik lagilah, hehe.. ikuti saja jalan sampai
menemukan plang kecil ke Curug Semawur di kiri jalan.
| Plang Penunjuk Jalan. |
Jangan heran juga ketika sudah tiba di “pintu masuk” karena
cuma rumah-rumah biasa di akhir jalan dengan plang kecil penunjuk arah. Tidak ada
loket ataupun tempat parkir. Untuk parkir kita bisa nebeng ke halaman warga
sekitar, mereka cukup ramah kok sama pengunjung, asal kita juga sopan tentunya.
Dari sini perjalanan masih dilanjutkan dengan jalan kaki
sejauh kurang lebih 2 jam melewati jalan setapak yang naik turun. Tidak perlu
terburu-buru ketika berjalan karena view sepanjang jalan sayang untuk
dilewatkan bidikan kamera.
Sendal berhak tinggi, sandal jepit, dan rok baiknya jangan
dipakai kalau hendak menuju kesana mengingat jalan yang terjal dan juga di
beberapa bagian jalan seringkali licin. Sebaiknya memakai sandal gunung atau
sepatu trekking demi keselamatan. Jangan lupa juga membawa camilan dan air
minum karena tidak ada yang jual di lokasi curug.
| Curug Semawur. |
Yang unik dari air terjun ini adalah kontur batuan yang
menjadikannya dua tingkat. Tingkat pertama tingginya kurang lebih 15 meter dan
di atasnya, tingkat kedua tingginya mencapai 30 meter. Sehingga kalau kita
memandang dari bawah seperti mengalir dari langit. Ohya, kita juga bisa naik ke
“tengah-tengah” curug atau ke atas tingkat pertama. Asyik sekali berdiri di
tengah-tengah, memandang ke atas ataupun kebawah kita bisa melihat derasnya air
mengalir. Hati-hati ya teman kalau mau naik, karena jalurnya lumayan terjal.
| Perjalan ke Tengah Air Terjun. |
Sebagai penikmat air terjun, saya suka berlama-lama
memandang dan mendengarkan gemuruh air mengalir dari atas. Menikmati derunya
air yang meluncur turun dengan diiringi kabut nakal yang turun menyelimuti sungguh
menentramkan hati ini.
Cuma sedikit disayangkan pemandangan yang indah ini sedikit
terganggu oleh sampah-sampah dari pengunjung yang seenak udel buang sampah! Memang
seh disana tidak ada tempat sampah karena memang belum dikelola oleh pemda,
tapi saya yakin, gak berat-berat amat kok bawa sampah turun ke bawah. Hargai
pengunjung yang lain dengan menjaga kebersihan. :) (dm 05/13)
bukan sukoharjo tp SUKOREJO
ReplyDeleteBenar. Sepertinya saya salah tulis, terima kasih untuk koreksinya mas/mbak. :-)
Deletesaya kemarin baru nyoba.. sip tempat. e
ReplyDeleteWah... jalannya sudah bagus?
Deletetempate di wilayah Kendal bro, coba di cek di google map, gitu aja galau hehehe
ReplyDeletehehehe... tapi perbatasan Batang loh.
Delete