Saat itu
pukul dua siang, setengah jam yang lalu cuaca masih terik menyengat, namun
begitu memasuki hutan lumut, suasana berubah menjadi gelap karena kabut yang
tebal. Untuk berjalan, kita harus ekstra hati-hati karena daratan berupa
lumpur, seperti masuk ke rawa-rawa. Agar aman, harus berjalan dari akar pohon
yang satu ke akar pohon lainnya. Serasa memasuki Hutan Mirkwood dalam kisah
Tolkien yang terkenal itu.
![]() |
| Hutan Lumut. |
Di ujung,
atau mungkin lebih tepatnya di tengah, hutan lumut kita akan menjumpai sebuah
telaga. Namanya, Telaga Dewi, jernih dan cantik wujudnya. Luasnya mungkin
seluas lapangan bola dikelilingi hutan lumut yang kadang tampak, namun
seringkali tidak nampak karena tertutup kabut putih yang tebal. Hutan Lumut dan
Telaga Dewi memang menjadi tujuan utama saya mendaki Gunung Singgalang,
Sumatera Barat.
Awal Pendakian
Dikarenakan
ada urusan pekerjaan di Padang, Sumatera Barat, saya menyempatkan diri untuk
mendaki Gunung Singgalang, gunung yang sudah lama saya idam-idamkan. Jika
dirunut, rencana mendaki gunung ini sudah dua kali gagal dieksekusi. Pertama
saat mengikuti Latsitarda di Pariaman tahun 2008 dulu dan yang kedua setelah
mendaki Gunung Kerinci pada tahun 2013.
Beruntunglah
saya mempunyai kawan baik yang kebetulan pernah kuliah di Universitas Andalas
dan aktif menjadi pecinta alam di kampusnya. Lewat Gustaf, nama teman saya
tersebut, saya dikenalkan dengan Fajri, yang merupakan juniornya di PAITUA,
Mapala Fakultas Teknik Unand. Memang patut diacungi jempol ikatan kekeluargaan
semacam ini, walau sudah lama lulus namun masih mau memenuhi permintaan dari
para pendahulunya.
Singkat
cerita, setelah mampir ke sekre PAITUA, kami berdua berencana untuk merengkuh
Gunung Singgalang dan Marapi dengan sistem tektok. Memulai pendakian pada pukul
dua pagi ke Marapi untuk kemudian langsung disambung ke Singgalang. Rencana yang ambisius sekali, karena jujur
saja entah saya mampu atau tidak.
Jalur Pendakian
Rencana
mendaki dua gunung sekaligus langsung kandas begitu si Fajri tidak bangun juga
walau sudah pasang alarm dan dibangunkan sedemikian rupa. Rupanya malam
sebelumnya belum sempat tidur, yah, dari diri saya sendiri memang tidak yakin bisa
menggapai dua gunung sekaligus. Perut semakin maju, tenaga semakin terbelakang,
hehe..
Menimang
antara Marapi atau Singgalang, tentu saja saya lebih tertarik untuk mendaki
Singgalang. Pesona dan gambar di instagram akan kesan “Lord of the Rings”nya
Hutan Lumut dan Telaga Dewi membuat Singgalang menjadi salah satu gunung
idaman, gunung yang harus didaki.
Untuk menuju
Basecamp pendakian Gunung 2,877 mdpl ini, dari Kota Padang kita harus menuju
arah Padang Panjang (dapat naik travel arah Bukittinggi, turun di Pasar Koto
Baru disambung ojek menuju Tower RCTI). Karena kami berdua menggunakan sepeda
motor, langsung saja menuju Tower untuk memarkirkan motor di situ. Ohya, untuk
pendaftaran pendakian ada di perkampungan, ada ‘pos kampling kecil’ untuk
melapor dan bayar biaya retribusi sebesar enam ribu rupiah seorang.
Jalur yang Luar Biasa
Setelah
pemanasan dan re-packing, pukul delapan pagi kami memulai pendakian. Langsung
saja dihajar trek menanjak yang kemudian disambut oleh Hutan Rimping, berupa
tumbuhan mirip bambu, yang kata Fajri adalah rotan. Rimbunnya Hutan Rimping
ini membuat kita harus membungkuk selama satu jam pertama pendakian meleati jalur yang aslinya saja sudah
berat karena sempit dan menanjak. Ditambah jalur yang licin dan
berlumpur, lengkap sudah. Meurut saya, satu jam pertama ini adalah momok paling
berat sepanjang Jalur Pendakian Gunung Singgalang.
Lima jam
perjalanan selanjutnya, bagi saya, jalurnya mirip dengan jalur Gunung Salak
selepas dari Pos Bajuri ke Puncak Salak 1, namun dengan tingkat kesusahan yang
sedikit banyak lebih berat, hehe.. Gara-gara pada malam sebelumnya Singgalang sempat diguyur
hujan badai, pagi itu sepanjang jalur pendakian menjadi licin dan penuh lumpur. Vegetasi
cukup rapat, khas hutan tropis.
Menariknya,
atau mungkin sayangnya, sepanjang jalur yang dilalui terdapat kabel dan tiang
yang mengular sampai puncak. Untuk menuju puncak, otomatis kita tinggal mengikuti
kabel tersebut. Memudahkan seh, namun sayangnya sedikit merusak pemandangan
kalau hendak memoto jalur. Memang mental perfeksionis. :D
Sejam
sebelum Telaga Dewi, kita akan bertemu dengan ‘cadas’ yang ternyata diartikan
tebing batu tanpa pepohonan. Hati-hati dengan langkah, karena jalurnya yang
cukup curam. Selepas cadas, baru kita akan menemui indahnya Hutan Mirkwood, eh,
Hutan Lumut maksudnya. Salah satu pesona Gunung Singgalang. Berbeda dari
pepohonan di bawah, lumut yang menempel pada hutan lumut ini tebal dan hampir
menutup keseluruhan batang pohon.
Di sini,
saya sering terbayang tiba-tiba muncul si Gollum yang sedang mencari
‘precious’nya yang hilang diambil Bilbo Baggin, hehe…
Setelah
melewati Hutan Lumut, sampailah kita di penghujung pendakian Gunung Singgalang,
Telaga Dewi si cantik jelita. Airnya bersih dan jernih, namun kalau dari segi
rasa, bagi saya pribadi masih kurang segar, ada sedikit rasa belerang yang
terasa di mulut, walau begitu masih aman untuk diminum. Walau siang hari, kabut
masih bolak-balik menyelimuti Telaga Dewi. Saya curiga, kabut tersebut hanya
bercokol di sini saja, dan benar saja, saat turun ke bawah, begitu kami keluar
dari Hutan Lumut, tidak ada kabut sama sekali dan cuaca pun cerah tanpa
mendung. Seperti keluar dari Mirkwood yang kelam.
![]() |
| Gunung Singgalang. |
![]() |
| Pos Pelaporan. |
![]() |
| Basecamp Tower dan Tempat Parkir Roda Dua. |
![]() |
| Awal Pendakian Langsung Gas Pol! |
![]() |
| Hutan Rimping. |
![]() |
| Kabel di Sepanjang Jalur Pendakian. |
![]() |
| Burung ini Tidak Malu-malu Minta Remah Roti. |
![]() |
| Cadas! |
![]() |
| Guide yang Larinya Cepat Sangat. |
![]() |
| Berjalan Melalui Akar Pohon. |
![]() |
| Hutan Lumut, Sayang Hanya Pakai Kamera HP. |
![]() |
| Telaga Dewi. |
Secara total
pendakian yang saya lakukan untuk ke Telaga Dewi membutuhkan waktu enam jam,
sementara turun hanya membutuhkan dua setengah jam saja. Sampai bertemu lagi
Singgalang!
Keep safe,
clean, and fun climbing. (dm 7 Oktober 2016)













No comments:
Post a Comment