Showing posts with label Padang. Show all posts
Showing posts with label Padang. Show all posts

Pesona Middle Earth di Puncak Singgalang

Saat itu pukul dua siang, setengah jam yang lalu cuaca masih terik menyengat, namun begitu memasuki hutan lumut, suasana berubah menjadi gelap karena kabut yang tebal. Untuk berjalan, kita harus ekstra hati-hati karena daratan berupa lumpur, seperti masuk ke rawa-rawa. Agar aman, harus berjalan dari akar pohon yang satu ke akar pohon lainnya. Serasa memasuki Hutan Mirkwood dalam kisah Tolkien yang terkenal itu.

Hutan Lumut.
Di ujung, atau mungkin lebih tepatnya di tengah, hutan lumut kita akan menjumpai sebuah telaga. Namanya, Telaga Dewi, jernih dan cantik wujudnya. Luasnya mungkin seluas lapangan bola dikelilingi hutan lumut yang kadang tampak, namun seringkali tidak nampak karena tertutup kabut putih yang tebal. Hutan Lumut dan Telaga Dewi memang menjadi tujuan utama saya mendaki Gunung Singgalang, Sumatera Barat.

Menyisir dan Menelisik Mitos Maninjau

Alkisah hiduplah sepuluh bersaudara yang dikenal dengan nama Bujang Sembilan dengan si Bungsu yang cantik jelita. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di kaki Gunung Tinjau. Menginjak dewasa, terjalinlah cinta kasih antara Sani si Bungsu dengan Giran, anak dari kerabat mereka. Namun, hubungan tersebut harus berakhir tragis karena Kukuban, sulung dari Bujang Sembilan menaruh dendam hingga fitnah kepada Giran. Singkat cerita, Gunung Tinjau meletus berkat doa si Giran dan menghancurkan Bujang Sembilan. Gunung yang meletus tersebut sekarang berubah menjadi Danau Maninjau.

Mengayuh Sampan di Maninjau.
Begitulah sepenggal mitos terjadinya Danau Maninjau yang merupakan danau terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Pesan moral legenda tersebut sangat jelas, janganlah kita mendendam orang lain karena hal yang bukan menjadi kesalahannya. Dari dendam dapat muncul iri dengki hingga fitnah yang tidak berdasar. Kini, yang tersisa adalah keindahan Danau Maninjau yang sayang untuk dilewatkan jika kita berkunjung ke Sumatera Barat.

[Berusaha] Mancing Ikan di Singkarak

“Itu pegang ujungnya! Kasih batu lagi!”, teriaku keasyikan ke Juan sambil memegang jaring jadi-jadian yang kami bikin. Rencananya, kain jilbab yang disulap jadi jaring ini akan kami letakan di dasar bebatuan dan pas ikan lewat di atasnya, hap! Ikan-ikan bilis itu siap dimasak. Untuk itu dibutuhkan batu sebagi pemberat sedangkan aku akan berjaga memegang tali yang mengikat keempat ujung kain jaring tersebut. Harapannya jaring itu bisa sekaligus menangkap ikan-ikan kecil yang berseliweran di Danau Singkarak.

Menjala Ikan.
Percobaan-percobaan yang Gagal
Pagi itu kami bertiga memang sedang asyik menangkap ikan danau untuk pelengkap makan siang nanti. Di penghujung travelling ke Kerinci, bekal pun semakin menipis hingga hanya bersisa mie instan dan bumbu dapur. Oleh karena itu, ketika melihat banyak ikan-ikan kecil berenang di pinggir danau langsung saja kami merasa terpanggil untuk melakukan penangkapan agar saat siang nanti mie instan tidak sendirian masuk ke perut kami.

Bukittinggi Dalam Sehari


 “Yuk seharian ini kita explore Bukittinggi!” ucap Lei dengan bersemangat. Saya dan Juan pun menanggapi dengan anggukan setuju. Hari ini kami bertiga memang berencana untuk meng-explore tempat wisata landmark Sumatra Barat ini. Ternyata banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di Bukittinggi selain Jam Gadang dan tentunya tidak bakal membuat dompet Anda kempes.

 
Menara Jam Gadang Bukittinggi.
Berdasarkan pengalaman saya kemarin, untuk menghemat tenaga buat muterin Bukittinggi rute yang sebaiknya diambil yaitu: Jam Gadang-Kebun Binatang Kinantan-Jembatan Limpapeh-Benteng Fort de Kock-Kampung Cina-Taman Panorama-Lobang Jepang-Ngarai Sianok. So, mari kita kupas satu-satu tempat-tempat asyik tersebut.

Undip untuk Padang

“Manifestnya mana?”, bentak Provost Lanud Halim Perdana Kusuma kepada kami. Pikirku, apa itu manifest, tidak tahu juga ejaannya benar atau tidak. Mana jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 malam, kondisi fisik yang sudah capek semua setelah seharian berburu barang bantuan di Jakarta. Maka jawabku spontan, “Manifest itu apa ya, Pak?” yang disambut bentakan lagi. Sigh. Setelah usut punya usut, ternyata itu adalah sebutan untuk lembar daftar barang yang akan diangkut menggunakan pesawat Hercules yang akan kami tumpangi menuju Padang.

Hari itu (Jumat, 08/10/09) berangkatlah Tim UNDIP Tanggap Bencana yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa UNDIP. Setelah menghimpun dana bantuan di jalanan oleh rekan-rekan mahasiswa dari berbagai fakultas, sumbangan dari para dosen dan staf UNDIP, serta sumbangan dari pihak kampus, terkumpulah dana sebesar Rp. 115.000.000,-. Bantuan untuk saudara sebangsa di Bumi Andalas.

Adalah M. Imam Baihaqi, Menteri Pengabdian Masyarakat BEM KM sebagai ketua rombongan tim kali ini dan berperan untuk mengurus birokrasi-birokrasi yang terkait. Ahmad Fauzan dari UKM Pramuka Racana Diponegoro mengurusi masalah-masalah teknis di lapangan. Dhani Mahendra dari UKM KSR PMI Unit UNDIP Semarang yang berperan mengurusi Management Disaster, tentang bagaimana penanganan bencana yang sudah menjadi makanan wajib bagi UKM pertama yang bercokol di PKM Tembalang tersebut. Serta perwakilan mahasiswa Padang, Fasco Buana dan Hamdillah Usman sebagai penghubung dan guide selama di Padang.

Hari pertama kami habiskan untuk berburu barang bantuan di Kota Metropolitan baru kemudian akan didistribusikan secara langsung ke masyarakat, sesuai amanah yang tim terima. Mulai dari tenda, kain terpal, selimut, susu dan makanan bayi, serta pembalut wanita adalah barang bantuan yang akan kami salurkan.

Toboh Ketek


Toboh Ketek adalah sebuah nagari (atau desa, sebutan untuk pulau jawa) yang berada di Kecamatan Enam Lingkung, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sebuah nagari yang kecil, sesuai namanya ketek yang berati kecil.

Mulai pukul 6 sore, suasana sudah sepi bukan kepalang. Hal ini diperparah dengan tradisi orang minang sebagai bangsa perantau, hampir setengah penduduk merantau ke luar Sumatra Barat. Maka jangan heran jika Rumah Makan Padang bertaburan dimana-mana.

Menjelang malam, keramaian hanya dapat ditemui di warung-warung atau lapau dalam bahasa minang. Para pemuda dan bapak-bapak bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk secangkir kopi. Bercengkrama, nonton tv, bahkan tidur di situ. Biasanya mereka pulang ketika detik-detik pergantian hari.

Rata pekerjaan masyarakat Toboh Ketek sebagai petani, pembuat batu bata (yang katanya sampai diekspor), peternak ikan, dan pemetik kelapa dengan melatih baruak. Sebutan untuk monyet pemanjat kelapa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...