Jalan-jalan ke Kelud & Penanjakan

Bulan Oktober 2019 aku mendaki Gunung Kelud bersama Hasan, teman dari kampus Polines Semarang. Kami berangkat dari Semarang dengan menggunakan Kereta Matarmaja Ekonomi yang berangkat pukul delapan malam dan turun di Stasiun Wlingi keesokan harinya pukul enam pagi. Wlingi terletak di Blitar dan syukurlah sudah terjamah oleh ojek online, sehingga daripada bingung hendak naik apa ke basecamp pendakian, kami menggunakan jasa g***car saja. Tidak lupa melengkapi perbekalan yang dapat kami peroleh di sekitar stasiun.

Puncak Kelud.

Kurang lebih, pukul delapan kami sudah tiba di basecamp pendakian Gunung Kelud. Setelah packing ulang dan menitipkan beberapa barang di basecamp karena kebetulan setelah ini kami hendak touring dan camp di Bromo. Mulai berjalan pada pukul delapan lebih sedikit, pukul setengah dua belas siang kami sudah sampai di Pos 3, lokasi di mana kami akan mendirikan tenda untuk bermalam.

Sayangnya, lokasi air cukup jauh dari Pos 3 ini, kita harus menuju sumber air di Kili Suci dengan lama perjalanan dua jam pulang pergi, jaraknya sekitar 500 meter saja, namun terjal sekali. Menuruni jurang dan harus berpegangan pada pohon-pohon yang ada. Airnya dingin dan segar, Hasan malah sempat mandi di sini.

Tidak terasa hari sudah mulai sore, kami bersantai dan mengobrol entah apa saja. Sebenarnya puncak sudah tidak jauh lagi, namun sesuai rencana memang baru akan kami daki esok hari. Dari Pos 3 menuju Puncak hanya 45 menit saja, dilanjutkan 30 menit perjalanan menuju pinggiran kawah. Sayangnya untuk menuju Puncak Sejati, titik tertinggi Gunung Kelud harus ditempuh dengan peralatan SRT.

Jalur menuju pinggiran kawah lumayan terjal karena pada satu titik harus melewati pinggiran tebing. Di situ juga sudah dipasangi tali demi alasan keselamatan, membantu pendaki yang melintas. Seru! Aku memang tidak begitu suka untuk mengumpulkan bahan yang detail dan terperinci untuk mendaki suatu gunung, kupikir Kelud hanyalah gunung biasa dengan kawah, namun kaget sekali ketika sampai di sana, ternyata panorama Kelud amazing sekali! Betah dibuatnya untuk memandang berlama-lama.

Setelah menikmati santapan pagi, apalagi kalau bukan Indomie rebus pakai telur, kami berjalan turun ke bawah. Total perjalanan turun kurang lebih tga jam kurang. Segera kami lanjutkan perjalanan menuju Kota Malang.

Menggunakan kereta lokal ke Malang, kami tiba di Stasiun Malang pukul setengah lima sore. Lelah dan ingin segera mandi, kami menuju hostel yang sudah kami booking sebelumnya, tidak lupa mencari rental sepeda motor untuk menjelajah Bromo. Ohya, rental sepeda motor di Malang ini cukup mudah, jika kita memiliki satu kontak parental sepeda motor, anggap saja memiliki nomor semua parental di sana, karena ketika dari satu tersebut sedang tidak ada kendaraan, akan dialihkan ke teman-temannya. Mereka semua mangkal di tempat yang sama, di Jalan Sultan Agung dekat Stasiun Malang. Kebetulan persis di sebelah lokasi hotel kami, Sultan Agung Guest House.

Sebenarnya, tidak semua sepeda motor boleh digunakan touring ke Bromo, hanya motor trail saja. Awalnya aku sedikit ngeyel, belakangan aku baru sadar kenapa begitu. Tidak bisa memperoleh motor trail, kami mendapat Nmax yang ber-body besar.

Perjalanan menuju Pasar Tumpang dan naik terus ke jalur pendakian Gunung Semeru, menuju Ranupane berjalan lancar. Benar-benar nostalgia pendakian ke Semeru tujuh tahun silam. Pada pertigaan Bromo-Ranupane, kami ambil ke kiri dan mulai memasuki lembah Bromo. Pemandangan yang mirip sekali dengan Kerajaan Rohan berada, langsung saja terbayang kisah Two Tower karangan Profesor Tolkien ketika Gandalf the White membawa bala bantuan untuk menyelamatkan Aragon dan Raja Theoden yang sudah hampir kalah melawan pasukan Saruman.

Ketika memasuki Segoro Wedi, masalah mulai terjadi. Sepeda motor berbadan besar itu tidak bisa jalan, rodanya masuk ke pasir. Beberapa kali terus seperti itu, hingga Hasan harus merelakan untuk berjalan kaki agar beban kendaraan berkurang. Seharian kami berkutat dengan sepeda motor yang masuk ke pasir, dari pukul sebelas siang sampai dua siang kami mendorong sepeda motor, mengendarai pelan-pelan, berjalan kaki.

Pintu Pendakian Gunung Kelud.


Kawah Gunung Kelud.

Gunung Bromo.

Segoro Wedi.

Lereng Gunung Kelud.

Jalur Gunung Kelud.


Pondok Makan.

Lembah Gunung Bromo.

Bersantai di Gunung Penanjakan.

Sepeda Motor yang Terperosok ke Pasir.

Lokasi Tenda.

Lereng Gunung Kelud (2).

Segoro Wedi (2).

Kuda, Sepeda Motor, atau Jeep?

Sampai di Penanjakan pukul tiga sore, bolak-balik mencari lokasi mendirikan tenda yang oke dengan view Segoro Wedi Gunung Bromo. Ya, Penanjakan adalah satu-satunya gunung yang aku daki dengan sepeda motor, ikut kumasukan ke daftar ini karena gunungnya yang keren dan kebetulan sempat melewatkan satu malam dengan bertenda di sini. Malam dengan angin kencang penuh debu, dari matahari tenggelam sampai matahari mau terbit kembali. Walaupun tenda tertutup rapat, masih saja masuk di sela-sela sleeping bag.

Pada perjalanan kembali ke Malang, kami memilih jalur Pasuruan agar tidak kembali melewati Segoro Wedi, cukup sekali saja berkutat dengan pasir-pasir itu.


Keep safe, clean, and fun climbing! (dm 22 Juli 2021).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...