Alam Liar dan Kisah Argopuro

Embun pagi dan bau tanah pagi hari menyeruak masuk ke sanubari. Gerimis yang semalam iseng menyapa sekitaran tenda menambah harum pagi ini. Tidak mau kalah, dingin yang menusuk tulang ikut datang tidak mau ketinggalan. Di kejauhan, kabut pekat masih belum rela melepas pelukan dari permukaan danau yang jernih bak kaca. Pagi itu, Danau Taman Hidup seperti menyambut kami dengan segala keindahannya yang hendak menuju Puncak Argopuro.

Cikasur.
Dikisahkan, Argopuro adalah tempat pelarian Dewi Rengganis karena tidak merasa diakui oleh ayahnya Prabu Brawijaya. Bersama patih dan pengikutnya yang setia beliau melarikan diri dari istana. Hal ini mungkin bukan hanya cerita isapan jempol, di puncaknya masih dapat kita lihat sisa-sisa seperti pura dan bangunan lainnya. Mungkin karena itu pula, gunung ini disebut demikan. Dari kata argo yang berarti gunung dan puro berarti pura.

Piknik di Hutan Belakang Kampus

Ingat kisah Nobita dan kawan-kawan yang suka bertualang di hutan belakang sekolah? Mencari serangga, berkemah, atau melakukan hal-hal yang menegangkan. Aku yakin kawan pasti ingat. Jika Nobita melakukannya saat masih di Sekolah Dasar, aku melakukannya ketika sudah menginjak bangku kuliah. Hehe.., bersenang-senang tidak mengenal umur kawan. Beruntunglah di belakang kampusku dulu terdapat ‘hutan’ yang masih permai sehingga aku dapat sedikit merasakan kecerian sahabat Doraemon ini.

Memasak Mie.
Berada di lokasi yang berbukit-bukit, kampusku  dibangun di tempat yang dulunya hutan. Kini, di belakangnya masih menyisakan sedikit bekas hutan. Sebagian telah berubah menjadi perkerbunan penduduk sekitar. Sebagian lagi menjadi tempat berlatih tentara sehingga kesan ‘hutan’nya masih terpelihara dengan baik. Mungkin malah sengaja dipelihara.

Asyik Naik Becak di Kotagede

Gerimis sedikit menggoda siang itu ketika bus transjogya berhenti di Halte Tegalgendu. Ikon baru Yogyakarta ini makin mempermudah para wisatawan menjelajah Kota Gudeg. Keluar dari halte kami sedikit kebingungan akan bagaimana menikmati keindahan Kotagede. Memang, rencana ke bekas peninggalan Kerajaan Mataram ini tercetus secara spontan saja. Seperti menjawab kebingungan kami, datanglah tukang becak yang menawarkan jasanya dengan ramah. Menyusur Kotagede dengan becak? Kenapa tidak!

Para Abdi Dalem yang Hendak Pulang.
Memasuki kawasan Heritage Kotagede terdapat sebuah plang selamat datang yang sederhana di pinggir jalan sebelum jembatan. Mulai dari sini suasana Jogya yang sudah terkenal akan keramahtamahan dan ‘adem’nya makin terasa. Rumah-rumah yang berpadu apik dengan jalanan dan kebun. Gang-gang kecil yang menanti untuk ditelusuri. Ada pula peninggalan Panembahan Senopati selaku raja Mataram Islam pertama yang menanti untuk dikunjungi.

Teringat Akan Kereta K3

Sumpek, harus berdesak-desakan, dan gelesotan di lantai gerbong karena tidak kebagian tiket mungkin adalah pemandangan yang lumrah pada kereta K3 dulu. Kereta api bak supermarket berjalan yang menawarkan segala jenis barang dan jajanan kepada penumpang. Portable charger, boneka, baju batik, pecel, gorengan, hingga oleh-oleh khas tiap daerah yang dilewati dapat kita peroleh tanpa keluar gerbong. Bahkan tanpa berdiri dari kursi. Ya, itulah sedikit gambaran kereta api ekonomi atau yang dikenal dengan kereta K3.

Adek-adek Penumpang K3.
Nama K3 ini sebenarnya berasal dari sistem penomoran tingkatan kereta api. Kelas ekonomi dikategorikan ke dalam kelas tiga. Oleh karena itu di gerbongnya tertulis K3, semisal K3 99207 mempunyai arti kereta kelas ekonomi dengan tahun pembuatan 1999. Digit ketiga dan empat adalah tahun pembuatan, sedangkan digit kelima adalah jenis bogie dan dua digit terakhir adalah nomer urut.

Menyisir dan Menelisik Mitos Maninjau

Alkisah hiduplah sepuluh bersaudara yang dikenal dengan nama Bujang Sembilan dengan si Bungsu yang cantik jelita. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di kaki Gunung Tinjau. Menginjak dewasa, terjalinlah cinta kasih antara Sani si Bungsu dengan Giran, anak dari kerabat mereka. Namun, hubungan tersebut harus berakhir tragis karena Kukuban, sulung dari Bujang Sembilan menaruh dendam hingga fitnah kepada Giran. Singkat cerita, Gunung Tinjau meletus berkat doa si Giran dan menghancurkan Bujang Sembilan. Gunung yang meletus tersebut sekarang berubah menjadi Danau Maninjau.

Mengayuh Sampan di Maninjau.
Begitulah sepenggal mitos terjadinya Danau Maninjau yang merupakan danau terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Pesan moral legenda tersebut sangat jelas, janganlah kita mendendam orang lain karena hal yang bukan menjadi kesalahannya. Dari dendam dapat muncul iri dengki hingga fitnah yang tidak berdasar. Kini, yang tersisa adalah keindahan Danau Maninjau yang sayang untuk dilewatkan jika kita berkunjung ke Sumatera Barat.

My First CPR in Real

Mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali aku mempraktekan CPR, namun hanya sebatas latihan pada manekin atau teman, itupun tidak di dada. Tidak pernah terbersit untuk bisa mempraktekan secara nyata. Karena, jika kita berharap untuk melakukan CPR, berarti kita berharap orang lain, bisa juga saudara atau kenalan kita, mengalami musibah. Orang yang harus diberikan CPR secara teknis sudah meninggal mengingat jantung sudah tidak lagi berfungsi. Dan itulah yang harus kulakukan saat dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Gunung Padang.

Ilustrasi CPR (doc. @aliepodja).
CPR (Cardio Pulmonari Resusitation) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada korban henti jantung. Tindakan ini dianggap sebagai langkah yang paling efektif dilakukan oleh orang awan tanpa bantuan alat. Dan terutama sangat penting dilakukan untuk korban henti jantung karena masih ada kemungkinan untuk dapat diselamatkan.

Fotografi Buta di Arjuna Welirang

Yang aku maksud dengan fotografi buta ini bukan fotografi oleh orang buta, bukan pula memoto orang buta. Namun ketika kita memotret dalam kondisi tidak bisa melihat objek yang hendak kita foto. Bukan tidak ada view finder, bukan pula karena sedang aksi. Hal ini semata-mata disebabkan layar lcd kamera pocket yang rusak sehigga kita tidak bisa melihat objek yang hendak kita ambil, hehe..

Menyusur Gunung Arjuna.
Awal kisah sebagai mahasiswa kere yang agak narsis, ketika jalan-jalan yang pertama kali dicari yakni pinjaman kamera. Setelah cari sana-sini tiada hasil, tinggal kamera pocket Nikon Coolpix temen yang dapat dipinjam. Sialnya, lensa kameranya rusak dan memang desain kamera tersebut tidak menyediakan view finder. Okelah, daripada tidak ada dokumentasi sama sekali, foto-entah-bagaimana-hasilnya pun tak mengapa.

Kesialan-Kesialan Saat Naik Motor

Terkadang, jalan-jalan akan lebih asyik jika ditempuh dengan menggunakan sarana roda dua. Lebih flesibel dalam melewati rute yang kita tuju, lebih irit ongkos, dan tentunya lebih leluasa melihat pemandangan sekitar. Motor juga lebih lihai dalam menyusup di tengah kemacetan jalan raya. Namun, kadang kala, atau bagiku sering kali, kita mengalami kesialan saat naik motor. Kesialan yang semestinya dapat kita hindari.
 
Baluran (doc. Erika).
Hal-hal kecil dapat terjadi karena kelalaian atau terlalu bersemangat saat touring. Tapi, justru terkadang hal ini menjadi bumbu yang asyik saat perjalanan kita. Apa seh yang menarik dari perjalanan yang berjalan 100% lancar sesuai rencana? Bagiku jelas tidak ada. Bumbu-bumbu kejutan dan kesialan menjadi pemanis sekaligus asamnya perjalanan yang lezat.

Da, Dha, dan Arti Sebuah Nama

Ada pepatah yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama?”. Aku bilang pepatah tersebut 100% keliru! Nama sangat penting artinya. Coba bayangkan nama Anda diganti kambing atau babi, dan ketika Anda komplain, orang yang memanggil cuma berkata “Kawan, apalah arti sebuah nama?”. Di beberapa kultur budaya, seperti Jawa, nama sangat penting artinya.

By the Name of D.
Sri Baginda Sunan Paku Buwana II membalik nama Kartasura menjadi Surakarta karena dianggap nama yang pertama banyak menimbulkan musibah dan bencana. Pada beberapa daerah, anak kecil yang sering sakit-sakitan harus diganti namanya agar sakitnya sembuh. Dianggap nama yang sebelumnya tidak cocok atau membawa sial.

Cidaon versus Sadengan

Bagi yang sudah pernah ke Ujung Kulon tentu tidak asing dengan nama Cidaon. Padang penggembalaan banteng yang terletak persis di depan Pulau Peucang ini memang menjadi salah satu daya tarik wisata utama Taman Nasional Ujung Kulon. Serupa di ujung satunya Pulau Jawa, yakni di Taman Nasional Alas Purwo, terdapat Padang Penggembalaan Sadengan. Bak de ja vu, kedua tempat tersebut mirip sekali.
 
Pagar Pembatas Sadengan.
Di kedua padang penggembalaan tersebut kita dapat melihat banteng liar dan merak yang sedang asyik merumput. Namun, jika kawan membandingkan antara keduanya, tentu akan sedikit kaget. Walau sama-sama Taman Nasional, namun kondisinya bak langit dan bumi. Yang di ujung barat tampak kumuh dan tidak terawat, sementara ujung timur terlihat teratur dan terpelihara.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...