Terlena di Togean (Bagian 1)

Akhirnya ke Togean
Ya, akhirnya saya bisa ke Togean. Semenjak menginjakan kaki pertama kali di Luwuk, Banggai pada Juni 2013 baru Maret 2015 akhirnya impian ke sini tercapai juga. Hampir dua tahun lamanya. Bagi saya, Togean memang seindah yang diceritakan, bahkan lebih indah lagi. Dan selama ini, Togean cuma mengendap di dalam ingatan yang akhirnya hampir setahun berlalu, baru saya menuangkan dalam bentuk tulisan.

Perkampungan Suku Bajo.
Bagi saya, Togean adalah destinasi paling indah di semenanjung Sulawesi Tengah. Taman Nasional Togean ini masuk ke dalam Kabupaten Tojo Una-una. Untuk menuju ke sini kita dapat berlayar dari Ampana atau Gorontalo. Untuk menuju Ampana sendiri dapat melalui Luwuk, Banggai atau dari Palu. Sempatkan waktu yang cukup karena walau akses sudah lumayan gampang, jarak Ampana masih delapan jam dari Palu atau enam jam dari Luwuk. Belum lagi penyebrangan tiga jam menuju Wakai, pelabuhan terdekat untuk disambung speed boat atau perahu kecil menuju resort di Togean.


jika kawan dari Jakarta dan sekitarnya, lebih baik lewat Luwuk daripada Palu karena dapat menghemat waktu perjalanan. Penerbangan ke Luwuk sekarang ini sudah dilayani oleh tiga maskapai penerbangan dengan rute Jakarta-Makasar-Luwuk. Cari penerbangan paling pagi, bus penumpang/travel dari Luwuk ke Ampana kebanyakan meluncur sekitar jam sepuluh sampai satu siang, tergantung banyaknya penumpang. Di luar jadwal bus atau travel (mobil sejenis Avansa atau Elf dengan jadwal pemberangkatan yang pasti setiap harinya), kita harus mencarter mobil dengan harga yang lumayan mahal.

Saya berangkat dari Batui, Banggai pada Jumat pagi menggunakan kendaraan umum menuju Luwuk, ibukota Kabupaten Banggai. Perjalanan kali ini adalah solotrip saya yang ketiga kalinya. Semoga tidak ada kejadian yang aneh-aneh seperti kedua solotrip sebelumnya, hehe…

Sebenarnya dari Batui ke Luwuk dapat ditempuh kurang dari sejam saja, namun dengan angkutan pedesaan yang hanya beberapa kali melintas dalam satu harinya, perjalanan menjadi dua kali lipat lamanya. Namun seru juga, mendengarkan percakapan antara penumpang dan pengemudi yang sudah saling kenal, dalam Bahasa Saluan tentunya, barang bawaan yang seabrek khas angkutan pedesaan menambah asyiknya perjalanan.

Dengan dilanjut dengan travel Luwuk-Ampana yang baru berangkat pukul satu siang, saya sampai di Ampana pukul sore enam sorenya. Memang rencananya beristirahat dulu satu malam di Ampana karena penyebrangan ke Wakai baru ada di pagi harinya. Ohya, jika hendak menyebrang ke Wakai yang merupakan pulau terdekat ke Togean dari Ampana pastikan sudah sesuai dengan jadwal penyebrangan. Kapal Ampana-Wakai tidak meluncur setiap hari, jangan sampai kita membuang-buang waktu menunggu terlalu lama di Ampana. Saya memilih penginapan Oasis Hotel yang paling dekat dengan pelabuhan, tempatnya bersih (dari browsing di internet, nyatanya biasa saja, hehe..), dan harganya lumayan terjangkau.

Kadadiri Paradise
Sesampai di Wakai setelah ‘membelah’ semacam selat tetapi tampaknya lebih cocok disebut sungai karena saking sempitnya, saya menunggu jemputan dari Black Marlin di dermaga. Lama tidak kunjung datang, saya melihat terdapat jemputan dari resort lain yang belakangan saya ketahui dari Kadidiri Paradise Resort. Ohya, jika hendak bermalam di Togean kita harus sudah tahu lebih dahulu hendak bermalam di mana karena kapal hanya sampai Wakai dan resort terletak di pulau-pulau yang berbeda. Sehingga akan jauh lebih murah booking penginapan terlebih dahulu karena ada fasilitas antar jemput gratis.

Lama menunggu jemputan, akhirnya saya berputar haluan menginap di Kadidiri, yah itung-itung yang jemput mbak-mbak yang cantik pula, yang ternyata anak dari pemilik penginapan. Dari Wakai, perjalanan dengan perahu kecil bermotor dua memakan waktu setengah jam. Sudah tidak sabar rasanya.

Ketika balik pulau mulai tersingkap, resort yang menjadi tempat bermalam mulai kelihatan. Tampak menyenangkan sekali dengan ‘gubuk-gubuk’ kecil di depan kamar untuk bersantai sambil menikmati keindahan laut yang jernih. Di depannya tampak semacam dermaga kecil dan bungalow dengan kasur dan sofa untuk bersantai. Dapat kubayangkan nanti sore bakal duduk di situ sambil menikmat matahari tenggelam, sedap tentunya.

Harga untuk penginapan di sini memang terbilang agak mahal, namun menurut saya sangat sebanding dengan fasilitas dan keindahan yang ditawarkan, desain kamarnya juga apik dan bersih, harga tersebut juga sudah termasuk makan tiga kali sehari. Tidak terbayang rasanya harus keluar pulau naik perahu cuma untuk makan siang atau malam. Hitung saja biaya perjalanan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan logistik dari Ampana atau Gorontalo.

Tidak menunggu lama, sore itu juga saya langsung terjun ke laut untuk snorkeling. Tidak perlu jauh-jauh, persis di depan kamar kita sudah dapat menjumpai spot yang bagus. Ikan-ikan berlalu lalang dengan bebasnya, dari seukuran jari kelingking sampai sebesar paha, dengan penuh warna-warni yang indah. Tidak ketinggalan saya juga bisa menemukan ikan badut yang berlindung di balik anemone laut. Puas berenang saya duduk-duduk santai di dermaga sambil menikmati matahari tenggelam. Indah sekali.

Saat malam tiba, ketika makan malam bersama, baru saya sadari semua pengunjung yang sekitar 10 orang tersebut berasal dari mancanegara kecuali saya dan pasangan pejalan yang baru ketemu di Wakai. Hmm… memang terkadang orang mancanegara lebih tahu tempat-tempat indah di Indonesia ketimbang warga lokalnya sendiri.
 
Pagi di Pelabuhan Ampana.

Truk-truk Sembako.

KM Kapia Touna yang Membawa Saya ke Wakai.

Alih-alih Kursi, di Dalam Kapal Dibuat Ranjang Bertingkat.

Hiruk Pikuk Pelabuhan Ampana.

Untuk Menuju Wakai lewat "Selat", Perlu Orang yang Benar-benar Mengenal Jalan.

Tempat Makan.

Kamar Kadidiri Paradise Resort.

Suasana di Depan Resort.

Menikmati Matahari Terbenam di Depan Resort.

Untuk menikmati kisah selanjutnya, silahkan buka link berikut. (dm 12 Februari 2016)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...