Untuk membaca Bagian 1 silahkan buka link berikut.
Sengaja saya bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit, bergegas menyambut keluarnya sang surya dari peraduan di dermaga depan resort. Tampaknya hanya saya sendiri yang bangun sepagi itu. Hanya duduk saja menikmati suasana pagi. Sayang saya berada pada sisi pulau “bagian senja”, sisi pulau yang tidak bisa melihat matahari terbit, hanya bisa melihat matahari tenggelam. Tetapi tidak menjadi soal, pagi itu tetap terasa nikmatnya.
Sengaja saya bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit, bergegas menyambut keluarnya sang surya dari peraduan di dermaga depan resort. Tampaknya hanya saya sendiri yang bangun sepagi itu. Hanya duduk saja menikmati suasana pagi. Sayang saya berada pada sisi pulau “bagian senja”, sisi pulau yang tidak bisa melihat matahari terbit, hanya bisa melihat matahari tenggelam. Tetapi tidak menjadi soal, pagi itu tetap terasa nikmatnya.
![]() |
| Berfoto dengan Anak-anak Bajo. |
Snorkeling Sepuasnya
Hari kedua
di Togean saya niatkan dalam hati untuk snorkeling sepuasnya di sini. Sengaja
saya ajak pasangan dari Luwuk tersebut untuk patungan, bayar setengah pun tidak
mengapa, ajak saya. Kami menyewa perahu untuk setengah hari, karena siangnya
sudah harus mengejar perahu Pelni yang berangkat jam dua siang dari Wakai
menuju Ampana.
Oleh penjaga
penginapan, kami disarankan untuk melakukan snorkeling pada tiga spot saja,
yakni di Danau Mariona dimana kita bisa bercumbu dengan ubur-ubur yang sudah
tidak beracun, ke Pantai Karina yang indah, dan terakhir di Pulau (duh saya
lupa namanya, mungkin karena tempatnya biasa saja tidak seindah dua tempat
sebelumnya namanya tidak tertanam jelas di ingatan, hehe..). Maka meluncurlah
kami dengan perahu kecil bermotor dua, bunyi nyaring mesin kapal tidak
mengurangi rasa takjub saya akan pesona Togean.
Ohya,
Kadidiri Paradise mempunyai ‘dermaga tersembunyi’ yang dari jauh tidak
kelihatan, pintu masuknya pun lumayan sempit dan saat air surut, butuh kejelian
untuk dapat lewat tanpa merusak koral atau terumbu karang. Saat itu sepertinya
hanya kami bertiga dan Bapak Perahu yang membelah perairan Togean, sepi sekali,
hanya debur ombak dan bunyi mesin yang terdengar.
Sampai di
spot pertama, Danau Mariona, saking sepinya awalnya kami sempat ragu-ragu untuk
terjun ke danau. Bagaimana tidak, warna danau yang kehijauan dengan dasar yang
tidak terlihat dan penuh ubur-ubur sebesar piring berkeliaran dengan bebas.
Takut dan was-was, apalagi Bapak Perahu tidak ikut ke Danau, hanya duduk santai
menunggu di perahu. Karena sudah kepalang tanggung datang jauh-jauh dari Luwuk,
terjunlah kami berdua, si pasangan yang cowok tidak bisa berenang. Jadilah kami
dua sejoli berenang-renang bebas dengan ubur-ubur.
Awalnya
masih takut-takut untuk memegang ubur-ubur, geli-geli gimana gitu, tapi lama
kelamaan malah mencari-cari ubur-ubur paling besar yang bisa ditemukan untuk
diajak berfoto, hehe.. Tetapi tetap saja kami berdua tidak berani dari dermaga
kecil di pinggir danau. Danau Ubur-ubur ini luasnya juga tidak terlalu besar,
mungkin hanya sebesar setengah lapangan bola. Setelah hampir setengah jam, kami
berpindah ke spot snorkeling yang kedua, tidak berani berlama-lama di sini,
hehe..
Pantai
Karina yang belakangan saya ketahui menjadi salah satu primadona snorkeling di
Togean tidak jauh dari Danau Mariona, masih di pulau yang sama. Agak kaget juga
waktu sampai di pantai, ternyata ada puluhan anak-anak Suku Bajo yang sedang
asyik berwisata. Masih kecil-kecil, mungkin kelas dua atau tiga SD, tetapi
jangan tanya soal kehebatan berenangnya, beuh, saya saja kalah. Mereka juga
berenang tanpa alat bantu, sementara saya berenang dengan google.
Pantai
Karina hanya berupa ceruk kecil dengan pasir yang amat putih, namun daya tarik
utamanya terletak seratus meter dari bibir pantai: hamparan koral yang indah!
Asyik sekali kami berenang di sini, puas rasanya. Selain ini pengalaman pertama
saya snorkeling tanpa pelampung, ini juga pengalaman pertama snorkeling di laut
bebas, jauh dari bibir pantai (jauh menurut definisi saya tentunya, hehe..).
bolak-balik saya berenang mengitari koral-koral tersebut, menikmati ikan-ikan
yang berlalu lalang di bawah saya. Mungkin ada satu jam saya berada di air,
satu rekor lagi, snorkeling terlama saya!
Setelah
asyik berenang kami sempatkan untuk istirahat di pantai, bercanda ria dengan
anak-anak Suku Bajo tersebut. Tak lupa berfoto bersama tentunya. Setelah asyik
di Pantai Karina, kami menuju spot snorkeling ketiga yang saya lupa namanya,
lokasinya agak jauh, namun tidak begitu jauh dari pulau tempat kami menginap.
Seperti yang sudah saya utarakan di atas, spot yang ini biasa saja, mungkin
karena sedang surut makanya tidak begitu terlihat keindahannya, kami pun jadi
agak susah untuk berenang karena terlalu dangkal. Di pulau ini juga terdapat
bekas penginapan yang sudah tidak terpakai lagi.
Kira-kira
pukul sebelas kami bergegas pulang ke penginapan untuk mandi, makan siang, dan
kembali ke Wakai.
Pulang
Rasanya dag
dig dug ketika perahu mengarungi lautan menuju Wakai dan waktu sudah menunjukan
pukul jam dua kurang lima belas. Memang kami tadi berangkat agak terlambat,
setengah dua dan kapal berangkat pukul dua. Makin was-was ketika sampai di
dermaga Wakai ternyata kapal Pelni tidak berlabuh di situ, ada di sisi lain
pulau yang berjarak kurang lebih setengah kilometer. Waktu menunjukan jam dua kurang
sepuluh!
Jadilah kami
berlari-lari sepanjang jalan kampung demi mengejar kapal. Setelah ngos-ngosan
dan berkeringat, dan meninggalkan pasangan tersebut di belakang yang entah
kenapa si cowok hanya berjalan santai, saya sempat kebingungan mencari loket
penjualan tiket kapal. Ternyata, loket hanya berupa satu meja kecil dengan satu
kursi yang terletak di dalam geladak kapal. Mana tidak ada antrian, hanya
kerumunan beberapa orang, haha.. santai sekali.
Setelah
membeli tiket, saya pergi ke atas mencari kursi yang saat itu lumayan lengang.
Duduk manis menunggu kapal berangkat yang.. eng ing eng… baru berangkat
setengah jam kemudian, haha… kenapa juga tadi harus lari-lari. Tampaknya karena
mental pekerja yang sudah mendarah daging, jadi sedikit parno kalau harus
bermalam sekali lagi karena ketinggalan kapal dan besok tidak bisa masuk kerja.
![]() |
| Keluar dari Deramaga di Kadidiri. |
![]() |
| Dermaga Danau Mariona. |
![]() |
| Danau Mariona. |
![]() |
| Bersentuhan dengan Ubur-ubur. |
![]() |
| Berenang di Danau Ubur-ubur. |
![]() |
| Pantai Karina. |
![]() |
| Keceriaan Anak-anak Bajo. |
![]() |
| Berfoto di Depan Perahu. |
![]() |
| "Loket" Kapal Pelni. |
Sayang hanya bisa semalam berada di Togean, lain kali harus bisa ke sini lagi dan agak lama sedikit! Sampai bertemu lagi, Togean. (dm 12 Februari 2016)











No comments:
Post a Comment