| Gaya dulu Sebelum Naik. |
Ohya, sedikit cerita, pengalaman menuju PLTU Semangka kala itu cukup meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Di mana harus tanya sana-sini dan berujung jawaban sama: Mas, jangan ke sana, itu daerahnya garong, pencuri. Bahkan tukang ojek dan penjaga hotel, tidak berani mengantar sampai sana. Tetapi dengan berbekal tekat yang kuat (#tsahhh…) akhirnya sampai sana juga, yah itu mungkin cerita di lain kesempatan.
Menuju Tanggamus
Saya berangkat
dari Jakarta sabtu pagi dengan penerbangan pertama ke Bandar Lampung
dilanjutkan dengan travel Bandar Lampung – Krui. Mobil travel yang saya telpon
tidak mau menjemput sampai bandara karena dia sudah ada penumpang dari Bandar
Lampung, ohya, bandara ke pusat Kota Lampung lumayan jauh, 30 menit naik
angkot. Karena tidak mau menunggu lama, saya naik angkot dan turun di simpang,
dekat gapura selamat datang untuk menuju Tanggamus.
Tanggamus
berada di tengah-tengah perjalanan ke Krui. Cukup lama saya menunggu mobil
travel itu, kampret memang, ternyata dia menjemput lagi penumpang lain ke
bandara sementara saya diminta ke simpang. Hampir sejam saya menunggu travel
datang.
Saya hendak
melakukan pendakian dari Jalur Gisting, jalur normal pendakian gunung satu ini.
Kurang lebih dua atau tiga jam dari Lampung, lupa pastinya berapa, yang jelas saya
sampai Gisting pukul satu siang, ohya turun saja di Pasar Gisting dan minta
diantar ojek ke Basecamp Sonokeling. Namun tidak semua ojek tahu lokasi
basecampnya, pun di basecamp tidak ada tulisan dan saat itu saya harus bertanya
pada beberapa orang sebelum sampai ke basecamp, sempat pula nyasar dua tiga
kali.
Sampai di
basecamp, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari penunjuk jalan orang
lokal yang bisa mengantar naik sampai puncak. Ohya, saya saat itu sendirian
saja dan karena tidak suka naik gunung sendirian, disamping belum kenal medan
dan tentunya tidaklah aman naik gunung sendiri. Kalau istilah penyelam, never
climb alone, hehe..
Langkah kedua
adalah menyiapkan logistik dan peralatan, tadinya saya hanya hendak tektok
saja, tetapi atas saran penduduk sekitar butuh waktu 4-5 jam untuk sampai puncak,
saya putuskan untuk bermalam saja di tengah jalan. Untungnya ada penyewaan tenda
dan perkap lainnya di basecamp, hibah dari Dinas Pariwisata katanya. Untunglah…
Setelah semua
siap, let’s go!
‘Kompor’ Meledak, Tenda Terbakar
Sedikit cerita
juga tentang penduduk di lereng Gunung Tanggamus yang didominasi Suku Jawa, entah
kenapa, beberapa gunung di Sumatera di setiap lerengnya didominasi penduduk Jawa,
seperti Kerinci, Dempo, dan Tanggamus tidak terkecuali. Bahkan ketika saya ajak
berbicara dengan Jawa yang halus pun mereka (generasi tua) masih lancar dan
bagus. Ohya, tetapi di Sumatera Barat tidak ada sama sekali, semua Suku Minang.
Jadi penasaran penyebaran masyarakan Jawa pada zaman dahulu.
Kembali ke
pendakian Gunung Tanggamus, seperti yang saya ceritakan di atas, jalurnya masih
perawan walau tidak sampai membabat hutan untuk berjalan, hanya beberapa titik
saja yang sudah mulai tetutup ilalang dan pohon kecil. Jalurnya khas sekali
akan suasana gunung tropis yang lembab dan berlumut, tanah yang becek dan
berlumpur, batang pepohonan yang dipenuhi lumut, jalur yang menanjak melewati
akar-akaran pohon.
Pada beberapa
titik terdapat tali yang sudah dipasang untuk membantu pendaki memanjat ke
atas, kalau tidak salah terdapat tiga titik yang dipasangi tali. Sepanjang jalur
pendakian hampir tidak ada tempat yang landai atau cukup lapang untuk dijadikan
tempat mendirikan tenda sehingga pilihannya mendirikan tenda di bawah atau di
puncak yang katanya cukup untuk lima tenda. Air tidak ditemui sepanjang perjalanan,
pastikan cukup membawa air minum dan masak untuk pendakianmu.
Kalau tidak
salah, saat itu kami memulai pendakian pada pukul tiga sore dan untuk menghemat
pendakian, Mas Tri mengajak untuk naik dengan sepeda motor ‘grandong’nya sampai
pintu rimba. Ajakan yang ngeri-ngeri sedap, karena tentu saja bisa lebih menghemat
waktu tapi juga ngeri karena jalurnya yang aduhai (sebelumnya sempat nyasar
sampai mendekati pintu rimba dengan ojek).
Setelah berjalan
hampir dua jam, hari mulai gelap, kami putuskan untuk mendirikan tenda di
lokasi yang paling memungkinkan setelah dibabat dengan golok. Untung saja,
tidak berapa lama tenda berdiri, hujan dengan lebatnya mengguyur kami. Kami pun
masuk dan mencoba menghangatkan diri dengan mencoba membuat minuman panas dan
mulai memasak. Karena hujan, saya memutuskan memasak di dalam tenda, keputusan
yang sangat goblok.
Susah mendapatkan
spirtus untuk bahan bakar kompor, Mas Tri membawa thinner sebagai gantinya, “Jajal
sik wae, Mas.”, kata dia yakin. Mulailah kami menyalakan kompor dan memasak,
awalnya kompor menyala dengan api kecil dan cukup stabil. Lama-lama, makin
membesar, kami langsung panik dan ketika hendak mematikan kompor atau
memindahkan ke luar. Duar… kompor meledak cukup besar sehingga membuat tenda
berlubang besar-besar di beberapa tempat. Sial!
Dalam hujan
dan gelap malam, kami berdua bergegas mematikan api agar tidak menjalar dan mencoba
menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Argghh… sial, terjadi lagi. Sudah tiga
kali kejadian tenda terbakar, masih saja bisa terulang. Dodol memang saya ini. Kebakaran
tenda di Tanggamus adalah paling parah bagiku saat ini, setelahnya tenda
menjadi basah, baju dan sleeping bag ikut basah, kami harus puas makan malam roti
dan cemilan, parahnya meringkuk kedinginan di sela-sela bagian tenda yang
kering sampai pagi.
| Gunung Tanggamus dari Gisting. |
| Basecamp Sonokeling. |
| Jalur Pendakian Tanggamus (1). |
| Jalur Pendakian Tanggamus (2). |
| Jalur Pendakian Tanggamus (3). |
| Jalur Pendakian Tanggamus (4). |
| Mas Tri, Guide ke Tanggamus. |
| Puncak Tanggamus. |
| Foto di Depan Plang Ekspedisi Bukit Barisan TNI AD-Kopasus. |
| Pos Mushola, Lokasi Landai Paling Luas di Sepanjang Jalur. |
| Motor Grandong dengan Tambahan Rantai di Ban Belakang. |
Keesokan harinya
begitu matahari bersinar kembali, kami packing dan meninggalkan barang bawaan di
semak-semak untuk melakukan summit attack. Kurang lebih sejam kurang kami
sampai di Puncak yang bagi saya sangat mirip dengan Gunung Karang di Pandeglang,
hanya sepetak kecil dengan tiang bendera di tengahnya. Puncak dikelilingi pepohonan
sehingga kita tidak bisa menikmat pemandangan sekitar dari ketinggian seperti pada
umumnya puncak gunung. Setelah asyik berfoto dan istirahat yang mungkin cuma 15
menit, kami langsung turun kembali ke basecamp.
Pendakian kali
ini hanya sebentar saja, namun sangat menguras tenaga saya, selain faktor medan
yang susah (bagi saya) kejadian tenda kebakaran membuat istirahat menjadi tidak
maksimal, stamina pun terkuras habis.
See u next
time, Tanggamus. Keep safe, clean, and fun climbing! (dm 6 Mei 2018)
No comments:
Post a Comment