| Perjalanan ke Gede. |
Gede Pangrango? Baca ini Sebelum Ke Sana
Gunung satu
ini mungkin adalah gunung yang paling sering didaki. Gunung ini pula mungkin
menjadi gunung yang paling ribet (baca : teratur) soal urusan perizinan. Pada
bulan-bulan tertentu, gunung ini mungkin menjadi satu-satunya gunung yang
memberlakukan penutupan pendakian secara berkala. Mungkin. Gunung yang terletak
di Jawa Barat ini bernama Gede-Pangrango.
Gunung Gede
Pangrango sejatinya adalah dua gunung yang terletak di satu kawasan seperti
halnya Gunung Arjuna Welirang di Jawa Timur. Gunung Gede memiliki ketinggian
puncak 2.958 mdpl sedangkan Puncak Pangrango berada 61 meter lebih tinggi. Walau
lebih tinggi, Puncak Pangrango berupa gunung mati berbeda dengan Gede yang
terdapat kawah aktif.
Pulau Dua Balantak, Mutiara di Ujung Sulawesi
Ketika
pertama kali menginjakan kaki di Luwuk, Sulawesi Tengah, hal yang pertama
kulakukan tentu saja googling tempat
wisata yang ada di sini. Dari situ, munculah foto dua pulau yang saling
berdekatan dengan daratannya yang gundul. Unik sekali. Rasa penasaran menuntun
ke pencarian selanjutnya, mencari info di internet yang sangat minim dan juga
dari penduduk lokal, yang ternyata juga hampir tidak ada yang tahu. Nama pulau
tersebut yakni: Pulau Dua.
| Pulau Dua. |
Pulau Dua terletak
di Kecamatan Balantak, Kabupaten Banggai. Jika dilihat di peta, maka Balantak berada
di salah satu Semenanjung Sulawesi. Hal ini tentu membuatku makin penasaran
untuk ke sana. Setelah informasi dan sarana untuk menuju ke sana tergambar
jelas, baru pada bulan keenam sejak berada di Banggai aku bisa mengobati rasa
penasaran akan Pulau Dua.
Spot Narsis di Gede Pangrango
Dewasa ini,
dengan makin mudahnya proses mengabadikan segala hal ke dalam bentuk gambar
membuat salah satu tujuan pendakian atau perjalanan yakni mengambil foto. Akui
saja. Di samping bisa sebagai ajang pamer di berbagai media sosial, foto diri
atau bersama rekan-rekan yang keren tentu akan menjadikan sebuah perjalanan
makin manis untuk dikenang.
Pada
kesempatan kali ini, aku memilih Gede Pangrango sebagai lokasi yang yahut
untuk menjadi latar belakang foto kita. Gunung kembar Gede dan Pangrango ini
memiliki jalur dan ketinggian yang tidak begitu menguras stamina. Foto di
gunung yang keren tidak mesti melulu harus di puncak. Jalur pendakian Gunung
Gede Pangrango dari Jalur Cibodas misalnya, sayang jika dilewatkan begitu saja.
I Forgot my Phone
Sebuah video
di youtube yang layak menjadi
perenungan bagi kita dewasa ini. Bagi kita generasi dua jempol dan kepala
menunduk. Kita lebih mementingkan untuk share
segala aktivitas kita sehari-hari ketimbang untuk menikmatinya dengan sepenuh
hati.
Lebih
memilih untuk menjalin komunikasi yang intens dengan teman atau bahkan orang
yang tidak dikenal yang berada jauh dari kita, alih-alih orang di sekitar kita
saat itu. Ironis memang. Kita asyik mengajak ketemuan atau kopdar di socmed, tetapi saat sudah bertemu malah
sibuk sendiri-sendiri dengan gadget masing-masing.
Menyusur Semenanjung Sulawesi Tengah
Sebagai
seseorang yang hobi memacu kendaraan beroda dua, aku sering meluangkan waktu di
akhir pekan untuk menyusuri jalanan. Tak terkecuali ketika kebetulan sedang
berada di Luwuk. Jalanan yang membentang di sepanjang pesisir salah satu ujung
Pulau Sulawesi tentu sayang untuk dilewatkan. Target berkendara kali ini yakni
sampai ke Pulau Dua, Balantak, ujung timurnya Sulawesi Tengah.
| Jalan Menuju Pagimana. |
Beruntung,
saat berada di sini aku mempunyai seorang sahabat yang juga doyan menyusur jalanan dengan motor roda
dua. Lebih mantap lagi, sahabatku ini memilih Kawasaki Ninja sebagai
tunggangannya. Jadilah kami seharian menyusur jalanan yang berliku dan menanjak
dengan motor besar itu. Rencana kami hari itu yakni menempuh rute dari
Batui-Luwuk-Balantak-Bualemo-Salodik-Luwuk-Batui. Belakangan cek di google.maps kami menempuh jarak 428 km.
Jarak yang sama seperti Jakarta-Semarang.
Curug Tujuh Cilember
Terletak di Bogor,
Cilember dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengisi liburan. Lokasi
persinya terletak di Perbukitan Hambalang, Desa Jogjogan, Cisarua, kurang lebih
satu kilo setelah pintu tol jagorawi, belok kiri setelah Taman Wisata Matahari.
Lokasi air terjun ini memang agak masuk ke dalam, namun masih bisa diakses sepeda
motor atau mobil. Setelah berjalan kurang lebih satu kilo melewati jalan
kampung, kita akan menjumpai gerbang masuk Wana Wisata Curug Cilember.
Yang unik
dari curug (air terjun) satu ini adalah jumlahnya yang terdiri dari tujuh buah
dan dihitung secara terbalik. Tidak jauh dari pintu masuk, kita sudah dapat
menjumpai curug ketujuh dan keenam yang terletak bersebelahan. Tinggi kedua
curug itu kurang lebih 30 m. Saat weekend,
kita kurang dapat menikmat keindahan curug ini karena banyaknya pengunjung.
| Petunjuk Arah Cilember. |
Malela, Litle Niagara of Java
Orang-orang
menjuluki air terjun ini dengan nama Litle
Niagara. Memang pantas julukan tersebut. Bagaimana tidak, membentang hampir
50 meter dengan ketinggian hampir 40 meter, kita akan tampak kecil sekali di
hadapannya. Memang aku belum pernah berkunjung ke Niagara, hanya melalui
fotonya aku mengamini julukan Malela, Litle
Niagara Waterfall.
Sudah lama
kudengar dengung riuh pancuran airnya. Sebagai seseorang yang mengaku waterfall hunter, barang tentu wajib
mengunjungi air terjun satu ini. Namun, setelah cukup lama bermukim di tanah
Sunda, baru pada tahun keempat aku berkesempatan untuk merasakan riuh airnya
dari dekat. Merasakan hembusan angin berair dari air terjun raksasa ini secara
langsung. Malela benar-benar membuatku terlena.
Raung dari Sumber Waringin
Gunung yang
terkenal dengan Puncak Sejatinya ini mungkin menjadi satu-satunya gunung berapi
di Indonesia yang membutuhkan peralatan SRT
untuk ke puncak. Sebagai gunung stratovolcano
yang masih aktif, gunung satu ini kerap menyemburkan asap dan api. Terletak di
ujung paling timur, Puncak Raung seperti menjadi pamungkas pendakian di Pulau
Jawa dengan jalur terekstrem.
Banyak jalur
untuk menuju Puncak Raung. Dua jalur yang paling terkenal yakni dari Glenmore
untuk menuju Puncak Sejati dan Sumber Waringin yang menjadi ‘jalur nasional’. Jalur
lain yang dapat dijadikan alternatif yakni dari Kalibaru dan Luwak. Banyaknya
jalur ini mafum terjadi mengingat puncak terdapat di sepanjang kaldera terluas
di Pulau Jawa dengan panjang lebih dari dua kilometer.
Kawah Bulan Sabit?
Bukan! Bukan
sebuah kawah yang berbentuk bulan sabit. Bukan pula kawah sebuah gunung yang
bernama ‘Bulan Sabit’. Nama gunung tempat kawah ini berada yakni Gunung Merapi.
Tetapi bukan gunung berapi yang terletak di Jawa Tengah ataupun Sumatra Barat.
Lokasi persisnya berda di Kawasan Cagar Alam Kawah Ijen, di ujung timur Pulau
Jawa. Uniknya, pada kawahnya terdapat gundukan tanah dengan pepohonan di
atasnya yang menyerupai bulan sabit. Persis seperti bulan sabit.
Aturannya,
untuk menuju ke sini kita diharuskan mengantongi izin dari Dinas Perhutani
selaku pengelola Cagar Alam. Jalur untuk menuju ke sini pun tidak mudah
mengingat tiadanya akses yang jelas. Terdapat dua “rute” untuk menuju ke sini,
yang pertama dari Pos Paltuding, Banyuwangi, yang membutuhkan waktu enam hari.
Sementara jalur satunya cukup ditempuh dalam waktu 4 jam yakni dari bibir Kawah
Ijen, lokasi Blue Fire yang terkenal tersebut.
| Kawah Bulan Sabit dari Kejauhan. |
Tips Nyaman ke Kampung Semawis
Bagi
penggemar wisata kuliner, tentu tak lengkap jika belum mengunjungi tempat satu
ini jika bertandang ke Semarang. Terletak di kawasan Pecinan, ‘kampung’ yang
sebenarnya cuma sederet jalan yang dipenuhi aneka penjual makanan dapat
memuaskan selera kita soal makanan. Dari nasi goreng, siomai, sate babi, hingga
aneka olahan mie dapat kita jumpai di sini.
| Suasana Kampung Semawis. |
Dari Simpang
Lima, pusat Kota Semarang, ambil Jalan Gajah Mada ke arah Johar. Pada lampu
merah ketiga belok kanan untuk menuju ke kawasan Pecinan. Nah, Kampung Semawis
terletak persis di depan Gerbang Pecinan. Bagi yang menggunakan angkutan umum
mungkin dapat naik angkot ke arah Johar, dari Pasar Johar dapat dilanjut naik
ojek atau jalan kaki, Pecinan terletak bersebelahan dengan pasar terbesar
se-Semarang ini.
Mencumbu Puncak Prau dari Dieng
Pada tulisan
sebelumnya, aku mengupas pendakian Gunung Prau dari sisi utara, yakni dari
Kabupaten Kendal. Jika pada jalur Kendal membutuhkan waktu hampir enam jam,
dari Dieng kita hanya membutuhkan dua jam saja. Tidak perlu heran, hal ini
dikarenakan start pendakian yang
sudah tinggi. Di samping itu, pendakian ke puncak dari Dieng makin seru
mengingat jalurnya yang langsung menanjak ke atas, menuju padang bunga di
Puncak Prau.
| Bunga Daisy. |
Perjalanan ke Puncak
Untuk menuju
Basecamp Prau, start pendakian gunung 2.565 mdpl ini dimulai, kita harus menuju
Dieng terlebih dahulu. Dieng paling mudah dicapai dari Wonosobo, Jawa Tengah. Basecamp
gunung ini berupa gedung pemerintahan desa yang merangkap basecamp di bagian
belakangnya. Gedung ini terletak persis di pinggir jalan Wonosobo-Dieng. Kurang
lebih 500 meter dari pintu gerbang Kawasan Wisata Dieng.
Bunda Tuti dan Sampah
Saat turun
dari Puncak Prau, ada sesosok pendaki tipikal pendaki ibukota berduit: gear serba deuter dengan stick pole
di tangan. Jika biasanya pendaki (termasuk yang menulis) ingin turun
secepatnya, ibu satu ini malah dengan sabar memunguti sampah-sampah di
sepanjang jalur turun. Dari bungkus permen sampai botol air mineral beliau
pungut satu-satu. Ternyata, ibu itu adalah sosok yang selama ini hanya kukenal
lewat millist dan facebook.
| Bunda Tuti Saat Memunguti Sampah. |
Bermula dari
mailing list aku mengenal sosok satu
ini. Kala itu hendak mencari barengan buat ke Kerinci, namun sayang pada
akhirnya harus batal terlaksana karena waktu yang tidak sejalan. Dari millist berlanjut ke social media facebook. Kebetulan pula
ibu satu ini lumayan doyan bergentanyangan di dunia maya, sehingga komunikasi
tidak terputus walau tidak sempat naik gunung bareng. Beliau mengaku sebagai
Tuti Jail.
Jalan-jalan ke Banten Lama
Bagi warga
ibukota, mengunjungi peninggalan kerajaan Banten ini mungkin dapat menjadi
salah satu pilihan untuk melepas penat pada akhir pekan. Terletak di Kota Serang,
Banten Lama dapat dicapai dalam waktu 2 jam. Untuk mengunjungi semua
peninggalan kerajaan yang pernah berjaya pada abad ke-15 ini pun tidak
membutuhkan waktu lama. Berangkat dari Jakarta pagi hari, pada sore harinya
kita sudah dapat berada di Jakarta kembali.
| Keraton Kaibon di Sore Hari. |
Penasaran
akan sisa-sisa peninggalan sejarah kerajaan masa lampau tersebut, aku pun menyempatkan
diri ke sana. Dengan menggunakan kendaraan roda dua kususuri jalanan
Tangerang-Serang di pagi hari. Mengingat tempatnya yang agak berjauhan,
mengunjungi Banten Lama akan lebih enak jika menggunakan kendaraan pribadi.
Sekolah Ceria untuk Merapi
Tepat
pukul enam pagi kereta kelas bisnis yang membawa kami dari Jakarta mulai
memasuki Stasiun Tugu. Hiruk pikuk penumpang mulai terlihat untuk segera
meninggalkan gerbong menuju destinasi masing-masing. Di luar, suara takbir menyambut
kami. Suasana memang agak lengang, di sana sini hanya terlihat umat muslim dan
muslimah berjalan menuju masjid hendak menunaikan Sholat Idul Adha berjamaah di
sela-sela tumpukan debu Merapi yang masih sedikit tersisa.
![]() |
| Teman Bermain. |
Kedatanganku
ke Jogya kali ini tidak untuk berwisata seperti biasanya, hanya ingin
menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban warga Jogya sehabis terkena dampak
letusan Gunung Merapi. Ini memang kali kedua aku bertandang ke Jogya untuk
tujuan kemanusiaan. Pada tahun 2006 sempat sedikit membantu sebagai evakuator
di Bantul, kedatangan kali itu hanya berselang satu hari saat bencana terjadi.
Saat aku datang, Merapi sudah mulai jinak, semburan awan panas dan debu sudah
puas dimuntahkannya. Kali ini, aku berkesempatan menyumbangkan tenaga untuk
proses pasca-bencana.
Caving ke Buniayu Bareng Natgeo
Ngetrip satu
ini adalah kali pertama jalan-jalan bareng Komunitas National Geographic Indonesia. Berangkat dari obrolan di forum,
berangkatlah kami ke Sukabumi. Bukan untuk mendaki gunung atau mengunjungi
pantainya yang elok, namun untuk masuk ke dalam perut buminya guna menikmati
keindahan alam di bawah tanah. Tujuan kali ini adalah Gua Buniayu.
| Di Dalam Gua Horisontal. |
Lokasi persis
gua ini yakni di Desa Kertangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Dari
pusat kota Sukabumi, ambil saja jalur yang ke arah Segaraanten. Perhatikan jalan
karena pintu masuk lokasi wisata Gua Buniayu ini tidak begitu jelas. Dari bibir
jalan, kita masih harus masuk kurang lebih setengah kilometer untuk sampai di
Gua.
[Berusaha] Mancing Ikan di Singkarak
“Itu pegang
ujungnya! Kasih batu lagi!”, teriaku keasyikan ke Juan sambil memegang jaring
jadi-jadian yang kami bikin. Rencananya, kain jilbab yang disulap jadi jaring
ini akan kami letakan di dasar bebatuan dan pas ikan lewat di atasnya, hap! Ikan-ikan
bilis itu siap dimasak. Untuk itu dibutuhkan batu sebagi pemberat sedangkan aku
akan berjaga memegang tali yang mengikat keempat ujung kain jaring tersebut.
Harapannya jaring itu bisa sekaligus menangkap ikan-ikan kecil yang
berseliweran di Danau Singkarak.
| Menjala Ikan. |
Percobaan-percobaan yang Gagal
Pagi itu
kami bertiga memang sedang asyik menangkap ikan danau untuk pelengkap makan
siang nanti. Di penghujung travelling ke Kerinci, bekal pun semakin menipis
hingga hanya bersisa mie instan dan bumbu dapur. Oleh karena itu, ketika
melihat banyak ikan-ikan kecil berenang di pinggir danau langsung saja kami
merasa terpanggil untuk melakukan penangkapan agar saat siang nanti mie instan
tidak sendirian masuk ke perut kami.
Museum Taman Prasasti, Jalan-jalan ke Kuburan
Entah karena
Warga Jakarta kekurangan tempat berwisata atau karena keunikan batu-batu
nisannya, Taman Prasasti selalu ramai pengunjung. Walau disebut museum, namun
sebenarnya tempat ini adalah bekas pemakaman warga asing sewaktu jaman
penjajahan. Maka tak heran jika bentuk nisan yang ada di sini pun sesuai kultur
budaya jenazah yang dimakamkan kala itu: Batu nisan dengan disertai patung atau
bentuk kubah yang terkesan gotik.
| Tulisan Nisan. |
Terletak di
jantung ibukota, Museum Taman Prasasti dapat diakses dengan mudah. Lokasi
persisnya berada di Jalan Tanah Abang No 1 Jakarta Pusat. Biaya retribusi untuk
masuk ke dalam hanya lima ribu rupiah, namun jika ke sana dengan tujuan untuk
hunting foto, akan dikenakan charge
tersendiri.
20 Lokasi Berkemah yang Harus Dikunjungi Sebelum Mati
So, here we go!
1.
Arches National Park, Utah
Menyusur Kuala ke Air Jatuh
Hampir empat
bulan hanya bergumul dengan laporan, laporan, dan laporan selama tujuh hari
seminggu membuat kepala lama-lama terasa panas juga. Karena itu, walau badan
sedang tidak fit, kupaksakan mengiyakan ajakan teman untuk berburu air jatuh,
sebutan Warga Luwuk untuk air terjun. Lokasi air jatuh yang dimaksud ternyata
tidak begitu jauh dari kantor, pintu masuknya cuma sepuluh menit dengan
kendaraan bermotor. Dekat!
![]() |
| Air Jatuh. |
Ternyata,
warga sekitar pun jarang yang mengetahui adanya air jatuh ini. Warga yang tahu
pun hanya menyebutnya dengan air jatuh, tanpa nama. Info ke sana kami dapat
dari warga lokal yang kebetulan waktu kecil pernah kesana. Secara wilayah, air
jatuh ini masuk ke Desa Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Singkat cerita,
pulang kerja lebih awal dari biasanya, hanya berdua dengan teman yang juga buta
arah, kami menuju ke sana.
Gedong Songo, a Mystical Temple
I always
love to see an old temple with its own story behind of hundred years history.
So do with Gedong Songo, a Hindi temple built by Syailendra Dynasty. Locate in a height of 1.200 asl in Ungaran Mountain,
Gedong Songo had a fantastic view. An old temples, fog, and mountains made
Gedong Songo sprouded its mystical aurora. The felt like I were in heaven where
the immortal gods stayed.
Gedong Songo
come from two words, Gedong which means building and Songo means nine. So,
basically it means ‘nine bulding’. When in the first time found by Raffles its
only seven, so the name was ‘Gedong Pitoe’, pitoe means seven. Later, the two
broken temple found and the name changed like it’s today.
| Snack and Drink Seller. |
Latihan [yang] Rutin Yuk.
Untuk
membuat sebilah katana (pedang
panjang) yang berkualitas tinggi, sepotong besi harus ditempa berulang-ulang.
Katana yang berkualitas tentu dapat melaksanakan fungsinya dengan baik bagi
seorang samurai. Namun tidak berhenti di situ saja, katana setajam apapun tetap
dapat tumpul bahkan berkarat jika hanya teronggok tanpa perawatan. Sama halnya
dengan seorang first aider, latihan
yang menjadikan seorang first aider berkualitas, dan terus berlatihlah yang
akan menjaga kualitasnya.
| Latihan Rutin. |
Ilmu
pertolongan pertama adalah ilmu ketrampilan. Seperti halnya seorang samurai
yang terus berlatih mengayunkan tebasan pedang hingga ribuan kali ke batang
kayu hanya untuk mendapatkan satu tebasan yang sempurna.
Sumbing, Sumbing, dan Sumbing
Sumbing
bagiku selalu berkaitan dengan angka tiga. Tinggi gunung ini tiga ribu tiga
ratus. Gunung ini adalah salah satu dari triple
S yang terkenal itu. Terdapat tiga rute pendakian yang umum digunakan oleh
pendaki. Tiga kali pulalah aku mencoba menaklukan puncaknya, dan pada paruh
ketigalah aku mencapai puncak dengan sukses hingga turun ke dasar kawah. Dialah
Gunung Sumbing, gunung pada pendakianku yang ketiga.
| Sindoro dari Sumbing. |
Percobaan Pertama
Ingin
menjajaki puncak 3.371 mdpl, langsung saja kuiyakan ajakan teman adiku untuk
pergi ke Sumbing. Rute yang dipilih pun bukan jalur utama Garung, tetapi
melalui Dukuh Kepencit, Parakan, Temanggung. Singkat cerita, kami gagal
mencapai puncak dan aku hampir saja mati saat hendak turun.
Moto-Crazy-Biking Trip to Sawarna
Jikalau
seseorang bisa melewatkan seharian di Sawarna dari sebelum matahari terbit
sampai tenggelam di hari minggu, sementara sabtu dan senin masuk kerja seperti
biasa, hal tersebut tentu lumrah jika dia tinggal di daerah Lebak atau
Pelabuhan Ratu. Tetapi lain halnya jika yang bersangkutan berdomisili di Bogor.
Mengingat Bogor-Lebak sekitar 8 jam berkendara, tentu orang itu berkendara di
malam hari dan sampai dini hari nonstop. Hmm.. kurang kerjaan atau nekat itu orang?
Dan itulah yang kami berdua lakukan.
Tambahan,
rute menuju Sawarna pun kami tidak tahu. Dan untuk lebih menambah ‘kekerenan’
atau ‘kebegoan’ kami, sepertinya yang terakhir lebih tepat. Lampu jauh Blue,
sepeda motor yang kami tunggangi mati dan Lei, temanku yang doyan banget ngopi itu, menderita
glukoma alias kalau malam hari penglihatannya antara ada dan tiada. Perlu
diketahui juga, rute Pelabuhan Ratu-Sawarna pada malam hari itu horror nian.
Jalan berbukit yang sepi di tengah hutan tanpa ada orang yang bisa ditanyai
arah. Mantap!
| Pantai Tanjung Layar. |
Halimun Trip
Kata orang
di Halimun itu aksesnya susah, kudu memakai jeep four wheels. Kata orang di
Halimun kita bisa berjalan di atas kanopi hutan dengan jembatan gantung. Kata
orang di Halimun kita bisa melihat jamur yang bisa berpendar di malam hari macam
di film Avatar. Well, that what people
said and today I’ll see the truth. Hari ini akhirnya kaki ini akan
merasakan rasa Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Dengan
memanfaatkan waktu di akhir pekan, berangkatlah kami berdua menaiki Bluemerry
dari Bogor. Secara geografis TNGHS terletak di tiga kabupaten, yakni Sukabumi,
Bogor, dan Lebak dengan luas areal 113.357 hektare. Dari Bogor perjalanan membutuhkan
waktu empat jam dengan rute Bogor-Sukabumi-Cibadak. Kami memasuki Taman
Nasional ini dari sisi timur, sedikit hal yang kami sesali kemudian, hehe..
| Perkebunan Teh Nirmala. |
Karawang dalam Sehari
“Apa seh tempat menarik di Karawang?”, itulah
pikiran pertama kali ketika menjejak salah satu lumbung padi Pulau Jawa ini.
Sekilas jika melewati Karawang via Jalur Pantura yang ada cuma kota kecil yang
gersang dengan pemandangan sawah di kanan-kiri. Paling kita akan menghubungkan
kota satu ini dengan ‘Goyang Karawang’ yang sempat heboh itu. namun, setelah
tanya kiri-kanan dan simbah, berikut tempat wisata yang dapat kita kunjungi
dalam sehari.
| Curug Cigentis. |
1.
Curug
Cigentis
Di sebelah
selatan dari pusat kota, kurang lebih satu jam perjalanan naik mobil, terdapat
kawasan wisata yang terkenal dengan nama Curug Cigentis. Sebenarnya di sana
tidak hanya Curug Cigentis saja, terdapat beberapa curug lain yang tidak kalah
bagus dari Cigentis. Walau, tentu saja tidak sebesar air terjun utama.
Melewati Malam di Little Tokyo
Dari kecil
aku suka sekali membaca manga dan menonton serial dorama di tv swasta. Dari
situ gambaran Kota Tokyo terpatri kuat di ingatan. Papan iklan bertuliskan
huruf hiragana atau katakana, bahkan tak jarang kanji. Tempat makan dan pub
yang berjajar sepanjang gang meramaikan suasana malam. Bagi yang belum pernah
ke Tokyo, kita pun dapat menikmati secuil nuansa tersebut di sini, Indonesia.
Tidak percaya? Datang saja ke Jaksel, tepatnya di Blok M atau dikenal juga
dengan julukan Little Tokyo.
Pada
dasarnya, Blok M adalah kawasan perniagaan dan juga terminal bus dalam kota. Di
areal yang kecil ini, mall dan terminal terpadu secara apik. Sewaktu pertama
kesini, sempat saya terkaget-kaget ketika mengetahui fakta bahwa di bawah
terminal bus terdapat sebuah mall. Sebuah hal yang baru bagi saya kala itu,
bagaimana sampai bisa terbesit ide untuk membangun mall di bawah terminal?
| Ruffy dan Shank Berpose Bersama. |
Botanical Garden of Buitenzorg
Don’t wory.
That is the meaning of the word Buitenzorg which believed as the root of the
name of Bogor. As one of the satellite city of Jakarta, Bogor has the largest
and most complete botanical garden in Indonesia. On an area of 87 hectares
there are plants and trees which the quantity almost 15.000 specimens. Right
now, this botanical garden known as Kebun Raya Bogor.
My first
visit in this garden was in 2011, and since then when I have free time in
weekend I’d love to spend an afternoon in here. Just lay down, ate some snack
and read novel. The air, trees, and small lake inside here made me felt so
comfort. Loved to spend all day in here.
| Bogor Botanical Garden. |
Gunung Kecil Bernama Ungaran
Bagi
kebanyakan orang, pasti mengaitkan Semarang dengan banjir dan pesisir. Memang
kota kecil ini pernah terkenal akan kanal-kanalnya yang indah ketika VOC masih
Berjaya. Namun, pada pagi hari ketika cuaca cerah tanpa kabut, kita dapat
melihat satu gunung kecil di arah selatan. Berdiri tampak malu-malu terpisah
dari deretan pegunungan di tengah Pulau Jawa. Gunung kecil ini bernama Ungaran.
| Gunung Ungaran. |
Bagi warga
Semarang dan sekitarnya, Ungaran sudah menjadi seperti Gunung Gede Pangrango
bagi warga Jakarta. Lokasi yang dekat dan tipikal gunung yang landai menjadi pemicu
bagi warga Semarang untuk menjajal puncak 2.050 mdpl ini. Ada tiga jalur untuk
menggapai puncak Ungaran, Pasar Jimbaran dan Candi Gedong Songo yang berada di
Kabupaten Semarang dan Pabrik Teh Medini yang berlokasi di Kabupaten Kendal.
Dari ketiga jalur tersebut, hanya Gedong Songo yang langsung ke Puncak.
My First Solo Travelling: Gua Pawon
Back in
2010, I remembered my first solo travelling. Actually it was a spontaneous trip
after I saw an awesome picture in KAA Museum. In one of its alley, the museum
displayed and explained about the Bandung in pre-history era. It said Bandung was
originally a big lake and its ancestors lived in a cave near the lake. Right
now, people call that cave: Gua Pawon.
Gua Pawon (gua
means cave) said exist from 9000 years ago. Archeologist already did an
excavation in here and found many man bones, shards of ceramic, pottery, jewelry
made from leftover animal teeth and tooth
fish, and mollusks
that indicated this cave was a place to live. Because of its histories, this
old cave was protected under Archeological and Historical Department of West
Java Province as historical heritage.
| Stone Garden. |
Mengecup Maut di Merbabu
Pendakian
gunung kali ini memang kulakukan spontan saja. Di kala ada dua hari kosong saat
di Semarang, tiba-tiba ingin melepas kangen ke Gunung Merbabu. Terakhir ke sini
saat aku masih semester satu di bangku kuliah. Sudah lama sekali. Berbekal peralatan
kemping yang selalu siap tersedia dan seorang teman yang bersedia menemani,
jadilah kaki kembali menapakan kaki di gunung 3.145 mdpl ini. Dan pendakian
inilah pertama kalinya aku hampir mengecap maut.
Karena jarak
yang dekat dari Semarang, kami berdua memutuskan untuk menggunakan sepeda
motor. Adapun rute yang kami pilih yakni Selo, mengingat jarak tempuh yang
lebih pendek ketimbang rute yang lain. Selo yang berada di Boyolali dapat
ditempuh sekitar 3 jam dari Semarang. Logistik pun dapat kita dapatkan di Pasar
Cepogo atau Selo. Kalau ingin membawa logistik ayam utuh yang siap bakar atau
goreng, mampir ke Cepogo. Dijamin pendakian makin terasa nikmat, hehe…
| Jalur Pendakian Merbabu. |
Semalam di Kuta Bali
Kurang lebih
pukul sebelas malam ketika Bluemerry, teman perjalanan beroda duaku yang setia,
tiba di Kota Denpasar. Jalanan yang lengang mmbuat diriku memacu Blue lebih
cepat dari biasanya. Alhasil, aku sempat terpisah dari dua teman yang
dibelakang. Untungnya kita sudah sepakat untuk bermalam di Pantai Kuta, bukan
di hostel yang bertebaran di sana, tetapi di pantainya secara harfiah.
Berbekal
semangat dan perlengkapan kemping, kami tamasya ke Bali. Rencanya untuk
melewatkan malam pertama di Bali, kami akan bertenda di Pantai Kuta. Entah
diperbolehkan atau tidak. Selepas perjalanan panjang dari Semarang, rasa lelah
membuatku malas mencari kedua teman yang terpisah. Kutunggu di pantai saja,
pikirku. Segera sistem navigasi di smartphone
kuaktifkan untuk memandu ke sana.
| Hard Rock Cafe. |
Kilo Lima, Pantai Kota Berterumbu Karang
Orang Luwuk
menyebut pantai itu dengan nama Kilo Lima. Cukup berkendara kurang lebih lima
menit dari pusat kota, kita sudah dapat menikmati keindahan pantai ini.
Pantainya pun terletak persis di sepanjang jalan utama Luwuk-Toili. Di
sepanjang bibir pantai banyak warung berjualan pisang goreng, jagung rebus, dan
kelapa muda.
[Catper] Rinjani
Matahari sudah mulai keluar dari peraduan
ketika akhirnya aku berhasil menginjakan kaki di titik 3.767 mdpl yang amat
terkenal ini. Hampir enam jam perjalanan kala pagi buta kutempuh dari pos
terakhir. Jalur yang terjal berpasir, angin kencang, dan dingin menguji baik
mental maupun fisik. Rinjani yang cuma
ada di alam mimpiku selama tiga tahun terakhir ini akhirnya terwujud ke alam
nyata pukul tujuh pagi yang cerah itu.
Kesempatan untuk menginjakan kaki di Gunung Rinjani datang pada libur lebaran tahun 2010 setelah sempat dua tahun tertunda. Hanya berdua dari Jakarta kami menuju Lombok melalui jalur udara untuk mempersingkat waktu. Sebenarnya kalau hanya menuju puncak, cukup membutuhkan waktu dua hari satu malam (2D1N). Akan tetapi, jauh-jauh dari Jakarta rugi kalau cuma dua hari di Rinjani.
Kesempatan untuk menginjakan kaki di Gunung Rinjani datang pada libur lebaran tahun 2010 setelah sempat dua tahun tertunda. Hanya berdua dari Jakarta kami menuju Lombok melalui jalur udara untuk mempersingkat waktu. Sebenarnya kalau hanya menuju puncak, cukup membutuhkan waktu dua hari satu malam (2D1N). Akan tetapi, jauh-jauh dari Jakarta rugi kalau cuma dua hari di Rinjani.
Jalan-jalan ke Loakan Buku Bekas
Sebagai
orang yang ‘kadang’ mengaku dan dijuluki kutu buku, aku senang menyempatkan
untuk mengunjungi loakan buku bekas
yang selalu ada di kota-kota besar. Walau sekarang ini buku bacaan sangat mudah
untuk didapatkan baik di toko buku besar maupun secara online, hunting buku di loakan bagiku tetap
memiliki sensasi yang berbeda. Berhasil mendapatkan buku bagus dan langka yang
original tentu menjadi suatu kebanggan tersendiri.
Loakan buku
yang paling terkenal mungkin adalah Kwitang yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Popularitas Kwitang makin terangkat berkat sebuah film remaja Ada Apa dengan
Cinta garapan Rudy Soedjarwo. Gara-gara film ini pula, ketika pertama kali ke
Jakarta dahulu, tempat pertama yang ingin kudatangi adalah loakan buku Kwitang,
and I did!
| Pemandangan di Shopping. |
Jalan-jalan Narsis di Sunda Kelapa
Untuk
sekedar menikmati akhir pekan di Jakarta yang murah meriah, Sunda Kelapa tempo
doeloe adalah pilihan yang tepat. Bekas pusat pemerintahan jaman Hindia Belanda
ini sekarang sudah bertransformasi menjadi kawasan wisata yang menarik untuk
dikunjungi. Jalan santai bersama teman-teman, refreshing menikmati suasana,
atau sekedar hendak berfoto narsis ramai-ramai dapat dilakukan di kawasan Kota
Tua.
Banyak spot-spot menarik yang bisa dijadikan
latar untuk pose narsis kita. Dengan detail bangunan dan ornament yang khas abad
pertengahan tentu akan membuat foto bergaya oldies kita lebih keren lagi. Pada
akhir pekan suasana akan ramai sekali. Ondel-ondel, band jalanan, dan pantomin
akan menghibur pengunjung.
| Taman Fathahilah |
Semeru Semarak
Saat itu
pukul tujuh malam, langit malam meneteskan gerimis kecil ketika kami tiba di
Ranukumbolo. Di pinggiran danau yang luas itu telah ramai oleh ribuan pendaki.
Ada yang tengah asyik memasak makan malam, mengobrol, atau berteriak-teriak
mencari temannya. Atau ada juga yang seperti kami berdua, kebingungan mencari
tanah lapang untuk mendirikan tenda.
Tak bisa
dipungkiri, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang menjadi primadona bagi
para pendaki gunung. Selain dari segi keindahan alam yang tiada duanya, kisah
tentangnya pun ikut mendongkrak popularitas gunung ini. Sebut saja kisah Soe
Hok Gie yang menjadi semacam ‘dewa’ bagi para pecinta alam. Kisah lain yang tak kalah serunya yakni
cerita fiksi 5 cm yang memilih Semeru sebagai setting utama. Tentu, tidaklah bijak jika kita mencerca pendaki
yang ke Semeru berkat kisah-kisah tersebut.
| Ratusan tenda di Ranukumbolo.. |
Gunung 3000 mdpl di Pulau Jawa
Sebagai
pusat pemerintahan, Pulau Jawa menyimpan banyak gunung-gunung yang bisa membuat
kita berdecak kagum. Secara total terdapat 12 gunung yang memiliki ketinggian
di atas 3000 mdpl. Semua gunung tersebut terbentang dari ujung barat ke ujung
timur pulau dengan populasi terbanyak tersebut. Selain indah, gunung-gunung
dengan tinggi sepertiga ketinggian Gunung Everest tersebut sangat menantang
untuk didaki.
1.
Pangrango
3.019 mdpl
| Kerucut Puncak Arjuno. |
Di daftar
pertama terdapat gunung Pangrango yang terletak
paling barat dari deretan gunung 3000 m di Jawa. Rute yang jelas dan
banyaknya sumber air membuat gunung satu ini menjadi favorit para pendaki,
terutama yang berasal dari ibukota. Puncaknya seh biasa aja dengan tugu triangulasi, tetapi di sebelahnya
terdapat Lembah Mandalawangi yang banyak ditumbuhi edeilweis. Sedap sekali
tentunya.
Semarang dalam Sehari
Ramai tetapi
tidak sampai macet seperti di Jakarta. Nuansa Jawa yang kental walau tidak seperti
Jogya. Kota yang kecil tetapi tidak kalah dengan kota besar lainnya. Penduduk
yang heterogen hidup rukun bersama. Itulah beberapa gambaran singkat tentang
Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah. Kota yang terletak di pesisir pantai utara
Jawa ini memiliki banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Jika kawan
sempat singgah selama sehari di Kota Semarang, berikut adalah beberapa
alternatif tempat-tempat yang bisa dikunjungi.
Selamat Pagi Semarang
| Sam Po Kong. |
Untuk
mengawali wisata sehari di Semarang kita mempunyai banyak pilihan tempat, salah
satunya adalah Kawasan Simpang Lima.
Apalagi jika kawan mengunjungi Semarang di hari minggu, Car Free Day di Simpang
Lima tentu sayang untuk dilewatkan. Simpang Lima adalah pusat kegiatan Kota
Lumpia ini.
Jomblang dan Keegoisan “mapala”
Jogya,
selain terkenal akan wisata budaya juga menyimpan banyak keindahan alam yang
masih terjaga. Sebut saja Gunung Kidul yang banyak memiliki pantai-pantai yang
sedap dipandang mata. Selain pantai, sebagai daerah karst, Gunung Kidul tentu
banyak menyimpan gua yang menanti untuk dijelajahi. Pada liburan kali ini, aku
berkesempatan untuk mengunjungi Gua Jomblang. Gua vertikal ini sangat terkenal
akan fenomena alamnya, yakni ray of light.
Persisnya,
Gua Jomblang terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo,
Kecamatan Semanu. Jalan menuju kesana cukup mulus, baru dari Desa
Pancarejo ke lokasi, aspal akan digantikan jalan desa yang berbatu. Pukul
sebelas malam, kami berenam meninggalkan Terminal Jombor dengan sepeda motor.
Mengingat dari kami tidak ada yang tahu jalan, perjalanan menuju kesana adalah
suatu pertualangan tersendiri. Dari ban bocor di malam buta sampai kunci motor
hilang di jalan menjadi penghias malam itu.
| Ray of Light. |
Trip Paling Mengenaskan
Pernahkah kawan mengalami sebuah trip yang penuh dengan kejadian yang
tidak mengenakan alias apes? Maksudku
kesialan yang terus-menerus terjadi sehingga seperti hendak membatalkan
perjalanan kita. Kalau ya, berarti kita senasib. Kalaupun tidak, silahkan simak
cerita berikut, kisah perjuangan untuk menuju Ciwidey, Bandung.
| Kawah Putih. |
“Lei, ke Bandung modal patungan 50 ribu naik motor cukup ga?”
“Cukup!”
“Sabtu-minggu ini ke Bandung yuk!”
“Ayukkk!!!!”
Blue Fire dan Pesona Kawah Ijen
“Miaaww…”,
terdengar suara tiga anak kucing yang tengah asyik bermain-main di depan warung
Pak Im. Walau udara semakin dingin dimana sore akan berganti malam, mereka
tampak makin asyik berlarian kesana kemari. Putih, Belang, dan Hutan adalah
tiga anak kucing liar kesayangan Pak Im. Kecerian mereka bermain petang itu aku
rasakan seperti sebuah tarian penyambutan bagiku di Kawah Ijen.
Blue
Fire
| Pesona Kawah Ijen. |
Sejak tahun
2009, tutur Pak Taufiq yang berprofesi sebagai pemandu lokal, Kawah Ijen mulai
terkenal ke seluruh dunia akan pesona api birunya. Turis-turis asing
berdatangan kesini cuma hendak menyaksikan blue
fire yang berada di Kabupaten Banyuwangi ini. Kawasan Cagar Alam ini
sebenarnya sudah dua tahun ditutup karena berstatus awas sehingga tidak ada
aktivitas penjualan tiket masuk. Meski begitu, jumlah kunjungan ke sini semakin
ramai saja dari tahun ke tahun.
Dempo yang Garang
Sebenarnya
pendakian ke Gunung Dempo adalah plan B
dari rencana awal hendak mendaki Gunung Kerinci. Sebuah pendakian dadakan
ketika tiba-tiba mendapat libur seminggu sebelum kerja untuk pertama kalinya.
Inilah pertama kalinya aku melakukan pendakian di luar Pulau Jawa. Dan Dempo pulalah
gunung pertama yang membuatku drop
sampai ke titik ingin menyerah menuju puncak.
Cerita ini
bermula dari kejadian yang kurang mengenakan di Rajabasa dan terbatasnya
liburan kala itu. Sampai di Lampung ketika hari sudah larut, kami berdua
langsung mencari bus ke arah Padang, tujuan kami adalah Muara Bungo untuk
dilanjut ke Sungai Penuh. Dijanjikan sampai di Muara Bungo esok siang, langsung
kami naik bus ekonomi yang entah apa namanya itu. Ternyata esoknya, pukul satu
siang saja bus baru sampai di Lahat, Palembang, padahal jarak ke Mura Bungo
masih dua pertiga perjalanan lagi. Ah sial, turunlah kami di Lahat dan putar
arah ke Pagaralam untuk mendaki Gunung Dempo.
| Kota Pagaralam. |
Berlebaran di Batui
Batui adalah
salah satu kecamatan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dari Luwuk, Ibukota
Banggai, masih harus menempuh perjalanan darat melewati pesisir pantai kurang
lebih satu jam dengan kendaraan roda empat. Dan pada lebaran tahun ini, untuk
pertama kalinya dalam 28 tahun, aku tidak merayakannya di kampung halaman.
Untuk kali ini gema takbir kudengar dari Batui, kampung pesisir di Celebes.
| Nelayan Batui. |
Saat di
tempat baru tentu kita merasa asing dan secara otomatis membandingkan dengan tradisi
dan budaya tempat asal kita. Tak terkecuali saat di Batui aku merasakan shock culture tersebut. Banyak hal baru
yang kualami di sini dan tentu menarik untuk diceritakan. Dari makanan, bahasa
setempat, dan adat istiadat.
Tujuh Lokasi yang Asyik Buat Nenda
Bagi pecinta
kegiatan di alam bebas khususnya yang berkaitan dengan gunung tentu akrab dengan
aktivitas bertenda. Kadang kala kita harus mendirikan tenda di tempat yang
terpencil dan seadanya. Tetapi ada juga lokasi bertenda dengan view yang membuat kita betah
berlama-lama. Malahan kadang kita memang sengaja datang ke lokasi tersebut untuk
sekedar bertenda alih-alih menuju puncak. Berikut adalah lokasi bertenda yang
asyik menurutku. Asyik di sini aku definisikan dari segi ketersediaan sumber
air, kenyamanan, dan view yang
membuat kangen.
1.
Plawangan
Plawangan
sejatinya adalah pos terakhir sebelum mendaki ke puncak Gunung Rinjani. Lokasi
yang berada di pinggir tebing ini mempunyai panorama yang sungguh tiada bandingannya.
Dari sini kita dapat menikmati indahnya Danau Segara Anak dari ketinggian.
Bayangkan saja pada sore hari duduk bersama kawan-kawan dengan segelas kopi
panas di tangan, beuh.. nikmat kawan!
Sumber air berada tidak jauh dari lokasi tenda yang dapat menampung sampai 30
tenda ini. Ohya, hati-hati akan logistik yang kita bawa karena banyak monyet
nakal di sini.
Kota Lama, Little Netherland of Java
Sore itu, aku
duduk berdua dengan kekasih di depan Gereja Blenduk. Di kanan-kiri pun banyak
muda mudi yang asyik ngobrol dan berfoto. Dari yang hanya kamera handphone sampai DSLR dengan lensa yang
besar-besar. Memang, kawasan Kota Lama di Semarang adalah salah satu lokasi yang
digemari untuk melepas penat. Dengan detail bangunan dan ornamet yang khas
benua Eropa serta banyak terdapat kanal-kanal, maka tak heran jika Kota Lama
mendapat sebutan Little Netherland.
Kota-kota
pusat pemerintahan pada jaman kolonial dahulu memang kerap meninggalkan
bangunan-bangunan yang megah dan sampai sekarang masih berdiri kokoh. Sebut
saja Kota Tua di Jakarta, Braga di Bandung, dan Semarang pun tak terkecuali
dengan adanya Kota Lama. Kawasan ini terletak dekat dengan jantung Kota
Semarang saat ini, tepatnya di sebelah Pasar Johar Semarang.
| Pabrik Rokok Praoe Lajar. |
Baluran, Secuil Afrika di Pulau Jawa
Tiba-tiba
saja puluhan monyet berlarian dari Pondokan menuju hutan seperti hendak tawuran.
Meloncat dan berteriak-teriak entah ke siapa. Sang pejantan yang badannya
paling besar berlari paling depan diikuti monyet-monyet yang lain. Monyet
betina dengan anak di gendongannya pun tak kalah cepat berlari mengekor. Entah
apa gerangan yang membuat monyet-monyet ini berlarian, aku cuma bisa berdiri
menatap dari Padang Savana Taman Nasional Baluran.
Di ujung
lain terlihat rusa-rusa sedang asyik merumput, ada pula yang tengah berteduh di
bawah rindangnya pohon. Rusa dengan tanduk yang besar-besar itu tanpak asyik
dengan dengan aktivitasnya sendiri, tak mempedulikan kehadiran kami di
kejauhan. Di sini juga banyak terdapat berbagai jenis burung termasuk merak, sempat
aku melihat beberapa merak yang sedang melintas. Sayangnya aku tidak sempat
menyaksikan maskot Baluran, banteng liar, katanya baru pada sore hari mereka
muncul.
| Savana Bekol. |
Sisi Lain Pantai G-Land
Tiga jejaka
berbadan tegak dan dua dara berparas cantik dibalut bikini hitam berjalan
melewati saya. Dengan tubuh tinggi dan rambut kemerahan khas ras kaukasoid,
kelima pemuda tersebut menenteng papan
selancar yang besar dengan entengnya. Di sudut lain sepasang kekasih yang saya
tebak berasal dari Australia jika mendengar logatnya, asyik duduk berdua
mengobrol di pinggir pantai. Saya yang berpostur pendek rambut hitam khas ras
Melayu ini serasa menjadi orang asing saja, padahal saat itu saya sedang
berdiri di tanah Jawa, tepatnya di Pantai G-Land, Taman Nasional Alas Purwo.
Seorang
teman pernah bilang kalau ombak di G-Land itu tertinggi nomer dua setelah
Hawai, entah benar atau tidak yang jelas mayoritas wisatawan kesini memang untuk
berselancar, berburu ombak setinggi 6 meter. Karena tidak bisa dan tidak
berminat berselancar kala itu, saya memutuskan menyusuri pantai sampai kaki
lelah melangkah.
| Orang Ndarung. |
Dieng and Lonely Planet
About a year
ago I had a trip to Dieng, a fantastic place where the Gods stayed. Actually
this was my second trip to Dieng. The first one was an accidentall-alternative
trip after failed to climb Sindoro Mountain because of heavy storm. And the
second one caused by a book named Lonely Planet.
| Dieng. |
A traveler
friend gave this book when he would leave Indonesia to US. Lucky me cause this
book quite expensive for me at that time. Anyway, I opened the book and when I
read about Dieng Plateu I realized there many places we could visit. From my
frist trip I thought Dieng only Sikidang Crater and Telaga Warna. Damn! I must
go to this place again.
Mengunjungi Danau Vulkanik Tertinggi se-Asia Tenggara
Kawan,
tahukah kalian kalau danau vulkanik tertinggi se Asia Tenggara berada di Indonesia? Ya,
lokasi persisnya berada di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi
Jambi. Dengan ketinggiannya, tak heran danau indah ini dikelilingi pegunungan,
tepatnya ada tujuh gunung. Oleh karena itu mendapat nama Danau Gunung Tujuh.
Danau ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga
seringkali menjadi lokasi yang sempurna untuk bersantai sehabis trekking ke
Puncak Kerinci.
Danau vulkanik yang
berada di ketinggian ini memang asyik banget untuk kemping. Air danau yang
jernih hingga sampai dasar dan pepohonan yang teduh membuat makin betah berkemah
di sana. Saat sore atau pagi hari seringkali tupai-tupai yang usil menghampiri
mencari remah-remah roti. Burung pun tak malu-malu berkicau di dekat tenda.
Kepiting dan ikan, walau kecil-kecil, menanti untuk dipancing.
| Sunrise di Danau Gunung Tujuh. |
Subscribe to:
Posts (Atom)






.jpg)