Nekat di Bromo (bagian 2)

Melanjutkan kisah sebelumnya, ketika kami sampai, para pengunjung sudah mulai meninggalkan tempat ini. Kian sepi. Wajar saja, jarum jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Setelah mendapatkan tempat untuk bermalam, berupa tanah lapang yang cukup jauh dari kerumunan pedagang, kaki-kaki ini sudah gatal minta diajak main ke pinggiran kawah. Okelah, kali ini kuturutin apa maumu, memutari kawah Gunung Bromo dalam satu lingkaran sempurna!

Bromo dari Plawangan.
Ketika hendak melaksanakan niat ini, Chuank, teman pendakiku yang kesehariannya menjadi loper koran ingin turut serta. Lumayanlah ada teman bercengkrama. Sedikit cerita, teman satu ini sangat luar biasa. Di tengah upah berjualan koran yang sedikit, dia menyempatkan menabung untuk dapat naik gunung setahun sekali. Dan tahun ini dia memilih Semeru. Salut!

Memutari Kawah
Untuk menuju ke pinggiran kawah, kita harus naik melewati tangga beton. Sesampai di atas, kita dapat melihat pura di bawah yang tampak mungil. Segara wedi yang tampak luas menghampar dengan tebing-tebing bekas kaldera raksasa di kejauhan. Indah sekali. Sementara melihat ke dalam kawah kita akan disuguhi semburan asap putih yang tak pernah berhenti. Hati-hati ketika berjalan, pinggiran kawah amat terjal. Jangan sampai terjatuh ke dalam.

Kawah Bromo.
Memutari kawah dengan diameter 800 m ternyata cukup menguras stamina. Di samping jalan yang sudah sempit dan terjal, kita masih disuguhi dengan tanjakan yang menantang. Asyik sekali. Bagian yang susah dan berbahaya mungkin ketika melewati pinggiran kawah yang dilewati asap belerang. Disamping susah melihat jalan, baunya membuat sesak nafas. Karena itu, sebaiknya sediakan slayer yang dibasahi air.

Sialnya, air sudah habis sewaktu naik tadi. “Tenang, ntar pake air kencing gue aja.”, ujar Chuank dengan enteng. Ohmai, don’t let that happen to me! Untunglah kami bertemu bule perempuan yang memutari kawah seperti kami, sehingga dapat meminta sedikit air untuk membasahi slayer. Puji Tuhan!

Jalur Kawah Bromo.
Terlena di Plawangan
Jika ingin menikmati keindahan Bromo tentu saja kita harus ke Plawangan. Sayangnya, teman-temanku saat itu tidak ada yang berhasrat untuk ke sana. Mereka hendak mengejar kereta ke Jakarta. Namun, tekad sudah bulat. Sudah kepalang tanggung sampai sini masak gak ke Plawangan? Menilik isi dompet yang tinggal selembar lima puluh ribu, tidak mungkin menikmati kemewahan naik jeep ke sana. Satu-satunya pilihan yang masuk akal cuma bangun lebih pagi dan berjalan kaki.

Di samping tidak tahu berapa kilo jarak yang harus ditempuh, jalannya pun tidak tahu. Benar-benar nekat. Setelah sekian lama berjalan dan ingin mengejar sunrise, kutemui bapak-bapak pedagang souvenir yang punya motor, siapa tahu dapat ojek dengan tarif murah. Tanpa memikirkan bagaimana pulang ke Semarang, kuiyakan saja harga ojek sebesar dua puluh lima ribu. Dan dompet pun makin mendekati titik kritis. Ah, lupakan dulu.

Berkemah di Bromo.
Pilihan naik ojek mungkin adalah pilihan yang tepat dan gak mikir. Ternyata jaraknya cukup jauh dan menanjak. Di tengah jalan banyak antrian jeep menuju plawangan yang tentu dapat dengan mudah disalip motor. Akhirnya, pukul lima pagi, sampailah di puncak impian mengunjungi Bromo: Menyaksikan keindahan Bromo dengan latar Semeru saat matahari terbit. Keindahannya, ah, bagaimana memindahkannya dengan kata-kata. Super sekali hingga problematika isi dompet yang jelas tidak cukup untuk pulang lenyap dari kepala. Aku terlena.

Akibat Nekat: Kehabisan Ongkos di Jalan
Ketika hari makin siang, ketika dingin sudah mulai pergi ke puncak gunung, isi dompet menjadi topik utama. Bagaimana aku pulang ke Semarang! Jangankan Semarang, ke Surabaya pun tak cukup. Memang, ketika kepepet, manusia akan menjadi super kreatif. Teknik SKSD pun dapat menjadi solusi.

Sarana Transpotasi di Bromo.
Pura Luhur Poten.
Triknya gampang, amati dahulu pengunjung yang mempunyai mobil. Lebih bagus jika ada kaum hawanya di situ, percayalah, mereka lebih mudah bersimpati. Setelah menetapkan sasaran, ajak ngobrol, jadilah makhluk yang supel, pokoknya Sok Kenal Sok Dekat saja. Dan, bingo! Dapat mobil tebengan sampai ke Pasuruan. Dari situ lanjut angkot ke Surabaya mampir ke tempat kakak dan minta ongkos ke Semarang, hehe..

Mungkin inilah yang dikatakan jika ada niat, pasti ada jalan. Aku sudah membuktikannya. Yang perlu dilakukan cuma mulai melangkah dan biarkan semesta mengatur kisah berikutnya. So, let’s keep on the road fellas. (dm 123013)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...