Showing posts with label Jogya. Show all posts
Showing posts with label Jogya. Show all posts

Asyik Naik Becak di Kotagede

Gerimis sedikit menggoda siang itu ketika bus transjogya berhenti di Halte Tegalgendu. Ikon baru Yogyakarta ini makin mempermudah para wisatawan menjelajah Kota Gudeg. Keluar dari halte kami sedikit kebingungan akan bagaimana menikmati keindahan Kotagede. Memang, rencana ke bekas peninggalan Kerajaan Mataram ini tercetus secara spontan saja. Seperti menjawab kebingungan kami, datanglah tukang becak yang menawarkan jasanya dengan ramah. Menyusur Kotagede dengan becak? Kenapa tidak!

Para Abdi Dalem yang Hendak Pulang.
Memasuki kawasan Heritage Kotagede terdapat sebuah plang selamat datang yang sederhana di pinggir jalan sebelum jembatan. Mulai dari sini suasana Jogya yang sudah terkenal akan keramahtamahan dan ‘adem’nya makin terasa. Rumah-rumah yang berpadu apik dengan jalanan dan kebun. Gang-gang kecil yang menanti untuk ditelusuri. Ada pula peninggalan Panembahan Senopati selaku raja Mataram Islam pertama yang menanti untuk dikunjungi.

Peleisir ke Ratu Baka

Dalam Bahasa Jawa, ratu artinya raja, sedangkan baka mempunyai arti bangau. Sehingga kata Ratu Baka (dibaca ratu boko) secara leksikal berarti raja bangau. Konon ceritanya Ratu Baka adalah ayah dari Loro Jonggrang, salah satu tokoh sentral dari cerita Candi Prambanan. Benar atau salah, Ratu Baka hanya berjarak 3 km dari candi anaknya, Loro Jonggrang.

Dua Sepatu Lusuh Sehabis Perjalanan.
Penasaran akan pesona Ratu Baka, sehabis dari menjelajah deretan Pantai Gunung Kidul, kami sempatkan untuk mampir sebentar. Jika kawan dari Gunung Kidul, ambil belokan ke kanan di pertigaan pertama setelah melewati jalan yang menanjak. Sehabis jembatan, ketemu jalan lurus datar, ada lampu merah belok kanan. Haha.. ngasih petunjuk arahnya sangat Indonesia ya. :p

Jomblang dan Keegoisan “mapala”

Jogya, selain terkenal akan wisata budaya juga menyimpan banyak keindahan alam yang masih terjaga. Sebut saja Gunung Kidul yang banyak memiliki pantai-pantai yang sedap dipandang mata. Selain pantai, sebagai daerah karst, Gunung Kidul tentu banyak menyimpan gua yang menanti untuk dijelajahi. Pada liburan kali ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi Gua Jomblang. Gua vertikal ini sangat terkenal akan fenomena alamnya, yakni ray of light.

Ray of Light.
Persisnya, Gua Jomblang terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Jalan menuju kesana cukup mulus, baru dari Desa Pancarejo ke lokasi, aspal akan digantikan jalan desa yang berbatu. Pukul sebelas malam, kami berenam meninggalkan Terminal Jombor dengan sepeda motor. Mengingat dari kami tidak ada yang tahu jalan, perjalanan menuju kesana adalah suatu pertualangan tersendiri. Dari ban bocor di malam buta sampai kunci motor hilang di jalan menjadi penghias malam itu.

Jogya lagi dan akan terus lagi..



Jogya, 9 Maret 2013

Kembali saya duduk menikmati sore hari di Malioboro, memandang pejalan kaki dan keriuhan sekitar. Muda-mudi yang asyik bercengkrama, simbok-simbok yang menjajakan sate, rombongan anak sekolah, anak kuliahan dengan segala macam aktivitasnya, dan tak lupa, pengamen yang dengan sopan melantunkan lagu-lagu merdu. Suasana Malioboro, pusat wisata Jogyakarta, memang selalu lekat di hati.

Jogya di malam hari.
Entah sudah berapa kali saya berkunjung ke Kota satu ini, dan dapat dipastikan, saya akan kembali berkunjung di waktu-waktu mendatang. Memang saya bukanlah warga Jogya, pun saya tidak pernah menetap atau tinggal di Kota Bakpia ini. Tetapi entah kenapa, seperti ada magnet yang menarik saya untuk selalu kembali kesana. Yah, bagi saya, Jogya adalah kota yang penuh kenangan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...