Menembus Rapatnya Gunung Aseupan

Satu lagi gunung di Banten yang asyik untuk didaki, Aseupan namanya. Gunung setinggi 1,174 mdpl ini terletak di Kabupaten Pandeglang. Gunung ini menjadi satu rangkaian dengan Gunung Karang dan Gunung Pulosari, membentuk semacam segitiga terbalik. Memang tidak tinggi, hanya seribuan meter saja, namun jangan tanya tentang kondisi jalur pendakiannya, beuh, garang!

Menuju Puncak Aseupan.
Selain faktor topografi yang memang membuat susah untuk didaki, hampir tidak ada jalur yang landai, jarangnya pendaki yang mencoba gunung satu ini tak ayal menjadikan vegetasinya rapat seperti hutan perawan. Jalur memang sudah ada, kita tidak perlu membuat jalur baru untuk menuju puncak, namun tetap saja: alang-alang, tanaman berduri, bahkan pohon yang tumbang harus kita lewati.

Memacu Andrenalin di Canopy Bridge Bukit Bangkirai

Saya hitung, sudah dua kali berkesempatan menginjakan kaki di Kota Balikpapan dan dua kali pula tidak sempat menjelajah di kotanya atau tempat menarik di sekitarnya. Sayang sekali, pikir saya, sehingga pas ketiga kali saya ke sana, saya niatkan betul untuk mencoba menjelajah sedikit keindahan alamnya. Memang tidak banyak tempat yang menarik minat saya, kebanyakan adalah pantai yang terlihat biasa saja di mata saya. Yah, memang pada dasarnya saya tidak begitu suka dengan pantai, hehe..

Bangkirai Canopy Bridge.
Keluarlah foto jembatan kanopi yang menarik mata saya, Bangkirai Canopy Bridge namanya. Sekitar dua atau tiga jam dari pusat kota, tidak terlalu jauh. Teringat pula dulu sempat dipameri foto wisata Bukit Bangkirai oleh teman saat di Banjarmasin, makin menguatkan untuk pergi ke sana. Utak-atik jadwal kerjaan di Balikpapan dan ketebalan dompet, hari kedua di Balikpapan akhirnya saya berangkat juga Kawasan Wisata Bukit Bangkirai.

Toba Solotrip #2: Tuktuk dan Sipiso-piso

Setelah puas menikmati keindahan alam di asal muasal Orang Batak, hari kedua saya rencanakan untuk menikmati sedikit kenyamanan di Tuktuk. Seperti banyak daerah wisata lain yang ramai dikunjungi turis mancanegara biasanya terdapat satu kawasan, lumrahnya berupa jalan, yang kanan kirinya banyak terdapat hotel dan tempat makan/minum, di Danau Toba Tuktuklah tempatnya.

Air Terjun Sipiso-piso.
Sepintas Tuktuk mirip dengan Kuta di Bali atau Prawirotaman di Jogya, namun dalam skala yang lebih kecil. Banyak terdapat hotel di kanan kiri jalan, baik sebuah kamar yang mirip kosan sampai hotel mewah yang menghadap langsung ke Danau Toba. Banyak pula terdapat tempat makan yang menawarkan menu andalan seperti pizza dan lasagna. Pub pun tidak ketinggalan meriahkan kawasan Tuktuk di malam hari.

Toba Solotrip #1: Mendaki Pusuk Buhit

Salah satu asyiknya bekerja di perusahaan konstruksi yakni sering (semoga) ada tugas ke luar kota dan pada kesempatan kali ini, Aceh Timur! Tidak menunggu lama, jemari langsung googling di internet tempat apa yang bisa dikunjungi ketika ada instruksi dari atasan untuk pergi ke sana. Ternyata, bandara terdekat adalah dari Kualanamu di Medan (dilanjut 6 jam perjalanan darat) dan Lhoksumawe (ditambah 2 jam jalan darat).

Toba dari Puncak Pusuk Buhit.
Setelah memperhitungkan beberapa faktor, terutama keamanan dan waktu, kuputuskan untuk pergi menjelajah di sekitar Sumatera Utara ketimbang Aceh. Solotrip di Aceh, apalagi di tempat yang merupakan bekas sarang utama GAM, sepertinya perlu dipertimbangkan baik-baik. Jatuhlah pilihan pada Danau Toba yang ternyata mempunyai panorama yang sungguh menyejukan mata.

Akhirnya Bisa Lihat Kawah Dempo

PadaFebruari 2010, bersama rekan dari Malang saya mendaki Gunung Dempo, yang bagi saya kala itu adalah pendakian yang benar-benar melelahkan. Saking lelahnya, hanya bisa sampai puncak dan turun ke lembah, tidak sanggup lagi untuk meneruskan sampai ke Kawah Dempo. Tujuh tahun kemudian, pada bulan Maret 2017, saya memberanikan diri mengulang pendakian Gunung Dempo.

Sebelum Shelter 2.
Pada pendakian kali ini, saya ditemani rekan dari Jakarta dan Garut. Berempat dan berkat promo moda pesawat terbang Lion Air (yang belakangan agak kami sesali), berangkatlah kami ke Pagaralam, kota kecil berjarak kurang lebih delapan jam dari Palembang. Sesuai namanya, Pagaralam dikelilingi oleh bentangan alam pegunungan yang sangat memanjakan mata. Gadis-gadisnya pun tidak kalah sejuk di mata. #eh

Kabur Sebentar ke Gunung Talang

Seperti kedua gunung lain yang saya daki di Provinsi Sumatera Barat, pendakian Gunung Talang juga saya lakukan di sela-sela kunjungan pekerjaan ke Padang. Itulah kenapa pendakian tidak bisa dilakukan berlama-lama, hanya berangkat pagi dan sore sudah kembali di bawah. Kebetulan juga gunung-gunung di sini tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke atas.

Bagai di Tengah Salju.

Bagi saya, dibutuhkan waktu empat setengah jam untuk sampai ke puncak gunung 2597 mdpl ini, tiga jam untuk sampai ke lokasi ‘camp’ dan satu setengah ke puncak. Bagi yang sudah pernah mendaki Gunung Merapi di Jawa Tengah, tidak perlu heran karena jalurnya mirip sekali yakni jalur pendakian tanah bebatuan biasa disambung Camp yang sangat mirip Pasar Bubrah baru jalur puncak. Asyiknya lagi, di puncak terdapat Hutan Mati yang mirip dengan Hutan Matinya Papandayan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...