Gede Pangrango? Baca ini Sebelum Ke Sana

Gunung satu ini mungkin adalah gunung yang paling sering didaki. Gunung ini pula mungkin menjadi gunung yang paling ribet (baca : teratur) soal urusan perizinan. Pada bulan-bulan tertentu, gunung ini mungkin menjadi satu-satunya gunung yang memberlakukan penutupan pendakian secara berkala. Mungkin. Gunung yang terletak di Jawa Barat ini bernama Gede-Pangrango.

Perjalanan ke Gede.
Gunung Gede Pangrango sejatinya adalah dua gunung yang terletak di satu kawasan seperti halnya Gunung Arjuna Welirang di Jawa Timur. Gunung Gede memiliki ketinggian puncak 2.958 mdpl sedangkan Puncak Pangrango berada 61 meter lebih tinggi. Walau lebih tinggi, Puncak Pangrango berupa gunung mati berbeda dengan Gede yang terdapat kawah aktif.

Pulau Dua Balantak, Mutiara di Ujung Sulawesi

Ketika pertama kali menginjakan kaki di Luwuk, Sulawesi Tengah, hal yang pertama kulakukan tentu saja googling tempat wisata yang ada di sini. Dari situ, munculah foto dua pulau yang saling berdekatan dengan daratannya yang gundul. Unik sekali. Rasa penasaran menuntun ke pencarian selanjutnya, mencari info di internet yang sangat minim dan juga dari penduduk lokal, yang ternyata juga hampir tidak ada yang tahu. Nama pulau tersebut yakni: Pulau Dua.

Pulau Dua.
Pulau Dua terletak di Kecamatan Balantak, Kabupaten Banggai. Jika dilihat di peta, maka Balantak berada di salah satu Semenanjung Sulawesi. Hal ini tentu membuatku makin penasaran untuk ke sana. Setelah informasi dan sarana untuk menuju ke sana tergambar jelas, baru pada bulan keenam sejak berada di Banggai aku bisa mengobati rasa penasaran akan Pulau Dua.

Spot Narsis di Gede Pangrango

Dewasa ini, dengan makin mudahnya proses mengabadikan segala hal ke dalam bentuk gambar membuat salah satu tujuan pendakian atau perjalanan yakni mengambil foto. Akui saja. Di samping bisa sebagai ajang pamer di berbagai media sosial, foto diri atau bersama rekan-rekan yang keren tentu akan menjadikan sebuah perjalanan makin manis untuk dikenang.
 
Tanjakan Setan.
Pada kesempatan kali ini, aku memilih Gede Pangrango sebagai lokasi  yang yahut untuk menjadi latar belakang foto kita. Gunung kembar Gede dan Pangrango ini memiliki jalur dan ketinggian yang tidak begitu menguras stamina. Foto di gunung yang keren tidak mesti melulu harus di puncak. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango dari Jalur Cibodas misalnya, sayang jika dilewatkan begitu saja.
 

I Forgot my Phone

Sebuah video di youtube yang layak menjadi perenungan bagi kita dewasa ini. Bagi kita generasi dua jempol dan kepala menunduk. Kita lebih mementingkan untuk share segala aktivitas kita sehari-hari ketimbang untuk menikmatinya dengan sepenuh hati.


Lebih memilih untuk menjalin komunikasi yang intens dengan teman atau bahkan orang yang tidak dikenal yang berada jauh dari kita, alih-alih orang di sekitar kita saat itu. Ironis memang. Kita asyik mengajak ketemuan atau kopdar di socmed, tetapi saat sudah bertemu malah sibuk sendiri-sendiri dengan gadget masing-masing.

Menyusur Semenanjung Sulawesi Tengah

Sebagai seseorang yang hobi memacu kendaraan beroda dua, aku sering meluangkan waktu di akhir pekan untuk menyusuri jalanan. Tak terkecuali ketika kebetulan sedang berada di Luwuk. Jalanan yang membentang di sepanjang pesisir salah satu ujung Pulau Sulawesi tentu sayang untuk dilewatkan. Target berkendara kali ini yakni sampai ke Pulau Dua, Balantak, ujung timurnya Sulawesi Tengah.
 
Jalan Menuju Pagimana.
Beruntung, saat berada di sini aku mempunyai seorang sahabat yang juga doyan menyusur jalanan dengan motor roda dua. Lebih mantap lagi, sahabatku ini memilih Kawasaki Ninja sebagai tunggangannya. Jadilah kami seharian menyusur jalanan yang berliku dan menanjak dengan motor besar itu. Rencana kami hari itu yakni menempuh rute dari Batui-Luwuk-Balantak-Bualemo-Salodik-Luwuk-Batui. Belakangan cek di google.maps kami menempuh jarak 428 km. Jarak yang sama seperti Jakarta-Semarang.
 

Curug Tujuh Cilember

Terletak di Bogor, Cilember dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengisi liburan. Lokasi persinya terletak di Perbukitan Hambalang, Desa Jogjogan, Cisarua, kurang lebih satu kilo setelah pintu tol jagorawi, belok kiri setelah Taman Wisata Matahari. Lokasi air terjun ini memang agak masuk ke dalam, namun masih bisa diakses sepeda motor atau mobil. Setelah berjalan kurang lebih satu kilo melewati jalan kampung, kita akan menjumpai gerbang masuk Wana Wisata Curug Cilember.
 
Petunjuk Arah Cilember.
Yang unik dari curug (air terjun) satu ini adalah jumlahnya yang terdiri dari tujuh buah dan dihitung secara terbalik. Tidak jauh dari pintu masuk, kita sudah dapat menjumpai curug ketujuh dan keenam yang terletak bersebelahan. Tinggi kedua curug itu kurang lebih 30 m. Saat weekend, kita kurang dapat menikmat keindahan curug ini karena banyaknya pengunjung.

Malela, Litle Niagara of Java

Orang-orang menjuluki air terjun ini dengan nama Litle Niagara. Memang pantas julukan tersebut. Bagaimana tidak, membentang hampir 50 meter dengan ketinggian hampir 40 meter, kita akan tampak kecil sekali di hadapannya. Memang aku belum pernah berkunjung ke Niagara, hanya melalui fotonya aku mengamini julukan Malela, Litle Niagara Waterfall.

Curug Malela.
Sudah lama kudengar dengung riuh pancuran airnya. Sebagai seseorang yang mengaku waterfall hunter, barang tentu wajib mengunjungi air terjun satu ini. Namun, setelah cukup lama bermukim di tanah Sunda, baru pada tahun keempat aku berkesempatan untuk merasakan riuh airnya dari dekat. Merasakan hembusan angin berair dari air terjun raksasa ini secara langsung. Malela benar-benar membuatku terlena.

Raung dari Sumber Waringin

Gunung yang terkenal dengan Puncak Sejatinya ini mungkin menjadi satu-satunya gunung berapi di Indonesia yang membutuhkan peralatan SRT untuk ke puncak. Sebagai gunung stratovolcano yang masih aktif, gunung satu ini kerap menyemburkan asap dan api. Terletak di ujung paling timur, Puncak Raung seperti menjadi pamungkas pendakian di Pulau Jawa dengan jalur terekstrem.

Ke Puncak Raung. (doc. Ferdix)
Banyak jalur untuk menuju Puncak Raung. Dua jalur yang paling terkenal yakni dari Glenmore untuk menuju Puncak Sejati dan Sumber Waringin yang menjadi ‘jalur nasional’. Jalur lain yang dapat dijadikan alternatif yakni dari Kalibaru dan Luwak. Banyaknya jalur ini mafum terjadi mengingat puncak terdapat di sepanjang kaldera terluas di Pulau Jawa dengan panjang lebih dari dua kilometer.

Kawah Bulan Sabit?

Bukan! Bukan sebuah kawah yang berbentuk bulan sabit. Bukan pula kawah sebuah gunung yang bernama ‘Bulan Sabit’. Nama gunung tempat kawah ini berada yakni Gunung Merapi. Tetapi bukan gunung berapi yang terletak di Jawa Tengah ataupun Sumatra Barat. Lokasi persisnya berda di Kawasan Cagar Alam Kawah Ijen, di ujung timur Pulau Jawa. Uniknya, pada kawahnya terdapat gundukan tanah dengan pepohonan di atasnya yang menyerupai bulan sabit. Persis seperti bulan sabit.

Kawah Bulan Sabit dari Kejauhan.
Aturannya, untuk menuju ke sini kita diharuskan mengantongi izin dari Dinas Perhutani selaku pengelola Cagar Alam. Jalur untuk menuju ke sini pun tidak mudah mengingat tiadanya akses yang jelas. Terdapat dua “rute” untuk menuju ke sini, yang pertama dari Pos Paltuding, Banyuwangi, yang membutuhkan waktu enam hari. Sementara jalur satunya cukup ditempuh dalam waktu 4 jam yakni dari bibir Kawah Ijen, lokasi Blue Fire yang terkenal tersebut.

Tips Nyaman ke Kampung Semawis

Bagi penggemar wisata kuliner, tentu tak lengkap jika belum mengunjungi tempat satu ini jika bertandang ke Semarang. Terletak di kawasan Pecinan, ‘kampung’ yang sebenarnya cuma sederet jalan yang dipenuhi aneka penjual makanan dapat memuaskan selera kita soal makanan. Dari nasi goreng, siomai, sate babi, hingga aneka olahan mie dapat kita jumpai di sini.

Suasana Kampung Semawis.
Dari Simpang Lima, pusat Kota Semarang, ambil Jalan Gajah Mada ke arah Johar. Pada lampu merah ketiga belok kanan untuk menuju ke kawasan Pecinan. Nah, Kampung Semawis terletak persis di depan Gerbang Pecinan. Bagi yang menggunakan angkutan umum mungkin dapat naik angkot ke arah Johar, dari Pasar Johar dapat dilanjut naik ojek atau jalan kaki, Pecinan terletak bersebelahan dengan pasar terbesar se-Semarang ini.

Mencumbu Puncak Prau dari Dieng

Pada tulisan sebelumnya, aku mengupas pendakian Gunung Prau dari sisi utara, yakni dari Kabupaten Kendal. Jika pada jalur Kendal membutuhkan waktu hampir enam jam, dari Dieng kita hanya membutuhkan dua jam saja. Tidak perlu heran, hal ini dikarenakan start pendakian yang sudah tinggi. Di samping itu, pendakian ke puncak dari Dieng makin seru mengingat jalurnya yang langsung menanjak ke atas, menuju padang bunga di Puncak Prau.

Bunga Daisy.
Perjalanan ke Puncak
Untuk menuju Basecamp Prau, start pendakian gunung 2.565 mdpl ini dimulai, kita harus menuju Dieng terlebih dahulu. Dieng paling mudah dicapai dari Wonosobo, Jawa Tengah. Basecamp gunung ini berupa gedung pemerintahan desa yang merangkap basecamp di bagian belakangnya. Gedung ini terletak persis di pinggir jalan Wonosobo-Dieng. Kurang lebih 500 meter dari pintu gerbang Kawasan Wisata Dieng.

Bunda Tuti dan Sampah

Saat turun dari Puncak Prau, ada sesosok pendaki tipikal pendaki ibukota berduit: gear serba deuter dengan stick pole di tangan. Jika biasanya pendaki (termasuk yang menulis) ingin turun secepatnya, ibu satu ini malah dengan sabar memunguti sampah-sampah di sepanjang jalur turun. Dari bungkus permen sampai botol air mineral beliau pungut satu-satu. Ternyata, ibu itu adalah sosok yang selama ini hanya kukenal lewat millist dan facebook.
 
Bunda Tuti Saat Memunguti Sampah.
Bermula dari mailing list aku mengenal sosok satu ini. Kala itu hendak mencari barengan buat ke Kerinci, namun sayang pada akhirnya harus batal terlaksana karena waktu yang tidak sejalan. Dari millist berlanjut ke social media facebook. Kebetulan pula ibu satu ini lumayan doyan bergentanyangan di dunia maya, sehingga komunikasi tidak terputus walau tidak sempat naik gunung bareng. Beliau mengaku sebagai Tuti Jail.

Jalan-jalan ke Banten Lama

Bagi warga ibukota, mengunjungi peninggalan kerajaan Banten ini mungkin dapat menjadi salah satu pilihan untuk melepas penat pada akhir pekan. Terletak di Kota Serang, Banten Lama dapat dicapai dalam waktu 2 jam. Untuk mengunjungi semua peninggalan kerajaan yang pernah berjaya pada abad ke-15 ini pun tidak membutuhkan waktu lama. Berangkat dari Jakarta pagi hari, pada sore harinya kita sudah dapat berada di Jakarta kembali.

Keraton Kaibon di Sore Hari.
Penasaran akan sisa-sisa peninggalan sejarah kerajaan masa lampau tersebut, aku pun menyempatkan diri ke sana. Dengan menggunakan kendaraan roda dua kususuri jalanan Tangerang-Serang di pagi hari. Mengingat tempatnya yang agak berjauhan, mengunjungi Banten Lama akan lebih enak jika menggunakan kendaraan pribadi.

Sekolah Ceria untuk Merapi

Tepat pukul enam pagi kereta kelas bisnis yang membawa kami dari Jakarta mulai memasuki Stasiun Tugu. Hiruk pikuk penumpang mulai terlihat untuk segera meninggalkan gerbong menuju destinasi masing-masing. Di luar, suara takbir menyambut kami. Suasana memang agak lengang, di sana sini hanya terlihat umat muslim dan muslimah berjalan menuju masjid hendak menunaikan Sholat Idul Adha berjamaah di sela-sela tumpukan debu Merapi yang masih sedikit tersisa.

Teman Bermain.
Kedatanganku ke Jogya kali ini tidak untuk berwisata seperti biasanya, hanya ingin menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban warga Jogya sehabis terkena dampak letusan Gunung Merapi. Ini memang kali kedua aku bertandang ke Jogya untuk tujuan kemanusiaan. Pada tahun 2006 sempat sedikit membantu sebagai evakuator di Bantul, kedatangan kali itu hanya berselang satu hari saat bencana terjadi. Saat aku datang, Merapi sudah mulai jinak, semburan awan panas dan debu sudah puas dimuntahkannya. Kali ini, aku berkesempatan menyumbangkan tenaga untuk proses pasca-bencana.

Caving ke Buniayu Bareng Natgeo

Ngetrip satu ini adalah kali pertama jalan-jalan bareng Komunitas National Geographic Indonesia. Berangkat dari obrolan di forum, berangkatlah kami ke Sukabumi. Bukan untuk mendaki gunung atau mengunjungi pantainya yang elok, namun untuk masuk ke dalam perut buminya guna menikmati keindahan alam di bawah tanah. Tujuan kali ini adalah Gua Buniayu.

Di Dalam Gua Horisontal.
Lokasi persis gua ini yakni di Desa Kertangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Dari pusat kota Sukabumi, ambil saja jalur yang ke arah Segaraanten. Perhatikan jalan karena pintu masuk lokasi wisata Gua Buniayu ini tidak begitu jelas. Dari bibir jalan, kita masih harus masuk kurang lebih setengah kilometer untuk sampai di Gua.

[Berusaha] Mancing Ikan di Singkarak

“Itu pegang ujungnya! Kasih batu lagi!”, teriaku keasyikan ke Juan sambil memegang jaring jadi-jadian yang kami bikin. Rencananya, kain jilbab yang disulap jadi jaring ini akan kami letakan di dasar bebatuan dan pas ikan lewat di atasnya, hap! Ikan-ikan bilis itu siap dimasak. Untuk itu dibutuhkan batu sebagi pemberat sedangkan aku akan berjaga memegang tali yang mengikat keempat ujung kain jaring tersebut. Harapannya jaring itu bisa sekaligus menangkap ikan-ikan kecil yang berseliweran di Danau Singkarak.

Menjala Ikan.
Percobaan-percobaan yang Gagal
Pagi itu kami bertiga memang sedang asyik menangkap ikan danau untuk pelengkap makan siang nanti. Di penghujung travelling ke Kerinci, bekal pun semakin menipis hingga hanya bersisa mie instan dan bumbu dapur. Oleh karena itu, ketika melihat banyak ikan-ikan kecil berenang di pinggir danau langsung saja kami merasa terpanggil untuk melakukan penangkapan agar saat siang nanti mie instan tidak sendirian masuk ke perut kami.

Museum Taman Prasasti, Jalan-jalan ke Kuburan

Entah karena Warga Jakarta kekurangan tempat berwisata atau karena keunikan batu-batu nisannya, Taman Prasasti selalu ramai pengunjung. Walau disebut museum, namun sebenarnya tempat ini adalah bekas pemakaman warga asing sewaktu jaman penjajahan. Maka tak heran jika bentuk nisan yang ada di sini pun sesuai kultur budaya jenazah yang dimakamkan kala itu: Batu nisan dengan disertai patung atau bentuk kubah yang terkesan gotik.

Tulisan Nisan.
Terletak di jantung ibukota, Museum Taman Prasasti dapat diakses dengan mudah. Lokasi persisnya berada di Jalan Tanah Abang No 1 Jakarta Pusat. Biaya retribusi untuk masuk ke dalam hanya lima ribu rupiah, namun jika ke sana dengan tujuan untuk hunting foto, akan dikenakan charge tersendiri.

20 Lokasi Berkemah yang Harus Dikunjungi Sebelum Mati

Tulisan dan foto dalam post kali ini bukanlah hasil karyaku. Di sini aku cuma meposting ulang apa yang sudah kubaca dari internet (banyak sumber yang memuat isi yang sama, entah mana yang asli) dan kemudian menerjemahkan ke dalam Bahasa. Tempat-tempat yang diulas sungguh menawan hati dan sayang rasanya kalau tidak dishare, siapa tahu ada dari pembaca yang berencana ke sana dan kita bisa sharing cost, syukur-syukur dibayarin, hehe.. 

So, here we go!

1. Arches National Park, Utah

 


Menyusur Kuala ke Air Jatuh

Hampir empat bulan hanya bergumul dengan laporan, laporan, dan laporan selama tujuh hari seminggu membuat kepala lama-lama terasa panas juga. Karena itu, walau badan sedang tidak fit, kupaksakan mengiyakan ajakan teman untuk berburu air jatuh, sebutan Warga Luwuk untuk air terjun. Lokasi air jatuh yang dimaksud ternyata tidak begitu jauh dari kantor, pintu masuknya cuma sepuluh menit dengan kendaraan bermotor. Dekat!

Air Jatuh.
Ternyata, warga sekitar pun jarang yang mengetahui adanya air jatuh ini. Warga yang tahu pun hanya menyebutnya dengan air jatuh, tanpa nama. Info ke sana kami dapat dari warga lokal yang kebetulan waktu kecil pernah kesana. Secara wilayah, air jatuh ini masuk ke Desa Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Singkat cerita, pulang kerja lebih awal dari biasanya, hanya berdua dengan teman yang juga buta arah, kami menuju ke sana.

Gedong Songo, a Mystical Temple

I always love to see an old temple with its own story behind of hundred years history. So do with Gedong Songo, a Hindi temple built by Syailendra Dynasty.  Locate in a height of 1.200 asl in Ungaran Mountain, Gedong Songo had a fantastic view. An old temples, fog, and mountains made Gedong Songo sprouded its mystical aurora. The felt like I were in heaven where the immortal gods stayed.

Snack and Drink Seller.
Gedong Songo come from two words, Gedong which means building and Songo means nine. So, basically it means ‘nine bulding’. When in the first time found by Raffles its only seven, so the name was ‘Gedong Pitoe’, pitoe means seven. Later, the two broken temple found and the name changed like it’s today.

Latihan [yang] Rutin Yuk.

Untuk membuat sebilah katana (pedang panjang) yang berkualitas tinggi, sepotong besi harus ditempa berulang-ulang. Katana yang berkualitas tentu dapat melaksanakan fungsinya dengan baik bagi seorang samurai. Namun tidak berhenti di situ saja, katana setajam apapun tetap dapat tumpul bahkan berkarat jika hanya teronggok tanpa perawatan. Sama halnya dengan seorang first aider, latihan yang menjadikan seorang first aider berkualitas, dan terus berlatihlah yang akan menjaga kualitasnya.

Latihan Rutin.
Ilmu pertolongan pertama adalah ilmu ketrampilan. Seperti halnya seorang samurai yang terus berlatih mengayunkan tebasan pedang hingga ribuan kali ke batang kayu hanya untuk mendapatkan satu tebasan yang sempurna.

Sumbing, Sumbing, dan Sumbing

Sumbing bagiku selalu berkaitan dengan angka tiga. Tinggi gunung ini tiga ribu tiga ratus. Gunung ini adalah salah satu dari triple S yang terkenal itu. Terdapat tiga rute pendakian yang umum digunakan oleh pendaki. Tiga kali pulalah aku mencoba menaklukan puncaknya, dan pada paruh ketigalah aku mencapai puncak dengan sukses hingga turun ke dasar kawah. Dialah Gunung Sumbing, gunung pada pendakianku yang ketiga.

Sindoro dari Sumbing.
Percobaan Pertama
Ingin menjajaki puncak 3.371 mdpl, langsung saja kuiyakan ajakan teman adiku untuk pergi ke Sumbing. Rute yang dipilih pun bukan jalur utama Garung, tetapi melalui Dukuh Kepencit, Parakan, Temanggung. Singkat cerita, kami gagal mencapai puncak dan aku hampir saja mati saat hendak turun.

Moto-Crazy-Biking Trip to Sawarna

Jikalau seseorang bisa melewatkan seharian di Sawarna dari sebelum matahari terbit sampai tenggelam di hari minggu, sementara sabtu dan senin masuk kerja seperti biasa, hal tersebut tentu lumrah jika dia tinggal di daerah Lebak atau Pelabuhan Ratu. Tetapi lain halnya jika yang bersangkutan berdomisili di Bogor. Mengingat Bogor-Lebak sekitar 8 jam berkendara, tentu orang itu berkendara di malam hari dan sampai dini hari nonstop. Hmm.. kurang kerjaan atau nekat itu orang? Dan itulah yang kami berdua lakukan.

Pantai Tanjung Layar.
Tambahan, rute menuju Sawarna pun kami tidak tahu. Dan untuk lebih menambah ‘kekerenan’ atau ‘kebegoan’ kami, sepertinya yang terakhir lebih tepat. Lampu jauh Blue, sepeda motor yang kami tunggangi mati dan Lei, temanku yang doyan banget ngopi itu, menderita glukoma alias kalau malam hari penglihatannya antara ada dan tiada. Perlu diketahui juga, rute Pelabuhan Ratu-Sawarna pada malam hari itu horror nian. Jalan berbukit yang sepi di tengah hutan tanpa ada orang yang bisa ditanyai arah. Mantap!

Halimun Trip

Kata orang di Halimun itu aksesnya susah, kudu memakai jeep four wheels. Kata orang di Halimun kita bisa berjalan di atas kanopi hutan dengan jembatan gantung. Kata orang di Halimun kita bisa melihat jamur yang bisa berpendar di malam hari macam di film Avatar. Well, that what people said and today I’ll see the truth. Hari ini akhirnya kaki ini akan merasakan rasa Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Perkebunan Teh Nirmala.
Dengan memanfaatkan waktu di akhir pekan, berangkatlah kami berdua menaiki Bluemerry dari Bogor. Secara geografis TNGHS terletak di tiga kabupaten, yakni Sukabumi, Bogor, dan Lebak dengan luas areal 113.357 hektare. Dari Bogor perjalanan membutuhkan waktu empat jam dengan rute Bogor-Sukabumi-Cibadak. Kami memasuki Taman Nasional ini dari sisi timur, sedikit hal yang kami sesali kemudian, hehe..

Karawang dalam Sehari

“Apa seh tempat menarik di Karawang?”, itulah pikiran pertama kali ketika menjejak salah satu lumbung padi Pulau Jawa ini. Sekilas jika melewati Karawang via Jalur Pantura yang ada cuma kota kecil yang gersang dengan pemandangan sawah di kanan-kiri. Paling kita akan menghubungkan kota satu ini dengan ‘Goyang Karawang’ yang sempat heboh itu. namun, setelah tanya kiri-kanan dan simbah, berikut tempat wisata yang dapat kita kunjungi dalam sehari.

Curug Cigentis.
1.    Curug Cigentis
Di sebelah selatan dari pusat kota, kurang lebih satu jam perjalanan naik mobil, terdapat kawasan wisata yang terkenal dengan nama Curug Cigentis. Sebenarnya di sana tidak hanya Curug Cigentis saja, terdapat beberapa curug lain yang tidak kalah bagus dari Cigentis. Walau, tentu saja tidak sebesar air terjun utama.

Melewati Malam di Little Tokyo

Dari kecil aku suka sekali membaca manga dan menonton serial dorama di tv swasta. Dari situ gambaran Kota Tokyo terpatri kuat di ingatan. Papan iklan bertuliskan huruf hiragana atau katakana, bahkan tak jarang kanji. Tempat makan dan pub yang berjajar sepanjang gang meramaikan suasana malam. Bagi yang belum pernah ke Tokyo, kita pun dapat menikmati secuil nuansa tersebut di sini, Indonesia. Tidak percaya? Datang saja ke Jaksel, tepatnya di Blok M atau dikenal juga dengan julukan Little Tokyo.

Ruffy dan Shank Berpose Bersama.
Pada dasarnya, Blok M adalah kawasan perniagaan dan juga terminal bus dalam kota. Di areal yang kecil ini, mall dan terminal terpadu secara apik. Sewaktu pertama kesini, sempat saya terkaget-kaget ketika mengetahui fakta bahwa di bawah terminal bus terdapat sebuah mall. Sebuah hal yang baru bagi saya kala itu, bagaimana sampai bisa terbesit ide untuk membangun mall di bawah terminal?

Botanical Garden of Buitenzorg

Don’t wory. That is the meaning of the word Buitenzorg which believed as the root of the name of Bogor. As one of the satellite city of Jakarta, Bogor has the largest and most complete botanical garden in Indonesia. On an area of 87 hectares there are plants and trees which the quantity almost 15.000 specimens. Right now, this botanical garden known as Kebun Raya Bogor.

Bogor Botanical Garden.
My first visit in this garden was in 2011, and since then when I have free time in weekend I’d love to spend an afternoon in here. Just lay down, ate some snack and read novel. The air, trees, and small lake inside here made me felt so comfort. Loved to spend all day in here.

Gunung Kecil Bernama Ungaran

Bagi kebanyakan orang, pasti mengaitkan Semarang dengan banjir dan pesisir. Memang kota kecil ini pernah terkenal akan kanal-kanalnya yang indah ketika VOC masih Berjaya. Namun, pada pagi hari ketika cuaca cerah tanpa kabut, kita dapat melihat satu gunung kecil di arah selatan. Berdiri tampak malu-malu terpisah dari deretan pegunungan di tengah Pulau Jawa. Gunung kecil ini bernama Ungaran.
 
Gunung Ungaran.
Bagi warga Semarang dan sekitarnya, Ungaran sudah menjadi seperti Gunung Gede Pangrango bagi warga Jakarta. Lokasi yang dekat dan tipikal gunung yang landai menjadi pemicu bagi warga Semarang untuk menjajal puncak 2.050 mdpl ini. Ada tiga jalur untuk menggapai puncak Ungaran, Pasar Jimbaran dan Candi Gedong Songo yang berada di Kabupaten Semarang dan Pabrik Teh Medini yang berlokasi di Kabupaten Kendal. Dari ketiga jalur tersebut, hanya Gedong Songo yang langsung ke Puncak.

My First Solo Travelling: Gua Pawon

Back in 2010, I remembered my first solo travelling. Actually it was a spontaneous trip after I saw an awesome picture in KAA Museum. In one of its alley, the museum displayed and explained about the Bandung in pre-history era. It said Bandung was originally a big lake and its ancestors lived in a cave near the lake. Right now, people call that cave: Gua Pawon.

Stone Garden.
Gua Pawon (gua means cave) said exist from 9000 years ago. Archeologist already did an excavation in here and found many man bones, shards of ceramic, pottery, jewelry made from leftover animal teeth and tooth fish, and mollusks that indicated this cave was a place to live. Because of its histories, this old cave was protected under Archeological and Historical Department of West Java Province as historical heritage.

Mengecup Maut di Merbabu

Pendakian gunung kali ini memang kulakukan spontan saja. Di kala ada dua hari kosong saat di Semarang, tiba-tiba ingin melepas kangen ke Gunung Merbabu. Terakhir ke sini saat aku masih semester satu di bangku kuliah. Sudah lama sekali. Berbekal peralatan kemping yang selalu siap tersedia dan seorang teman yang bersedia menemani, jadilah kaki kembali menapakan kaki di gunung 3.145 mdpl ini. Dan pendakian inilah pertama kalinya aku hampir mengecap maut.

Jalur Pendakian Merbabu.
Karena jarak yang dekat dari Semarang, kami berdua memutuskan untuk menggunakan sepeda motor. Adapun rute yang kami pilih yakni Selo, mengingat jarak tempuh yang lebih pendek ketimbang rute yang lain. Selo yang berada di Boyolali dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Semarang. Logistik pun dapat kita dapatkan di Pasar Cepogo atau Selo. Kalau ingin membawa logistik ayam utuh yang siap bakar atau goreng, mampir ke Cepogo. Dijamin pendakian makin terasa nikmat, hehe…

Semalam di Kuta Bali

Kurang lebih pukul sebelas malam ketika Bluemerry, teman perjalanan beroda duaku yang setia, tiba di Kota Denpasar. Jalanan yang lengang mmbuat diriku memacu Blue lebih cepat dari biasanya. Alhasil, aku sempat terpisah dari dua teman yang dibelakang. Untungnya kita sudah sepakat untuk bermalam di Pantai Kuta, bukan di hostel yang bertebaran di sana, tetapi di pantainya secara harfiah.

Hard Rock Cafe.
Berbekal semangat dan perlengkapan kemping, kami tamasya ke Bali. Rencanya untuk melewatkan malam pertama di Bali, kami akan bertenda di Pantai Kuta. Entah diperbolehkan atau tidak. Selepas perjalanan panjang dari Semarang, rasa lelah membuatku malas mencari kedua teman yang terpisah. Kutunggu di pantai saja, pikirku. Segera sistem navigasi di smartphone kuaktifkan untuk memandu ke sana.

Kilo Lima, Pantai Kota Berterumbu Karang

Pernahkah kawan mendengar sebuah kota yang bernama Luwuk, sebuah kota kecil yang terletak di ujung salah satu gugusan Pulau Sulawesi? Kota ini memang bukan salah satu destinasi favorit, pun tidak banyak tempat wisata yang ada di sini. Namun, mungkin berkat keterasingannya , kota ini mempunyai sebuah pantai kecil nan cantik dengan terumbu karang yang bisa kita saksikan tanpa perlu repot-repot dengan perahu dan alat snorkeling, cukup dengan pelampung ban bekas.

Kilo Lima.
Orang Luwuk menyebut pantai itu dengan nama Kilo Lima. Cukup berkendara kurang lebih lima menit dari pusat kota, kita sudah dapat menikmati keindahan pantai ini. Pantainya pun terletak persis di sepanjang jalan utama Luwuk-Toili. Di sepanjang bibir pantai banyak warung berjualan pisang goreng, jagung rebus, dan kelapa muda.

[Catper] Rinjani

Matahari sudah mulai keluar dari peraduan ketika akhirnya aku berhasil menginjakan kaki di titik 3.767 mdpl yang amat terkenal ini. Hampir enam jam perjalanan kala pagi buta kutempuh dari pos terakhir. Jalur yang terjal berpasir, angin kencang, dan dingin menguji baik mental maupun fisik. Rinjani yang cuma ada di alam mimpiku selama tiga tahun terakhir ini akhirnya terwujud ke alam nyata pukul tujuh pagi yang cerah itu.
 
Danau Segara Anak.
Kesempatan untuk menginjakan kaki di Gunung Rinjani datang pada libur lebaran tahun 2010 setelah sempat dua tahun tertunda. Hanya berdua dari Jakarta kami menuju Lombok melalui jalur udara untuk mempersingkat waktu. Sebenarnya kalau hanya menuju puncak, cukup membutuhkan waktu dua hari satu malam (2D1N). Akan tetapi, jauh-jauh dari Jakarta rugi kalau cuma dua hari di Rinjani.

Jalan-jalan ke Loakan Buku Bekas

Sebagai orang yang ‘kadang’ mengaku dan dijuluki kutu buku, aku senang menyempatkan untuk mengunjungi loakan buku bekas yang selalu ada di kota-kota besar. Walau sekarang ini buku bacaan sangat mudah untuk didapatkan baik di toko buku besar maupun secara online, hunting buku di loakan bagiku tetap memiliki sensasi yang berbeda. Berhasil mendapatkan buku bagus dan langka yang original tentu menjadi suatu kebanggan tersendiri.

Pemandangan di Shopping.
Loakan buku yang paling terkenal mungkin adalah Kwitang yang sekarang sudah tidak ada lagi. Popularitas Kwitang makin terangkat berkat sebuah film remaja Ada Apa dengan Cinta garapan Rudy Soedjarwo. Gara-gara film ini pula, ketika pertama kali ke Jakarta dahulu, tempat pertama yang ingin kudatangi adalah loakan buku Kwitang, and I did!

Jalan-jalan Narsis di Sunda Kelapa

Untuk sekedar menikmati akhir pekan di Jakarta yang murah meriah, Sunda Kelapa tempo doeloe adalah pilihan yang tepat. Bekas pusat pemerintahan jaman Hindia Belanda ini sekarang sudah bertransformasi menjadi kawasan wisata yang menarik untuk dikunjungi. Jalan santai bersama teman-teman, refreshing menikmati suasana, atau sekedar hendak berfoto narsis ramai-ramai dapat dilakukan di kawasan Kota Tua.

Taman Fathahilah
Banyak spot-spot menarik yang bisa dijadikan latar untuk pose narsis kita. Dengan detail bangunan dan ornament yang khas abad pertengahan tentu akan membuat foto bergaya oldies kita lebih keren lagi. Pada akhir pekan suasana akan ramai sekali. Ondel-ondel, band jalanan, dan pantomin akan menghibur pengunjung.

Semeru Semarak

Saat itu pukul tujuh malam, langit malam meneteskan gerimis kecil ketika kami tiba di Ranukumbolo. Di pinggiran danau yang luas itu telah ramai oleh ribuan pendaki. Ada yang tengah asyik memasak makan malam, mengobrol, atau berteriak-teriak mencari temannya. Atau ada juga yang seperti kami berdua, kebingungan mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda.

Ratusan tenda di Ranukumbolo..
Tak bisa dipungkiri, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang menjadi primadona bagi para pendaki gunung. Selain dari segi keindahan alam yang tiada duanya, kisah tentangnya pun ikut mendongkrak popularitas gunung ini. Sebut saja kisah Soe Hok Gie yang menjadi semacam ‘dewa’ bagi para pecinta alam.  Kisah lain yang tak kalah serunya yakni cerita fiksi 5 cm yang memilih Semeru sebagai setting utama. Tentu, tidaklah bijak jika kita mencerca pendaki yang ke Semeru berkat kisah-kisah tersebut.

Gunung 3000 mdpl di Pulau Jawa

Sebagai pusat pemerintahan, Pulau Jawa menyimpan banyak gunung-gunung yang bisa membuat kita berdecak kagum. Secara total terdapat 12 gunung yang memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl. Semua gunung tersebut terbentang dari ujung barat ke ujung timur pulau dengan populasi terbanyak tersebut. Selain indah, gunung-gunung dengan tinggi sepertiga ketinggian Gunung Everest tersebut sangat menantang untuk didaki.

Kerucut Puncak Arjuno.
1.       Pangrango 3.019 mdpl
Di daftar pertama terdapat gunung Pangrango yang terletak  paling barat dari deretan gunung 3000 m di Jawa. Rute yang jelas dan banyaknya sumber air membuat gunung satu ini menjadi favorit para pendaki, terutama yang berasal dari ibukota. Puncaknya seh biasa aja dengan tugu triangulasi, tetapi di sebelahnya terdapat Lembah Mandalawangi yang banyak ditumbuhi edeilweis. Sedap sekali tentunya.

Semarang dalam Sehari

Ramai tetapi tidak sampai macet seperti di Jakarta. Nuansa Jawa yang kental walau tidak seperti Jogya. Kota yang kecil tetapi tidak kalah dengan kota besar lainnya. Penduduk yang heterogen hidup rukun bersama. Itulah beberapa gambaran singkat tentang Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah. Kota yang terletak di pesisir pantai utara Jawa ini memiliki banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Jika kawan sempat singgah selama sehari di Kota Semarang, berikut adalah beberapa alternatif tempat-tempat yang bisa dikunjungi.

Sam Po Kong.
Selamat Pagi Semarang
Untuk mengawali wisata sehari di Semarang kita mempunyai banyak pilihan tempat, salah satunya adalah Kawasan Simpang Lima. Apalagi jika kawan mengunjungi Semarang di hari minggu, Car Free Day di Simpang Lima tentu sayang untuk dilewatkan. Simpang Lima adalah pusat kegiatan Kota Lumpia ini.

Jomblang dan Keegoisan “mapala”

Jogya, selain terkenal akan wisata budaya juga menyimpan banyak keindahan alam yang masih terjaga. Sebut saja Gunung Kidul yang banyak memiliki pantai-pantai yang sedap dipandang mata. Selain pantai, sebagai daerah karst, Gunung Kidul tentu banyak menyimpan gua yang menanti untuk dijelajahi. Pada liburan kali ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi Gua Jomblang. Gua vertikal ini sangat terkenal akan fenomena alamnya, yakni ray of light.

Ray of Light.
Persisnya, Gua Jomblang terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Jalan menuju kesana cukup mulus, baru dari Desa Pancarejo ke lokasi, aspal akan digantikan jalan desa yang berbatu. Pukul sebelas malam, kami berenam meninggalkan Terminal Jombor dengan sepeda motor. Mengingat dari kami tidak ada yang tahu jalan, perjalanan menuju kesana adalah suatu pertualangan tersendiri. Dari ban bocor di malam buta sampai kunci motor hilang di jalan menjadi penghias malam itu.

Trip Paling Mengenaskan

Pernahkah kawan mengalami sebuah trip yang penuh dengan kejadian yang tidak mengenakan alias apes? Maksudku kesialan yang terus-menerus terjadi sehingga seperti hendak membatalkan perjalanan kita. Kalau ya, berarti kita senasib. Kalaupun tidak, silahkan simak cerita berikut, kisah perjuangan untuk menuju Ciwidey, Bandung.

Kawah Putih.
“Lei, ke Bandung modal patungan 50 ribu naik motor cukup ga?”
“Cukup!”
“Sabtu-minggu ini ke Bandung yuk!”
Ayukkk!!!!”

Blue Fire dan Pesona Kawah Ijen

“Miaaww…”, terdengar suara tiga anak kucing yang tengah asyik bermain-main di depan warung Pak Im. Walau udara semakin dingin dimana sore akan berganti malam, mereka tampak makin asyik berlarian kesana kemari. Putih, Belang, dan Hutan adalah tiga anak kucing liar kesayangan Pak Im. Kecerian mereka bermain petang itu aku rasakan seperti sebuah tarian penyambutan bagiku di Kawah Ijen.

Pesona Kawah Ijen.
Blue Fire
Sejak tahun 2009, tutur Pak Taufiq yang berprofesi sebagai pemandu lokal, Kawah Ijen mulai terkenal ke seluruh dunia akan pesona api birunya. Turis-turis asing berdatangan kesini cuma hendak menyaksikan blue fire yang berada di Kabupaten Banyuwangi ini. Kawasan Cagar Alam ini sebenarnya sudah dua tahun ditutup karena berstatus awas sehingga tidak ada aktivitas penjualan tiket masuk. Meski begitu, jumlah kunjungan ke sini semakin ramai saja dari tahun ke tahun.

Dempo yang Garang

Sebenarnya pendakian ke Gunung Dempo adalah plan B dari rencana awal hendak mendaki Gunung Kerinci. Sebuah pendakian dadakan ketika tiba-tiba mendapat libur seminggu sebelum kerja untuk pertama kalinya. Inilah pertama kalinya aku melakukan pendakian di luar Pulau Jawa. Dan Dempo pulalah gunung pertama yang membuatku drop sampai ke titik ingin menyerah menuju puncak.

Kota Pagaralam.
Cerita ini bermula dari kejadian yang kurang mengenakan di Rajabasa dan terbatasnya liburan kala itu. Sampai di Lampung ketika hari sudah larut, kami berdua langsung mencari bus ke arah Padang, tujuan kami adalah Muara Bungo untuk dilanjut ke Sungai Penuh. Dijanjikan sampai di Muara Bungo esok siang, langsung kami naik bus ekonomi yang entah apa namanya itu. Ternyata esoknya, pukul satu siang saja bus baru sampai di Lahat, Palembang, padahal jarak ke Mura Bungo masih dua pertiga perjalanan lagi. Ah sial, turunlah kami di Lahat dan putar arah ke Pagaralam untuk mendaki Gunung Dempo.

Berlebaran di Batui

Batui adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dari Luwuk, Ibukota Banggai, masih harus menempuh perjalanan darat melewati pesisir pantai kurang lebih satu jam dengan kendaraan roda empat. Dan pada lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, aku tidak merayakannya di kampung halaman. Untuk kali ini gema takbir kudengar dari Batui, kampung pesisir di Celebes.

Nelayan Batui.
Saat di tempat baru tentu kita merasa asing dan secara otomatis membandingkan dengan tradisi dan budaya tempat asal kita. Tak terkecuali saat di Batui aku merasakan shock culture tersebut. Banyak hal baru yang kualami di sini dan tentu menarik untuk diceritakan. Dari makanan, bahasa setempat, dan adat istiadat.

Tujuh Lokasi yang Asyik Buat Nenda

Bagi pecinta kegiatan di alam bebas khususnya yang berkaitan dengan gunung tentu akrab dengan aktivitas bertenda. Kadang kala kita harus mendirikan tenda di tempat yang terpencil dan seadanya. Tetapi ada juga lokasi bertenda dengan view yang membuat kita betah berlama-lama. Malahan kadang kita memang sengaja datang ke lokasi tersebut untuk sekedar bertenda alih-alih menuju puncak. Berikut adalah lokasi bertenda yang asyik menurutku. Asyik di sini aku definisikan dari segi ketersediaan sumber air, kenyamanan, dan view yang membuat kangen.

Plawangan.

1.    Plawangan
Plawangan sejatinya adalah pos terakhir sebelum mendaki ke puncak Gunung Rinjani. Lokasi yang berada di pinggir tebing ini mempunyai panorama yang sungguh tiada bandingannya. Dari sini kita dapat menikmati indahnya Danau Segara Anak dari ketinggian. Bayangkan saja pada sore hari duduk bersama kawan-kawan dengan segelas kopi panas di tangan, beuh.. nikmat kawan! Sumber air berada tidak jauh dari lokasi tenda yang dapat menampung sampai 30 tenda ini. Ohya, hati-hati akan logistik yang kita bawa karena banyak monyet nakal di sini.

Kota Lama, Little Netherland of Java

Sore itu, aku duduk berdua dengan kekasih di depan Gereja Blenduk. Di kanan-kiri pun banyak muda mudi yang asyik ngobrol dan berfoto. Dari yang hanya kamera handphone sampai DSLR dengan lensa yang besar-besar. Memang, kawasan Kota Lama di Semarang adalah salah satu lokasi yang digemari untuk melepas penat. Dengan detail bangunan dan ornamet yang khas benua Eropa serta banyak terdapat kanal-kanal, maka tak heran jika Kota Lama mendapat sebutan Little Netherland.

Pabrik Rokok Praoe Lajar.
Kota-kota pusat pemerintahan pada jaman kolonial dahulu memang kerap meninggalkan bangunan-bangunan yang megah dan sampai sekarang masih berdiri kokoh. Sebut saja Kota Tua di Jakarta, Braga di Bandung, dan Semarang pun tak terkecuali dengan adanya Kota Lama. Kawasan ini terletak dekat dengan jantung Kota Semarang saat ini, tepatnya di sebelah Pasar Johar Semarang.

Baluran, Secuil Afrika di Pulau Jawa

Tiba-tiba saja puluhan monyet berlarian dari Pondokan menuju hutan seperti hendak tawuran. Meloncat dan berteriak-teriak entah ke siapa. Sang pejantan yang badannya paling besar berlari paling depan diikuti monyet-monyet yang lain. Monyet betina dengan anak di gendongannya pun tak kalah cepat berlari mengekor. Entah apa gerangan yang membuat monyet-monyet ini berlarian, aku cuma bisa berdiri menatap dari Padang Savana Taman Nasional Baluran.

Savana Bekol.
Di ujung lain terlihat rusa-rusa sedang asyik merumput, ada pula yang tengah berteduh di bawah rindangnya pohon. Rusa dengan tanduk yang besar-besar itu tanpak asyik dengan dengan aktivitasnya sendiri, tak mempedulikan kehadiran kami di kejauhan. Di sini juga banyak terdapat berbagai jenis burung termasuk merak, sempat aku melihat beberapa merak yang sedang melintas. Sayangnya aku tidak sempat menyaksikan maskot Baluran, banteng liar, katanya baru pada sore hari mereka muncul.

Sisi Lain Pantai G-Land

Tiga jejaka berbadan tegak dan dua dara berparas cantik dibalut bikini hitam berjalan melewati saya. Dengan tubuh tinggi dan rambut kemerahan khas ras kaukasoid, kelima pemuda tersebut  menenteng papan selancar yang besar dengan entengnya. Di sudut lain sepasang kekasih yang saya tebak berasal dari Australia jika mendengar logatnya, asyik duduk berdua mengobrol di pinggir pantai. Saya yang berpostur pendek rambut hitam khas ras Melayu ini serasa menjadi orang asing saja, padahal saat itu saya sedang berdiri di tanah Jawa, tepatnya di Pantai G-Land, Taman Nasional Alas Purwo.

Orang Ndarung.
 Seorang teman pernah bilang kalau ombak di G-Land itu tertinggi nomer dua setelah Hawai, entah benar atau tidak yang jelas mayoritas wisatawan kesini memang untuk berselancar, berburu ombak setinggi 6 meter. Karena tidak bisa dan tidak berminat berselancar kala itu, saya memutuskan menyusuri pantai sampai kaki lelah melangkah.

Dieng and Lonely Planet

About a year ago I had a trip to Dieng, a fantastic place where the Gods stayed. Actually this was my second trip to Dieng. The first one was an accidentall-alternative trip after failed to climb Sindoro Mountain because of heavy storm. And the second one caused by a book named Lonely Planet.

Dieng.
A traveler friend gave this book when he would leave Indonesia to US. Lucky me cause this book quite expensive for me at that time. Anyway, I opened the book and when I read about Dieng Plateu I realized there many places we could visit. From my frist trip I thought Dieng only Sikidang Crater and Telaga Warna. Damn! I must go to this place again.

Mengunjungi Danau Vulkanik Tertinggi se-Asia Tenggara

Kawan, tahukah kalian kalau danau vulkanik tertinggi se Asia Tenggara berada di Indonesia? Ya, lokasi persisnya berada di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Dengan ketinggiannya, tak heran danau indah ini dikelilingi pegunungan, tepatnya ada tujuh gunung. Oleh karena itu mendapat nama Danau Gunung Tujuh. Danau ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga seringkali menjadi lokasi yang sempurna untuk bersantai sehabis trekking ke Puncak Kerinci.

Sunrise di Danau Gunung Tujuh.
Danau vulkanik yang berada di ketinggian ini memang asyik banget untuk kemping. Air danau yang jernih hingga sampai dasar dan pepohonan yang teduh membuat makin betah berkemah di sana. Saat sore atau pagi hari seringkali tupai-tupai yang usil menghampiri mencari remah-remah roti. Burung pun tak malu-malu berkicau di dekat tenda. Kepiting dan ikan, walau kecil-kecil, menanti untuk dipancing.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...