| Ray of Light. |
Turun ke Perut Bumi
Baru pukul
tiga pagi kami sampai ke Jomblang. Di dekat pintu gua terdapat sebuah
penginapan yang ternyata dikelola oleh eo
lokal bagi tamu yang berkunjung ke Jomblang. Dengar-dengar dengan tarif 100
dolar kita sudah dapat menikmati semua fasilitas yang ada, termasuk masuk ke
gua sedalam 100 meter dengan dikerek tenaga mesin. Tinggal cantolin ke body harness
dan turun, tentu enak sekali. Tetapi, sebagai kaum ploretar kami memilih opsi
lain.
| Mulut Gua Jomblang. |
| Persiapan Sebelum Turun ke Gua. |
Dengan
membawa peralatan SRT (Single Rope Techinuqe) lengkap kami
memilih menuruni lintasan Jomblang yang paling pendek, yakni 30 meter.
Sayangnya, minggu pagi itu sudah ada dua mapala yang memakai jalur tersebut.
Ingin pindah ke jalur 70 meter, tali carmantel
yang kami bawa tidak cukup panjang. Akhirnya kedua mapala itu dengan ramah
menawari untuk memakai jalur mereka bersama-sama. Keramahan khas pencinta alam,
pikir saya.
Sepuluh
meter pertama lintasan masih bisa diturunin dengan bantuan tali lintasan tanpa
perlu SRT. Baru 20 meter berikutnya autostop
atau figure 8 memainkan peranan. Tanpa
insiden berarti kami berhasil turun dengan selamat.
| Turunan pertama pada Lintasan 30 m. |
| Turunan Kedua pada Lintasan 30 m. |
Walau saat
itu di dalam gua berkabut tebal, tetapi keindahan ray of light tetap tidak cukup kalau diungkapkan dengan kata-kata.
Seperti melihat cahaya dari surga dari langit. Sempat ku membayangkan ada
malaikat kecil bersayap yang ikut turun, hehe…
True nature of a man come out when in
danger
Setelah puas
menikmati keindahan ray of light,
pukul 1 kami memutuskan untuk kembali ke permukaan dan sore hari kembali ke
Jogya. Akan tetapi tidak semua hal bisa berjalan semulus yang kita rencanakan.
Total orang yang turun ke Jomblang kurang lebih 25 orang dan kami harus antri
satu-satu melewati lintasan yang cuma satu.
| Pintu Masuk Gua Horizontal. |
| Bermain Light Painting di Gua. |
Keaadaan
bertambah parah ketika 2 dari anggota mapala tersebut tidak kuat naik ke atas
sehingga harus dikerek. Salah satunya malah sempat menyerah dan hampir pingsan
di tengah lintasan. Upaya ‘penyelamatan’ pun dilakukan. Dari atas lintasan
pertama kami berusaha membantu sebisanya, saat itu baru dua anggota kami yang
di atas termasuk aku. Tak berapa lama datang anak mapala yang sudah naik duluan
ke tempat anchor lintasan pertama.
Dengan muka masam dia menyuruh kami minggir, merasa kemampuan soal SRT masih cetek, kami pun minggir. Bukanya membantu, anak mapala itu ternyata
hendak mencari perlengkapan SRTnya
yang masih kurang.
Tak terasa
hari sudah berganti malam. Emosi mulai memuncak, hingga tak jarang kami
mendapat semacam omongan dari para anak mapala tersebut. “Kalau gak bawa peralatan gak usah turun.”,
atau “Latihan dulu kalau mau caving.”
Dan lain sebagainya dengan nada sinis seakan kamilah penyebab insiden hari itu.
Pikirku, tadi siapa yang menawari ya? Saat sang senior mapala itu melakukan
‘penyelamatan’ di bawah, berkali-kali dia menghubungi rekan-rekannya di
permukaan untuk membantu tetapi tak kunjung datang. Baru pukul 12 malam seluruh
anggota ketiga kelompok yang turun ke gua berhasil naik ke permukaan.
| Full Team sebelum Pulang. |
goob job
ReplyDeleteseph. :)
Delete