Menyaksikan Upacara Tumpe di Batui

Para pria berpakaian serba merah itu tampak resah, langit mendung yang sedari tadi siang mulai menampakan gelagat memuntahkan kandungan airnya. Gerimis mulai turun tepat ketika mereka tengah berbaris dengan masing-masing memegang beberapa butir telur burung Maleo yang sudah dibungkus daun Kamunong, sejenis daun Palma. Ukuran yang besar membuatnya mudah terlihat, dan ironisnya itu juga yang membuat telur burung Maleo makin sulit didapat karena diburu banyak orang.
 
Para Pengantar Telur.
Walau ukuran burung Maleo kecil, tidak sampai sebesar ayam kampung, namun telur yang dihasilkannya bisa dua sampai tiga kali besar telur ayam. Kian hari, populasi satwa endemik Banggai ini makin sedikit. Mungkin, itu pula penyebab Upacara Tumpe yang biasanya diadakan di bulan September harus diundur ke awal bulan Desember. Kira-kira dibutuhkan 160 telur burung Maleo untuk mengadakan acara Tumpe.

Mengejar Matahari di Lenyek

Selepas subuh kami mulai memacu sepeda motor keluar dari rumah. Suasana sekitar masih gelap, udara masih cukup tajam untuk membuat tubuh kedinginan. Jaket tebal, sarung tangan, slayer untuk menutup mulut, dan helm membalut tubuh kami menyusur jalanan pagi itu, berpacu dengan sang surya yang sebentar lagi keluar dari peraduan. Kami memang sengaja berangkat dini hari hari untuk bisa menikmati terbitnya mentari pagi di Lenyek, alhasil kami seperti mengejar matahari.

Mentari Pagi di Lenyek.
Estimasi perjalanan dari Kota Luwuk ke Lenyek sekitar 30-45 menit. Dengan dua sepeda motor membelah dinginnya pagi, kami berpacu dengan waktu. Jangan sampai ketika sampai, mentari sudah tinggi di atas. Jalanan masih lengang, hampir tidak ada pengguna jalan lain selain kami. Sepertinya kami memang benar-benar kurang kerjaan, hehe..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...