![]() |
| Pulau Dua dari Atas. |
Tepat
setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan
belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter
dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin
bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun?
Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah,
bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.
Ohya, untuk
menuju ke Pulau Dua ini, silahkan membaca catatan perjalanan saya yang lalu.
Sedikit tambahan yakni adanya dermaga kecil untuk kapal berlabuh sehingga tidak
perlu turun ke air. Vila-vila pun sudah selesai dikerjakan dan siap disewakan
dengan gubuk-gubuk kecil untuk bersantai. Namun tampaknya, baru Pemda Banggai
yang menggunakan fasilitas ini. Saya jadi curiga jangan-jangan ini program
terselubung pemda sebagai tempat pertemuan internal di tengah pulau, hehe..
![]() |
| Vila Pulau Dua. |
![]() |
| Pantai Pulau Dua. |
Jalur yang ekstrem!
Mengaku
sebagai pendaki gunung, saya merasa malu ketika harus berkali-kali meminta
tolong ke Pak Kades Kampangar yang juga guide
kami menuju puncak. Beliau membawa bambu panjang untuk menarik kami satu
persatu ke atas. Jika tanpa bantuan Pak Kades, mustahil saya bisa sampai di
puncak. Dengan enaknya beliau yang hanya bersandal jepit berjalan ke atas dan
ke turun lagi ke bawah, bolak-balik untuk membantu kami.
Jalur yang
ekstrem dengan dibayang-banyangin terperosok ke bawah membuat kami makin takut
untuk bergerak. Bagaimana tidak, tingkat kemiringan punggungan dan tanpa ada
pegangan membuat mustahil untuk bergerak ke atas. Setiap melangkah, harus
dipastikan tanah yang kita pijak tidak longsor. Beberapa kali harus
diinjak-injak terlebih dahulu sebagai pijakan selanjutnya. Tapi seringkali,
bambu panjang Pak Kadeslah satu-satunya pegangan untuk terus ke atas.
Baru kali ini,
dari pengalaman berpuluh-puluh kali mendaki gunung, melalui medan seperti ini
dan harus dibantu sedemikian rupa.
Setelah
hampir satu jam berkutat dengan peluh dan tanah labil, Puncak Pulau Dua dapat
kami raih. Tidak sia-sia perjuangan kami. Pemandangan dari atas betul-betul
sedap di mata. Keseluruhan pulau dapat dilihat dari puncak. Dari tempat
berpijak yang hanya berukuran satu kali dua meter kita juga dapat menikmati
pemandangan teluk Desa Pulau Dua yang indah dengan puncak Lukapan di sebelah
kiri serta pulau ‘temannya’ Pulau Dua dan laut biru tua di antaranya. Mantap
jaya!
![]() |
| Jalur Ke Puncak Pulau Dua. |
![]() |
| Mendaki Puncak Pulau Dua. |
![]() |
| Puncak Pulau Dua. |
![]() |
| Sang Merah Putih di Puncak Pulau Dua. |
Naik ke
puncak adalah satu persoalan dan turun kembali ke bawah adalah persoalan lain.
Dapat saya katakan, turun terlihat lebih menakutkan karena pandangan kita terus
menerus menatap ke bawah. Jangankan berlari-lari macam turun gunung seperti
biasanya, berjalan biasa pun masih gamang. Terpaksa menggunakan lima kaki yakni
pantat dibantu dua kaki dan dua kaki-tangan, hehe.. Itupun masih harus dibantu
oleh Pak Kades. Fiuh…
Melengkapi
andrenalin yang sudah terpacu deras, hujan turun mengguyur. Padahal sedari pagi
panas menyengat tidak ada tanda-tanda bakal turun hujan. Hujan pun membuat kami
harus lebih cepat untuk kembali ke vila, bukan karena takut basah, tapi karena
petir! Bayangkan saja, lima manusia di puncak bukit yang gundul tanpa satupun
pohon, tentu akan menjadi santapan empuk panah Dewa Zeus yang sedang iseng.
Tidak peduli
tanah yang makin labil berkat guyuran hujan, kami bergegas untuk turun ke bawah
dengan tetap dipandu oleh Pak Kades. Benar-benar asyik sekaligus horor.
Anehnya, di tengah kondisi seperti itu, kami masih dapat tertawa lepas. Entah
menertawakan kelucuan teman atau hanya doping
agar tidak stress, hehe..
![]() |
| Pak Kades Kampangar. |
![]() |
| Dituntun Pak Kades. |
![]() |
| Dibantu Pak Kades. |
![]() |
| Lereng Puncak Pulau Dua. |
![]() |
| Mendorong Perahu (1) (doc. Mega). |
![]() |
| Mendorong Perahu (2) (doc. Mega). |
![]() |
| Cekungan Pulau Dua. |
Perlu
diketahui, Pulau Dua ini berbentuk seperti huruf Y raksasa, dan untuk berlabuh
kita harus masuk ke dalam cekungan Y bagian atas tersebut. Di ceruk pintu masuk
ke cekungan memiliki kedalaman yang tidak begitu tinggi sehingga saat surut,
mustahil perahu kapasitas sepuluh orang dapat lewat tanpa melukai lambung
perahu.
November
saat menuju ke sana, laut masih pasang dan dapat melewati pintu masuk cekungan
dengan mudah. Namun ketika hendak pulang sepertinya Tuhan yang Maha Asyik hendak
mengajak kami untuk berbasah-basahan di air laut yang surut. Jadi ceritanya
laut menjadi surut dan agar lambung kapal tidak terluka, maka penumpangnya
harus turun untuk membantu mengurangi beban perahu. Jadilah kami beramai-ramai
mendorong dan mengangkat bagian belakang perahu melewati daerah yang rendah
menuju laut terbuka.
Pengalaman
mendorong perahu ini mungkin biasa saja bagi para nelayan, tapi bagiku
memberikan kesan tersendiri. Kapan lagi coba kuli bangunan macam saya bisa
merasakan mendorong perahu keluar pulau? Kalau mendorong motor karena kehabisan
bensin seh sudah biasa banget, sudah mainstream, bro.
Hampir 50 meter kami beramai-ramai mendorong perahu melewati karang dan koral. Dan namanya ‘orang ndeso’, ketika mendorong perahu masih saja sempat minta difoto temen perempuan yang tetap di perahu, hehe.. Sampai bertemu lagi Pulau Dua. (dm 11 Desember 2014)














subhanallah,, indahnyaa Indonesiaku
ReplyDeleteDamn true! Makasie udah mampir.
DeleteDamn true! Makasie udah mampir.
Deleteah bikin iri pake banget :p
ReplyDeletehehe... yuk mari jalan. :)
DeleteTulisan yg informatif bro.... Btw Masih tinggal di luwuk ga bro? Temenin dong main ke pulau dua sama ke solakan... Bulan depan sekitar 15-18 sy mampir main ke luwuk habis Dari togean...
ReplyDeleteTerima kasih. Hehe.. sudah balik ke Jawa neh, bro.
DeleteKalau butuh teman, mungkin saya bisa bantu kasih info. :)