Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Pendakian Gunung Buthak

Akhir tahun 2020, ingin kembali mencoba gunung di Jawa Timur, aku niatkan untuk ke Malang dan mengunjungi Gunung Buthak. Tidak ada teman yang biasa diajak, aku menghubungi teman lama ketika ketemu di pendakian Semeru dan Argopuro, Mas Polet namanya, darinya dikenalkan dengan Mas Dion, porter Gunung Semeru yang bisa juga mengantar ke Butak. Langsung saja gayung bersambut manis, pada hari-hari menjelang pendakian, teman kerja di Papua, Rikky namanya, ingin ikut bergabung. Kebetulan dia tinggal di Malang dan bisa memberikan tebengan kamar kosan gratis untuk bermalam. Wah..

Pos VI.

Kami mendaki Gunung Buthak dari jalur Panderman, yang terletak di Kota Batu. Pukul Sembilan pagi kami tiba di basecamp, setelah packing ulang, setengah jam kemudian kami memulai pendakian. Mas Dion mengajak satu temannya, Mas Andi Lesmana yang biasa dipanggil Sapu, sehingga saat itu rombongan kami menjadi empat orang.

Jalan-jalan ke Kelud & Penanjakan

Bulan Oktober 2019 aku mendaki Gunung Kelud bersama Hasan, teman dari kampus Polines Semarang. Kami berangkat dari Semarang dengan menggunakan Kereta Matarmaja Ekonomi yang berangkat pukul delapan malam dan turun di Stasiun Wlingi keesokan harinya pukul enam pagi. Wlingi terletak di Blitar dan syukurlah sudah terjamah oleh ojek online, sehingga daripada bingung hendak naik apa ke basecamp pendakian, kami menggunakan jasa g***car saja. Tidak lupa melengkapi perbekalan yang dapat kami peroleh di sekitar stasiun.

Puncak Kelud.

Kurang lebih, pukul delapan kami sudah tiba di basecamp pendakian Gunung Kelud. Setelah packing ulang dan menitipkan beberapa barang di basecamp karena kebetulan setelah ini kami hendak touring dan camp di Bromo. Mulai berjalan pada pukul delapan lebih sedikit, pukul setengah dua belas siang kami sudah sampai di Pos 3, lokasi di mana kami akan mendirikan tenda untuk bermalam.

Raung Puncak Sejati

Delapan tahun yang lalu saya menggapai Puncak Raung dari jalur Sumber Waringin, sebuah pendakian yang benar-benar memacu adrenalin, merangkak dan berjalan di hutan lebat dengan nama-nama pos yang membuat bulu kuduk berdiri, sebut saja Pos Pondok Mayit atau Pondok Demit. Pendakian kala itu diakhiri dengan meniti pinggiran kawah Raung yang ekstrem, tanpa tali dan pengaman, dahsyat sekali rasanya.

Raung!
Kini, saya menjajal lagi mendaki salah satu Puncak Raung yang belakangan sempat nge-hits: Puncak Sejati, konon katanya adalah titik tertinggi Gunung 3.441 mdpl ini. Dengan jalur pendakian yang paling ekstrem se-Pulau Jawa, dibutuhkan peralatan SRT (Single Rope Technique) untuk menuju puncaknya, Puncak Sejati.

Lima Gunung dengan Danau Menawan

Tentu semua setuju, danau dan gunung adalah perpaduan yang ciamik! Bayangkan saja, pemandangan alam pegunungan yang indah ditambah permukaan danau yang bak kaca. Tambahkan di imaji tadi dengan kawan mendirikan tenda di pinggirannya, berkemah dan bersantai memancing ikan. Aih, siapa yang bisa menolak pesonanya? Maka tidak heran, perpaduan gunung dan danau seringkali dipotret untuk foto landscape kalender atau background wallpaper.

Menyusur Danau.
Nah, pada tulisan kali ini, izinkan saya untuk mengupas beberapa gunung di Indonesia yang memiliki danau di dalam kawasannnya. Danau-danau ini tentu sayang untuk dilewatkan untuk lokasi bertenda yang strategis. Selain menjadi sumber air minum yang mudah, feel berkemah di pinggir danau itu lo.. yang.. ah, rasakan sendiri ya, hehe..

Alam Liar dan Kisah Argopuro

Embun pagi dan bau tanah pagi hari menyeruak masuk ke sanubari. Gerimis yang semalam iseng menyapa sekitaran tenda menambah harum pagi ini. Tidak mau kalah, dingin yang menusuk tulang ikut datang tidak mau ketinggalan. Di kejauhan, kabut pekat masih belum rela melepas pelukan dari permukaan danau yang jernih bak kaca. Pagi itu, Danau Taman Hidup seperti menyambut kami dengan segala keindahannya yang hendak menuju Puncak Argopuro.

Cikasur.
Dikisahkan, Argopuro adalah tempat pelarian Dewi Rengganis karena tidak merasa diakui oleh ayahnya Prabu Brawijaya. Bersama patih dan pengikutnya yang setia beliau melarikan diri dari istana. Hal ini mungkin bukan hanya cerita isapan jempol, di puncaknya masih dapat kita lihat sisa-sisa seperti pura dan bangunan lainnya. Mungkin karena itu pula, gunung ini disebut demikan. Dari kata argo yang berarti gunung dan puro berarti pura.

Nekat di Bromo (bagian 2)

Melanjutkan kisah sebelumnya, ketika kami sampai, para pengunjung sudah mulai meninggalkan tempat ini. Kian sepi. Wajar saja, jarum jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Setelah mendapatkan tempat untuk bermalam, berupa tanah lapang yang cukup jauh dari kerumunan pedagang, kaki-kaki ini sudah gatal minta diajak main ke pinggiran kawah. Okelah, kali ini kuturutin apa maumu, memutari kawah Gunung Bromo dalam satu lingkaran sempurna!

Bromo dari Plawangan.
Ketika hendak melaksanakan niat ini, Chuank, teman pendakiku yang kesehariannya menjadi loper koran ingin turut serta. Lumayanlah ada teman bercengkrama. Sedikit cerita, teman satu ini sangat luar biasa. Di tengah upah berjualan koran yang sedikit, dia menyempatkan menabung untuk dapat naik gunung setahun sekali. Dan tahun ini dia memilih Semeru. Salut!

Nekat di Bromo (bagian 1)

Sudah sedari dulu aku ingin mengunjungi tempat satu ini. Melihat keindahannya dari acara di televisi dan internet membuatku makin ngiler saja. Ah, kapan aku bisa ke sini? Naik apa aku ke sini? Menginap di mana? Uang dari mana? Namun, nampaknya Sang Maha Pengatur Waktu sedang berbaik hati padaku, di penghujung tahun 2008, seorang teman mengajaku ke sini. Mengunjungi kemegahan Kawah Gunung Bromo yang memikat hati.

Pura Luhur Poten di Kala Senja.
Tujuan utama ajakan temanku itu sebenarnya yakni Mahameru, puncak para dewata bersemayam. Sementara mengunjungi Bromo hanya bonus jikalau masih ada waktu sebelum mereka kembali ke Jakarta. Merasa inilah kesempatan terbaik untuk menuju gunung 2.392 mdpl tersebut, langsung kuiyakan tanpa pikir panjang. Tanpa memikirkan ketebalan dompet yang makin kian tipis dari hari ke hari.

Raung dari Sumber Waringin

Gunung yang terkenal dengan Puncak Sejatinya ini mungkin menjadi satu-satunya gunung berapi di Indonesia yang membutuhkan peralatan SRT untuk ke puncak. Sebagai gunung stratovolcano yang masih aktif, gunung satu ini kerap menyemburkan asap dan api. Terletak di ujung paling timur, Puncak Raung seperti menjadi pamungkas pendakian di Pulau Jawa dengan jalur terekstrem.

Ke Puncak Raung. (doc. Ferdix)
Banyak jalur untuk menuju Puncak Raung. Dua jalur yang paling terkenal yakni dari Glenmore untuk menuju Puncak Sejati dan Sumber Waringin yang menjadi ‘jalur nasional’. Jalur lain yang dapat dijadikan alternatif yakni dari Kalibaru dan Luwak. Banyaknya jalur ini mafum terjadi mengingat puncak terdapat di sepanjang kaldera terluas di Pulau Jawa dengan panjang lebih dari dua kilometer.

Semeru Semarak

Saat itu pukul tujuh malam, langit malam meneteskan gerimis kecil ketika kami tiba di Ranukumbolo. Di pinggiran danau yang luas itu telah ramai oleh ribuan pendaki. Ada yang tengah asyik memasak makan malam, mengobrol, atau berteriak-teriak mencari temannya. Atau ada juga yang seperti kami berdua, kebingungan mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda.

Ratusan tenda di Ranukumbolo..
Tak bisa dipungkiri, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang menjadi primadona bagi para pendaki gunung. Selain dari segi keindahan alam yang tiada duanya, kisah tentangnya pun ikut mendongkrak popularitas gunung ini. Sebut saja kisah Soe Hok Gie yang menjadi semacam ‘dewa’ bagi para pecinta alam.  Kisah lain yang tak kalah serunya yakni cerita fiksi 5 cm yang memilih Semeru sebagai setting utama. Tentu, tidaklah bijak jika kita mencerca pendaki yang ke Semeru berkat kisah-kisah tersebut.

Gunung 3000 mdpl di Pulau Jawa

Sebagai pusat pemerintahan, Pulau Jawa menyimpan banyak gunung-gunung yang bisa membuat kita berdecak kagum. Secara total terdapat 12 gunung yang memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl. Semua gunung tersebut terbentang dari ujung barat ke ujung timur pulau dengan populasi terbanyak tersebut. Selain indah, gunung-gunung dengan tinggi sepertiga ketinggian Gunung Everest tersebut sangat menantang untuk didaki.

Kerucut Puncak Arjuno.
1.       Pangrango 3.019 mdpl
Di daftar pertama terdapat gunung Pangrango yang terletak  paling barat dari deretan gunung 3000 m di Jawa. Rute yang jelas dan banyaknya sumber air membuat gunung satu ini menjadi favorit para pendaki, terutama yang berasal dari ibukota. Puncaknya seh biasa aja dengan tugu triangulasi, tetapi di sebelahnya terdapat Lembah Mandalawangi yang banyak ditumbuhi edeilweis. Sedap sekali tentunya.

Tujuh Lokasi yang Asyik Buat Nenda

Bagi pecinta kegiatan di alam bebas khususnya yang berkaitan dengan gunung tentu akrab dengan aktivitas bertenda. Kadang kala kita harus mendirikan tenda di tempat yang terpencil dan seadanya. Tetapi ada juga lokasi bertenda dengan view yang membuat kita betah berlama-lama. Malahan kadang kita memang sengaja datang ke lokasi tersebut untuk sekedar bertenda alih-alih menuju puncak. Berikut adalah lokasi bertenda yang asyik menurutku. Asyik di sini aku definisikan dari segi ketersediaan sumber air, kenyamanan, dan view yang membuat kangen.

Plawangan.

1.    Plawangan
Plawangan sejatinya adalah pos terakhir sebelum mendaki ke puncak Gunung Rinjani. Lokasi yang berada di pinggir tebing ini mempunyai panorama yang sungguh tiada bandingannya. Dari sini kita dapat menikmati indahnya Danau Segara Anak dari ketinggian. Bayangkan saja pada sore hari duduk bersama kawan-kawan dengan segelas kopi panas di tangan, beuh.. nikmat kawan! Sumber air berada tidak jauh dari lokasi tenda yang dapat menampung sampai 30 tenda ini. Ohya, hati-hati akan logistik yang kita bawa karena banyak monyet nakal di sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...