Kembang, Anakan Gunung Sindoro

Sebagai pendaki gunung yang suka ga tahan lihat gunung kece di Instagram, saya langsung ngiler melihat foto-foto Gunung Kembang yang akhir-akhir ini mulai banyak bersliweran di media sosial satu itu. Tingginya pun ternyata tidak begitu tinggi, hanya 2.340 mdpl, sehingga tipe gunung ini sangat cocok untuk trip sehari bagi kuli bangunan yang tidak punya hari libur lama macam saya.

Gunung Kembang dengan Latar Gunung Sindoro.

Tidak berpikir dan planning lama-lama, ketika ada long weekend di bulan November kemarin, langsung saja saya kontak teman-teman yang kira-kira masih di Semarang untuk pergi mendaki gunung cantik satu ini. Tidak butuh waktu lama, dapat dua mangsa yang siap menemani! Findi dan Hasan, teman zaman di kampus dulu.

Mendadak Batur

“Dhan, aku stress, butuh naik gunung neh. Naik gunung yuk, kapan kamu ada waktu?”, bunyi wa seminggu lalu.
“Minggu ini aku bisa. Tapi ke gunung mana?”
“Bali.”, jawab temanku yang sedang di Sumbawa.
“Bayari tiketnya ya?”
“Oke.”
“Berangkat!”

Gunung Batur.
Saya kebetulan sedang di kota kecil Indramayu dan teman saya penggila kopi, Lei, sedang di Sumbawa dan memang, kalau ditarik garis lurus, gunung di tengah-tengah jarak kami berdua ya di Bali. Tidak butuh gunung yang tinggi, cukup untuk melepas penat dalam weekend sabtu-minggu, kami berdua memutuskan naik ke Gunung Batur!

Sepi di Pakuwaja

Sudah cukup lama saya tidak mendaki gunung di Jawa Tengah, dan lebih lama lagi saya tidak menyusuri jalur tengah Jawa Tengah yang aduhai ketika membelah Gunung Sumbing dan Sindoro. Teringat dulu suka melewati jalur ini bersama Bluemerry, sepeda motor kesayangan, berkendara asyik membelah kabut tipis sore hari. Ada beberapa gunung indah di bagian tengah Pulau Jawa ini, salah satunya Gunung Prau yang lagi ngehits beberapa tahun belakangan ini.

Puncak Pakuwaja.
Ingin sekedar menikmati suasana gunung tempo dulu, saya memutuskan mendaki gunung yang belum banyak terdengar di telinga orang. Apalagi saya mendaki di saat long weekend libur Hari Kemerdekaan, tidak terbayang pasti semua gunung penuh bak pasar malam. Setelah googling sana-sini, saya memilih gunung kecil di Dataran Dieng. Pakuwaja namanya, gunung 2.390 mdpl ini berdiri tepat di depan Gunung Prau, basecampnya pun ‘berhadapan’ yakni Patak Banteng untuk Gunung Prau dan Parikesit untuk Gunung Pakuwaja.

Raung Puncak Sejati

Delapan tahun yang lalu saya menggapai Puncak Raung dari jalur Sumber Waringin, sebuah pendakian yang benar-benar memacu adrenalin, merangkak dan berjalan di hutan lebat dengan nama-nama pos yang membuat bulu kuduk berdiri, sebut saja Pos Pondok Mayit atau Pondok Demit. Pendakian kala itu diakhiri dengan meniti pinggiran kawah Raung yang ekstrem, tanpa tali dan pengaman, dahsyat sekali rasanya.

Raung!
Kini, saya menjajal lagi mendaki salah satu Puncak Raung yang belakangan sempat nge-hits: Puncak Sejati, konon katanya adalah titik tertinggi Gunung 3.441 mdpl ini. Dengan jalur pendakian yang paling ekstrem se-Pulau Jawa, dibutuhkan peralatan SRT (Single Rope Technique) untuk menuju puncaknya, Puncak Sejati.

Pengalaman Tenda Terbakar Saat Mendaki Gunung Tanggamus

Seperti biasa, hal pertama yang saya cari di internet ketika ada penugasan dari kantor untuk berpergian ke luar kota yakni gunung apa yang dekat dengan lokasi proyek. Kali ini, ditugaskan untuk melakukan meeting di PLTU Semangka. Lampung. Di mana itu tempatnya juga hanya tahu dari namanya saja karena sudah setahunan berjalan, baru kali ini mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana. Cari sana-sini, yak, ternyata Gunung Tanggamus, gunung yang setahun silam hendak kudaki tetapi gagal di detik-detik terakhir sebelum berangkat.

Gaya dulu Sebelum Naik.
Tanggamus adalah gunung kecil di Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Dengan tinggi 2.102 mdpl, Tanggamus menjadi gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung, namun jalur pendakiannya masih rimbun dan bisa dibilang perawan karena sepertinya jarang didaki. Melewati pohon tumbang, merambati akar-akaran pohon, bahkan merangkak di bawah pohon harus dilakukan demi menggapai puncaknya. Memang, rata-rata gunung di Pulau Sumatra masih asyik untuk didaki, berbeda dengan gunung di Pulau Jawa yang jalurnya sudah jelas dan terbuka.

Manglayang, Tampomas, dan Puntang Coret

Melihat kalender, ada hari libur jatuh di hari jumat. Hmm.. pas banget neh, bisa dapat tiga hari libur berturut-turut. Sudah lama juga tidak naik gunung namun bingung juga gunung mana yang pas didaki dalam waktu tiga hari. Sementara semua gunung berketinggian 3000 mdpl di Pulau Jawa sudah sudah pernah didaki (ehem… sombong), tetapi uang sedang tidak ada untuk mendaki gunung di luar Pulau Jawa, waktu pun terlalu mepet.


Jalur Gunung Manglayang.

Otak atik google maps dan surfing sana-sini, terbersit ide yang sepertinya menyenangkan: Mendaki tiga gunung kecil di sekitaran Bandung dalam tempo tiga hari. Satu gunung satu hari: Manglayang-Tampomas-Puntang. Mengukur waktu tempuh dan biaya yang dibutuhkan sepertinya memungkinkan sekali. Namun seperti kebiasaan saya dalam naik gunung, menghindari meriset secara mendetail agar perjalanan jadi sedikit menyenangkan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...