Alkisah hiduplah
sepuluh bersaudara yang dikenal dengan nama Bujang Sembilan dengan si Bungsu
yang cantik jelita. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di kaki Gunung
Tinjau. Menginjak dewasa, terjalinlah cinta kasih antara Sani si Bungsu dengan
Giran, anak dari kerabat mereka. Namun, hubungan tersebut harus berakhir tragis
karena Kukuban, sulung dari Bujang Sembilan menaruh dendam hingga fitnah kepada
Giran. Singkat cerita, Gunung Tinjau meletus berkat doa si Giran dan menghancurkan
Bujang Sembilan. Gunung yang meletus tersebut sekarang berubah menjadi Danau
Maninjau.
 |
| Mengayuh Sampan di Maninjau. |
Begitulah sepenggal
mitos terjadinya Danau Maninjau yang merupakan danau terbesar kedua di
Provinsi Sumatera Barat. Pesan moral legenda tersebut sangat jelas, janganlah
kita mendendam orang lain karena hal yang bukan menjadi kesalahannya. Dari dendam
dapat muncul iri dengki hingga fitnah yang tidak berdasar. Kini, yang tersisa
adalah keindahan Danau Maninjau yang sayang untuk dilewatkan jika kita
berkunjung ke Sumatera Barat.
Menuju Maninjau
Untuk menuju
Danau yang terbentuk dari aktivitas vulkanologi ini gampang-gampang susah. Terletak
di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, danau ini dapat ditempuh dari dua
jalur umum. Jika dari arah Padang, berhenti di Agam dan lanjut ke danau
melewati Kelok Ampek Puluh Ampek yang terkenal itu. Sementara jika dari
Bukittinggi, tembus saja Ngarai Sianok dan ambil jalan lurus ke Maninjau. Kedua
jalur tersebut menawarkan pemandangan yang aduhai.
 |
| Sampan. |
 |
| Jalan Menuju Maninjau. |
 |
| Keramba di Maninjau. |
Sayangnya dari
kedua jalur tersebut jarang dilalui angkutan umum, adapun biasanya berupa
travel. Karena itu, jika ingin berjalan-jalan di Sumatra Barat memang paling
enak jika menggunakan angkutan pribadi atau sewa. Selain bebas menentukan
destinasi, kita juga dapat berhenti sewaktu-waktu jika menemukan spot yang
menarik.
Menyusur Maninjau
Danau seluas
hampir 100 km persegi ini dapat diputari dalam waktu kurang lebih dua jam
dengan roda dua. Kebetulan waktu itu saya berkeliling danau dengan motor sewaan
dari Pariaman. Di sekeliling danau terdapat perkampungan yang dinamakan sesuai
nama Bujang Sembilan dalam mitos pembentukannya, seperti Kukuba, Tanjung
Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, dan
Sungai Batang.
 |
| Warga Berburu Babi Hutan. |
 |
| Mencari Ikan. |
Warga di
pinggir danau membangun keramba untuk memelihara ikan. Teknik ini diperkenalkan
sejak 1992 dan hingga 1997 terdapat hampir 2000an keramba yang dapat
menghasilkan ikan hingga 3-4 kali setahun. Hutan di pinggir danau terbilang
masih asri. Hati-hati jika berjalan sendirian karena monyet-monyet masih banyak
berkeliaran. Warga sekitar pun masih melestarikan budaya berburu babi hingga
kini.
 |
| PLTA Maninjau. |
 |
| Bersantai di Maninjau. |
 |
| Maninjau di Sore Hari. |
Selain
itu, danau yang memiliki kedalaman hingga 495 meter ini juga dimanfaatkan
sebagai pembangkit tenaga listrik. Asyiknya, di sekitar PLTA Maninjau ini
berada, disediakan bangku-bangku dan area wisata bagi pengunjung. Duduk-duduk
di taman memandang keindahan Maninjau sambil melepas lelah ditemani secangkir
kopi hangat dan ikan bilis tentu menjadi pengalaman yang indah. (dm 022214)
No comments:
Post a Comment