Cidera yang Sering Terjadi Saat Travelling dan Penanganannya

Saat melakukan perjalanan tentu kita tidak berharap akan mengalami suatu kecelakaan, baik kecil maupun besar, dari sekedar luka lecet atau bahkan sampai patah tulang. Tentu alangkah baiknya pula jika kita mengerti dan dapat melakukan pertolongan yang baik dan benar. Kadangkala bentuk pertolongan pertama yang tepat dan cepat dapat menentukan hidup mati kita atau orang lain.

Ilustrasi.
Ketika melakukan trekking yang jauh masuk ke hutan atau daerah yang sepi tanpa ada peradapan, bantuan akan susah didapatkan. Jangankan mengharap bantuan medis,  desa terdekat terkadang baru dapat ditemui sehari dua hari perjalanan. Berikut adalah beberapa cidera yang sering ditemui saat berpergian dan bagaimana untuk pertolongan pertamanya.

Pendaki [yang kian] Lebay

Tulisan ini hanya melihat realita yang ada dari kaca mata saya. Melihat tingkah polah pendaki di alam nyata dan alam media sosial. Menarik—atau lebih tepat dikatakan parah, untuk diamati. Mungkin saja ini cuma pesimisme saya yang berlebihan atau bisa jadi ini cuma rasa jengkel yang ingin saya wujudkan dalam tulisan kali ini. Apapun itu, semoga saya dan kita tidak seperti itu.


Ada banyak tipe-tipe pendaki (secara tanpa sadar saya kotak-kotakan) yang hilir mudik di gunung. Ada yang menjadikan gunung sebagai media pembuktian ke-keren-an diri, ada juga yang menjadikannya usaha promosi berjalan, dan banyak pula yang cuma ingin menikmatinya. Ada yang sadar gunung itu medan ekstrem, ada pula yang masih belum sadar kalau gunung itu bukan mall. Ada yang sadar kalau petugas kebersihan DKI ruang lingkup kerjanya tidak sampai Semeru, namun sayangnya banyak yang belum.

Uwe Molino Tontouan

Satu lagi tempat wisata di Luwuk yang menarik dikunjungi di akhir pekan yakni Uwe Molino Tontouan. Uwe molino dalam bahasa lokal berarti air yang menggenang, mungkin sama artinya dengan telaga. Penasaran, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat satu ini. Makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak tempat-tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi. Asyiknya lagi, lokasi ini di seputaran Kota Luwuk, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan ke sana.
 
Uwe Molino Tontouan.
Kurang lebih sepuluh menit dari pusat kota ke arah barat daya kita akan menemui sebuah plang kecil di pinggir jalan. Tulisan di plang tersebut yakni: Pemandian Wisata Uwe Molino Tontouan. Dinamakan demikian karena berada di Desa Tontouan. Dari pintu masuk, kita masih harus berjalan kurang lebih 300 meter menuruni tangga. Pemandian yang kita tuju ada di ujung tangga. Ohya, tidak ada penjaga pintu yang menjual tiket di sini, bebas alias free.

Masjid Agung Jawa Tengah

Jika kawan hendak berwisata religi di Kota Semarang, tentu sayang jika melewatkan Masjid Agung Jawa Tengah. Sebuah masjid yang didesain dengan perpaduan gaya Islami, Jawa, dan Romawi ini merupakan masjid terbesar di Jawa Tengah. Yang menarik, di sini juga dibangun 6 payung raksasa di halaman masjid yang menyerupai Masjid Nabawi di Arab sana. Payung ini hanya dibuka saat sholat Jumat, Idul Adha, dan Idul Fitri bagi jamaah yang berada di halaman masjid.
 
Masjid Agung Jawa Tengah.
Selain itu, kita juga dapat menikmati pemandangan Semarang dari atas Menara Asma Al-Husna yang memiliki ketinggian 99 meter. Tidak perlu kuatir membayangkan menaiki tangga sampai ke atas karena sudah disediakan lift untuk para pengunjung dengan membayar biaya masuk yang sangat terjangkau. Dari atas menara kita dapat melihat Kota Semarang dengan pandangan 360 derajat. Hati-hati, terkadang angin lumayan kencang di atas.

Solotrip ke Gunung Padang


Jumat, 14 Febuari 2014, Gunung Kelud yang selama ini batuk-batuk kecil mengeluarkan letusannya yang besar. Untungnya, dampak yang dihasilkan tidak sedahsyat Gunung Merapi di Yogyakarta. Namun, cakupan imbas dari letusan Kelud lebih luas dari Merapi. Semua ini berkat abu vulkanik yang mengangkasa sampai ke Banten, di ujung lain dari Pulau Jawa. Gara-gara ini pula akhirnya dengan berat hati aku harus membatalkan trip ke Kiluan bersama teman-teman karena penerbangan dari Semarang ikut ditutup.

Mari Belajar Sejarah.
Pusing harus ke mana, kuputuskan untuk mengunjungi Gunung Padang, lokasi yang sedari dulu ingin kudatangi. Dengan berbekal jaringan paket internet yang sebentar lagi habis, kutemukan titik cerah transportasi ke sana. Lumayan gampang ternyata. Sarana yang kuambil dari Semarang yakni kereta Menoreh ke Jatinegara, disambung angkot-metromini-busway-plus nyasar ke Terminal Rambutan untuk mencari bus menuju Kabupaten Cianjur.

Menuju Salakan

Waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam, peluit Kapal El Savador baru berbunyi satu kali, pertanda masih ada cukup waktu bagi penumpang untuk menyelesaikan urusannya di darat. Itu pula yang membuatku menyempatkan diri mampir ke toko jajanan untuk sekedar membeli cemilan dan air minum sebagai bekal perjalanan malam itu. Atas bantuan teman pejalan dari Luwuk, akhirnya keinginan untuk mengunjungi Salakan dapat terwujud. Dari yang setiap hari hanya melihatnya dari Banggai daratan, kini aku akan dapat menginjakan kaki di sana.

Kapal El Savador.
Salakan adalah ibukota untuk Kabupaten Banggai Kepulauan, salah satu ‘kota’ yang lumayan ramai pada semenanjung Sulawesi bagian timur. Terdapat tiga kabupaten yang menyandang nama Banggai, yakni Banggai yang beribukota di Luwuk, Banggai Kepulauan dengan pusat di Salakan, dan paling timur terdapat Banggai Laut dengan ibukota Banggai. Salakan yang terletak di Pulau Peling, pulau terbesar di Banggai Kepulauan juga terkenal akan hasil alamnya terutama ikan, mutiara, coklat, dan durian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...