Menapaki Cikuray dari Cikajang

22-23 Oktober 2011
Bogor-Garut
Pukul sepuluh malam itu, berbekal tenda, mini trangia, dan makanan seadanya dari kosan, saya dan Lei Sang Setan Kopi, mulai menembus dinginnya malam Bogor menuju Garut, Kabupaten yang terkenal akan Dodolnya. Tujuan kami adalah Cikajang, salah satu jalur pendakian Gunung Cikuray yang jarang dilewati. Kebetulan pula ada teman yang berdomisili di sana, lumanyanlah buat tempat melepas lelah dan menitipkan sepeda motor yang aman dan gratis. :p
Matahari terbit dari Puncak cikuray
Dinginnya malam memaksa kami menghentikan perjalanan sejenak di warung yang banyak bertebaran Puncak. Menikmati kopi hitam dan jagung bakar di tengah dinginnya malam sungguh menggugah batin ini. Menambah nikmat perjalanan yang baru saja dimulai.
Sesampai di Bandung pukul 2 dini hari, karena tak kuat menahan dingin, kami putuskan untuk singgah sementara. Sontan kami langsung mengarahkan motor ke Dago, ke tempat kawan yang kami yakin, pasti masih terjaga pagi itu. Setelah numpang menghangatkan diri dan numpang ngopi, pukul 8 pagi perjalanan kami lanjutkan kembali. Makasie ya Mila atas tebengannya. Hehe…
Demi mempercepat perjalanan menuju Garut, kami putuskan untuk melewati Majalaya, alih-alih jalur Nagreg. Dan ternyata, jalannya sungguh alamak… penuh lubang dan berliku kalau kata Bang Iwan. Di beberapa ruas terpaksa Lei harus turun agar motor kuat buat nanjak.

Semerbak Kebun Berbunga di Puncak Prau

Dengan ketinggian hanya 2.565 mdpl, Gunung Prau sering kali hanya dilirik sebelah mata oleh para pendaki gunung di Indonesia. Bahkan banyak yang tidak mengetahui keberadaan Gunung Prau dan parahnya lagi, seringkali disamakan dengan Gunung Tangkuban Perahu. Padahal dua gunung tersebut adalah dua gunung yang jelas berbeda, yang satu di Jawa Barat sementara Gunung Prau di Jawa Tengah, tepatnya di antara Kabupaten Kendal dan Wonosobo dan satu kawasan dengan Dataran Tinggi Dieng.


Kebun Bunga di Puncak Prau


Dengan tujuan untuk refreshing dan menikmati keindahannya, kami berenam start dari Kota Semarang menggunakan kendaraan roda dua menuju Kendal. Ya, kami memilih Kendal sebagai starting point pendakian, tepatnya di Desa Kenjuren, Kecamatan Sukorejo. Gunung Prau sendiri juga dapat dicapai dari Dieng, Wonosobo yang membutuhkan waktu lebih pendek untuk mencapai puncaknya.

Merdunya Alunan Biola di Taman Suropati

Penat, panas, gerah. Itulah yang kurasakan ketika tertarik dalam arus massa di Pasar Tanah Abang. Sebagai pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara, tempat ini memang menawarkan harga yang terjangkau kalangan menengah ke bawah, maka tak heran jika ribuan orang memadatinya setiap hari. Apalagi pada hari-hari menjelang lebaran seperti ini, tidur di kosan sepertinya merupakan pilihan yang lebih baik.

Violis muda yang tengah berlatih.

Dalam perjalanan pulang, aku dan Leila, teman seperjuangan dalam memburu baju lebaran di pasar yang penuh sesak itu terpaksa melewati jalur yang berbeda. Sebagai pendatang di kota metropolitan yang berbekal modal nekat dan ingatan samar-samar, alhasil kami nyasar entah kemana. Dan karena harga diri kami masih terlalu tinggi untuk bertanya, maka plang penunjuk jalan dan ‘dugaan samar-samar’ menjadi patokan utama untuk mencari jalan pulang.

[mybestfriend:bluemerry]

Serpong, 14.08.11

Biru mendominasi warna tubuhnya yang masih cakep walau tampak sticker sudah mengelupas di beberapa bagian. Jok yang mulus siap menyambut pantat mana saja yang mengajaknya jalan-jalan. Lampu spionnya masih saja seksi dan selalu siap memberitahu kabar dari arah belakang.

Penunjuk bensin yang bersikukuh untuk berhenti kerja, tergantikan suara indah dari arah tangki bensin ketika kau goyang-goyangkan joknya. “Klothak-klothak” artinya full gaz dan kalau tidak ada bunyi yang terdengar, itu artinya sebaiknya cepat-cepat mencari Pom Bensin terdekat. Sangat hemat energi sekali, sangat Go Green sekali. 

Bluemerry di perbatasan Jateng-Jatim.

Lampu yang kompakan dengan penunjuk bensin, tetap saja menolak kerja walaupun sudah dilakukan berbagai macam penambahan fasilitas. Mana menempel ke badan hanya dengan bantuan seutas tali prusik karena bautnya sudah pensiun. Shockbreaker depan , lampu sign, AKI, dan kapas rem masih menjalankan tugasnya walaupun dalam masa purnatugas.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...