| Bromo dari Plawangan. |
Ketika
hendak melaksanakan niat ini, Chuank, teman pendakiku yang kesehariannya
menjadi loper koran ingin turut serta. Lumayanlah ada teman bercengkrama.
Sedikit cerita, teman satu ini sangat luar biasa. Di tengah upah berjualan
koran yang sedikit, dia menyempatkan menabung untuk dapat naik gunung setahun
sekali. Dan tahun ini dia memilih Semeru. Salut!
Memutari Kawah
Untuk menuju
ke pinggiran kawah, kita harus naik melewati tangga beton. Sesampai di atas,
kita dapat melihat pura di bawah yang tampak mungil. Segara wedi yang tampak
luas menghampar dengan tebing-tebing bekas kaldera raksasa di kejauhan. Indah
sekali. Sementara melihat ke dalam kawah kita akan disuguhi semburan asap putih
yang tak pernah berhenti. Hati-hati ketika berjalan, pinggiran kawah amat
terjal. Jangan sampai terjatuh ke dalam.
| Kawah Bromo. |
Memutari
kawah dengan diameter 800 m ternyata cukup menguras stamina. Di samping jalan
yang sudah sempit dan terjal, kita masih disuguhi dengan tanjakan yang
menantang. Asyik sekali. Bagian yang susah dan berbahaya mungkin ketika
melewati pinggiran kawah yang dilewati asap belerang. Disamping susah melihat
jalan, baunya membuat sesak nafas. Karena itu, sebaiknya sediakan slayer yang
dibasahi air.
Sialnya, air
sudah habis sewaktu naik tadi. “Tenang, ntar
pake air kencing gue aja.”, ujar Chuank dengan enteng. Ohmai, don’t let that happen to me! Untunglah kami bertemu bule
perempuan yang memutari kawah seperti kami, sehingga dapat meminta sedikit air
untuk membasahi slayer. Puji Tuhan!
| Jalur Kawah Bromo. |
Terlena di Plawangan
Jika ingin
menikmati keindahan Bromo tentu saja kita harus ke Plawangan. Sayangnya,
teman-temanku saat itu tidak ada yang berhasrat untuk ke sana. Mereka hendak
mengejar kereta ke Jakarta. Namun, tekad sudah bulat. Sudah kepalang tanggung
sampai sini masak gak ke Plawangan?
Menilik isi dompet yang tinggal selembar lima puluh ribu, tidak mungkin
menikmati kemewahan naik jeep ke
sana. Satu-satunya pilihan yang masuk akal cuma bangun lebih pagi dan berjalan
kaki.
Di samping
tidak tahu berapa kilo jarak yang harus ditempuh, jalannya pun tidak tahu.
Benar-benar nekat. Setelah sekian lama berjalan dan ingin mengejar sunrise,
kutemui bapak-bapak pedagang souvenir yang punya motor, siapa tahu dapat ojek
dengan tarif murah. Tanpa memikirkan bagaimana pulang ke Semarang, kuiyakan
saja harga ojek sebesar dua puluh lima ribu. Dan dompet pun makin mendekati
titik kritis. Ah, lupakan dulu.
| Berkemah di Bromo. |
Pilihan naik
ojek mungkin adalah pilihan yang tepat dan gak
mikir. Ternyata jaraknya cukup jauh dan menanjak. Di tengah jalan banyak
antrian jeep menuju plawangan yang tentu
dapat dengan mudah disalip motor. Akhirnya, pukul lima pagi, sampailah di
puncak impian mengunjungi Bromo: Menyaksikan keindahan Bromo dengan latar
Semeru saat matahari terbit. Keindahannya, ah, bagaimana memindahkannya dengan
kata-kata. Super sekali hingga problematika isi dompet yang jelas tidak cukup
untuk pulang lenyap dari kepala. Aku terlena.
Akibat Nekat: Kehabisan Ongkos di Jalan
Ketika hari
makin siang, ketika dingin sudah mulai pergi ke puncak gunung, isi dompet
menjadi topik utama. Bagaimana aku pulang ke Semarang! Jangankan Semarang, ke
Surabaya pun tak cukup. Memang, ketika kepepet, manusia akan menjadi super
kreatif. Teknik SKSD pun dapat menjadi solusi.
| Sarana Transpotasi di Bromo. |
| Pura Luhur Poten. |
Triknya
gampang, amati dahulu pengunjung yang mempunyai mobil. Lebih bagus jika ada
kaum hawanya di situ, percayalah, mereka lebih mudah bersimpati. Setelah
menetapkan sasaran, ajak ngobrol, jadilah makhluk yang supel, pokoknya Sok Kenal Sok Dekat saja. Dan, bingo! Dapat mobil tebengan sampai ke
Pasuruan. Dari situ lanjut angkot ke Surabaya mampir ke tempat kakak dan minta
ongkos ke Semarang, hehe..
No comments:
Post a Comment