Showing posts with label Luwuk. Show all posts
Showing posts with label Luwuk. Show all posts

Terlena di Togean (Bagian 2)

Untuk membaca Bagian 1 silahkan buka link berikut.

Sengaja saya bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit, bergegas menyambut keluarnya sang surya dari peraduan di dermaga depan resort. Tampaknya hanya saya sendiri yang bangun sepagi itu. Hanya duduk saja menikmati suasana pagi. Sayang saya berada pada sisi pulau “bagian senja”, sisi pulau yang tidak bisa melihat matahari terbit, hanya bisa melihat matahari tenggelam. Tetapi tidak menjadi soal, pagi itu tetap terasa nikmatnya.

Berfoto dengan Anak-anak Bajo.
Snorkeling Sepuasnya
Hari kedua di Togean saya niatkan dalam hati untuk snorkeling sepuasnya di sini. Sengaja saya ajak pasangan dari Luwuk tersebut untuk patungan, bayar setengah pun tidak mengapa, ajak saya. Kami menyewa perahu untuk setengah hari, karena siangnya sudah harus mengejar perahu Pelni yang berangkat jam dua siang dari Wakai menuju Ampana.

Terlena di Togean (Bagian 1)

Akhirnya ke Togean
Ya, akhirnya saya bisa ke Togean. Semenjak menginjakan kaki pertama kali di Luwuk, Banggai pada Juni 2013 baru Maret 2015 akhirnya impian ke sini tercapai juga. Hampir dua tahun lamanya. Bagi saya, Togean memang seindah yang diceritakan, bahkan lebih indah lagi. Dan selama ini, Togean cuma mengendap di dalam ingatan yang akhirnya hampir setahun berlalu, baru saya menuangkan dalam bentuk tulisan.

Perkampungan Suku Bajo.
Bagi saya, Togean adalah destinasi paling indah di semenanjung Sulawesi Tengah. Taman Nasional Togean ini masuk ke dalam Kabupaten Tojo Una-una. Untuk menuju ke sini kita dapat berlayar dari Ampana atau Gorontalo. Untuk menuju Ampana sendiri dapat melalui Luwuk, Banggai atau dari Palu. Sempatkan waktu yang cukup karena walau akses sudah lumayan gampang, jarak Ampana masih delapan jam dari Palu atau enam jam dari Luwuk. Belum lagi penyebrangan tiga jam menuju Wakai, pelabuhan terdekat untuk disambung speed boat atau perahu kecil menuju resort di Togean.

Amboinya Bukit Country

“Mas, ada yang mau ke Country neh, berangkat siang ini, mau ikutan ndak?”, pesan singkat yang masuk ke handphone pagi itu. Pesan yang sudah lama kutunggu-tunggu, sudah lama ingin menjejakan kaki di Country yang katanya mempunyai pemandangan yang aduhai. Padahal, hari itu sudah janjian dengan teman akan pergi ke Banggai Laut. Namun setelah menimang-nimang lagi, rute ke Country lumayan jauh, harus berjalan kaki (katanya) sampai empat jam, ke Banggai Laut dapat kulakukan kapan saja dengan kapal laut. Hmm.. Let’s hike, then!
 
Perjalanan Pulang Lewat Tombang.
Menurut info dari Wawan, ada temannya yang akan kemping di Country dan akan berangkat siang atau sore dari Luwuk. Walau belum kenal dengan teman jalan, tidak masalah, bukan sekali ini jala-jalan atau naik gunung dengan teman yang belum dikenal sebelumnya. Hobi jalan-jalan mengajarkan kita banyak hal dalam mengenal satu sama lain dengan baik. Tidak ingin membuat teman perjalanan menunggu, kupacu kendaraan agar sampai tepat waktu.

Menyaksikan Upacara Tumpe di Batui

Para pria berpakaian serba merah itu tampak resah, langit mendung yang sedari tadi siang mulai menampakan gelagat memuntahkan kandungan airnya. Gerimis mulai turun tepat ketika mereka tengah berbaris dengan masing-masing memegang beberapa butir telur burung Maleo yang sudah dibungkus daun Kamunong, sejenis daun Palma. Ukuran yang besar membuatnya mudah terlihat, dan ironisnya itu juga yang membuat telur burung Maleo makin sulit didapat karena diburu banyak orang.
 
Para Pengantar Telur.
Walau ukuran burung Maleo kecil, tidak sampai sebesar ayam kampung, namun telur yang dihasilkannya bisa dua sampai tiga kali besar telur ayam. Kian hari, populasi satwa endemik Banggai ini makin sedikit. Mungkin, itu pula penyebab Upacara Tumpe yang biasanya diadakan di bulan September harus diundur ke awal bulan Desember. Kira-kira dibutuhkan 160 telur burung Maleo untuk mengadakan acara Tumpe.

Mengejar Matahari di Lenyek

Selepas subuh kami mulai memacu sepeda motor keluar dari rumah. Suasana sekitar masih gelap, udara masih cukup tajam untuk membuat tubuh kedinginan. Jaket tebal, sarung tangan, slayer untuk menutup mulut, dan helm membalut tubuh kami menyusur jalanan pagi itu, berpacu dengan sang surya yang sebentar lagi keluar dari peraduan. Kami memang sengaja berangkat dini hari hari untuk bisa menikmati terbitnya mentari pagi di Lenyek, alhasil kami seperti mengejar matahari.

Mentari Pagi di Lenyek.
Estimasi perjalanan dari Kota Luwuk ke Lenyek sekitar 30-45 menit. Dengan dua sepeda motor membelah dinginnya pagi, kami berpacu dengan waktu. Jangan sampai ketika sampai, mentari sudah tinggi di atas. Jalanan masih lengang, hampir tidak ada pengguna jalan lain selain kami. Sepertinya kami memang benar-benar kurang kerjaan, hehe..

Memacu Andrenalin di Puncak Pulau Dua

Jika dilihat dari arah perkampungan, Puncak Pulau Dua hanya seperti gundukan bukit kecil. Tingginya pun paling hanya 100 meter dari permukaan laut. Di puncaknya tertancap bendera merah putih, peninggalan tim ekspedisi pulau terluar NKRI. Gersang. Hanya rumput kering yang menghiasi Puncak Pulau Dua ini. Di satu sisi menampilkan keindahan tersendiri, di sisi lain berarti harus ada usaha ekstra saat menggapai puncaknya.

Pulau Dua dari Atas.
Tepat setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun? Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah, bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.

Lu Kapan ke Lukapan?

Tepat setahun yang lalu saya pertama kali menginjakan kaki di ujung semenanjung Sulawesi Tengah, namun belum kesampaian untuk mendaki ke bukit kecil tempat memandang Pulau Dua dari atas. Percobaan kedua, gagal total karena motor yang kecemplung ke rawa-rawa sampai sedalam pinggang. Jangan tanya “kok bisa kecemplung?”, memalukan untuk membahasnya lagi. Mana butuh satu jam lebih untuk dapat membuat motor bisa kembali melaju. Sial. Namun, di percobaan ketiga saya berhasil, pas sunrise pula, jackpot!

Pulau Dua dari Lukapan.
Pada kali ketiga ini pula baru saya ketahui nama gunung (menurut saya lebih cocok disebut bukit, tapi warga sini menyebutnya dengan gunung) tersebut adalah Lukapan. Ketika saya tanya apa artinya, ternyata warga sekitar juga tidak tahu, sepertinya bukan bahasa Balantak. Yang jelas, dari Lukapan kawan dapat melihat seluruh gugusan Pulau Dua dari ketinggian, indah sekali.

Laumarang, Rajanya Air Jatuh di Luwuk

Setahun lebih berlalu sudah saya tinggal di Banggai, dan kian hari ternyata makin banyak saja lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Pada kesempatan kali ini saya mendapat informasi tentang air jatuh (sebutan untuk air terjun di Banggai) yang berada tidak jauh dari Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai. Namanya Air Jatuh Laumarang, yang menurut orang sini namanya berasal dari nama Pak Laumarang, orang yang pertama kali membuka lahan dan menemukan air jatuh tersebut.

Air Jatuh Laumarang.
Untuk menuju kesini tidak begitu sulit. Dari arah Luwuk kita menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro Kalumpang yang hanya 10 menit dengan kendaraan roda dua atau empat. Ohya, karena jalurnya yang lumayan susah, sebaiknya tidak menggunakan moda roda empat dari sini, jalan kaki paling hanya satu jam saja dari Kalumpang. Kemudian ambil jalan naik di sebelah kanan, jalan lumayan menanjak dan pada musim hujan akan menjadi licin serta berlumpur karena memang belum diaspal.

Semarak Kemerdekaan dari Banggai

Sudah berhari-hari Banggai diguyur hujan, bahkan dua hari terakhir hujan turun dari pagi sampai pagi lagi. “Ntar kalau bendera sudah dikerek, sudah, berhenti hujannya.”, kata orang lokal. Semoga saja benar, tentu upacara peringatan kemerdekaan bakal menjadi amburadul jika tiba-tiba hujan datang. Pukul tujuh pagi itu, saya sudah berada di dalam barisan upacara di kilang gas Donggi Senoro. Inilah pertama kalinya mengikuti upacara dalam nuansa perusahaan.
 
 

Jika dipikir-pikir, sedikit terasa lucu atau bisa juga dikatakan ironis. Ketika inspektur upacara membahas soal Indonesia yang telah lepas dari tangan penjajah, upacara ini didirikan oleh perusahaan bermodal negara Jepang, salah satu mantan penjajah Republik Indonesia. Dua orang yang berdiri di depan saya, juga adalah ekspatriat Jepang yang merupakan petinggi maincontractor di proyek kilang gas ini.

Menengok Perkampungan Bajo di Pagimana

Jarum alroji sudah menunjuk ke arah angka sebelas, cuaca cukup terik walau saat di jalan hujan sedikit mengguyur malu-malu. Di kiri jalan terlihat gapura besar ‘Pelabuhan Pagimana’ yang memberitahukan bahwa saya sudah sampai di Kecamatan Pagimana. Tidak ada objek wisata yang menarik di sini, tidak ada pula pusat perbelanjaan atau tempat hiburan. Sebenarnya, hanya rasa penasaran yang membawa langkah kakiku ke sini, lain tidak.

Pemandangan di Pinggir Jalan.
Berawal dari obrolan-obrolan di kantor seputar ‘kota’ di sekitar Luwuk, terucaplah Pagimana. Pagimana sebenarnya hanya sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten Banggai. Dibanding Luwuk yang menjadi ibukota kabupaten, Pagimana masih kalah jauh. Hanya terdapat pelabuhan yang menghubungkan ke Gorontalo, Kepulauan Togean, dan tempat lainnya. Penyebrangan di sini lumayan ramai akan hilir mudik feri setiap harinya.

Uwe Molino Tontouan

Satu lagi tempat wisata di Luwuk yang menarik dikunjungi di akhir pekan yakni Uwe Molino Tontouan. Uwe molino dalam bahasa lokal berarti air yang menggenang, mungkin sama artinya dengan telaga. Penasaran, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat satu ini. Makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak tempat-tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi. Asyiknya lagi, lokasi ini di seputaran Kota Luwuk, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan ke sana.
 
Uwe Molino Tontouan.
Kurang lebih sepuluh menit dari pusat kota ke arah barat daya kita akan menemui sebuah plang kecil di pinggir jalan. Tulisan di plang tersebut yakni: Pemandian Wisata Uwe Molino Tontouan. Dinamakan demikian karena berada di Desa Tontouan. Dari pintu masuk, kita masih harus berjalan kurang lebih 300 meter menuruni tangga. Pemandian yang kita tuju ada di ujung tangga. Ohya, tidak ada penjaga pintu yang menjual tiket di sini, bebas alias free.

Menuju Salakan

Waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam, peluit Kapal El Savador baru berbunyi satu kali, pertanda masih ada cukup waktu bagi penumpang untuk menyelesaikan urusannya di darat. Itu pula yang membuatku menyempatkan diri mampir ke toko jajanan untuk sekedar membeli cemilan dan air minum sebagai bekal perjalanan malam itu. Atas bantuan teman pejalan dari Luwuk, akhirnya keinginan untuk mengunjungi Salakan dapat terwujud. Dari yang setiap hari hanya melihatnya dari Banggai daratan, kini aku akan dapat menginjakan kaki di sana.

Kapal El Savador.
Salakan adalah ibukota untuk Kabupaten Banggai Kepulauan, salah satu ‘kota’ yang lumayan ramai pada semenanjung Sulawesi bagian timur. Terdapat tiga kabupaten yang menyandang nama Banggai, yakni Banggai yang beribukota di Luwuk, Banggai Kepulauan dengan pusat di Salakan, dan paling timur terdapat Banggai Laut dengan ibukota Banggai. Salakan yang terletak di Pulau Peling, pulau terbesar di Banggai Kepulauan juga terkenal akan hasil alamnya terutama ikan, mutiara, coklat, dan durian.

Luwuk Dalam Sehari

Terletak di salah satu ujung peninsula Pulau Sulawesi, Luwuk dapat dibilang cukup ramai. Sebagai ibukota Kabupaten Banggai, Luwuk mempunyai bandara sendiri yang sebagian besar rutenya melayani penerbangan dari Makasar. Di beberapa sudut kota pun sudah mulai berjamuran tempat makan fast food yang kuanggap sebagai salah satu indikator ‘kota’ yang ramai. Universitas dan beberapa akademi pun ikut menghidupkan perputaran sendi-sendi kota.

Air Jatuh Salodik.
Walau belum memiliki bioskop dan belum terjamah toko waralaba, banyak toko-toko yang menawarkan segala jenis barang di sepanjang jalan. Pada hari minggu, mungkin disebabkan banyak warganya yang menjalankan ibadah, suasana jalan akan sedikit lengang dan sebagian pertokoan menutup dagangannya. Nah, jika kawan pejalan sempat singgah barang sehari di kota kecil ini, inilah beberapa lokasi wisata yang dapat dikunjungi dalam sehari.

Pesta Durian Banggai

Mulai bulan Maret, suasana pasar-pasar di Banggai akan ramai dengan para pedangan durian. Tidak hanya itu, di sepanjang jalan Luwuk-Toili dengan mudah buah berkulit duri ini kita temui. Tak terkecuali di Batui, tempat saya singgah, setiap malam di pasar – di sini pasar beroperasi sampai larut malam – suasana makin meriah oleh penjual dan penikmat buah beraroma tajam ini. Ya, bulan Maret adalah saatnya warga Banggai untuk berpesta durian.

Belah Durian.
Mungkin yang membedakan durian di sini dengan di Jawa atau Sumatra yakni ukurannya yang tergolong imut. Kecil. Rata-rata hanya berdiameter 10-15 cm saja, daging buahnya pun tidak begitu tebal, biasa saja. Namun yang jelas, selama merasakan durian-durian imut itu hampir tidak pernah menemukan durian yang rasanya tidak enak. Semua enak, manis! Apalagi kalau tinggal makan, hehe..

Wisata Petualangan di Batu Tikar

Satu lagi tempat yang harus didatangi ketika berada di Luwuk yakni Batu Tikar. Siapa sangka, hanya berjarak sepuluh menit dari pusat Kota Luwuk, kita dapat menjumpai wisata petualangan yang asyik. Jalur yang masih asri, berbatu, pada beberapa ruas harus menyebrang sungai yang mengalir deras, memanjat di samping air jatuh (sebutan untuk air terjun), dan harus memanjat akar pohon menjadi tantangan untuk ke Air Jatuh Batu Tikar.

Berenang di Batu Tikar (doc. Doni).
Untuk menuju ke sini kita harus menuju Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai terlebih dahulu kemudian dilanjutkan jalan kaki selama kurang lebih satu jam jika berjalan santai. Belum ada ticketing, karena itu dapat dipastikan tempat ini sama sekali belum tersentuh oleh Dinas Pariwisata Banggai. Jangankan pagar pengaman, plang penunjuk jalan pun tiada. Namun tidak perlu kuatir tersesat, hanya ada satu jalur saja, tinggal ikuti arah sungai.

Kemping Ceria di ‘Bukit Teletubies’ Gunung Hohoban

Kesan pertama ketika mendarat di sini, Luwuk adalah kota kecil tanpa bioskop yang membosankan. Hanya beberapa toko kecil dan besar yang disebut mall berjejer di sepanjang jalan, diapit lautan luas dan pegunungan sebagai latar belakang. Tapi siapa sangka, makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak pula tempat menarik yang dapat dikunjungi. Kali ini, aku ingin sedikit bercerita tentang ‘Bukit Teletubies’ di Luwuk.

Kemping di Bukit Teletubies Luwuk.
Berawal dari perkenalan secara spontan di satu tempat wisata, menjadi awal dari perjalanan kali ini. Memang betul, panduan paling ampuh tentu saja dari penduduk lokal. Kalau bahasa kerennya, GPS kepanjangan dari Guide Penduduk Sekitar, hehe.. Dan kalau ingin mendapatkan info yang lebih akurat tentang tempat-tempat menarik yang tersembunyi, tanyalah ke anak Pecinta Alam lokal. Dijamin tidak mengecewakan!

Di Toili ada Bendung Mentawa

Mendapat tugas dari kantor untuk bekerja di Kabupaten Banggai pastinya tidak kuhabiskan untuk menghadapi lembar laporan dan layar kotak 11 inch setiap hari. Di waktu senggang, selalu kusempatkan untuk menjajal daerah sekitar. Dan pada kesempatan kali ini aku pergi ke arah barat, tepatnya ke Kecamatan Toili, untuk mengunjungi Bendung Mentawa.

Jembatan Gantung Mentawa.
Bendungan yang dibangun pada era Soeharto ini berfungsi sebagai sarana irigasi sawah warga. Membentang  kurang lebih lima puluh meter, Bendungan Mentawa dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung. Dengan lebar hanya satu meter dan terbuat dari kayu, jembatan inilah yang membuatku bersemangat untuk ke sini.

Pulau Dua Balantak, Mutiara di Ujung Sulawesi

Ketika pertama kali menginjakan kaki di Luwuk, Sulawesi Tengah, hal yang pertama kulakukan tentu saja googling tempat wisata yang ada di sini. Dari situ, munculah foto dua pulau yang saling berdekatan dengan daratannya yang gundul. Unik sekali. Rasa penasaran menuntun ke pencarian selanjutnya, mencari info di internet yang sangat minim dan juga dari penduduk lokal, yang ternyata juga hampir tidak ada yang tahu. Nama pulau tersebut yakni: Pulau Dua.

Pulau Dua.
Pulau Dua terletak di Kecamatan Balantak, Kabupaten Banggai. Jika dilihat di peta, maka Balantak berada di salah satu Semenanjung Sulawesi. Hal ini tentu membuatku makin penasaran untuk ke sana. Setelah informasi dan sarana untuk menuju ke sana tergambar jelas, baru pada bulan keenam sejak berada di Banggai aku bisa mengobati rasa penasaran akan Pulau Dua.

Menyusur Semenanjung Sulawesi Tengah

Sebagai seseorang yang hobi memacu kendaraan beroda dua, aku sering meluangkan waktu di akhir pekan untuk menyusuri jalanan. Tak terkecuali ketika kebetulan sedang berada di Luwuk. Jalanan yang membentang di sepanjang pesisir salah satu ujung Pulau Sulawesi tentu sayang untuk dilewatkan. Target berkendara kali ini yakni sampai ke Pulau Dua, Balantak, ujung timurnya Sulawesi Tengah.
 
Jalan Menuju Pagimana.
Beruntung, saat berada di sini aku mempunyai seorang sahabat yang juga doyan menyusur jalanan dengan motor roda dua. Lebih mantap lagi, sahabatku ini memilih Kawasaki Ninja sebagai tunggangannya. Jadilah kami seharian menyusur jalanan yang berliku dan menanjak dengan motor besar itu. Rencana kami hari itu yakni menempuh rute dari Batui-Luwuk-Balantak-Bualemo-Salodik-Luwuk-Batui. Belakangan cek di google.maps kami menempuh jarak 428 km. Jarak yang sama seperti Jakarta-Semarang.
 

Menyusur Kuala ke Air Jatuh

Hampir empat bulan hanya bergumul dengan laporan, laporan, dan laporan selama tujuh hari seminggu membuat kepala lama-lama terasa panas juga. Karena itu, walau badan sedang tidak fit, kupaksakan mengiyakan ajakan teman untuk berburu air jatuh, sebutan Warga Luwuk untuk air terjun. Lokasi air jatuh yang dimaksud ternyata tidak begitu jauh dari kantor, pintu masuknya cuma sepuluh menit dengan kendaraan bermotor. Dekat!

Air Jatuh.
Ternyata, warga sekitar pun jarang yang mengetahui adanya air jatuh ini. Warga yang tahu pun hanya menyebutnya dengan air jatuh, tanpa nama. Info ke sana kami dapat dari warga lokal yang kebetulan waktu kecil pernah kesana. Secara wilayah, air jatuh ini masuk ke Desa Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Singkat cerita, pulang kerja lebih awal dari biasanya, hanya berdua dengan teman yang juga buta arah, kami menuju ke sana.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...