Di Toili ada Bendung Mentawa

Mendapat tugas dari kantor untuk bekerja di Kabupaten Banggai pastinya tidak kuhabiskan untuk menghadapi lembar laporan dan layar kotak 11 inch setiap hari. Di waktu senggang, selalu kusempatkan untuk menjajal daerah sekitar. Dan pada kesempatan kali ini aku pergi ke arah barat, tepatnya ke Kecamatan Toili, untuk mengunjungi Bendung Mentawa.

Jembatan Gantung Mentawa.
Bendungan yang dibangun pada era Soeharto ini berfungsi sebagai sarana irigasi sawah warga. Membentang  kurang lebih lima puluh meter, Bendungan Mentawa dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung. Dengan lebar hanya satu meter dan terbuat dari kayu, jembatan inilah yang membuatku bersemangat untuk ke sini.

Jembatan Gantung
Jika kawan berangkat dari Luwuk dengan menggunakan mobil, akan membutuhkan sekitar dua jam melewati jalur Trans Sulawesi menuju Toili. Hati-hati, pada beberapa bagian penuh dengan lubang. Sesampai di Toili, kita masih harus melanjutkan perjalanan sekitar setengah jam.

Bendung Mentawa.
Mentawa dari Jembatan Gantung.
Aliran Bendung Mentawa.
Perhatikan jalan baik-baik, “pintu masuk” Bendungan indah ini hanya berupa jalan kecil tak beraspal. Tanpa palang dan petunjuk arah. Sebaiknya sering bertanya jika berpapasan dengan orang lokal. Atau, seperti yang kami lakukan, jadikan orang lokal sebagai GPS, Guide Penduduk Sekitar.

Ketika kami sampai bendungan, matahari sudah persis berada di ubun-ubun. Namun, dengan banyaknya pepohonan di kanan-kiri bendungan menjadikan hawa terasa tidak begitu panas. Langsung saja aku mencoba melintasi jembatan gantungnya. Terbesit rasa kuatir. Saat berada di tengah jembatan, goyangan terasa makin kuat. Jembatan bergoyang ke kanan-kiri sehingga membuat tubuh seperti limbung. Tapi, seru rasanya.

Pemuda Lokal yang Menyebrang dengan Motor.
Di Jembatan.
Saluran Irigasi, "Kolam Renang" Alami.
Mandi di “Kolam Renang” Alami
Di kiri sebelah kiri (jika kita berdiri di jembatan dan menghadap bendungan) terdapat sebuah saluran irigasi yang cukup lebar dan tidak begitu dalam. Untuk memecah arus, dibuatlah dua sekat di tengah sungai irigasi tersebut. Sehingga seperti ada tiga sungai di satu saluran. Nah, di bagian tengah saluran tersebut arus hampir dikatakan tidak ada. Tenang dan jernih sekali, seperti di kolam renang.

Nikmatnya lagi, di kiri kanan saluran irigasi tersebut banyak pepohonan yang cukup tinggi sehingga dapat menghalau terik matahari di siang hari. Langsung saja lepas baju dan hanya bercelana pendek aku masuk ke sungai. Segar sekali.

Makan Ikan Bakar di Pantai Pandanwangi.
Berjalan (doc. Gustaf).
Berenang ke sana kemari dengan segala gaya sampai berenang di dekat dasar “kolam” kulakukan. Mencoba melompat dari pinggiran. Berenang mengikuti arus dan sebaliknya, melawan derasnya aliran sungai. Seru dan nikmat rasanya. Seperti mengenang kenangan saat kecil sewaktu masih suka mandi di sungai. (dm 122213)

1 comment:

  1. Jadi teringat waktu kecil berenang di bendungan mentawa waktu itu sekitar thn 90an, dan kini jadi kenangan. Karna sekarang saya berada di Jawa Tengah.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...