Showing posts with label First Aid. Show all posts
Showing posts with label First Aid. Show all posts

Bagaimana Menangani Korban Hipotermia?

Bagi penggemar olahraga outdoor, terutama mounteneering tentu tidak asing dengan kata hipotermia. Kata serapan yang berasal dari bahasa asing Hypothermia ini diartikan sebagai kondisi suhu tubuh yang turun di bawah suhu normal (36.5- 37.5 derajat Celcius). Kondisi ini bisa terjadi karena dua faktor, suhu lingkungan yang turun drastis dan atau kondisi tubuh kita yang menurun sehingga tidak bisa menyesuaikan suhu lingkungan sekitar.
 
Ilustrasi Orang Menggigil Kedinginan di Puncak.

Oleh karena itu, kasus hipotermia tidak hanya dapat terjadi di pegunungan dengan suhu yang ekstrem. Pada kaum manula yang kondisi tubuhnya tentu sudah menurun, dapat juga mengalami hipotermia di atas ranjang. Orang yang terlalu lama berenang di siang hari yang terik, korban kebakaran, atau bayi mudah terkena hipotermia.

Cidera yang Sering Terjadi Saat Travelling dan Penanganannya

Saat melakukan perjalanan tentu kita tidak berharap akan mengalami suatu kecelakaan, baik kecil maupun besar, dari sekedar luka lecet atau bahkan sampai patah tulang. Tentu alangkah baiknya pula jika kita mengerti dan dapat melakukan pertolongan yang baik dan benar. Kadangkala bentuk pertolongan pertama yang tepat dan cepat dapat menentukan hidup mati kita atau orang lain.

Ilustrasi.
Ketika melakukan trekking yang jauh masuk ke hutan atau daerah yang sepi tanpa ada peradapan, bantuan akan susah didapatkan. Jangankan mengharap bantuan medis,  desa terdekat terkadang baru dapat ditemui sehari dua hari perjalanan. Berikut adalah beberapa cidera yang sering ditemui saat berpergian dan bagaimana untuk pertolongan pertamanya.

My First CPR in Real

Mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali aku mempraktekan CPR, namun hanya sebatas latihan pada manekin atau teman, itupun tidak di dada. Tidak pernah terbersit untuk bisa mempraktekan secara nyata. Karena, jika kita berharap untuk melakukan CPR, berarti kita berharap orang lain, bisa juga saudara atau kenalan kita, mengalami musibah. Orang yang harus diberikan CPR secara teknis sudah meninggal mengingat jantung sudah tidak lagi berfungsi. Dan itulah yang harus kulakukan saat dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Gunung Padang.

Ilustrasi CPR (doc. @aliepodja).
CPR (Cardio Pulmonari Resusitation) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada korban henti jantung. Tindakan ini dianggap sebagai langkah yang paling efektif dilakukan oleh orang awan tanpa bantuan alat. Dan terutama sangat penting dilakukan untuk korban henti jantung karena masih ada kemungkinan untuk dapat diselamatkan.

Sekolah Ceria untuk Merapi

Tepat pukul enam pagi kereta kelas bisnis yang membawa kami dari Jakarta mulai memasuki Stasiun Tugu. Hiruk pikuk penumpang mulai terlihat untuk segera meninggalkan gerbong menuju destinasi masing-masing. Di luar, suara takbir menyambut kami. Suasana memang agak lengang, di sana sini hanya terlihat umat muslim dan muslimah berjalan menuju masjid hendak menunaikan Sholat Idul Adha berjamaah di sela-sela tumpukan debu Merapi yang masih sedikit tersisa.

Teman Bermain.
Kedatanganku ke Jogya kali ini tidak untuk berwisata seperti biasanya, hanya ingin menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban warga Jogya sehabis terkena dampak letusan Gunung Merapi. Ini memang kali kedua aku bertandang ke Jogya untuk tujuan kemanusiaan. Pada tahun 2006 sempat sedikit membantu sebagai evakuator di Bantul, kedatangan kali itu hanya berselang satu hari saat bencana terjadi. Saat aku datang, Merapi sudah mulai jinak, semburan awan panas dan debu sudah puas dimuntahkannya. Kali ini, aku berkesempatan menyumbangkan tenaga untuk proses pasca-bencana.

Undip untuk Padang

“Manifestnya mana?”, bentak Provost Lanud Halim Perdana Kusuma kepada kami. Pikirku, apa itu manifest, tidak tahu juga ejaannya benar atau tidak. Mana jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 malam, kondisi fisik yang sudah capek semua setelah seharian berburu barang bantuan di Jakarta. Maka jawabku spontan, “Manifest itu apa ya, Pak?” yang disambut bentakan lagi. Sigh. Setelah usut punya usut, ternyata itu adalah sebutan untuk lembar daftar barang yang akan diangkut menggunakan pesawat Hercules yang akan kami tumpangi menuju Padang.

Hari itu (Jumat, 08/10/09) berangkatlah Tim UNDIP Tanggap Bencana yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa UNDIP. Setelah menghimpun dana bantuan di jalanan oleh rekan-rekan mahasiswa dari berbagai fakultas, sumbangan dari para dosen dan staf UNDIP, serta sumbangan dari pihak kampus, terkumpulah dana sebesar Rp. 115.000.000,-. Bantuan untuk saudara sebangsa di Bumi Andalas.

Adalah M. Imam Baihaqi, Menteri Pengabdian Masyarakat BEM KM sebagai ketua rombongan tim kali ini dan berperan untuk mengurus birokrasi-birokrasi yang terkait. Ahmad Fauzan dari UKM Pramuka Racana Diponegoro mengurusi masalah-masalah teknis di lapangan. Dhani Mahendra dari UKM KSR PMI Unit UNDIP Semarang yang berperan mengurusi Management Disaster, tentang bagaimana penanganan bencana yang sudah menjadi makanan wajib bagi UKM pertama yang bercokol di PKM Tembalang tersebut. Serta perwakilan mahasiswa Padang, Fasco Buana dan Hamdillah Usman sebagai penghubung dan guide selama di Padang.

Hari pertama kami habiskan untuk berburu barang bantuan di Kota Metropolitan baru kemudian akan didistribusikan secara langsung ke masyarakat, sesuai amanah yang tim terima. Mulai dari tenda, kain terpal, selimut, susu dan makanan bayi, serta pembalut wanita adalah barang bantuan yang akan kami salurkan.

SATGAS BANJIR SEMARANG


-->
8 Februari 2009
Relawan Banjir yang Kebanjiran
“Asem, Blue Merryku nglepek!”. Hujan deras yang mengguyur Kota semarang menimbulkan banjir dimana-mana. Tak terkecuali, di depan LP khusus wanita Semarang terdapat genangan air setinggi 30 cm yang menyebabkan Blue Merry, motor Vega-R kesayanganku mogok.
Padahal, aku dan Dika hendak menuju PMI Cabang Kota Semarang tuk ikut membantu Relawan Banjir. Alhasil, ku tuntun Blue Merry samapi Markas PMI dan Dika terpaksa turun dengan “mencincing” rok item miliknya. Dasar Semarang, relawan banjirnya aja kebanjiran.
Pagi itu, kami sedang memenuhi undangan dari MerC Semarang di Balai Diklat Kariyadi. Yang kemudian ada panggilan mendadak dari posko untuk menjadi relawan banjir. Tanpa pikir panjang, kamupun langsung menuju Markas PMI Kota Semarang di tengah acara yang kami ikuti. Total relawan yang diperbantukan KSR UNDIP sebanyak 12 orang.
Masih Seperti Dulu, Kata Kuncinya Koordinasi, Kawan!
Setiba disana, kami langsung melebur dan membantu proses siaga bencana banjir Kota Semarang. Karena proses evakuasi sudah dilakukan malam sebelumnya, hari itu digelar dapur umum dan pendistribusian nasi bungkus ke korban banjir yang membutuhkan.
Sekitar pukul 11 siang, diberangkatkan tim untuk memberikan bantuan berupa perahu kayu untuk daerah Wonosari, Mangkang. Turut disitu 3 anggota KSR UNDIP berangkat menuju lokasi dengan truk trbuka. Sepanjang jalan, hujan plus angin kencang menerpa wajah kami, suara sirene meraung-raung menembus jalanan Kota Semarang.
Bingung. Memang disitu terjadi banjir sampai setinggi 2 meter, tetapi itu berlangsung tadi pagi jam 3 dan jam 9 pagi air sudah surut. Terlihat para warga sudah mulai berbenah membersihkan rumahnya masing-masing. Tampak Indofood Rescue mendirikan dapur umum untuk warga korban banjir. Kami berlima pun terbengong-bengong. Yah, karena tenaga perahu tidak dibutuhkan kembalilah kami ke markas. Sekali lagi, KOORDINASI.
Sorenya kami kembali membagikan nasi bungkus yang sudah disiapkan oleh tim DU. Waktu mendistribusikan di Rusun Kaligawe, perahu yang kami kayuh untuk menuju Rusun muter-muter karena koordinasi yang kurang kompak karena sebagian tenaga pendayung asal dayung seenaknya.
Kebetulan Eci dan aku ikut didalamnya. Kebetulan, bisa mempraktekkan materi Water Safety yang kami dapatkan. Akhirnya kami mendapat bantuan 2 tenaga manusia, bukan untuk ikut mendayung tapi mendorong dari belakang. Aduh, ini perahu atau getek ya. Untung banjirnya tidak dalam-dalam amat, la kalau nyampai 2 meter?
Nasi bungkus setengah 10 malam
Sekembali ke Markas, Dapur Umum sudah sibuk lagi. Dengan penuh canda tawa para relawan banjir menyiapkan nasi bungkus tuk pendistribusian berikutnya. Karena sebagian besar anggota KSR UNDIP yang disana dari keturunan Hawa, Sekitar pukul 8 malam setelah DU ditutup untuk hari itu, kami mohon diri untuk kembali ke Tembalang. Kecuali Eci dan aku yang tetap tinggal tuk membantu proses pendistribusian berikutnya.
Pukul 20.45, ambulans yang membawa nasi bungkus diberangkatkan menuju lokasi. Tim dibagi menjadi 2 daerah, Genuk dan Wonosari. Kebetulan saya ikut dalam Tim Wonosari dan Eci ke Genuk. Sekitar pukul sembilan seperempat kami sampai di kelurahan Wonosari. Keadaan sudah sepi, cuma ada 3 aparat kelurahan yang standby. Pihak kelurahan meminta nasi bungkus tersebut langsung diberikan ke RW 6 dan RW 7, lokasi yang paling parah. Mungkin mengingat tidak ada sarana transportasi untuk membawa 150 nasi bungkus tersebut.
Sementara anggota PMI Cabang yang ada disitu mendapat instruksi tuk menyerahkan di kelurahan, dan terserah pihak kelurahan untuk didistribusikan kemana. Terjadi beberapa kali lempar argumentasi, yang akhirnya anggota PMI Cabang tersebut menghubungi ketua Satgana untuk meminta instruksi. Seharusnya, keputusan seperti itu dapat langsung diputuskan disitu. Tidak perlu dibuat panjang lebar.
Ada satu pertimbangan yang terlontar yang sangat tidak saya sepakati, yaitu bahwa bantuan diberikan ke RW yang paling dekat, bukan yang paling membutuhkan. Walaupun capek, semestinya pertimbangan seperti itu tidak terlontarkankan. Akhirnya diputuskan untuk mengedrop nasi bungkus ke RW 7 dan Pak RWnya diminta menyalurkan ke RW 6.
Sesampai di RW 7 saya sempat malu untuk keluar dari mobil ambulans ketika ada seorang warga yang bertanya. Warga tersebut terheran-heran ketika tahu kami hendak mendistribusikan bantuan nasi bungkus. “Kok jam segini? Dah pada tidur, Mbak!”, lontar warga tersebut. Sesampai di rumah Pak RW, lampu rumah sudah dimatikan semua dan Pak RW keluar dengan muka habis bangun tidur, sepertinya kecapaian sekali. Ya iyalah, dah jam segini. Saya pun pesimis 150 nasi bungkus itu akan dimakan, minimal tidak untuk malam ini.
Suatu hal akan menjadi sebuah bantuan jika diberikan pada orang yang tepat, sesuai yang dibutuhkan, dan tepat pada waktunya.
Pukul 22.00 kami kembali ke Markas. Eci datang sejam kemudian. Setelah istirahat sebentar, pukul 12 malam kami berdua undur diri. Mampir sebentar ke PMI Daerah tuk copy-copy foto dan dengan lampu depan motor mati, Blue Merry melaju ke Tembalang tuk mengantar tuannya ke peraduan. Baru pukul 1 dini hari kami sampai di Tembalang.
(dm090209)

What a satgas…

Nglimut, Gonoharjo, Kendal.

Senin-Rabu, 19-21 Januari 2008.

Day 1 : Cram attack

Diawali dengan kebingungan Divisi Dimas dalam mencari anggota untuk diberangkatkan dalam Tim Satgas T. Geologi, UNDIP, berangkatlah 5 personil KSR UNDIP yang cantik rupawan : Mela D11, Firman D11, Ale’ D10, Neysa D10 dan saya sendiri, Dhani D8. Berangkat dari Tembalang dengan dua buah truk, peserta diturunkan di Taman kanak-kanak Mekar Kuncup atau Kuncup Mekar?l lupa, yah, pokoknya sekitar 5 km dari Nglimut untuk melakukan longmarch sampai tempat mereka tidur. Untuk efektivitas, tim dibagi 2, Neysa dan saya mengikuti rombongan longmarch, sementara Firman dan Mela berangkat duluan bareng truk barang tuk mendirikan tenda disana, si ale’ nyusul sorenya.


Setelah push-up beberapa kali, peserta langsung jalan dengan beban bawaanya tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu. Sambil diselingi lari-lari dikit dan langkah jongkok dengan jalan yang menanjak, alhasil, banyak peserta yang mengalami kram, baik kaki maupun perut. Saat sedang menangani satu peserta, sudah dipanggil oleh panitia untuk menangani peserta lain. Berlari-larianlah kami berdua jadinya, eh, pake motor dink. Sibuk.

Ada satu kasus dimana korban mengaku kram perut, pas ditangani penanganan kram perut kok malah tambah sakit, dan korban minta perut sebelah kanan dipijet-pijet. Karena curiga bukan kasus kram perut, usut punya usut, ternyata korban mempunyai sakit usus buntu yang dianggapnya selama ini sebagai kram perut. Setelah sampai di lokasi kemah, sakitnya makin parah walau sudah diberi obat penghilang rasa nyeri, sehingga dengan terpaksa korban dibawa ke bidan (ga da dokter) terdekat. Setelah diperiksa oleh Bu Bidan, dugaan kami ternyata benar : usus buntu. Maka setelah mempertimbangkan beberapa hal, peserta tersebut dipulangkan ke rumah. Kasihan si Neysa di satgas perdananya.

Day 2 : Rain, broken strecther, and something riddiculous

Pada hari kedua, langit seperti ngambek minta minta permen. Hujan sepanjang hari. Padahal hari kedua merupakan puncak acara kegiatan para calon geologis itu, yakni “pengenalan lapangan” mengelilingi sekitar kawasan bumi perkemahan. Untuk itu, kita membagi diri menjadi 3 kelompok : Firman dan Ale’ bertugas di pos 1, saya dan Mela “the Waekambas Girl” kebagian di pos 4, sementara Neysa karena bertugas sebagai koordinator tetap tinggal di basecamp.

Sesampai di pos masing-masing, ternyata tidak disediakan tenda oleh panitia untuk tim kesehatan. Mengingat cuaca hari itu dan berhubung kami berdua hanya membawa mantel individu, dengan terpaksa deh ambil tenda di basecamp. Sementara tim di pos 1 mendirikan bivak dari ponco dan daun pisang. Setengah hari itu hujan turun dengan lebatnya dan untungnya tidak banyak kasus yang terjadi, Cuma asma dan beberapa alergi. Malahan, teman satgas saya yang “perlu disatgas”. Pipi sebelah kanannya bengkak tanpa sebab yang jelas. Hehehe, jadi mirip Gajah Lampung.

Menjelang sore hari, hujan sudah reda. Kelompok terkhir pun datang, kamipun bergegas packing tuk pulang. Sesampai di pos 5, semua masih beres-berse saja, sampai da seorang anak yang terpeleset dan pada bagian punggungnya terantuk batu. Awalnya seh dia bisa berjalan biasa, tetapi setelah melakukan salam senior (posisi jongkok seperti hendak mengangkat tandu dengan tangan kanan menyentuh tanah) baru dia merasa kesakitan. Terasa sakit untuk telentang, berdiri, bahkan bergerak. Setelah diperiksa, diduga tulang belakangnya mengalami sedikit gangguan. Segera menghubungi rekan di basecamp untuk membantu proses evakuasi. Dengan asumsi terburuk dan beberapa pertimbangan lainnya, tandu KSR pun beraksi.

SUSAH. Medan yang berupa jalan setapak, turunan tajam, sempit, licin karena habis diguyur ujan dan tubuh si korban yang cukup buat dikorbanin warga se-RT, hehehe, mang kambing. Butuh 6 orang untuk mengangkat tubuh korban. Korban dibawa dengan posisi tengkurap. Baru berjalan sekitar 20 m, tandu patah. Ya pipa besi itu patah jadi 2, bukan bengkok atau retak, tapi patah. Untung dibawa oleh 6 orang sehingga bagian tengah ada yang mengcover. Fuihh.

Untuk medan yang terjal, kami membawa dengan sistem estafet, jadi tandu yang berjalan, evakuatornya tetap. Butuh waktu lama untuk menandu si korban, dari jam 3 sore pe jam 6 kami baru nyampai di parkiran Gonoharjo. Setelah disana, korban sekali lagi diperiksa secra menyeluruh, terutama GSS. Kemudian si korban mengalami hypothermia ringan, langsung kami ganti bajunya yang basah dengan jaket ntah punya sapa, diselimutin dan digosok-gosok tanyanya.

Situasi saat itu sangat ramai, dengan banyak orang dan tentu saja, banyak komentar. Disinilah kualitas seorang rescuer ditentukan. Melihat kondisi korban yang seperti itu, diputuskan untuk langsung membawanya ke RS. Karena tidak ingin mengubah posisi korban, terpaksa pintu mobil kijang yang digunakan untuk membawa ke RS tetap dibuka sepanjang jalan. Korban dibawa tetap dengan posisi tengkurap.

Selama perjalanan, kami pikir situasi sudah terkendali, eh taunya di tengah jalan, motor sebelah depan yang mengantar kami, tiba-tiba hilang dari pandangan. Ya, hilang. Jatuh ke jurang. Awalnya saya tidak sadar apa yang terjadi, karena kebetulan saat itu perhatian saya terfokus pada korban. Setelah diberi tau Neysa kalau motornya masuk jurang, sontak saya dan Firman keluar tuk menolong.

Waktu melihat kondisi lapangan, langsung terbersit “parah neh…, mati neh..”. gimana tidak, kepalanya ga ada, ketindihan motor. Langsung kami mengangkat megapro itu bersama-sama. Alhamdulillah, setelah diperiksa, korban cuma mengeluh kram ki kaki kanan. Saat diperiksa lagi, teraba da cairan di badan sebelah kiri korban, awalnya tak kira itu darah, ternyata… (demi kebaikan kita bersama, sebaiknya tidak usah saya sebutkan, hehehe). Untung saja tidak ada luka yang serius, padahal jatuh ke jurang sedalam 2 meter dan ketindihan megapro. Luar biasa.

Karena masih ada satu korban yang harus diurus, kami pun meninggalkan Harvin, panitia yang jatuh tadi, ke RS Tugu. Meninggalkan motor megapro yang masih dibawah, ndak tau tuh gimana naikin ke jalan. Padahal, sebelah depannya sungai, kanan-kiri buntu ga da jalan. Cuma bisa diangkat ke atas.

Sekitar pukul setengah sembilan, kami baru nyampe di RS Tugu. Pelayanannya lama sekale, padahal dah dibantu ma saudaranya seorang panitia yang kebetulan kerja disitu. Setelah urus sana-sini, anter sana anter sini, beres sudah urusan di rumah sakit. Si korban dipondokan dulu semalem nunggu hasil rontgen diperiksa dokter ahli. Dan... aku mau makan..laper. Jam setengah sebelas malem kami baru makan malem yang plus siang juga.

Sekitar pukul 12 malem kami nyampe kembali di Gonoharjo. Cuapek. Dapat kabar dari panitia, acara malam ditiadakan. Untunglah.

Fuih, what a satgas.

Day 3 : Free oh Duty

Pada hari ketiga, gara-gara semua kejadian hari kemarin, semua acara dibatalkan atau diganti dengan acara sederhana yang tidak ada pressingnya. Karena menganggur dan ada api unggun yang menganggur pula, kami sempatkan tuk memanggang sepatu dan kaos kaki yang basah gara-gara kegiatan kemarin. Enaknya “bakar sate kaos kaki”, andai ada kecap, lengkaplah menu sarapan kami. Diiringi main poker tuk mengisi waktu luang. Memang, ada 3 item satgas yang ga boleh pe kelupaan : bendera KSR, kamera digital, dan kartu remi.

Sekitar pukul 10 kami mulai berkemas tuk persiapan pulang. Hampir tidak ada kasus yang terjadi pada hari ketiga, aman terkendali. Sekitar pukul 12 kami dah sampai di Posko KSR UNDIP tercinta. Ternyata di sana masih berlangsung acara donor darah rutin. Karena dah lebih dari 3 bulan belum donor, langsung saja, Firman dan saya mendonorkan diri.

Bagi temen-temen, rajin-rajinlah ikut satgas. Di satgas kalian akan mengalami secara langsung kondisi di lapangan. Apakah materi yang kita latih selama ini benar-benar dapat dipake, ga cuma sekadar teori doank. Pertolongan pertama adalah materi ketrampilan, kalau ga pernah dipraktekan, ya sama ja bohong. Tapi ingat, kita harus berlatih sekeras mungkin, tapi jangan berdoa untuk mempergunakannya.

Salam. (dm070209)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...