Teringat
tayangan jeda salah satu stasiun swasta yang ikonik sekali saat saya masih
kecil, di mana terlihat ibu-ibu yang berjualan di atas sampan di sungai.
Gambaran yang apik dari pasar apung tradisional masyarakat Banjarmasin yang
masih melestarikan budaya leluhurnya. Sekarang, saya merasa sangat beruntung
dapat menyaksikan itu semua, secara gratis pula.
![]() |
| Pasar Apung Lok Baintan. |
Ibu-ibu tersebut
atau dalam bahasa Banjar dipanggil acil mendayung sampan dengan santai saling
menjajakan barang dagangan yang berwarna-warni. Meriah. Itulah yang gambaran
yang saya rasakan, selidik punya selidik, ternyata kebanyakan yang dijual
berupa aneka buah-buahan yang hampir sebagian besar belum saya ketahui. Lebih
karena penasaran, saya membeli sedikit-sedikit dari buah-buahan tersebut hanya
sekadar untuk mencicipi bagaimana rasanya.
Dari KSR Undip ke KSR Unlam
Perjalanan
ke Pasar Apung Lok Baintan gratisan ini kalau ditelusur adalah buah dari jaman
kuliah yang ketika itu masih suka banget berorganisasi di kegiatan kepalangmerahan,
tepatnya Korps Sukarela. Saat masih aktif jadi pengurus pada 2007 sempat
mengadakan pelatihan nasional yang kebetulan salah satu peserta berasal dari
Univeristas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Ismi namanya. Kebetulan pula saat
itu sedang ada pekerjaan di Kalimantan Timur, lewat kekuatan social media kami bertemu kembali dan
kebetulan Unlam sedang mengadakan pelatihan, maka diajaklah saya untuk ikut
bergabung.
Sebenarnnya ingin
ikut pelatihan dari awal, namun karena keterbatasan waktu dan dipisahkan jarak
yang lumayan, akhirnya hanya dapat ikut pada acara terakhirnya, Field Trip a.k.a jalan-jalan, hehe…
Lumayan dapat jalan-jalan bareng cewek-cewek kuliahan. Tujuan field trip ini
tampaknya sebentar saja, hanya mengarungi Sungai Martapura sebelum fajar
merekah untuk mengunjungi Pasar Apung Lok Baintan, kemudian dilanjutkan ke tengah
kota Banjarmasin menuju Menara Pandang dan Taman Siring pada siang harinya, di
situ juga ada Pasar Apung yang berasal dari relokasi pedagang dari Muara Sungai
Kuin sejak 2014.
Untuk menuju
Pasar Apung Lok Baintan kita dapat menempuh jalur darat ataupun air, kami
menempuh yang terakhir. Kira-kira pukul lima pagi, kami sudah berada di dermaga
Museum Wasaka tempat di mana klotok-klotok standby menunggu penumpang. Klotok
adalah sejenis sampan bermesin yang biasa digunakan warga Banjar sebagai sarana
transportasi air. Dengan klotok, waktu tempuh ke pasar apung hanya 30 menit,
yang lebih cepat daripada jika kita lewat darat. Jangan tanya sewa klotok
berapa karena saya naik secara gratis, hehe..
Suasana
masih gelap dan dingin ketika klotok mulai membelah Sungai Martapura. Raung mesin
menemani selama perjalanan. Untuk dapat menikmati pemandangan sekitar, saya
memilih duduk di bagian atas, menikmati semilir dinginnya pagi. Suasana pagi
membuat saya tidak ingin banyak bercakap-cakap, lebih ingin menikmati
pemandangan sekitar yang bagi saya, menarik. Ibu-ibu yang sedang mencuci di
belakang rumah yang langsung berhadapan dengan sungai, anak kecil yang lagi
asyik mandi, bahkan rambu-rambu petunjuk ‘sungai’ menarik perhatian saya.
Kira-kira
pukul enam pagi kami sampai di Pasar Apung Lok Baintan, menghambur dengan
keramaian dan asyik berfoto. Mencicipi buah-buahan yang endemik Banjar dengan
warna dan bentuk yang menarik. Mencoba jajanan lokal yang asing bagi saya,
asyik sekali.
Taman Siring
Kira-kira
pukul delapan pagi, kami kembali mengarungi Sungai Barito menuju Banjarmasin
Kota, tujuan terakhir kami. Sayang kami tidak mampir ke Pulau Kembang menjumpai
monyet-monyet yang banyak berbiak di sana. Perjalanan ke kota memakan waktu
hampir satu jam, pemandangan sekitar juga makin ramai, warga terlihat sudah
mulai sibuk beraktivitas. Di sepanjang perjalanan kami asyik membahas soal
dunia kepalangmerahan dengan KSR Unlam, walau sudah hampir lima tahun
meninggalkan kampus, namun excitmentnya
masih terasa sampai sekarang. Sekitar pukul sembilan pagi kami sampai di Taman
Siring.
Bagi saya,
keramaian pagi di Taman Siring dan Menara Pandang tidak begitu menarik. Pasar
apung yang ada di sini kesannya malah seperti penjual di kios saja bagi saya,
bedanya kiosnya berupa sampan. Di pemahaman saya, yang namanya pasar adalah
interaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Jadi kalau pasar apung harusnya
antara penjual dan pembeli yang sama-sama ‘terapung’ alias naik sampan. Sementara
kalau Pasar Apung di Taman Siring ini penjualnya di sampan, pembelinya di
pinggiran dermaga.
Tidak terasa
hari makin siang dan perut makin lapar karena belum diisi dari pagi, ingin
mencicipi kuliner khas Banjar, saya mengiyakan ajakan Ismi untuk mencoba Soto
Banjar. Soto berkuah bening yang disajikan di atas piring ini enak sekali,
penjualnya berjualan di atas perahu dan pembeli duduk-duduk sekenanya di tangga
dermaga, sayang tidak disediakan tempat khusus untuk makan. Bagi penggemar soto
seperti saya, mencicipi Soto Banjar adalah sebuah keharusan, rasanya gurih dan
lezat dengan campuran daging dan telur.
![]() |
| Dermaga Musem Wasaka. |
![]() | ||||
Perjalanan Pagi Menuju Pasar Apung Lok Baintan.
|
![]() |
| Proses Jual Beli. |
![]() |
| Buah-buahan yang Menarik. |
![]() |
| Me! |
![]() |
| Teman saya, Ismi. |
![]() |
| Ada juga yang Jual Hasil Tangkapan Sungai. |
![]() |
| Rambu-rambu Sungai. |
![]() |
| Pembeli Pasar Apung di Taman Siring. |
![]() |
| Pasar Apung di Taman Siring. |















Keren
ReplyDeleteSuwun...
Delete